
...***...
(Let's baca,,,,,, hehehe)
Jaya Satria saat ini sedang bertarung dengan kelompok sengkar iblis. Ia berusaha menghalau mereka yang mencoba mendekati Mayang Sari, atau berusaha untuk membebaskan wanita itu.
Jaya Satria benar-benar bertarung habis-habisan, agar tahanan tetap berada di tempat. Meskipun berbagai macam cara mereka lakukan, untuk memukul mundur Jaya Satria. Namun Jaya Satri masih bisa bertahan dengan serangan yang datang padanya.
"Bedebah!. Kau benar-benar keras kepala!."
Ki Dharma Seta sangat muak, mengapa ia begitu sulit untuk menghadapi pemuda itu?.
"Sudahlah!. Tidak ada gunanya kalian melawanku!."
Jaya Satria tidak akan kalah begitu saja, meskipun ia sendirian menghadapi mereka. Ia akan bertahan sebisa mungkin, hingga prabu Asmalaraya Arya Ardhana datang ke sini.
"Biarkan kami yang menghadapinya ki." Semara Layana sama sekali, tidak menyukai gaya sombong Jaya Satria. Ia ingin segera menghajar orang itu dengan tangannya, jika perlu menggunakan pedangnya.
"Kalau begitu lakukan!. Biar aku cari cara, agar membebaskan mayang sari."
Ki Dharma Seta mempersilahkan mereka menghadapi Jaya Satria, sedangkan ia mencari cara, agar dapat membebaskan Mayang Sari.
...***...
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana baru saja meninggalkan istana. Ia pergi dengan menggunakan kuda agar cepat sampai di hutan taring belati raga. ia tidak mau buang-buang waktu, ia takut terjadi sesuatu pada Jaya Satria.
"Berhati-hatilah nak, perhatikan langkah nanda."
Ratu Dewi Anindyaswari melepaskan kepergian anaknya. Dengan berat hati, ia melepaskan kepergian anaknya. Tapi apalah daya, ia tidak bisa mencegahnya.
"Ibunda juga berhati-hatilah di istana. Nanda sudah menugaskan, senopati Mandaka Sakuta untuk menjaga ibunda."
Ya, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga mencemaskan keadaan ibundanya di istana. Tetapi ia juga tidak bisa membiarkan Jaya Satria bertarung sendirian di sana.
Sementara itu, Raden Ganendra Garjitha, Raden Gentala Giandra, Raden Hadyan Hastanta, dan putri Ambarsari. Sedang mengintip dari kejauhan memperhatikan kepergian prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Rasanya ada yang aneh raka." Raden Gentala memperhatikan penampilan adiknya itu.
"Benar raka. Mengapa rayi prabu menggunakan, penutup wajah seperti itu?." Putri Ambarsari merasa curiga.
"Mungkin rayi prabu tidak ingin, ada satu orangpun yang mengenalinya, sebagai seorang raja. Makanya dia menggunakan topeng penutup wajah." Raden Ganendra Garjitha berpendapat mengenai penampilan sang prabu.
"Benar juga Raka. Akan sangat berbahaya, jika dia pergi dengan mahkota kebesarannya." Raden Hadyan Hastanta setuju dengan pendapat kakaknya.
Sepertinya, mereka sangat memerhatikan kepergian Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
Namun disisi lain, Putri Andhini Andita juga mengintai dari kejauhan.
"Rayi prabu, menggunakan pakaian yang sama, dengan orang misterius itu?. Sebenarnya apa yang sedang direncanakan olehnya?." Putri Andhini Andita juga memperhatikan itu.
"Ya. Aku harus mengikutinya diam-diam, agar aku tahu apa yang dia lakukan di luar istana."
Putri Andhini Andita telah menguatkan hatinya, ia menekan perasaan ingin tahunya. Tentang sosok misterius yang bersama adiknya. Ia juga harus berganti pakaian, agar ia tidak dicurigai adiknya jika ketahuan.
...***...
Jaya Satria akhirnya terpojok, disaat itulah Ki Dharma Seta berhasil membebaskan Mayang Sari. ia juga membebaskan Mayang Sari dari totokan, yang membuat anak buahnya itu tidak bisa bergerak.
