
...***...
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat terkejut, karena ia melihat Jaya Satria duduk di sampingnya?. Tanpa sadar ia memeluk Jaya Satria dengan eratnya.
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin, kau baik-baik saja jaya satria."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana begitu mencemaskan keadaan Jaya Satria, ia merasa lega melihat Jaya Satria masih dalam keadaan sehat-sehat saja.
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin, Allah SWT masih memberikan kita nikmat hidup. Meskipun kita telah mendapatkan serangan yang mematikan."
Jaya Satria mengerti dengan kekhawatiran, yang dirasakan prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
Mereka melepaskan pelukan, saling menatap satu sama lain, dan teringat hal terakhir yang mereka lakukan adalah, bertarung melawan kelompok sengkar iblis. Mereka terkena hantaman pukulan telapak tangan dewa kematian.
Ya, mereka masih mengingat dengan jelas, merasakan tubuh mereka yang terasa, panas sesak di dada mereka.
Ketika mereka hendak bertanya, siapa yang telah membawa, dan mengobati mereka?. Pertanyaan itu terjawab, ketika mereka melihat dua sosok, yang tidak asing lagi bagi mereka.
"Guru."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memberi hormat kepada gurunya Ki Jarah Setandan. Rasa hormat kepada gurunya sangat lah besar, meskipun dalam ia sendiri adalah seorang raja.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh. Syekh guru."
Jaya Satria memberi hormat pada Syekh Asmawan Mulia. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan gurunya di sini?. Jadi guru mereka yang membawa mereka ke sini?.
"Walaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh. Nanda jaya satria."
Syekh Asmawan Mulia tersenyum kecil, ternyata obat-obatan yang mereka gunakan, untuk mengobati prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat manjur, dan hampir setengah hari sang prabu dan Jaya Satria telah sadar.
"Untuk dua hari ini, tetaplah di sini, untuk memastikan, bahwa tubuh kalian aman dari pengaruh racun ganas itu."
Ucap Aki Jarah Setandan. Sebab, ia masih mengkhawatirkan kondisi sang prabu, begitu juga dengan keadaan Jaya Satria.
"Apakah selama itu guru?."
prabu Asmalaraya Arya Ardhana sedikit gelisah. Karena ia teringat dengan ibundanya Dewi Anindyaswari, yang berada di istana saat ini.
"Mohon ampun nanda prabu. Keadaan nanda prabu sangat tidak memungkinkan, untuk Kembali ke istana dalam waktu yang dekat ini."
Syekh Asmawan Mulia menjelaskan kondisi Sang Prabu, juga Jaya Satria. Kondisi mereka yang melemah saat ini bisa saja dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang menginginkan kematian dirinya.
"Tinggallah barang beberapa hari di sini, percayalah pada kami."
Aki Jarah Setandan hanya tidak ingin, kondisi sang Prabu yang sedang lemah dimanfaatkan oleh musuhnya.
Apakah sang prabu akan mendengarkan apa yang mereka katakan?. Baca terus ceritanya.
...***...
Putri Gempita Bhadrika dan Nini Kabut Bidadari masih bertarung, mereka tidak mau mengalah satu sama lain. Mereka terus mengadu ilmu Kanuragan yang mereka miliki.
"Jangan kira kau masih muda, tapi masih memiliki tenaga yang kuat, untuk menjatuhkan aku!."
Nini Kabut Bidadari sangat kesal, ia merasa dipermainkan, oleh jurus-jurus yang dikeluarkan oleh Putri Gempita Bhadrika.
Namun ketika mereka hendak melanjutkan pertarungan, mereka dikejutkan oleh dua orang yang datang dalam keadaan terluka parah.
"Kalian?. Bukankah kalian adalah, anak buahnya kakang dharma seta?."
Nini Kabut Bidadari mengalihkan pandangannya, ia tidak menyangka akan melihat anak buah Ki Dharma Seta berada di sini?.
"Bagaimana mungkin, kalian bisa berada di sini?. Dimana kakang Dharma Seta berada?. Katakan padaku!."
Nini Kabut Bidadari sangat panik, ia tidak melihat orang yang ia cintai bersama kedua orang itu.
"Maaf nini."
Hanya kata itu yang keluar dari mulutnya. Semara Layana takut mengatakan, apa yang mereka alami. Apalagi tubuhnya masih sakit setelah pertarungan itu.
Sedangkan Mayang Sari telah pingsan, karena tidak sanggup lagi bergerak, setelah melakukan perjalanan jauh, dengan tubuh terluka dalam?.
"Katakan padaku!"
