
...***...
Dua hari berlalu. Raden Cakara Casugraha sedang sedang menatap bangunan baru yang dijanjikan ayahandanya untuk ia, ibunda dan kakaknya tepati. Ia melangkah lebih jauh lagi, dan saat itu ia menatap ibundanya yang sedang berada di taman bunga?.
"Ibunda?. Apa yang sedang ibunda lakukan di sini?."
"Oh putraku nanda cakara casugraha." Ia menatap anaknya yang sedang penasaran. "Ada apa nak?. Apakah nanda butuh sesuatu?."
"Tidak ibunda. Nanda hanya ingin melihat apa yang sedang ibunda lakukan."
"Ibunda sedang menanam bunga nak."
"Menanam bunga?. Bukankah ada emban yang melakukannya ibunda. Nanti tangan ibunda kotor."
"Ibunda bisa melakukannya nak. Lagi pula, emban memiliki banyak tugas yang harus mereka kerjakan."
"Apakah nanda boleh membantu ibunda?."
"Tentu saja boleh nak."
Dengan senang hati Ratu Dewi Anindyaswari memperbolehkan anaknya untuk membantu dirinya.
"Apa yang harus nanda kerjakan ibunda." Dengan semangatnya Raden Cakara Casugraha membantu ibundanya.
Kebersamaan Ratu Dewi Anindyaswari dengan putranya selama di istana. Kebaikan-kebaikan yang dilakukan oleh Raden Cakara Casugraha terhadap ibundanya. Memberikan kesan luar biasa baiknya. Ratu Dewi Anindyaswari merasa beruntung memiliki anak yang baik seperti Raden Cakara Casugraha, yang memperlakukan dirinya sangat istimewa sebagai seorang ibu.
"Yunda kemana ibunda?. Nanda tidak melihatnya dari tadi."
"Katanya dipanggil ayahandamu nak. Katanya ada pembicaraan yang penting ingin disampaikan ayahandamu."
"Kalau begitu nanda akan menyusulnya ibunda. Mungkin yunda latihan ilmu kanuragan bersama ayahanda. Nanda ingin melihat mereka latihan bersama."
"Baiklah, kalau begitu bersihkan diri nanda dahulu. Apa yang akan ayahandamu katakan jika melihat wajah anaknya ada coretan coklat tanah seperti itu."
"Hehehe baiklah ibunda. Nanda akan membersihkan diri dulu." Raden Cakara Casugraha pamit pada ibundanya.
"Nanda adalah anak yang baik. Terima kasih atas apa yang nanda lakukan untuk ibunda nak." Ada perasaan bangga di dalam hatinya sebagai seorang ibu. Ia sangat menyayangi kedua anaknya yang selalu memperhatikan dirinya.
...***...
Sementara itu. Putri Agniasari Ariani, ia baru saja selesai menemui ayahandanya di ruang pribadi Raja. Ayahandanya memberikan arahan padanya mengenai ilmu ketatanegaraan yang baru.
"Rasanya sangat senang, bisa belajar langsung dari ayahanda prabu." Ungkapnya dengan perasaan bahagia.
Saat ia melewati taman Istana. Ia tidak sengaja berpas-pasan dengan kedua kakaknya.
__ADS_1
"Bagaimana dengan bangunan baru yang kau tempati agniasari ariani?. Apakah kau merasa kerasan tinggal di sana?."
"Aku yakin dia sangat kerasan yunda. Namanya juga bangunan baru, pastilah merasa betah. Apalagi tanpa adanya gangguan dari kita."
"Maaf yunda. Mengapa yunda bertanya seperti itu?. Kami dipindahkan ke sana itu semua karena kalian juga. Jadi tidak ada alasan untuk keberatan dengan apa yang kami dapatkan."
"Kau jangan merasa berbangga hati dulu agniasari ariani. Kami akan membuatmu, ibundamu, juga adikmu yang kurang ajar itu terusir dari istana ini."
"Terserah apa yang yunda katakan. Kami tidak akan membiarkan kalian melakukan kejahatan itu."
"Kita lihat saja agniasari ariani. Siapa yang akan menang, dan siapa yang akan terusir dari sini."
"Keluargamu atau kami yang akan angkat kaki dari sini."
"Yunda berdua aneh. Kita ini keluarga dari ayahanda yang sama. Tapi mengapa saling ingin menyingkirkan satu sama lain?. Nanti yunda akan menyesali apa yang telah yunda lakukan. Karena sebenarnya yunda berdua adalah orang yang baik."
"Tidak usah kau berkata seperti itu agniasari ariani. Kami justru bahagia jika kau dan keluargamu tidak ada di sini."
"Aku pamit dulu yunda. Sampurasun."
Namun, ketika mau meninggalkan tempat.
DUAKH
Ia mendapatkan pukulan yang sangat keras, menghantam perut serta dadanya. Sehingga ia terlempar jauh, diiringi oleh dengan teriakan kesakitan.
