RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
PAMER? MAU PAMER?.


__ADS_3

...***...


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Raden Cakara Casugraha saat ini sedang berlatih di alam sukma. Mereka memainkan jurus cakar naga cakar petir tanpa menggunakan senjata. Naga petir itu keluar, sehingga alam sukma itu terlihat lebih terang. Sukma naga petir menghadap dan memberi hormat pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria.


"Sampurasun." Tentunya ia masih ingat dengan wajah Prabu Asmalaraya Arya Ardhana atau Jaya Satria. Sehingga ia tidak sungkan lagi untuk merendahkan dirinya.


"Rampes." Balas Jaya Satria dan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Sudah lama rasanya hamba tidak melihat raden. Setelah raden berhasil menguasai jurus cakar naga cakar petir." Begitu ramah, dan terdengar sangat bersahabat.


"Ya. Itu lumayan lama juga." Jaya Satria dan Prabu Asmalaraya Arya menjawabnya.


"Lalu apa gerangan yang akan raden lakukan?. Ada apa gerangan yang membuat raden memanggil hamba?." Tentunya ada tujuan yang sangat penting yang ingin mereka sampaikan sehingga memanggilnya dengan menggunakan jurus cakar naga cakar petir.


"Aku ingin meminta bantuan darimu wahai sukma naga petir." Jawab Jaya Satria.


"Saat ini kami sedang bimbang karena masalah yang akan kami hadapi." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga menjawabnya.


"Bantuan seperti apa yang raden inginkan dari hamba?. Katakan saja. Semoga saja hamba mampu memujudkan nya raden." Sukma Naga Cakar naga cakar petir ingin mendengarkan bantuan seperti apa yang diinginkan dari Raden Cakara Casugraha.


"Aku mohon, agar kau mau bersatu dengan keris kembar naga penyegel bumi. Seperti keempat bersama keempat sukma naga lainnya. Aku mohon agar kau menyatu dengan keris kembar, agar aku bisa mengatasi masalah yang ada." Itulah alasan mengapa jurus cakar naga cakar petir masuk ke pedang pelebur Sukma. Karena sama-sama sukma naga, tapi keris kembar ini ada dua naga. Jadi mereka bisa bentrokan, takut tidak cocok. Meskipun sama-sama sukma naga.


"Karena raden adalah pengguna yang kuat dari pertama menggunakan jurus cakar naga cakar petir, maka hamba akan menuruti apa yang raden inginkan." Sepertinya sukma Cakar Naga Cakar Petir akan mengikuti apa yang diinginkan oleh Raden Cakara Casugraha.


"Terima kasih sukma naga petir. Kau mau mendengarkan apa yang aku katakan." Jaya Satria sangat senang mendengarnya.


"Alhamdulillah hirabbli'alamin. Terima kasih sukma naga petir." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga merasa senang.


"Akan tetapi, raden tetap harus menjaga atau menggabungkan kedua jurus itu. Agar kami benar-benar menyatu dengan sempurna, dan kami tidak akan menyakiti tubuh raden nantinya. Tetaplah berlatih dengan baik raden." Itulah pesan dari Sukma Naga Petir. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan Raden Cakara Casugraha, jika menyatukan diri dengan tiga sukma naga sekaligus.


"Tentu saja aku akan berlatih dengan baik. Mohon bimbingan kalian nantinya." Jaya Satria hanya tersenyum kecil saja, begitu juga dengan prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Semoga latihan ini bisa berjalan dengan lancar. Semoga kita mampu mengatasi masalah dengan baik karena Allah SWT." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat berharap, semuanya tidak ada masalah nantinya.


Menggabungkan kekuatan tiga sukma naga sekaligus akan membutuhkan tenaga dalam yang sangat besar. Walaupun selama ini hanya dua saja, setidaknya masih bisa memainkan jurus cakar naga cakar petir dengan pedang pelebur sukma naga hitam kegelapan. Keduanya masih mau menerima penyatuan tenaga dalam Raden Cakara Casugraha dengan baik. Namun menyatukan tiga sukma naga ke dalam dua buah senjata tentunya sangat berbeda. Apakah Sang Prabu mampu mengatasinya?. Temukan jawabannya.


