
...***...
"Dari kisah nabi adam as, hingga kita sekarang yang masih hidup di zaman nabi muhammad saw. Kita masih bermusuhan dengan bangsa jin." Jaya Satria menjelaskan kepada mereka.
"Bangsa jin yang seharusnya ada di dalam syurga-Nya Allah. Akan tetapi diusir, karena ia tidak mau sujud pada nabi adam." Lanjutnya lagi, sambil membacakan surah Al Baqarah ayat 34.
"
وَاِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْٓا اِلَّآ اِبْلِيْسَۗ اَبٰى وَاسْتَكْبَرَۖ وَكَانَ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!” Maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir."
"Tapi bukankah sudah banyak yang mempelajari ilmu dukun?. Bukankah dukun itu bekerja sama dengan setan?. Jin?." Prabu Tenggala Putih mengingat ada beberapa tokoh golongan hitam yang mempelajari ilmu teluh.
"Itulah yang seharusnya dihindari. Padahal sudah jelas Allah SWT mengatakan. Bahwa setan, jin, iblis dan bangsanya adalah musuh yang nyata. Namun, hanya manusia yang tidak memiliki iman dihatinya yang bisa digoda oleh mereka." Jawab Jaya Satria.
"Ingatlah ketika nabi Ibrahim as diuji oleh Allah SWT dalam mengorbankan anaknya nabi Ismail untuk dijadikan daging kurban. Saat itu iblis membisikkan hal-hal yang menyesatkan. Akan tetapi nabi Ibrahim tetap percaya dengan apa yang telah ditakdirkan oleh Allah SWT." Jaya Satria menatap mereka semua yang serius mendengarkan apa yang ia ceritakan.
"Nabi Ibrahim tetap akan melakukannya, meskipun ia mendapatkan cercaan, makian, dan hinaan dari kaumnya. Namun karena kekuatan iman, keihklasannya dalam menerima keputusan. Allah SWT memberikan sebuah keajaiban padanya, dengan menukarkan anaknya dengan seekor domba yang sangat gemuk. Sehingga daging domba itu bisa ia bagikan kepada orang-orang yang membutuhkannya." Jaya Satria menjelaskan kepada mereka beberapa kisah nabi. Ketika mereka diuji oleh Allah SWT, serta godaan iblis yang mencoba untuk mempengaruhi mereka.
"Lalu apa hubungannya dengan pembangunan istana ini?." Tumenggung Bahurekso yang bertanya.
"Ya, katakan pada kami. Jangan kau membuat cerita yang membingungkan kami semua." Putri Haspari Iswara seperti memiliki dendam pribadi pada Jaya Satria.
"Allah SWT, telah melarang keras umatnya untuk bersekutu dengan bangsa jin. Karena mereka selalu membawa kesesatan bagi kita semua. Mohon maaf jika aku menyangkut masalah yang dialami oleh prabu maheswara jumanta dalam kisah ini." Ucap Jaya Satria dengan hati-hati.
"Dalam penglihatanku, selama aku mengobati beliau. Selama di alam sukma. Aku bertemu dengan ratu penguasa kerajaan gaib teluk mutiara."
__ADS_1
"Benarkah?." Mereka bertanya seperti itu.
"Ya, itu benar." Jawab Jaya Satria. "Aku tidak mengetahui, perjanjian seperti apa yang terjadi antara ratu penguasa kerajaan gaib teluk mutiara, dengan gusti prabu masalah tombak pusaka kelana jaya." Ia memberi jeda ucapannya.
"Namun satu yang pasti. Ratu penguasa kerajaan gaib teluk mutiara menyandera sukma gusti prabu maheswara jumanta. Itu karena beliau telah menghilangkan tombak pusaka kelana jaya. Sehingga ratu penguasa kerajaan gaib teluk mutiara murka." Lanjutnya lagi.
"Ya. Memang, setahun setelah ayahanda kehilangan tombak pusaka kelana jaya. Ayahanda mulai sakit-sakitan. Kami mengira, ayahanda sangat bersedih hati karena kehilangan tombak yang selalu ia gunakan untuk membantu rakyatnya." Putri Haspari Iswara mengingat dengan jelas kejadian sepuluh tahun berlalu.
