RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
ORANG MASA LALU?.


__ADS_3

...***...


Pendekar Tapa Simulung mengingat masa lalunya yang bertemu dengan Raden Cakara Casugraha. Pada saat itu ia sedang dalam keadaan marah-marah.


Kembali ke masa lalu.


Bukit Setangkai. Mereka semua saat ini sedang kewalahan, karena Pendekar Tapa Simulung mengamuk. Pendekar yang terkenal jahat. Suka menganiaya, dan berbuat sesuka hati.


Mereka semua dihajar satu persatu, mereka yang berusaha untuk menghentikan dirinya. Tidak ada yang bisa menghentikannya.


"Hei!. Kau tapa Simulung!. Tidak bisakah kau sedikit berbuat baik?. Hah!."


"Kami sudah lelah menghadapi kejahatan yang telah kau perbuat di desa ini!."


"Sebaiknya kau pergi saja dari sini!. Kami sama sekali tidak menginginkan orang jahat seperti kau!."


"Kalian jangan banyak mengatur aku!. Justru aku yang tidak suka dengan kelakuan kalian!."


"Sudahlah!. Kita hajar lagi dia!."


Mereka semua kembali menyerang Pendekar Tapa Simulung. Mereka tidak peduli lagi jika terluka, yang penting Pendekar jahat itu bisa diusir dari sana. Namun hasil tetap saja sama. Justru mereka yang dihajar oleh Pendekar Tapa Simulung. Dan kebetulan, ada salah satu dari mereka yang terlempar, hampir saja mengenai seseorang yang kebetulan lewat.


Mereka semua melihat ke arah orang tersebut, dan mereka sedikit waspada. Karena orang yang hampir saja kena timpa, menggunakan topeng penutup wajah.


Orang bertopeng itu mendekati mereka dengan heran dan bertanya pada mereka semua. "Maaf kisanak. Apa permasalahannya?. Sehingga terjadi pertarungan seperti ini?. Melukai orang lain, dan hampir saja menyeret orang lain dalam masalah ini."


"Hei anak muda!. Kami saat ini sedang mencoba menghentikan perbuatan bejad yang telah dilakukan oleh kakek tua itu!."


"Hush!. Jaga bicara kalian!. Justru kalianlah yang menganiaya aku!."


Jaya Satria jadi bingung, karena mereka sama-sama bersikeras. Ia hampir saja menjadi korban mereka yang sedang bertarung?.


"Maaf kisanak semuanya. Bukan aku bermaksud untuk ikut campur dengan masalah kalian. Tapi aku rasa sebaiknya masalah ini diselesaikan dengan cara yang baik."


"Sudah!. Kami sudah berusaha untuk bersikap baik. Tapi kami malah dihajar sama kakek tua itu!."

__ADS_1


"Dia sangat kejam!. Padahal kami cuma lewat kebun miliknya saja. Bukan mencuri!. Tapi dia malah selalu menuduh kami. Dan parahnya kami malah dihajar olehnya."


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Apakah itu benar?. Mengapa sampai hati tuan melakukan itu?."


"Sudah jelas!. Mereka bukan hanya sekedar lewat. Melainkan mencuri buah yang ada di kebunku!. Aku tidak suka ada pencuri di kebun milikku."


"Apakah itu benar kisanak?."


"Hah! Sudahlah!. Jangan kau ikut campur dalam urusan kami anak muda. Dan kau terlihat seperti orang asing, mengenakan topeng penutup wajah. Memangnya kau ini buronan hah?."


Dengan kasarnya Pendekar Tapa Simulung menyerang Jaya Satria. Memukul dadanya, sehingga ia terjajar beberapa langkah. Setelah itu Pendekar Tapa Simulung pergi, namun disertai dengan makian para warga yang merasa kesal dengan sikap pendekar tua itu.


"Lihatlah anak muda. Betapa kasar dan jahatnya ia pada siapapun. Bahkan dia tidak mau mendengarkan perkataan siapa saja. Kami sungguh kewalahan menghadapinya."


Kembali ke masa ini.


Pendekar Tapa Simulung teringat, kesan pertama ketika ia bertemu dengan Jaya Satria atau nama sebenarnya adalah Raden Cakara Casugraha. Ia teringat ketika saat itu Jaya Satria lewat di kebunnya.


Kembali ke masa itu.


Pendekar Tapa Simulung seperti biasanya, ia selalu memantau kebunnya agar tidak dilewati oleh siapa saja. Tiba-tiba ia melihat ada seseorang berpakaian serba hitam, dan mengenakan topeng penutup wajah. Hatinya panas, dan ia segera mendekati orang yang telah berani memasuki kebun miliknya.


"Maaf tuan. Aku sama sekali tidak mencari masalah apapun. Aku hanya kebetulan lewat di daerah sini."


