RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
KUTUKAN


__ADS_3

...***...


"Sedari kecil, nanda telah menanggung beban. Beban yang sangat berat. Rasanya ibunda ingin menggantikan posisimu nak." Ratu Dewi Anindyaswari mencium kedua tangan anaknya dengan lembut.


"Ketika itu, nanda masih bayi. Belum mengerti apa-apa tetapi-." Rasanya tidak kuasa untuk menahan dirinya lagi untuk tidak menangis saat mengingat kejadian itu.


...***...


Kembali ke masa itu.


Keadaan Ratu Dewi Anindyaswari sudah mulai sembuh. Sang Ratu sudah mulai mau mendekati anaknya. Tidak seperti sebelumnya, ia merasa takut akan menyakiti anaknya jika ia mendekapnya.


Kini sang Ratu telah mendekap anaknya dengan penuh cintanya sebagai seorang ibu. Hatinya telah dipenuhi cinta untuk anaknya yang masih mungil dan lucu.


Saat ini ia sedang berada di Pandopo belakang Istana bersama Prabu Kawiswara Arya Ragnala, yang selalu menemaninya kemanapun ia berada. Sang Prabu tidak mau melakukan kesalahan yang sama. Baginya kehilangan putra bungsunya yang hanya hadir beberapa hari, membuatnya waspada. Ia tidak mau lagi kehilangan anaknya yang lainnya. Termasuk istrinya Ratu Dewi Anindyaswari.


"Kanda prabu. Lihatlah kanda. Putra kita terlihat sangat lucu sekali." Dengan semangatnya Ratu Dewi Anindyaswari memanggil suaminya yang dari tadi memperhatikan mereka.


Sang Prabu hendak mendekati mereka, namun apa yang terjadi. Tiba-tiba suasana menjadi gelap gulita aneh. Sesekali terdengar suara kilat dan petir menyambar.


"Kanda prabu." Ratu Dewi Anindyaswari ketakutan, ia mendekap putranya dengan eratnya. Hatinya dipenuhi oleh kegelisahan yang luar biasa.


"Tetaplah di sini dinda dewi." Sang Prabu merasakan ada ancaman yang mengancam keselamatan keluarganya. Prabu Kawiswara Arya Ragnala melangkah ke depan, menatap langit yang tidak bersahabat sama sekali.


"Hei!. Apa yang kau inginkan sebenarnya." Prabu Kawiswara Arya Ragnala bersuara keras. Hingga terdengar tawa yang begitu keras dari seseorang yang berilmu tinggi.


"Kau mendapatkan kebahagiaan, sementara aku menderita setelah kematian anakku. Kau pikir aku begitu saja melupakan apa yang telah kau lakukan raja busuk!." Suara itu terdengar mengerikan. Dipenuhi oleh dendam yang tidak bisa ditampung oleh manusia biasa lagi.

__ADS_1


Setelah itu muncul sosok lelaki tua yang sangat rentan. Jika dilihat dari segi penampilan, ia sudah sangat tua. Namun dari segi ilmu kanuragan. Ia adalah lelaki tua sakti dengan ajian serap jiwa yang sangat berbahaya.


"Apa yang kau inginkan lagi padaku?. Bukankah sudah tidak ada dendam diantara kita?."


Lelaki tua itu tertawa aneh. Hingga terlihat giginya yang ompong itu. "Aku tidak akan puas, sebelum aku berhasil membunuh anakmu." Ucapnya dalam tawanya itu. "Jika aku tidak bisa membunuhnya, setidaknya akan aku berikan dia kutukan." Lanjutnya lagi.


Prabu Kawiswara Arya Ragnala terkejut mendengarnya. "Tidak akan aku biarkan kau melakukan apapun pada anakku. Akan aku usir kau dari sini." Sang Prabu sangat murka. Secara terang-terangan lelaki tua itu mengancam keselamatan putra kecilnya?.


Prabu Kawiswara Arya Ragnala mengeluarkan pedang Raga Naga Pembelah Bumi. Pedang panggilan jiwa turun temurun dari Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta.


Pertarungan sengit terjadi antara Prabu Kawiswara Arya Ragnala dengan lelaki tua itu. Sang Prabu menyerang dengan ganasnya, sayangnya lelaki itu hanya bermain-main saja. Tujuannya memang hanya untuk mengancam keselamatan keluarga sang Prabu. Namun sang prabu tetap kewalahan menghadapinya. Bahkan, sang Prabu terluka karena serangan tak terduga dari lelaki tua itu.


Saat ia dapat kesempatan. Lelaki tua itu berhasil menotok Ratu Dewi Anindyaswari. Ia mengambil bayi mungil dari, ia membacakan mantram aneh pada bayi mungil itu.


