
...***...
Jaya Satria dan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terbangun dari tidurnya. Karena mereka baru saja mimpi yang sangat aneh. Mimpi yang dikategorikan sangat menyeramkan yang mereka alami. Apakah mereka akan mengalami hal buruk lagi?.
"Apa yang harus kita lakukan raka prabu?. Apakah kita akan membuat ibunda menangis lagi?. Aku yakin ibunda pasti akan sangat sedih sekali raka prabu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba menenangkan dirinya.
"Kita harus menyelesaikan masalah ini dengan secepatnya. Jika tidak, mereka akan mengetahui apa yang telah kita alami. Ibunda jangan sampai mengetahui ini rayi prabu." Jaya Satria atau Raden Cakara Casugraha yang asli hanya tidak mau ibundanya mengetahui ini, dan mungkin akan menangis mengetahui ini.
"Lalu apa yang kita lakukan raka prabu?. Apakah raka prabu akan mencari orang itu?. Bagaimana jika ibunda bertanya tentang raka prabu?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasa berat dengan masalah yang akan mereka hadapi kali ini.
"Katakan saja aku sedang ronda. Sekaligus aku akan mengembara dalam waktu yang belum aku ketahui. Karena aku tidak mau dia sampai masuk ke wilayah ini, dan membocorkan rahasia kita pada ibunda. Atau bahkan rakyat suka damai." Jaya Satria menatap lurus ke depan.
"Baiklah raka prabu. Aku harap raka prabu berhati-hati. Karena tidak mudah mencari orang itu. Raka harus menjaga diri raka." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat khawatir dengan raga aslinya Raden Cakara Casugraha. Ia tidak pernah berpikir akan mendapatkan mimpi yang sengaja dikirim oleh orang itu. Karena itulah Raden Cakara Casugraha harus mencari keberadaan orang itu. Dari pada dia mengatakan sebuah rahasia yang tidak bisa ia katakan pada ibundanya saat ia mengembara sebagai Jaya Satria saat menyelesaikan masalah di kerajaan Tenggara Darat.
Rahasia apakah kali ini yang akan terungkap kali ini?. Apa yang disembunyikan Raden Cakara Casugraha kali ini?. Belum ada yang mengetahuinya?. Rahasia apakah itu?. Temukan jawabannya.
...***...
Keesokan harinya. Raden Jatiya Dewa ikut bersama Syekh Asmawan Mulia ke istana. Karena permintaan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, untuk berjaga-jaga di istana.
"Terima kasih karena telah datang syekh guru, juga raden jatiya dewa." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menyambut kedatangan mereka.
__ADS_1
"Tentu saja nanda prabu. Semoga kami bisa membantu dengan baik." Syekh Asmawan Mulia sangat membantu Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Raden tenang saja. Yunda andhini andita saat ini tidak ada di istana." Matanya melirik ke arah Raden Jatiya Dewa yang celingak-celinguk. Mungkinkah mencari keberadaan kakaknya?. Atau hanya perasaannya saja yang mengatakan jika Raden Jatiya Dewa memang seperti itu?.
"Sungguh maafkan hamba gusti prabu. Hamba hanya waspada saja. Karena hamba takut bertemu dengan gusti putri andhini andita." Dengan perasaan takut ia mengatakan apa yang ia rasakan. "Tapi, memangnya gusti putri kemana gusti prabu?. Sehingga tidak ada di istana ini?." Ada perasaan ingin mengetahui alasan kenapa Putri Andhini tidak ada di sini. "Pantas saja gusti prabu mengizinkan aku datang ke istana." Dalam hatinya dari tadi bertanya-tanya, tidak biasanya ia diizinkan masuk ke istana Kerajaan Suka Damai.
"Itu karena gusti putri andhini andita saat ini sedang melakukan pengembaraan." Syekh Asmawan Mulia yang menjawabnya. Tapi itu cukup membuat Raden Jatiya Dewa terkejut.
"Gusti putri andhini andita mengembara?." Saking terkejutnya, ia malah mengeraskan suaranya. Membuat Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Syekh Asmawan Mulia terkejut. Namun setelah itu mereka mencoba untuk bersikap biasa saja.
"Yunda andhini andita saat ini sedang mengembara. Mencari tatanan kehidupan yang baik, serta belajar dari apa yang akan ia lalui selama mengembara." Jawab Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menghela nafasnya dengan pelan. "Jika raden memang tertarik dengan kehidupan pribadi yunda andhini andita, maka aku akan membantu raden mendapatkan cinta yunda andhini andita." Bisik Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dengan senyuman kecil.
"Raden hanya perlu belajar dengan baik, serta mau melakukan sesuatu dari hati. Bersabarlah sampai yunda pulang dari pengembaraannya." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum kecil. Setelah itu ia berjalan menuju ruang pribadi raja. "Semoga saja saat kembali dari pengembaraan, yunda andhini andita tidak ditempeli seorang laki-laki yang telah siap melamar dirinya. Karena itulah raden harus bersiap-siap, jika memang serius ingin mendapatkan yunda andhini andita." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasa lucu, ada seseorang menyukai kakaknya.
"Ha, hamba akan berusaha sekuat tenaga gusti prabu." Seakan mendapatkan restu, tentunya Raden Jatiya Dewa sangat senang. Ia mendapatkan restu dari Prabu Asmalaraya Arya Ardhana?. Ia sangat merasa senang luar biasa sekali.