...***...


Satu hari menjelang memasuki bulan puasa. Putri Andhini Andita saat itu sedang berjalan-jalan di pasar kota raja. Kedatangannya sangat dihormati oleh mereka yang mengenali siapa ia. Mereka semua merasa sungkan dan hormat padanya. Putri Andhini Andita hanya tersenyum ramah pada mereka semua yang menyapa dirinya. Mereka semua merasakan perbedaan dengan penampilan Putri Andhini Andita saat ini.


"Gusti putri." Mereka semua tersenyum ramah, sambil memberi hormat. Putri Andhini Andita juga membalas senyuman mereka dengan senyuman manis, sehingga terlihat wajah ayunya yang sangat memikat siapa saja yang memandangnya.


"Mau mampir gusti putri?. Apakah gusti putri mau membeli sesuatu?." Ada yang berani menawarkan dagangannya pada Putri Andhini Andita.


"Sebenarnya saya mau mau membeli hadiah untuk yunda saya yang sedang hamil. Kira-kira benda apa yang cocok untuknya?." Putri Andhini Andita bertanya, karena ia kurang mengerti masalah hadiah yang cocok.


"Oh. Untuk wanita yang sedang hamil ya gusti putri?." Pedagang tersebut mengulang apa yang dikatakan oleh Putri Andhini Andita.

__ADS_1


"Benar. Saya ingin memberikan hadiah kecil untuk yunda saya yang sedang hamil. Katakan pada saya hadiah apa yang cocok untuknya." Jawab Putri Andhini Andita.


"Baik gusti putri. Tunggu sebentar gusti putri, akan saya ambilkan." Pedagang tersebut merasa terhormat, karena yang berbelanja adalah seorang putri raja yang terhormat. "Ini adalah barang mewah. Ada kalung liontin bagus, dan juga tusuk konde antik gusti putri." Pedagang itu menunjukkan dua buah benda cantik, yang mungkin akan disukai oleh Putri Andhini Andita.


Putri Andhini Andita melihat dengan baik. Ia merasa tertarik dengan dua benda yang ditawarkan oleh pedagang tersebut. "Saya akan mengambil keduanya. Tapi tuan jamin kan?. Kalau benda itu sangat cantik untuk yunda saya." Putri Andhini Andita hanya ingin memastikan jika kedua benda tersebut merupakan hadiah yang cocok untuk Putri Bestari Dhatu. Karena ia tidak mau mengecewakan kakak iparnya dengan hadiah yang tidak sesuai dengan keinginan kakak iparnya nanti.


"Hamba tidak berani mempermainkan gusti putri. Hamba jamin ini hadiah yang sangat cocok untuk gusti putri bestari dhatu." Meskipun Putri Andhini Andita tidak menyebutkan nama kakak iparnya, namun seluruh rakyat Suka Damai mengetahui mantu dari Ratu Gendhis Cendrawati.


"Bagus. Tapi kenapa tuan memilihkan ini untuk hadiahnya?." Putri Andhini Andita ingin mengetahui alasan mengapa pedagang tersebut malah menyarankannya untuk membeli dua benda tersebut.


"Mohon maaf sebelumnya gusti putri. Biasanya, jika wanita sedang hamil. Kondisi tubuhnya akan membesar, karena perkembangan janin yang ada di dalam kandungannya." Ia mencoba untuk menjelaskannya.


"Lantas?. Apa hubungannya dengan kedua benda ini?." Masih penasaran karena jawaban dari pedagang itu masih membuatnya bertanya-tanya.


"Biasanya wanita akan sensitif, jika menyangkut perubahan tersebut gusti putri. Maka dari itu, berikan hadiah yang paling cocok untuk menghiburnya. Seperti mengatakan, meskipun dalam keadaan bulat. Namun tetap cantik dengan mengenakan kalung ini. Kira-kira seperti itulah gusti putri." Jawab pedagang itu dengan sangat yakin.


"Pintar juga tuan ternyata. Baiklah. saya akan mengambil keduanya. Bungkus dengan rapi, karena saya akan menghadiahkannya nanti." Putri Andhini Andita sangat senang mendengarkan jawaban itu. Tanpa perasaan ragu ia langsung meminta pedagang itu untuk membungkus rapi kedua hadiah itu.