"Terima kasih, karena aki telah membebaskan aku."
Mayang Sari sangat senang karena terbebas. Ia merasa lega, karena terlalu lama berada di hutan taring belati raga.
"Jangan kau pikir, pertarungan ini berakhir setelah aku membebaskan anak buahku, anak muda."
Tampaknya Ki Dharma Seta masih dendam pada Jaya Satria, yang telah menahan anak buahnya. Sementara itu, Jaya Satria mengatur hawa murninya. Agak kesal juga memang, karena tahanannya berhasil dibebaskan.
"Aku tidak akan membiarkan kalian pergi dari sini. Akan aku pastikan, kalian membalas apa telah kalian lakukan." Jaya Satria balik mengancam mereka.
"Kenapa lama sekali gusti prabu?. Apakah gusti prabu, ingin hamba mati sendirian di sini?."
Jaya Satria rasanya hampir tidak bisa bertahan lagi. Nafasnya sudah tersengal-sengal, sesak, dan terasa sakit.
__ADS_1
"Kita harus mengerahkan kembali, ilmu kanuragan kita, agar benar-benar dapat melumpuhkan orang itu, ki."
Narumi Putih memberi saran pada ketuanya. Ia melihat kondisi Jaya Satria yang mulai melemah. Apalagi saat ini dadanya terasa sakit, begitu juga dengan tenaganya yang mulai melemah.
"Benar yang dikatakan nimas narumi putih. Jika begini terus kita yang akan dihabisi oleh orang itu." Raksa Bumi setuju, dengan apa yang dikatakan oleh Narumi Putih.
"Ya. Kita tidak bisa berlama-lama di sini." Ki Dharma Seta setuju dengan usulan mereka.
Ia juga tidak bisa berlama-lama karena hutan ini sebenarnya bukan hutan yang baik untuk mereka.
"Aku juga akan membantu."
Mayang Sari yang baru saja terbebas, tidak mungkin berdiam diri saja kan?. Pastinya ia memiliki tenaga dalam yang masih banyak. Jadi ia bisa menambah kekuatan mereka.
Lagi-lagi mereka mengerahkan tenaga dalam mereka, untuk menghadapi Jaya Satria. Namun ketika mereka hendak menyerang Jaya Satria. Tiba-tiba ada sosok berpakaian hitam, menyambar tubuh Jaya Satria.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana ternyata yang menolong Jaya Satria.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh. Gusti prabu." Balas Jaya Satria, ia menghela nafasnya dengan lega.
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin. Akhirnya gusti prabu, sampai juga." Jaya Satria memperhatikan, prabu Asmalaraya Arya Ardhana, juga memakai pakaian yang sama persis dengan dirinya.
"Maafkan aku. Diperjalanan tadi, ada sedikit gangguan. Dan aku harus menghadapi mereka sebentar." Ada perasaan bersalah dari dirinya. Karena itulah, ia buru-buru ke sini, agar segera membantu Jaya Satria.
"Tidak apa-apa gusti. Sepertinya gusti prabu, juga mengalami apa yang hamba alami." Jaya Satria juga tidak bisa menyalahkan keterlambatan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Akan tetapi kondisi yang menjebaknya.
"Bagus!. Kau juga datang untuk mengantarkan nyawamu kepada kami."
Ki Dharma Seta melihat kedatangan orang yang menolong temannya itu?. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana maju beberapa langkah.
"Selain pengecut, kalian juga bermulut besar."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana melihat penampilan mereka yang hampir kacau, akibat pertarungan dengan Jaya Satria. Ia tahu mengapa kondisinya juga ikut terluka. Itu karena Jaya Satria dikeroyok pendekar jahat seperti mereka.
"Jahanam busuk. Berani sekali, kau berkata seperti itu pada kami." Raksa Bumi sangat marah dan kesal, ia tidak terima ucapan itu.
"Tidak perlu banyak bicara kau orang asing bertopeng. Buktikan saja dengan ilmu yang kau miliki."