"Jadi begitu ya?. Masalah cinta yang membuat seseorang berjuang untuk mendapatkan apa yang ia inginkan, serta pemicu seseorang untuk melakukan perubahan dalam hidup ini." Dalam hati Syekh Asmawan Mulia merasa kagum dengan tujuan Raden Jatiya Dewa masuk agama Islam. Merekapun tidak dijelaskan secara rinci, namun sedikit-sedikit mereka dapat menangkap apa yang dimaksudkan oleh Raden Jatiya Dewa. Semoga saja apa yang ia lakukan mendapatkan ridho dari Allah SWT.
...***...
Disisi lain. Putri Andhini Andita sudah dua hari berada di wilayah kerajaan Restu Agung. Hari ini terakhir ia berada di sini. Berada di sebuah tempat yang sangat indah di wilayah kerajaan Restu Agung.
__ADS_1
"Apakah nimas tidak bisa tinggal lebih lama lagi?. Aku hanya ingin bersama nimas. Dan belajar dengan baik, apa yang telah nimas katakan pada ku. Mengenai agama yang indah itu." Rasanya sangat berat bagi Raden Raksa Wardhana berpisah dengan Putri Andhini Andita yang ia kenal sebagai Putih?.
"Maafkan hamba raden." Putri Andhini Andita tidak memberikan harapan pada Raden Raksa Wardhana mengenai masalah cinta, keyakinan, serta keteguhan hati. "Belajar karena seseorang, hamba tidak mau raden menelan obat pahit nantinya." Putri Andhini Andita tersenyum kecil. "Belajar lah dari hari raden. Maka kebahagiaan apapun akan raden genggam dengan mudah." Lanjutnya sambil menatap langit biru. "Raden harus menetapkan hati, mental, serta keyakinan raden. Bahwa apa yang raden kejar bukanlah kebahagiaan sementara. Namun kebahagiaan karena hati raden ingin mengenal siapa yang telah menciptakan raden dari hati raden." Putri Andhini Andita hanya mengingatkan Raden Rakasa Wardhana. "Belajar karena mencintai seseorang, hanya akan membuat kita kecewa suatu hari nanti. Karena manusia ini tidak bisa ditebak menginginkan apa di dunia ini." Ia sendiri merasakan itu.
"Aku sangat yakin, belajar bersama nimas mengenali dunia ini sangat lebih bagus. Aku memutuskan untuk pergi mengembara bersama nimas." Raden Raksa Wardhana telah menguatkan jiwanya dengan sepenuh hati.
"Maaf raden. Jika memang raden ingin mengembara. Namun hamba tidak bisa menjamin keberadaan kita akan aman." Putri Andhini Andita takut dengan dirinya sendiri.
"Kenapa?. Apakah nimas takut, jika aku hanya akan menjadi beban bagi nimas nantinya?." Raden Raksa Wardhana merasa berkecil hati.
"Maaf, jika hamba telah menyinggung perasaan raden. Tapi jika dua orang berjalan satu arah, tanpa ikatan apapun hamba takut, terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan sebelum pada masanya. Hamba tidak mau menodai perjalanan yang hamba lakukan. Hamba harap raden mengetahui apa yang hamba takutkan, jika dua insan berjalan tanpa adanya pengawasan hukum yang sah." Putri Andhini Andita terlihat sangat tegas. Membuat Raden Raksa Wardhana terkesan mendengarnya.
"Baiklah kalau begitu nimas. Tapi izinkan aku belajar di sini dengan baik." Raden Raksa Wardhana juga tidak mau memaksakan kehendaknya. Ia tidak mau membuat Putri Andhini Andita justru malah membenci dirinya. "Tapi apakah, suatu hari nanti aku bisa bertemu denganmu. Dan menyentuh perasaanmu dengan apa yang aku miliki pada saat itu?. Apakah aku boleh mendapatkan cintamu putih?." Sorot mata itu sangat serius, membuat Putri Andhini Andita merasa terkesan.
"Jika itu memang benar. Belajarlah dengan baik, hamba akan menunggu kedatangan raden di istana kerajaan suka damai dua belas purnama. Jika raden memang serius dengan apa yang raden ucapkan hari ini." Putri Andhini Andita menyebutkan dimana ia harus bertemu jika memang ada keseriusan dari Raden Raksa Wardhana. "Karena hamba harus melanjutkan perjalanan. Maafkan hamba." Ucapnya dengan penuh penyesalan yang mendalam.
"Aku akan berusaha dengan baik nimas putih. Semoga saja kita bisa bertemu suatu hari nanti. Aku harap nimas menceritakan semua padaku suatu hari nanti. Ceritakan padaku, apa saja yang telah nimas lalui selama mengembara." Raden Raksa Wardhana mencoba untuk bersikap tenang, dan tidak gegabah dalam mengambil keputusan.
"Aamiin, semoga saja raden." Putri Andhini Andita tidak mungkin membiarkan seseorang yang sedang berjuang, untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Apakah ia akan membuka hati, serta perasaan yang ia miliki?. Lalu bagaimana jika Raden Jatiya Dewa mengetahui ini?. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.
...***...
__ADS_1