"Yunda."
Kebetulan Raden Cakara Casugraha melihat kakaknya dihajar oleh Raden Ganendra Garjitha, Raden Gentala Giandra, dan juga Raden Hadyan Hastanta.
"YUNDA!."
Raden Cakara Casugraha langsung mendekati kakaknya yang terguling di tanah. Dengan perasaan hati yang bergemuruh ia mendekati kakaknya yang tidak bergerak sama sekali.
"Gawat raka. Kita dilihat oleh cakara casugraha."
"Kita pergi dari sini. Cepat!. Sebelum ia mengamuk pada kita semua."
Mereka semua pergi dari sana. Karena mereka tidak mau dihajar oleh Raden Cakara Casugraha. Mereka pergi tanpa perasaan, tidak ada belas kasihan mereka pada Putri Agniasari Ariani sedikitpun.
"Yunda. Yunda!." Raden Cakara Casugraha mencoba untuk membangunkan kakaknya. Ia pangku kepala kakaknya dengan hati-hati. Ia melihat darah disudut mulut kakaknya. "Yunda. Aku mohon yunda bangunlah." Raden Cakara Casugraha menyalurkan tenaga dalamnya untuk membantu kakaknya. Tanpa sadar air matanya mengalir membasahi pipinya. Ia menangis terisak karena mencemaskan keadaan kakaknya.
"Yunda!. Bangunlah yunda!." Ia kerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk membantu kakaknya.
"Uhuk, uhuk, uhuk." Putri Agniasari Ariani terbatuk, kesadarannya kembali. Namun ia merasakan sakit di tubuhnya, akibat pukulan keras itu.
__ADS_1
"Rha,, rhayhi." Sayup-sayup matanya melihat siapa yang membantunya. Itu adalah adiknya Raden Cakara Casugraha.
"Bertahanlah yunda. Aku akan segera membawa yunda ke ruang pengobatan." Raden Cakara Casugraha menggendong kakaknya. Hatinya benar-benar gelisah karena memikirkan keselamatan kakaknya.
"Terima kasih rayi." Putri Andhini Andita memeluk erat leher adiknya. Ia sangat takut karena mendapatkan serangan mendadak dari mereka bertiga.
"Yunda. Kuatkan dirimu yunda." Raden Cakara Casugraha masih menangis, ia tidak tega melihat kakaknya disakiti oleh mereka semua.
Begitu sampai di ruang pengobatan, Raden Cakara Casugraha langsung membaringkan kakaknya di dipan.
"Tolong segera obati kakak saya. Lukanya sangat parah."
"Sandika raden."
Tabib Darsa segera melakukan tugasnya dengan cepat. Dengan keahlian yang ia miliki, ia mencoba untuk mengobati luka yang dialami oleh Putri Agniasari Ariani.
"Yunda. Aku akan segera kembali. Yunda tetaplah di sini."
"Tunggu rayi. Tetaplah di sini. Yunda sangat takut sekali." Putri Agniasari Ariani menahan tangan adiknya agar tidak meninggalkan dirinya.
"Aku hanya pergi sebentar saja yunda. Aku janji akan kembali bersama ayahanda. Ayahanda harus mengetahui masalah ini."
"Baiklah rayi, setelah itu rayi berjanji akan kembali ke sini."
"Aku janji yunda."
"Um." Putri Agniasari Ariani menganggukkan kepalanya dengan pelan.
"Tabib darsa, saya mohon jagalah yunda agniasari ariani selama aku pergi."
"Sandika raden."
Setelah itu Raden Cakara Casugraha bergegas meninggalkan ruang pengobatan, ia akan menuju ruang pribadi raja. Ia ingin menemui ayahandanya, untuk menceritakan apa yang terjadi.
Dengan langkah yang cepat, Raden Cakara Casugraha berjalan menuju ruang pribadi Raja.
"Maaf ayahanda. Apakah nanda boleh masuk?." Suaranya masih parau karena menahan Isak tangisnya.
"Masuklah nak." Prabu Kawiswara Arya Ragnala mempersilahkan anaknya masuk ke dalam. Begitu ia masuk ke dalam, ia melihat mereka semua berada di ruang pribadi Raja.
"Ayahanda. Ayahanda prabu." Raden Cakara Casugraha menjatuhkan dirinya, bersimpuh berlutut dihadapan ayahandanya. "Ayahanda prabu." Ia menyebut nama ayahandanya sambil menangis. "Ayahanda prabu."
"Oh putraku yang tidak pernah menangis, dan hari ini ia menangis sedih." Dalam hati sang Prabu merasakan kesedihan yang dirasakan oleh anaknya.
Sementara itu mereka sedikit takut, jika Raden Cakara Casugraha akan menceritakan kebalikan dari yang mereka ceritakan. Bagaimana kelanjutannya?. Temukan jawabannya.
__ADS_1
...***...