"Begitulah akibat jika kita bersekutu dengan iblis, jin, dan bangsanya. Kita hanya akan mendapatkan keburukan." Jaya Satria berkata lagi.
"Tersiksa selama sepuluh tahun lamanya di dalam kegelapan. Sementara ratu penguasa kerajaan gaib teluk mutiara, masih memiliki tahta yang berkuasa di depan istana ini dengan menambah sekutu mereka." Sorot mata itu semakin tajam menatap ke arah pintu gerbang Istana.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Jaya Satria menghela nafasnya. Merasa resah dengan apa yang ia lihat secara sekilas.
"Kalian bahkan melakukan tumbal pada laut." Ia menatap tajam pada mereka semua. Membuat mereka semua terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Jaya Satria.
"Allah SWT maha melihat, maha mendengar, maha mengetahui. Apa yang ada di langit, dan apa yang di bumi." Jawab Jaya Satria. "Allah SWT, bahkan mengetahui, apa yang disembunyikan oleh hamba-Nya." Jaya Satria kembali menatap ke arah laut.
"Apakah kalian tidak bisa mendengarkan, suara jeritan ombak?. Apakah kalian tidak bisa mendengarkan, suara tangisan seorang anak?. Menjerit minta kesakitan, karena telah kalian jadikan tumbal!. Apakah kalian tidak merasakan bagaimana keadaannya saat ia menangis meminta tolong agar tidak kalian jadikan tumbal?." Entah mengapa Jaya Satria murka. Hatinya dipenuhi oleh amarah yang luar biasa.
"Kau!. Sebanyak apa yang kau ketahui tentang kerajaan kami." Bentak Putri Hapsari Iswara. Ia tidak terima jika ada orang luar yang berkata seperti itu.
"Diam kau Haspari Iswara!." Jaya Satria menunjuk kiri ke arah Putri Haspari Iswara.
"Cakara casugraha!." Mereka semua tidak terima, dengan perlakuan Jaya Satria, yang menurut mereka sangat tidak sopan.
"Kalian juga diam!." Bentak Jaya Satria dengan penuh kemarahan. Hingga hawa kemarahan keluar begitu saja dari tubuhnya.
__ADS_1
"Astaghfirullah hal'azim jaya satria." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang berada di Istana, juga mengalami hal yang sama. Kemarahannya itu telah menguasai diri.
"Mohon ampun gusti prabu. Maafkan kesalahan mereka semua." Mpu Mahaprana memberi hormat pada Jaya Satria.
Tentunya membuat mereka semua terkejut. Tidak biasanya Mpu Mahaprana, orang yang telah merawat Prabu Maheswara Jumanta selama ini.
"Apa maksud eyang mpu memanggilnya gusti prabu?." Pupuh Ayu menyimak perkataan Mpu Mahaprana yang menyebut Jaya Satria sebagai Gusti Prabu?.
"Hadirin sekalian. Raden Cakara Casugraha merupakan raja besar dari kerajaan suka damai." Mpu Mahaprana memperkenalkan Jaya Satria sebagai seorang raja?.
Mereka semua semakin terkejut. Mereka sama sekali tidak menyangka, termasuk Prabu Sajana Reswara yang pernah bertemu dengan Raden Cakara Casugraha dimasa lalu.
"Benarkah itu raden?." Prabu Sajana Reswara hanya ingin memastikannya.
Jaya Satria menghela nafasnya. Mengatur hawa murninya agar kembali tenang. Ia tidak menggubriskan pertanyaan Prabu Sajana Reswara.
Ia berusaha mengendalikan dirinya, agar hawa kemarahan di dalam tubuhnya kembali reda. Ia membacakan Sholawat badar dengan suara yang sangat keras.
Sementara mereka yang mendengarkan suara itu benar-benar terpaku ditempat. Bahkan ada yang sampai menangis, karena hatinya tersentuh akan bacaan sholawat badar yang dilantunkan oleh Jaya Satria.
Sedangkan di Istana. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga melantunkan sholawat badar juga. Ia sangat bersyukur, karena Jaya Satria benar-benar dapat mengendalikan dirinya.
"Sangat luar biasa sekali. Sungguh aku tidak menyangka, jika ia adalah seorang raja?." Dalam hati Putri Haspari Iswara mulai luluh.
Apa yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya.
...***...
__ADS_1