Bentak Nini Kabut Bidadari tidak sabaran, ia ingin segera mengetahui bagaimana keadaan Ki Dharma Seta.
__ADS_1
Sementara itu, Putri Gempita Bhadrika untuk sementara waktu, hanya berdiam diri saja. Karena memang tidak mengerti apa yang terjadi, dan mengapa mereka terluka.
"Aki dharma seta, tewas di tangan dua orang penopang. Kami tidak sanggup untuk melawannya, karena dia mempunyai jurus cakar naga cakar petir." Jawab Semara Layana.
"Itu tidak mungkin!." Ya, rasanya memang tidak mungkin. "Ilmu kanuragan kakang dharma seta, jauh diatas pendekar manapun. Mana mungkin bisa dikalahkan begitu saja!." Hatinya sungguh tidak terima, hatinya sangat sakit menerima kabar itu.
"Tapi itulah yang terjadi nini." Semara Layana tidak akan pernah lupa kejadian itu.
"Siapa orang yang dicari kakang Dharma Seta sebenarnya?. Mengapa ia bisa tewas?." Batinnya tidak bisa menerima kenyataan itu, hatinya semakin terasa sesak, mengapa orang yang ia cintai, pergi begitu saja meninggalkan dirinya?.
Apakah hang akan dilakukan oleh Nini Kabut Bidadari?. Apakah ia akan membalaskam dendam kematian orang yang ia cintainya, kepada sosok misterius itu?. Lalu bagaimana dengan Putri Gempita Bhadrika, yang menginginkan air telaga warna bidadari?. Apakah ia akan menunggu izin dari Nini Kabut Bidadari, atau mengambilnya sendiri mumpung pemiliknya sedang bersedih?. penasaran?. Temukan jawabannya di ceritanya.
...***...
Sementara itu di Istana.
Ratu Dewi Anindyaswari begitu cemas, sudah dua hari berlalu, belum ada kabar tentang putranya.
Ia memerintahkan Senopati Mandaka Sakuta, untuk menyelidiki keadaan putranya di sana, namun mereka belum juga kembali.
Saat ia ini berada di dalam kamarnya. Ia selalu berdoa kepada Tuhan, agar anaknya baik-baik saja. Ia berharap anaknya pulang dalam keadaan baik-baik saja.
Namun siapa sangka, Ratu Ardiningrum Bintari dan Ratu Gendhis Cendrawati, masuk ke biliknya dengan ekspresi senang?. Kenapa mereka bisa seperti itu dalam keadaan seperti ini?.
"Lihatlah, rayi dewi anindyaswari. Itu akibat, dari kesombongan putramu. Sekarang ia belum kembali."
Ratu Gendhis Cendrawati dengan teganya berkata seperti itu, ketika Ratu Dewi Anindyaswari sedang sedih, mencemaskan keselamatan putranya.
"Kau harusnya menyadarkan putramu, agar tetap mengingat karma phala, atas apa yang ia lakukan padaku, juga keluargaku di masa lalu." Ratu Ardiningrum Bintari berkata seperti itu?.
Hati siapa tidak terasa sakit mendengarkan ucapan itu?. Apakah mereka tidak berkata lebih ramah lagi padanya?. Ah tidak, apakah mereka tidak peduli dengan keadaan putranya?.
"Aku mohon yunda. Janganlah yunda berkata seperti itu."
Rasanya sangat sedih mendengarnya, apakah mereka tidak sedikitpun mengerti kegelisahan yang ia rasakan?. Tidaklah mereka menganggap, bahwa anaknya adalah anak mereka juga?. Apakah mereka memang menginginkan kematian putranya?.
"Aku percaya bahwa nanda prabu, akan segera pulang ke istana ini. Jadi yunda jangan berkata seperti itu padaku."
Hatinya perih, hingga tanpa sadar ia menangis sedih, karena terlintas pikiran buruk, akibat pengaruh dari ucapan ratu Ardiningrum Bintari.
...***...
Sementara itu, masih dilingkungan istana.
Raden Ganendra Garjitha, Raden Gentala Giandra, Raden Hadyan Hastanta, dan juga putri Ambarsari sangat geram, karena ternyata anak buah yang dikirim untuk membunuh prabu Asmalaraya Arya Ardhana ternyata gagal, dan mereka malah kabur dari sana?.
"Benar-benar tidak becus, tidak berguna!."
Umpat Raden Ganendra Garjitha dengan marahnya. Apakah tidak bisa mereka membunuh satu orang saja?. Padahal mereka adalah pendekar pembunuh bayaran?.
