RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
KEMARAHAN RADEN CAKARA CASUGRAHA


__ADS_3

Hatinya sangat panas melihat pemuda itu bersikap kasar pada seorang wanita. Ia segera menghampiri pemuda itu, menghalanginya memukul wanita yang sudah lemah tak berdaya.


Duakh.


Dari arah samping Raden Cakara Casugraha menghantam tubuh pemuda itu. Kemarahan yang luar biasa ia lampiaskan pada pemuda itu.


Pemuda itu terjejar beberapa langkah karena pukulan itu mengenai perut kirinya. Pukulan itu cukup menyakitinya, ia tidak terima dengan apa yang telah dilakukan Raden Cakara Casugraha padanya.


"Bedebah busuk!. Berani sekali kau ikut campur dengan urusanku!." Bentaknya dengan suara keras. Ia marah-marah karena ada yang berani menyerangnya dari arah yang tidak bisa ia tangkis serangan itu.


"Kau yang bedebah busuk!. Tega sekali kau menganiaya seorang wanita sampai menangis, bahkan sampai terluka seperti itu." Raden Cakara Casugraha sangat marah. "Lelaki macam apa kau ini hah?." Raden Cakara Casugraha sungguh tidak mengerti dengan sikap pemuda itu.


Sementara wanita yang dianiaya itu hanya bisa menangis dalam kesakitan. Tubuhnya dipenuhi dengan luka-luka, ia hanya terduduk di tanah setelah mendapatkan perlakuan kasar dari pemuda itu. Rasanya Raden Cakara Casugraha tidak tega mendengarkan rintihan wanita itu. Seketika ia teringat ibundanya yang berada di Istana Kerajaan Suka Damai.


"Kegh." Pemuda itu mendengus kesal. Ia sangat jengkel mendengarkan ucapan seperti itu. "Kau tidak usah ikut campur!. MAU AKU APAKAN KEKASIHKU ITU TERSERAH AKU!." Hatinya sangat panas mendengarkan ocehan dari Raden Cakara Casugraha.


"Kekasih?." Raden Cakara Casugraha tampak bingung. "Kau mengatakan dia adalah kekasihmu?." Keningnya sampai mengkerut aneh seperti itu saat mendengar kata kekasih yang keluar dari mulut pemuda itu. "Jika dia kekasihmu, kenapa kau malah bersikap kasar padanya?. Apa kesalahan yang telah ia lakukan padamu?. Apakah tidak ada kelembutan lagi dihatimu?." Raden Cakara Casugraha memang tidak pernah memiliki seorang kekasih. Namun ia tidak akan sampai hati menyakiti perasaan wanita.


"Kegh. Kau ini sangat menyebalkan sekali." Pemuda itu sampai geregetan dengan pertanyaan bertubi-tubi keluar dari mulut Raden Cakara Casugraha. "Kau tidak usah ikut campur dengan urusanku, bangsat!." Dengan amarah yang telah membuncah, ia menyerang Raden Cakara Casugraha.


Pertarungan terjadi antara Raden Cakara Casugraha dengan pemuda itu. Dengan ilmu kanuragan masing-masing, mereka beradu pukulan, tendangan, serta kesaktian. Membuktikan siapa yang lebih hebat, dan siapa yang lebih kuat.


Tapi sepertinya Raden Cakara Casugraha lebih unggul dalam ilmu kadigdyaan. Karena pukulan dan tendangan Raden Cakara Casugraha lebih bertenaga dibandingkan pemuda itu.

__ADS_1


Pemuda itu terkena hantaman tepat di dadanya. Tentunya sakit dan sesak yang ia rasakan. "Kurang ajar. Ternyata kau pintar mengimbangi tenaga dalammu, sehingga tendanganmu memiliki kekuatan yang kuat hingga membuatku sakit." Nafasnya agak sesak, sehingga ia kesulitan bernafas. Tenaga dalamnya sedikit terkuras karena pertarungan itu.


"Heh!. Aku tidak butuh pujian dari lelaki bejad seperti kau. Maju saja kalau kau masih penasaran." Raden Cakara Casugraha masih ingin menguji ilmu kanuragannya. Karena itulah ia menantang pemuda itu.


"Tunggu saja pembalasan dariku. Akan aku habisi kau setelah ini." Pemuda itu masih meringis kesakitan. Ia tidak mau terburu-buru melawan Raden Cakara Casugraha. "Tunggu saja. Akan akan aku balas kau!." Pemuda itu menunjuk ke arah Raden Cakara Casugraha sambil meringis kesakitan. Setelah itu ia mundur, pergi dari sana.


