
...****...
"Ayahanda prabu. Apa salah yunda agniasari ariani pada mereka. Mengapa mereka tega sekali mereka menyakitinya." Raden Cakara Casugraha masih bersimpuh berlutut sambil memeluk kaki ayahandanya.
Sementara itu, Raden Ganendra Garjitha, Raden Gentala Giandra, Putri Ambarsari, Raden Hadyan Hastanta dan Putri Andhini Andita melihat itu dengan perasaan berdebar-debar.
"Mereka semua benar-benar menguji kesabaran nanda. Nanda tidak rela mereka menyakiti yunda. Jika terjadi sesuatu pada yunda, yunda ingin menuntut mereka semua. Atau nanda yang akan menghukum mereka ayahanda prabu."
Tanpa sadar Prabu Kawiswara Arya Ragnala juga meneteskan air matanya. Suara tangis putranya begitu menusuk hatinya.
"Bangunlah nak. Kita selesaikan masalah ini dengan baik. Percayalah pada ayahanda nak." Prabu Kawiswara Arya Ragnala membantu anaknya untuk berdiri.
"Tentu saja nanda percaya pada ayahanda prabu."
"Kalau begitu percayakan semuanya pada ayahanda." Prabu Kawiswara Arya Ragnala menghapus air mata anaknya. Rasanya sangat sedih melihat anaknya menangis terisak seperti ini karena berusaha menahan amarah yang ada di dalam hatinya.
"Terima kasih ayahanda prabu."
"Sama-sama putraku." Ia mengelus kepala anaknya dengan sayang. Tak lupa ia cium puncak kepala anaknya.
Setelah itu ia menatap ke arah anak-anaknya yang lain. Membuat mereka semua terkejut sekaligus takut.
"Mengapa nanda sekalian melakukan hal yang berbahaya?. Apa yang nanda sekalian inginkan?." Prabu Kawiswara Arya Ragnala sungguh tidak mengerti mengapa mereka semua melakukan hal yang diluar dugaannya?.
"Itu balasan apa yang telah dilakukan oleh rayi cakara casugraha ayahanda prabu."
"Tapi mengapa pada adik kalian nanda putri agniasari ariani?. Apa kesalahannya sehingga kalian melampiaskannya padanya?." Suara sang prabu terdengar agak tinggi, membuat mereka semua takut.
"Mereka memang memusuhi kami ayahanda prabu. Mereka telah melanggar janji yang telah disepakati. Nanda ingin mereka dihukum ayahanda prabu."
"Rayi cakara casugraha!. Kau jangan memanasi suasana!."
__ADS_1
"Kau tidak usah mengadu yang tidak-tidak."
"Cukup!. Kalian masih saja mau berkilah?. Apakah ayahanda prabu mengajari kalian untuk saling bermusuhan?. Mengapa kalian saling menyakiti satu sama lain?. Apakah kalian tidak kasihan pada ayahanda yang menangis setiap malam, memikirkan anak-anaknya yang seperti ini?. Apakah kalian ingin membunuh ayahanda secara perlahan?."
"Mohon ampun ayahanda prabu. Nanda tidak pernah berpikiran seperti itu." Raden Cakara Casugraha memberi hormat pada ayahandanya. Rasanya sangat sedih mendengar apa yang dikatakan ayahandanya.
"Ampuni kami ayahanda prabu. Kami tidak mungkin melakukan itu."
"Kami tentunya sangat menyayangi ayahanda prabu."
"Kami tidak mungkin membunuh ayahanda prabu, kami sayang pada ayahanda prabu."
"Jika kalian memang sayang pada ayahanda. Mengapa kalian saling menyakiti satu sama lain?. Dengan kelakuan yang kalian perbuat, ayahanda merasa tertekan. Hati ayahanda merasa iba. Apakah kalian tidak peduli dengan perasaan ayahanda yang sangat menyayangi kalian semua nak." Hatinya sangat pedih, karena anak-anaknya saling bermusuhan, dan saling ingin menyingkirkan?.
"Ampuni nanda ayahanda. Janganlah ayahanda berkata seperti itu." Raden Cakara Casugraha langsung berlutut dihadapan ayahandanya. Begitu juga dengan mereka semua.
Mereka semua terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Prabu Kawiswara Arya Ragnala.
"Harus bagaimana ayahanda berkata pada kalian, sehingga kalian mengerti. Betapa perih hati ayahanda melihat kalian yang tidak bisa akur satu sama lain. Padahal sebelumnya kalian baik-baik saja. Tapi mengapa kalian semua tiba-tiba berubah, saling membenci satu sama lain, bahkan saling membunuh." Prabu Kawiswara Arya Ragnala tidak kuasa menahan perasaannya.
"Jika kalian terus seperti ini. Lebih baik kalian ambil pedang kalian satu persatu. Tusuk saja tubuh ayahanda dengan pedang itu, dari pada ayahanda menyaksikan kalian seperti ini terus. Itu lebih baik dari pada ayahanda merasa sedih karena perangai kalian."
Mereka semua menyadari itu. Hanya saja mereka tidak tahu bagaimana caranya menolak kebencian yang terlanjur tertanam dihati mereka.