"Sandika gusti putri." Penjual tersebut segera merapikan pesanan yang diminta oleh Putri Andhini Andita. Setelah selesai, Putri Andhini Andita meninggalkan tempat. Ia ingin melihat ke tempat lainnya. "Aku juga akan memberikan hadiah untuk ibunda, juga hadiah untuk perjodohan rayi agniasari ariani nantinya." Suasana hati Putri Andhini Andita hari ini tampaknya sangat baik.


Akan tetapi, pada saat itu. Ada seekor kuda yang ditunggangi oleh seorang prajurit mengejutkannya, sehingga Putri Andhini Andita berteriak dan terjatuh. Bungkusan yang ia pegang tadi entah jatuh kemana. Sedangkan orang-orang di sana melihat itu merasa kasihan dengan Putri Andhini Andita. Mereka ingin menolong Putri Andhini Andita, tapi sepertinya mereka tidak berani.


"Hei!. Kau!. Kalau kau berjalan berhati-hati. Apakah kau tidak mengetahui siapa yang ada di dalam bedati itu hah?." Prajurit yang naik kuda itu nampak marah. Karena ia juga terkejut, dan hampir saja terjatuh dari kuda yang ia tunggangi.


"Mohon ampun raden. Ada seorang wanita tidak tahu diri sengaja jatuh di hadapan kita, supaya menarik perhatian raden." Ia melaporkan apa yang terjadi. "Dia hanya menghambat kita menuju istana kerajaan suka damai saja raden. Sebaiknya kita abaikan saja raden. Kejadian seperti ini sudah lazim terjadi." Lanjutnya lagi, dan ia malah menyalahkan orang lain?. "Hei!. Sebaiknya kau pergi, karena yang ada di dalam bedati itu adalah dua orang pangeran dari kerajaan hebat. Jika kau tidak ingin mendapatkan masalah, sebaiknya segera menjauh." Sepertinya prajurit tersebut mengusir orang yang terjatuh itu?.


Putri Andhini Andita merasa marah. Ia tidak melihat bingkisan yang akan ia berikan pada orang yang ia kasihi. Hadiah itu terlepas dari tangannya, dan terbang entah kemana. Hatinya sangat sakit mendengarkan apa yang dikatakan oleh prajurit itu. Putri Andhini Andita bangkit, dan dengan geramnya ia menatap ke arah Prajurit itu. Namun siapa sangka, ia malah menendang kuat prajurit itu hingga jatuh dari kudanya. Sedangkan dua orang yang ada di dalam Bedati itu sangat terkejut.


Salah satu dari keduanya turun, dan membentak Putri Andhini Andita. "Hei!. Kau!. Apa yang telah kau lakukan pada prajurit terhormat ku!." Bentaknya dengan suara yang sangat tinggi.


Putri Andhini Andita menatap tajam ke arah pemuda itu. "Dia yang tidak sopan. Mengatai aku sengaja menabrakkan diri. Dan kau siapa?. Datang ke kerajaan ini tanpa izin." Suara Putri Andhini Andita juga tidak kalah kerasnya dari pemuda itu.


Seketika orang-orang di sana berkerumun semua, karena penasaran apa yang akan dilakukan oleh Putri Andhini Andita terhadap mereka.


"Kami memang baru sampai ke kerajaan ini. Aku harap kau tidak membuat masalah dengan kami. Kau akan menerima hukuman mati, karena telah berani menghalangi perjalanan putra mahkota raja."


"Gusti-."


"Ssshhh." Putri Andhini Andita memberi mereka kode agar mereka tidak menyebut dirinya dengan sebutan Gusti putri. Sehingga membuat pemuda itu sedikit heran.


"Manja sekali. Baru saja dicolek prajuritnya, malah berani mengancam. Apapun tujuan kalian datang ke kerajaan ini. Jika berani berbuat tindakan kejahatan, maka akan berhadapan denganku."


"Siapa kau memangnya?. Berani sekali kau mengancam aku!."


"Gusti-."

__ADS_1


"Sshhh. Kalian semua tenanglah. Aku bisa mengatasi ini. Jika pertarungan perlu, akan aku hadapi mereka." Matanya melirik ke arah satu orang lagi pemuda yang masih duduk santai di dalam Bedati.