"Putraku." Sang Prabu sangat panik, ia segera merebut kembali anaknya dari lelaki tua itu. Karena kemarahannya itu, ia serang lelaki tua itu dengan sekuat tenaga. Sang Prabu berhasil menebas lelaki tua itu dengan pedang milikinya.


"Dinda dewi." Sang Prabu segera membebaskan istrinya.


"Kanda prabu." Ratu Dewi Anindyaswari langsung memeluk erat sang prabu. ia menangis sedih.


"Oh putraku." Ia mengambil alih putranya dipelukan suaminya. Ia menangis sesegukan melihat tanda merah di kening anaknya.


"Apa yang terjadi pada putra kita kanda. Mengapa orang itu memberikan kutukan itu pada putra kita yang belum mengerti apa-apa kanda." Ratu Dewi Anindyaswari tidak habis pikir, mereka yang dendam pada orang tua, kenapa anak yang dilibatkan?.


"Maafkan kanda. Ini semua salah kanda." Sang Prabu merasa gelisah. Ia merasa berdosa karena telah melibatkan anaknya. "Tidak seharusnya ini terjadi. Jika saja kanda lebih cepat mengusirnya. Kanda yakin putra kita tidak akan terkena kutukan jahat seperti ini dinda dewi. Sungguh maafkan kanda." Hatinya juga sedih. Karena kemarahan kutukan itu akan berpengaruh saat anaknya besar nanti.


Jika Raden Cakara Casugraha tidak bisa mengendalikan kemarahannya. Menuruti semua keramahannya, maka ia tidak peduli lagi kepada siapa ia akan marah.

__ADS_1


"Oh dewata yang agung. Peliharalah anak hamba dalam kesabaran jika ia besar nanti. Hamba akan membimbingnya dengan baik. Hamba mohon, berikan hamba petunjuk untuk menekan kekuatan kutukan itu." Dalam hati sang Prabu sangat berharap, jika anaknya nanti tidak akan menjadi pribadi yang buruk.


Sang Prabu selalu memperhatikan anak bungsunya. Namun sepertinya takdir telah memutar waktu, hingga usia Raden Cakara Casugraha tiga belas tahun. Saat ia benar-benar telah mengetahui apa itu sebuah tindakan.


Selama ini Raden Cakara Casugraha hanya rela jika ia dimarahi oleh ayahandanya. Bahkan dihukum oleh ayahandanya, hanya karena kesalahan yang tidak pernah ia perbuat sama sekali.


Hari ini. Ia baru saja kembali dari luar. Ia melihat ibundanya sedang terduduk di taman sendirian.


"Tiga belas tahun telah berlalu. Dan putraku belum menunjukkan kemarahannya. Oh dewata yang agung. Tetaplah bimbing putra hamba dalam lindunganmu." Ratu Dewi Anindyaswari merasa cemas.


"Ibunda." Dengan cerianya ia menyapa ibundanya yang terlihat cemas. Namun ia berusaha untuk tersenyum, karena tidak ingin anaknya yang pintar ini bertanya banyak padanya.


"Putra ibunda telah kembali?." Ratu Dewi Anindyaswari memanggil putranya. "Dari mana saja nak?. Mengapa nanda berkeringat seperti ini?. Hum?." Ia sedikit penasaran, mengapa anaknya bermandikan keringat. Apa yang dilakukan oleh anaknya ini?.


Raden Cakara Casugraha tertawa geli. Ia merapat, mendekati ibundanya. "Tadi nanda bermain dengan anak-anak kampung ibunda. Mereka sangat seru, bahkan mereka lebih menyenangkan untuk diajak bercanda dari pada orang-orang yang ada di istana ini yang kaku semua."


"Eh?. Lah?. Kok gitu?. Jadi nanda ingin mengatakan ibunda tidak menyenangkan dong ya?." Canda Ratu Dewi Anindyaswari mencolek-colek pipi anaknya. Dan sesekali mencolek pinggang anaknya, hingga Raden Cakara Casugraha menghindar, dan malah tertawa.


"Sedikit." Balasnya dengan nada centil. Membuat Ratu Dewi Anindyaswari merasa gemas dengan tingkah laku anaknya.


Hari itu, Ratu Dewi Anindyaswari mencoba untuk melupakan apa yang dialami oleh putranya. Ia hanya berharap, jika anaknya akan baik-baik saja. Tanpa menggunakan kekuatan kemarahan yang menghantui pikirannya.


Bagaimana kelanjutannya?. Simak terus ceritanya.


(Ini hanya awal kekhawatiran sang Ratu. Karena setelah ini, Raden Cakara Casugraha memang memperlihatkan kemarahannya.) Mohon dukungannya ya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2