"Kau telah memasuki kebunku tanpa izin. Sam kau berani mengatakan padaku hanya kebetulan lewat saja?. Aku tidak suka pada orang pendusta seperti kau!. Hiyaaaaaaat."


Tanpa banyak bicara Pendekar Tapa Simulung malah menyerang Jaya Satria. Beruntung Jaya Satria menyadari serangan itu, sehingga ia dapat menghindari serangan itu dengan melompat. Dan ia mendarat di atas pohon yang tak jauh di belakangnya.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Tuan. Janganlah tuan mengikut amarah tuan. Bumi ini milik Allah SWT. Meskipun tanah ini adalah kebun milik tuan, namun yang berhak atas semua ini adalah Allah SWT. Jadi tuan jangan mudah terpancing amarah. Hanya karena tuan merasa memiliki wewenang atas kebun ini."


"Kau tidak usah banyak bicara kunyuk jelek!. Aku tidak perlu Tuhan yang kau sebutkan itu."


"Itulah letak salah tuan. Harta dan nyawa itu adalah titipan. Dan tuan akan menerima akibat dari perbuatan tuan yang semena-mena kepada siapa saja yang lewat di daerah ini."


"Kunyuk busuk!. Kau malah berani menceramahi aku?. Turun kau!. Akan aku lumatkan tubuhmu itu!."

__ADS_1


Jaya Satria mengamati pendekar tua itu. Rasanya pendekar itu merasakan kesepian di dalam hidupnya, sehingga ia marah-marah. Walaupun sebenarnya ia ingin bergaul dengan siapa saja. Namun ia merasa takut, dan tidak terbiasa.


"Tuan. Kesedihan yang tuan rasakan bukanlah alasan untuk membuat tuan marah-marah kepada siapa saja."


"Kau!. Tidak usah kau banyak bicara!." Pendekar Tapa Simulung malah menyerang Jaya Satria. Akan tetapi serangan yang datang padanya. Jaya Satria hanya menghindari setiap serangan yang datang padanya. Tidak berniat melawan sedikitpun, membuat Pendekar Tapa Simulung merasa kesal, dan semakin marah.


"Hei!. Orang jelek!. Kau berani merendahkan aku!. Keluarkan semua kepandaian yang kau miliki!. Jangan hanya menghindar saja!."


"Tuan. Tidak ada gunanya tuan menyerang aku. Sudah aku katakan, bahwa bumi ini milik Allah SWT. Jadi tuan jangan bersikap semena-mena, kepada orang yang kebetulan lewat di daerah ini."


"Kau jangan menguji kesabaran aku!. Aku akan mengusir mu dari sini!."


"Tanpa tuan menggunakan kekerasan. Aku juga akan pergi dari sini. Tuan harus menjaga sikap tuan. Agar tidak ada yang membenci sikap tuan. Ingat tuan!. Ada masanya seseorang membutuhkan orang lain untuk berinteraksi." Ucap Jaya Satria mencoba untuk mengingatkan Pendekar Tapa Simulung. Sayangnya Tapa Simulung memang tidak mau mendengarkan siapa saja yang dibicarakan oleh siapapun. Akan tetapi hari itu, untuk pertama kalinya ia mendengar suara merdu seseorang. Ketika Jaya Satria membacakan sholawat badar dengan suara yang cukup kuat.


Kembali ke masa ini. Ya, kira-kira itulah kesan pertemuannya dengan Jaya Satria. Rasanya ia ingin menangis, dan rindu dengan suara merdu Jaya Satria.


"Jika kondisi fisikku sudah aman, aku akan menuju istana kerajaan suka damai. Aku sangat merindukan suaranya." Dalam hatinya sangat rindu luar biasa dengan suara jaya satria.


...***...


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana saat ini sedang mencari keberadaan kedua ibundanya. Ada hal penting yang ingin ia sampaikan pada kedua ibundanya. Saat ia hendak meninggalkan biliknya, ia bertemu dengan kedua ibundanya.


"Ibunda."


"Nanda prabu."


"Ada apa nak?. Mengapa terlihat murung seperti itu?."


"Ada hal penting yang ingin nanda sampaikan ibunda."


"Apa itu nak?. Katakan pada ibunda."


"Apa yang sedang nanda pikirkan, sehingga nanda terlihat sangat gelisah nak?."


"Apakah kita bisa berbicara masalah ini hanya bertiga saja ibunda."

__ADS_1


Tentunya Ratu Dewi Anindyaswari dan Ratu Gendhis Cendrawati sedikit merasa bingung. Karena tidak biasanya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengajak keduanya berbicara. Apakah yang akan mereka bahas?. Jangan lupa ikuti terus ceritanya. Dan jangan lupa mampir di karya baru author yang tidak berwujud ini, dengan judul Patih Rangga Dewa dan Pangeran Kesayangan. Jangan lupa dukungannya juga ya pembaca tercinta.


...***...


__ADS_2