"Rayi hadyan hastanta!. Kau bilang bahwa mereka dapat diandalkan, tapi tetap saja tidak bisa membunuh rayi prabu!." Raden Gentala Giandra terlihat marah, ia tidak terima hasil kerja orang-orang suruhan itu.
"Maafkan aku raka. Aku tidak menyangka, bahwa mereka dapat dikalahkan raka."
Raden Hadyan Hastanta mencoba untuk menenangkan kakaknya, Raden Ganendra Garjitha agar tidak marah padanya.
Disaat mereka marah-marah, mereka melihat kedatangan Senopati Mandaka Sakuta, yang telah pulang membawa beberapa prajurit istana, untuk memastikan kondisi sang Prabu, raja junjungan mereka.
Raden Ganendra Garjitha dan adik-adiknya begitu penasaran, mengapa mereka pulang tanpa adanya prabu Asmalaraya Arya Ardhana?. kemana sang prabu berada?.
Tentunya menjadi pertanyaan bagi mereka, hingga dengan refleks mereka ikut masuk ke dalam istana, dan mengetahui alasan kenapa, sang prabu tidak pulang bersama rombongan yang datang menjemputnya.
...***...
Kembali ke tempat Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria.
Mereka berdua sedang memulihkan kondisi mereka, dengan berlatih ringan dihadapan guru mereka. Perlahan-lahan kondisi tubuh mereka mulai membaik, dan mereka sudah agak leluasa, untuk menggerakkan tubuh mereka dengan memainkan beberapa jurus yang mereka miliki.
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin, prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria baik-baik saja."
Syekh Asmawan Mulia merasa tenang, saat melihat Jaya Satria dan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sudah mulai baikan.
"Dewata agung masih melindungi mereka."
Aki Jarah Setandan juga merasa bersyukur, apalagi melihat keduanya berlatih untuk merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku.
__ADS_1
"Benar kakang. Allah SWT masih sayang pada mereka berdua, hingga selamat dari ganasnya racun yang bersarang dari tubuh mereka berdua." Syekh Asmawan Mulia masih mengingat, proses pengobatan yang mereka lakukan pada saat itu.
"Tapi kita tetap harus waspada adi. Aku takut, sewaktu-waktu racun itu kembali menyerang tubuh mereka."
"Semoga saja tidak kakang. Karena obat yang yang kita berikan, lumayan cukup membantu mereka, memuntahkan semua racun yang ada didalam tubuh mereka."
"Aku juga berharap seperti itu kakang. Aku sangat mengkhawatirkan kondisi mereka."
"Berdoa saja adi. Semoga keduanya dalam keadaan baik-baik saja, sampai mereka kembali ke istana."
"Semoga saja ya Allah."
Aki Jarah Setandan, dan Syekh Asmawan Mulia sangat berharap, keduanya bisa sembuh total dari jurus mematikan itu. Karena akan berbahaya, jika kondisi mereka belum pulih. Apalagi jika mereka meninggalkan Istana Kerajaan Suka Damai terlalu lama.
Takutnya memang ada pihak yang menginginkan kejadian ini. Memanfaatkannya, untuk mendapatkan tahta Kerajaan Suka Damai.
...****...
Kembali ke Istana Kerajaan Suka Damai.
kabar kepulangan Senopati Mandaka Sakuta telah sampai ditelinga ratu Dewi Anindyaswari, ia segera menuju ruang utama istana dimana tempat bertemunya tamu raja?.
"Hormat hamba gusti ratu."
Senopati Mandaka Sakuta memberi hormat pada Permaisuri Dewi Anindyaswari.
Disaat waktu bersamaan, keluarga istana berkumpul semua di sana, mereka ingin tahu apa yang terjadi setelah kepulangan Senopati Mandaka Sakuta, dari Hutan Taring Belati Raga.
"Senopati Mandaka Sakuta. Katakan padaku, dimana putraku prabu Asmalaraya Arya Ardhana?. Mengapa tidak pulang bersamamu?." Hatinya sedang dipenuhi kegelisahan, karena menunggu kabar kepulangan putranya.
Agak berat, untuk ia menjawab pertanyaan dari Ratu Dewi Anindyaswari, tapi ia harus menyampaikannya, apapun itu.
"Mohon ampun gusti ratu dewi anindyaswari. Kami telah memeriksa hutan itu, namun kami tidak menemukan keberadaan gusti prabu di sana, gusti."
Jawaban dari Senopati Mandaka Sakuta, cukup menusuk hatinya yang sedang pilu.
"Apa yang kau katakan senopati. katakan padaku, jika kau berbohong padaku senopati."