"Berapa banyak pun orang seperti kalian, akan kami hadapi di gelanggang pertarungan." Narumi Putih seakan menantang keduanya agar bertarung serius.
"Aku akan membalas perbuatanmu, karena kau telah berani menyandera ku!."
Mayang Sari nampak kesal. ilia dikurung dalam keadaan tertotok?. Bayangkan saja bagaimana kelaparannya ia saat ini.
"Majulah!. Jika kalian pendekar yang berani, jangan main keroyokan."
Jaya Satria menantang mereka agar bertarung secara sehat, beraninya mereka main keroyokan.
"Tanpa kau minta, kami semua akan maju meringkus kalian berdua." Ki Dharma Seta tersenyum lebar, ia memandang rendah terhadap keduanya.
"Kalian semua hadapi yang baru datang. Sementara aku akan berhadapan dengan yang satunya."
perintah Ki Dharma pada anak buahnya.
"Baik ki."
Mereka menjawab perintah ketua mereka. Setelah itu, mereka mulai menyerang Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Sekarang kita bertarung satu lawan satu." Ki Dharma Seta menyeringai lebar, ia begitu berambisi untuk membunuh Jaya Satria saat ini.
"Tidak usah banyak bicara. Maju saja." Jaya Satri tidak perlu berbasa-basi lagi, dan pertarungan diantara keduanya dimulai.
Ki Dharma mulai menyerang dengan jurus-jurusnya. Ia menyerang Jaya Satria dengan beberapa pukulan, tatapi Jaya Satria berhasil menepisnya. Mereka melompat ke sana kemari untuk menyerang satu sama lain. Terkadang mereka terkena pukulan atau hantaman, namun belum juga membuat mereka jatuh.
Sementara itu, Prabu Asmalaraya Arya melawan anak buah Ki Dharma Seta. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menghadapi serangan mereka dengan cekatan, bahkan mereka terkena pukulan dari sang Prabu.
"Kurang ajar!. Ternyata dia tidak bisa kita remehkan begitu saja." Raksa Bumi merasa kesal karena terkena hantaman dari sang prabu.
"Dia tidak bisa kita anggap remeh. Kalau begitu ayo kita hajar dia, dengan jurus auman macan berburu mangsa." Narumi Putih menyarankan mereka agar menggunakan jurus itu untuk meluluhkan orang itu.
"Benar juga. Ayo kita hadapi dia dengan jurus itu."
__ADS_1
Semara Layana setuju dengan ide temannya, dan mereka semua mulai memainkan jurus auman macan berburu mangsa.
"Bismillahirrahmanirrahim."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga tidak tinggal diam. Ia juga menggunakan jurus andalannya.
"Setan belang!. Setan bodong!. Bagaimana mungkin dia menguasai jurus cakar naga cakar petir?."
Ki Dharma Seta yang tadinya fokus berhadapan dengan Jaya Satria terkejut, melihat gerakan jurus yang dimainkan oleh prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Heh!. Kau tidak perlu terkejut seperti itu." Jaya Satria mendengus kecil, ia melirik ke arah prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Bahkan aku pun juga bisa melakukannya. Jika kau ingin merasakan jurus itu."Jaya Satri juga memainkan jurus yang sama, dengan jurus Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Bedebah!. Jurus itu-"
Ki Dharma Seta sangat geram, mendengarkan perkataan Jaya Satria. Ia tidak menyangka, kedua orang itu menguasai jurus yang berbahaya itu. Jurus itu adalah jurus yang pernah ia lawan dulu, dan bagaimana bisa mereka memiliki jurus itu?.
Ki Dharma sedang memikirkan jurus andalannya yang dapat ia gunakan untuk melawan jurus itu.
"Akan aku gunakan, jurus Pukulan tapak dewa kematian."
Ya, hanya jurus itu rasanya yang dapat ia gunakan untuk menghadapi jurus itu.
"Cakar ku cakar naga, cakar naga yang menghasilkan aliran petir. Jadilah naga petir, dengan kekuatan cakar naga petir yang dahsyat."