Prabu Kawiswara Arya Ragnala hanya berharap, jika anak-anaknya akur kembali seperti sebelumnya. "Ternyata benar apa yang dikatakan oleh putraku cakara casugraha. Perubahan sikap anak-anakku itu, karena pengaruh dari dinda ardiningrum bintari, juga dinda gendhis cendrawati yang belum bisa menerima kehadiran dinda dewi. Yang pada akhirnya malah berdampak ke anak-anakku. Apa yang harus aku lakukan pada anak-anakku yang sekarang?." Dalam hati sang Prabu merasakan kegelisahan yang luar biasa.
Setelah itu, Prabu Kawiswara Arya Ragnala memutuskan untuk memisahkan mereka semua. Ratu Ardiningrum Bintari tinggal terpisah dengan anak-anak mereka. Sebagai hukuman, Raden Ganendra Garjitha, Raden Gentala Giandra, dan Raden Hadyan Hastanta melakukan abdi istana. Mereka melayani siapa saja yang masuk ke Istana untuk meminta bantuan. Sementara itu Putri Ambarsari dan Putri Andhini Andita menjalani hukuman menjadi emban dalam dua purnama untuk mengabdi pada penggawa istana. Hukuman itu memang awalnya mereka tolak, karena mereka merasa keberatan melakukannya.
Tapi mereka tidak punya pilihan, karena mereka tidak mau dihukum menjaga istana kecil bagian barat, yang lebih jauh dari ibunda mereka.
...***...
__ADS_1
Kembali ke masa sekarang.
"Nanda selalu mengorbankan diri nanda untuk melindungi yunda, juga ibunda. Rasanya sangat sedih, saat nanda meninggalkan istana ini nak."
"Ibunda. Jangan menangis lagi. Nanda tidak akan meninggalkan ibunda. Percayakan semua takdir baik kepada Allah SWT."
"Nanda benar. Ibunda akan selalu percaya pada takdir baik dari Allah SWT, nak." Ratu Dewi Anindyaswari mengelus puncak kepala anaknya, dan tak lupa ia mencium puncak kepala anaknya.
"Terima kasih ibunda selalu menyayangi nanda. Maafkan nanda, nanda sangat merindukan ibunda selama dibalik topeng ini ibunda."
"Apakah nanda tidak bisa melepaskan topeng ini nak?. Ibunda juga selalu merindukan nanda."
"Untuk saat ini tidak bisa ibunda. Hanya ada satu orang putra yang harus ibunda perhatikan. Yaitunya gusti prabu asmalaraya arya ardhana, anak ibunda yang asli."
"Tidak nak, nanda juga putra ibunda. Ibunda memiliki dua orang putra sekarang. Jika nanda bertemu dengan ibunda, nanda harus melepaskan topeng itu nak. Ibunda sangat sedih karena ibunda terlalu lama berpisah dengan nanda. Ibunda selalu menunggu kepulangan nanda. Hati ibunda sangat sedih, karena nanda sangat jauh dari jangkauan ibunda nak." Ratu Dewi Anindyaswari memeluk erat anaknya, seakan ia tidak mau kehilangan anaknya untuk kesekian kalinya.
"Ibunda jangan meminta hal yang tidak mungkin nanda lakukan ibunda. Nanda hanyalah gumpalan kemarahan kutukan dari raden cakara casugraha. Rasanya sangat sedih ibunda." Tanpa sadar Jaya Satria menangis sedih mengenai fakta tentang dirinya.
"Nanda jangan berkata seperti itu nak. Bagaimanapun juga, nanda tetaplah anak ibunda. Anak kesayangan yang ibunda cintai." Ratu Dewi Anindyaswari menangkup wajah anaknya, ia tatap anaknya dengan senyuman lembut. "Nanda tetaplah putra ibunda. Cakara casugraha, itu adalah kenyataannya. Ibunda tidak pernah menganggap nanda sebagai pengganti adikmu yang telah meninggal. Nanda tetaplah putra ibunda dengan nama cakara casugraha."
"Terima kasih ibunda. Ibunda adalah ibu yang paling sempurna di dunia ini. Itulah mengapa nanda harus melindungi ibunda. Melindungi senyuman ibunda yang paling cantik di dunia ini." Jaya Satria mencium kedua tangan ibundanya dengan sayang. "Kebaikan ibunda tiada bandingnya dari apapun di dunia ini." Ucapnya lagi.
"Nanda juga begitu nak. Nanda adalah anak putra terbaik yang ibunda miliki. Nanda selalu melindungi ibunda dengan sekuat tenaga. Terima kasih nak, tanpa nanda, ibunda tidak akan bisa bertahan sampai sekarang."
Mereka saling mencurahkan perasaan mereka satu sama lain. Kasih sayang ibu dan anak.
"Jika saja kanda prabu ada di sini. Pasti kanda prabu bangga padamu nak." Dalam hati Ratu Dewi Anindyaswari mengingat mendiang suaminya.
Apakah yang akan terjadi setelah ijin. Temukan jawabannya.
(Cerita tentang Raden Cakara Casugraha akan dilanjutkan lagi. Kita akan kembali ke masa ini. Nanti akan diceritakan oleh Syekh Asmawan Mulia dan Aki Jarah Setandan tentang perjuangan Raden Cakara Casugraha selama berada di luar istana saat menjalani hukuman buang. Semoga pembaca tercinta selalu menyukai alur ceritanya. Dukungan dari pembaca tercinta selalu membuat author yang tidak berwujud ini selalu semangat lanjutin ceritanya 😘)
__ADS_1
...***...