"Heh!. Jadi kau merasa memiliki kedudukan tinggi di sini?. Sehingga kau tidak takut dengan ancaman ku?."


"Aku hanya takut pada Allah SWT. Aku tidak takut sama sekali dengan manusia seperti kau!."


Mereka semua tidak menyangka, akan mendengarkan kata Allah SWT keluar dari mulut Putri Andhini Andita. Itu artinya Putri Andhini Andita sekarang adalah seorang mualaf?. Apakah mereka semua tidak salah dengar?.


"Baiklah. Kali ini kau, aku bebaskan. Akan tetapi, jika kita bertemu lagi. Dan kau masih saja ingin mencari masalah dengan kami. Maka aku tidak akan segan-segan lagi memberimu pelajaran."


"Kau dulu yang akan aku hajar. Karena kau tidak bisa mengajari prajurit mu lebih baik lagi." Bisik Putri Andhini Andita tepat di telinga anak muda itu. Tentunya anak muda itu sangat terkejut dengan apa yang mereka dengarkan.


Setelah itu, Putri Andhini Andita pergi meninggalkan tempat itu. Namun ia melihat seseorang memegang bungkusan yang sama persis dengan yang ia beli tadi. "Maaf, apakah itu-."


"Oh iya gusti putri. Hamba tadi tidak sengaja menangkapnya. Maaf jika hamba lancang gusti putri."


"Tidak apa-apa tuan. Terima kasih telah menyelamatkan benda berharga ini. Lain kali akan saya balas kebaikan tuan."


"Su-su-sudah menjadi kewajiban hamba untuk melindungi gusti putri."


"Baiklah kalau begitu. Saya pamit dulu. Sampurasun."


"Rampes."


Setelah kepergian Putri Andhini Andita, mereka semua ikut membubarkan diri. Mereka semua tadi hanya mengkhawatirkan keadaan Putri Andhini Andita. Takut akan disakiti oleh prajurit itu, namun siapa sangka, malah dihajar Putri Andhini Andita. Dan sepertinya Putri Andhini Andita juga tidak mau menunjukkan siapa dirinya pada orang-orang asing yang merasa tinggi derajat mereka. Karena itulah mereka pergi dari sana, karena mereka tahu. Ketiga orang itu nantinya akan bertemu dengan Putri Andhini Andita nantinya di istana.


"Dasar orang-orang sombong yang suka pamer."


"Nanti kalau sudah mengetahui siapa gusti putri malah minta ampun, sambil berkata. Maafkan kebodohan hamba gusti putri, hamba tidak mengetahuinya sama sekali."


"Tunggu saja, saat kau mengetahui siapa gusti putri yang sebenarnya. Aku berharap, mereka semua akan diusir dari kerajaan ini. Karena telah bersikap kurang ajar pada gusti putri andhini andita."


Itulah yang mereka bisik-bisikkan sesama mereka. Namun tidak terdengar oleh ketiga orang tersebut.


"Mohon maaf raden. Hamba hanya merasa sungkan saja. Karena tempat ini sangat ramai, dan hamba tidak mau memberikan kesan yang buruk terhadap raden." Prajurit tadi bangkit, dan memberi hormat pada pemuda tersebut.


"Baiklah. Kalau begitu, ayo kita teruskan perjalanan kita menuju istana kerajaan suka damai."


"Rayi. Cepat masuk ke bedati. Mari kita lanjutkan perjalanannya. Jangan sampai buang-buang waktu di sini."


"Baiklah raka. Aku akan segera naik."


Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan menuju Istana Kerajaan Suka Damai. Meskipun anak muda yang sempat berdebat dengan putri Andhini Andita merasa penasaran. Namun ia tidak peduli sama sekali. "Pasti wanita itu hanya mengancam ku saja. Aku yakin dia sebenarnya memang hanya mencari alasan untuk melihat wajah tampan kami. Benar-benar pandai mencari alasan. Dan malah berani mengancam jatiya dewa." Dalam hati pemuda itu merasa dongkol dengan apa yang dilakukan oleh Putri Andhini Andita tadi. Apakah yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2