"Mohon ampun gusti ratu. Kami telah memeriksanya dengan baik. Tapi kami memang tidak menemukan gusti prabu di sana."
"Jika putraku tidak ditemukan di sana. Aku yakin putraku masih hidup." Ratu Dewi Anindyaswari mencoba menekan perasaan takutnya, akan kehilangan putra satu-satunya yang ia miliki. "Kalau begitu, aku mohon. Pastikan sekali lagi, putraku pasti masih berada di sana."
"Sudahlah rayi dewi anindyaswari!." Suara Ratu Ardiningrum Bintari membuat mereka melihat ke arahnya. Termasuk Ratu Dewi Anindyaswari, dan Senopati Mandaka Sakuta.
"Jangan kau salahkan mereka!. Harusnya kau berterima kasih pada mereka. Karena mereka mau bersusah payah, masuk ke hutan angker itu, hanya untuk memastikan kematian putramu."
perkataan Ratu Ardiningrum Bintari, semakin menusuk hati Ratu Dewi Anindyaswari.
"Kau ini memang tidak tahu terima kasih rayi. Kau pikir kau siapa?. Berani meragukan laporan mereka." Ratu Gendhis Cendrawati berkata seperti itu?.
"Benar yang dikatakan ibundaku. Kenapa ibunda masih saja ragu?." Raden Ganendra Garjitha ikutan bersuara. "Jika memang, ibunda tidak terima dengan apa yang disampaikan oleh senopati mandaka sakuta, kenapa tidak ibunda saja yang pergi ke sana untuk memastikannya sendiri." Lanjutnya lagi.
"Ya, jika memang ibunda tidak percaya. Pergilah ke hutan taring belati. Ibunda bisa sepuasnya memastikan kematian rayi prabu." Raden Gentala Giandra tersenyum lebar, mendengus mengejek Ratu Dewi Anindyaswari.
"Aku rasa itu percuma saja, karena hasilnya akan tetap sama. Sebaiknya ibunda persiapkan kremasi untuk rayi prabu. Mungkin ada orang luar yang mengantar jenazahnya ke istana ini nantinya." Bahkan Putri Ambarsari dengan teganya berkata seperti itu?.
"Maaf ibunda. Sebaiknya ibunda jangan terlalu larut dalam kesedihan. Tidak baik meratapi apa yang telah terjadi." Ucap Putri Andhini Andita.
Tidak adakah diantara mereka yang merasa simpati padanya?. Hatinya terasa sakit mendebarkan apa yang mereka katakan.
"Ternyata benar, apa yang dikatakan oleh gusti prabu. Bahwa tidak ada satupun dari mereka, yang akan bersimpati. Jika terjadi sesuatu padanya nanti. Gusti ratu dewi anindyaswari. Sungguh malang sekali nasibmu berada di istana ini." Dalam hati Senopati Mandaka Sakuta, merasa simpati pada Ratu Dewi Anindyaswari. Ia masih ingat, dengan pesan yang disampaikan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sebelum pergi. Beliau menitipkan pesan bahwa, jangan ada satupun orang yang mendekati ibundanya selama ia pergi.
Sekarang ia bisa melihat sendiri, bagaimana perlakuan mereka pada Ratu Dewi Anindyaswari. Sungguh sangat menyakitkan hati. Jadi, wajar saja jika sang prabu mengkhawatirkan ibundanya.
"Mohon ampun gusti ratu, sebaiknya gusti ratu dewi anindyaswari untuk saat ini beristirahatlah. Kami akan berusaha ke sana. Untuk memastikannya."
"Terima kasih senopati." Ratu Dewi Anindyaswari merasa lega. Setidaknya, masih ada yang merasa iba pada dirinya.
Tanpa banyak bicara atau berkata apa-apa. Ratu Dewi Anindyaswari, segera meninggalkan mereka semua. Ia kembali ke biliknya, untuk menenangkan hatinya yang gelisah.
"Oh dewata yang agung, kuatkanlah hati hamba. Semoga saja putra hamba baik-baik saja."
Air mata kesedihan telah membasahi pipinya, karena hatinya yang sakit, seperti ditusuk oleh belati yang sangat tajam. Namun nalurinya sebagai seorang ibu mengatakan bahwa anaknya baik-baik saja. Anaknya masih sehat walafiat tanpa kekurangan apapun. Ratu Dewi Anindyaswari mencoba menguatkan hatinya meskipun ia sedang menangis terisak.
Bagaimana kelanjutannya?. Temukan jawabannya. Jangan lupa dukungannya ya.
__ADS_1