"Dasar tidak berguna!. Berani sekali dia bersikap kasar pada wanita." Raden Cakara Casugraha sangat kesal dengan pemuda itu. "Lain kali akan aku bunuh kau!." Lanjutnya lagi, sambil memperbaiki bajunya yang agak berantakan setelah bertarung.


Raden Cakara Casugraha segera menghampiri wanita itu. Ia masih menangis di tempat tadi. Rasanya Raden Cakara Casugraha memang tidak tega melihat itu.


"Sudahlah nisanak. Tidak ada gunanya nisanak menangis karena lelaki biadab itu." Raden Cakara Casugraha mencoba untuk menenangkan wanita itu.


"Saya hanya sedih saja kisanak." Balas wanita itu. Ia masih tertunduk, ia takut memperlihatkan kekurangannya saat ini pada orang yang telah menolongnya?.


Alangkah terkejutnya Raden Cakara Casugraha melihat kondisi mata wanita itu. "Apa yang terjadi padamu nisanak. Apakah lelaki biadab itu yang telah melakukannya padamu?." Amarahnya membuncah, ia marah jika benar itu yang terjadi. Namun wanita itu hanya menangis saja. Ia tidak mau menjawab pertanyaan dari Raden Cakara Casugraha.


Hingga seorang wanita tua memanggilnya dengan sebutan gusti putri.


"Gusti putri." Wanita berpakaian emban itu mendekati Wanita itu. Ia menangis karena melihat kondisi junjungannya yang sangat mengenaskan. "Gusti putri. Mari kita kembali ke istana. Minta maaflah pada ayahanda gusti prabu." Wanita itu menangis sedih. "Hamba yakin gusti prabu akan memaafkan gusti putri." Lanjutnya. "Gusti ratu sedang sakit. Karena memikirkan keadaan gusti putri." Wanita tua itu menjelaskan bagaimana keadaan Ratu Kerajaan setelah kepergian sang putri?.


Sementara itu, Raden Cakara Casugraha hanya menyimak percakapan mereka. "Jadi wanita ini seorang putri raja?." Dalam hati Raden Cakara Casugraha mencoba menebak siapa wanita yang ia tolong tadi.


"Tapi ayahanda prabu yang telah mengusir saya dari istana." Wanita itu menangis terisak. "Saya tidak bisa kembali ke istana-." Ucapannya terhenti, karena ia digendong oleh Raden Cakara Casugraha.

__ADS_1


"Kyhaaa." Wanita itu terkejut karena tiba-tiba ia merasakan tubuhnya melayang. Ia tidak menduga, bahwa ia akan digendong oleh Raden Cakara Casugraha?.


"Apa yang tuan lakukan?." Wanita tua itu terkejut melihat perlakuan Raden Cakara Casugraha.


"Jangan banyak bertanya. Emban!. Tunjukan padaku jalan menuju istana. Biar aku aku antar wanita keras kepala ini." Lama-lama Raden Cakara Casugraha kesal juga.


"Ba-baik tuan. Mari." Wanita tua itu menunjukkan jalan menuju Istana Kerajaan Sepat Rapih.


"Kisanak. Turunkan aku. Atau aku akan berteriak!. Turunkan aku!." Wanita itu berontak ingin turun. "Aku tidak mau kembali ke istana." Ia terus berontak di gendongan Raden Cakara Casugraha.


"Berhentilah berontak, atau berteriak. Akan aku totok kau biar tidak bergerak lagi. Hingga dengan mudahnya aku menyeretmu ke istana. Atau cara seperti itu yang kau inginkan?." Ancam Raden Cakara Casugraha dengan suara sedikit meninggi. Membuat wanita itu takut, dan tidak bersuara lagi.


"Itu lebih bagus. Jadilah putri yang baik." Ucapnya dengan pelan. Raden Cakara Casugraha menggendong wanita itu sampai ke Istana Kerajaan Sepat Rapih.


Kebetulan Prabu Mahardika Bandana berada di pandopo yang tak jauh dari gerbang Istana. Ia segera mendekati mereka.


"Akhirnya kau kembali putriku." Ada raut penyesalan di wajah sang Prabu. "Emban. Bawa putriku ke dalam istana." Perintahnya pada pembantunya itu.


"Sandika gusti prabu." Wanita tua ia melaksanakan perintah sang Prabu dengan baik. "Mari gusti putri." Wanita tua itu membimbing Gusti Putrinya menuju istana.


Setelah mereka pergi. Prabu Mahardika Bandana menatap Raden Cakara Casugraha dengan pandangan meneliti sambil menilai.


Apa yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya. Mohon dukungannya ya pembaca tercinta.

__ADS_1


......***......


__ADS_2