Keduanya mengulang gerakan jurus itu merapalkan mantra yang terkandung dari jurus itu. Seketika ada aura petir yang membentuk naga petir. Dentuman suara petir yang memekakkan telinga, hingga membuat suasana hutan taring belati raga terasa seram.
Tak membuang waktu Narumi Putih maju duluan, ia menyerang Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Namun serangannya dapat dipatahkan dengan mudah, malahan wanita itu terkena jurus itu, bahu kirinya terkena cakaran Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Aura naga petir itu menyambar bahu kiri Narumi Putih, hingga wanita itu berteriak kesakitan, ia tidak bisa menahan sengatan naga petir itu.
"Eqhaaaaak."
Teriakan keras terdengar dari mulut wanita itu, dan ia jatuh tak berdaya di tanah. Keadaan tubuhnya setengah gosong, setelah itu ia tidak bergerak lagi. Mereka terkejut melihat Narumi Putih yang sangat mengenaskan.
"Nimas."
Raksa Bumi terkejut melihat keadaan Narumi Putih, hatinya terasa sakit menyaksikan itu, dan amarah pun telah menguasai dirinya. Tanpa pikir panjang lagi ia langsung menyerang Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Sayangnya ia mengalami hal yang serupa dengan kekasihnya itu.
Dari jarak jauh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menyalurkan tenaga dalamnya, menghantam dada Raksa Bumi. Aura naga petir itu seakan menembus dadanya. Hingga langkahnya terhenti dan ia berteriak kesakitan karena kekuatan dahsyat menghantam tubuhnya.
"Raksa bumi."
Semara Layana dan Mayang sari tidak percaya dengan apa yang mereka lihat, kedua temannya sudah berhasil dibunuh oleh orang itu? ada rasa takut dalam diri mereka setelah melihat itu?
Ki Dharma Seta yang sedang beradu kekuatan dengan Satria merasa marah, karena dua anak buahnya sudah terbunuh. Ia akui jurus itu memang berbahaya, dan ia sendiri tidak tahu cara menghadapi jurus itu.
"itu adalah balasan setimpal, dengan apa yang mereka lakukan" Jaya Satria yang masih gencar menyerang Ki Dharma Seta, tidak akan ia biarkan lelaki itu ikut campur, atau mencoba membantu kedua anak buahnya.
"Bedah busuk!"
Ki Dharma Seta sangat kesal, ia tidak bisa bebas dari Jaya Satria. Jika ia lengah, bisa saja Jaya Satria membunuhnya dengan jurus cakar naga cakar petir.
"Aku tidak akan segan-segan lagi, karena perbuatan kalian sudah melampaui batas."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana melihat ke arah mereka berdua, yang sudah mulai tampak ketakutan. Tidak ada jawaban dari mereka, karena mulut mereka seakan terkunci.
Ki Dharma Seta yang terpojok merasa geram, ia tidak bisa berpikir jernih lagi. Ketika melihat kedua anak buahnya yang tersisa tidak bisa bergerak, karena takut dengan jurus itu
"Apa yang harus aku lakukan?."
Dalam hatinya merasa gusar, hampir saja ia terkena sambaran jurus itu, jika saja ia tidak menyadari serangan itu datang padanya. Ia masih sempat menghindarinya dengan melompat ke belakang.
"Bedebah! Beraninya kau menyerangku!."
Ki Dharma Seta terlihat sangat marah. Namun kemarahan itu semakin besar, ketika prabu Asmalaraya Arya Ardhana menyerang kedua anak buahnya. Dengan menggunakan pukulan telapak dewa, dan mengarahkan pukulan itu ke arah prabu Asmalaraya Arya Ardhana, ia untuk menyerangnya.
Sedangkan Jaya Satria yang menyadari itu juga mengarahkan jurus cakar naga cakar petir ke arah Ki Dharma Seta, mereka saling menyerang satu sama lain.
Apakah yang akan terjadi pada prabu Asmalaraya Arya Ardhana?. Apakah serangan itu mengenai tubuhnya?. Temukan jawabannya dicerita berikutnya. Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya. Agar author yang tidak berwujud ini semangat lanjutin ceritanya. Salam jejak buat pembaca tercinta.
...***...
__ADS_1