RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
KESEDIHAN YANG MENDALAM


__ADS_3

...***...


Dengan bantuan sukma naga, Jaya Satria telah sampai di istana Kerajaan Restu Agung di pagi harinya. Dengan berat hati ia membawa jasad Raden Raksa Wardhana dan Selir Ratna Wardhani. Saat itu seorang prajurit istana segera masuk ke dalam istana. Ia berlari masuk ke dalam istana dalam keadaan sangat kacau.


Kebetulan Prabu Bumi Jaya baru saja keluar dari ruang pribadinya. Ia melihat prajuritnya yang terengah-engah, dan begitu ia sampai hadapan sang prabu, ia langsung bersujud.


"Mohon ampun gusti prabu. Ada seseorang bertopeng datang ke istana ini dengan membawa-, dengan membawa-." Prajurit tersebut agak ragu untuk melaporkan pada Rajanya apa yang tejadi. Apalagi nafasnya yang terengah-engah, mungkin membuta ia kesulitan untuk berbicara.


Tanpa banyak bicara dan menunggu apa yang akan dikatakan salah satu prajuritnya ini, ia langsung menuju gerbang istana. Ia ingin melihat apa yang terjadi di sana. Ia bergegas menuju halaman istana, ingin memastikan apa yang terjadi sebenarnya?.


Begitu sampai di halaman istana. Matanya menangkap seseorang bertopeng membawa gerobak bedati?. Jantungnya berdebar aneh, ketika ia melihat kemiripan bedati yang di bawa sosok misterius itu. "Anak muda. Siapa kau sebenarnya?." Prabu Bumi Jaya bertanya karena penasaran. Ia melihat orang misterius itu turun, menghampirinya.


"Hormat hamba gusti prabu." Jaya Satria memberi hormat. "Maaf, jika hamba datang membawa kabar duka untuk gusti prabu." Jaya Satria dengan hati-hati berkata.


"Apa yang kau maksudkan anak muda?. Kabar duka apa yang kau bawa?!." Ia merasa resah. Entah kenapa perasaannya saat ini sangat bergejolak dari yang sebelumnya. Perasaan yang sangat tidak enak mengenai berita yang dibawakan oleh anak muda bertopeng itu padanya?.


"Mohon ampun gusti prabu." Jaya Satria juga sedang menahan dirinya. Menahan dirinya agar tidak lepas kendali ketika menyampaikan apa yang telah terjadi, dan apa tang telah ia rasakan saat ini.


"Huffffh." Prabu Bumi Jaya menghela nafas dengan pelan. Ia mendekati bedati itu, dan melihat bagian belakangnya. Alangkah terkejutnya sang prabu ketika melihat dua orang yang sangat ia cintai dalam keadaan mengenaskan?. Teriakan sang prabu sangat pilu, hatinya tidak bisa menerima kenyataan yang menghantam hati nuraninya saat ini.


"Dinda ratna wardhani!. Putraku raksa wardhana!." Tangisnya pecah begitu saja. Ia tidak kuasa menahan gejolak hatinya yang terluka melihat keadaan kedua orang yang ia sayangi. "Apa yang terjadi pada kalian?!. Kenapa kalian kembali dalam keadaan seperti ini!. Apa yang terjadi pada kalian saat menuju istana kerajaan suka damai?!. Bukankah aku telah mengatakan agar berhati-hati!. Tapi kenapa kalian kembali dalam keadaan seperti ini!. Heghaa!." Jeritan yang disertai tangisan yang mendalam. Sang prabu menerima kenyataan yang sangat pahit. Ia telah kehilangan kedua orang yang sangat ia cintai. Hari itu, istana kerajaan Restu agung telah dipenuhi oleh duka yang mendalam dari sang prabu.

__ADS_1


"Ya Allah. Berikan hamba kekuatan hati agar tidak melakukan hal yang berbahaya, hanya karena keadaan seperti ini." Dalam hati Raden Cakara Casugraha atau Jaya Satria saat ini meminta pertolongan Allah SWT agar ia tidak lepas kendali, melihat betapa pedihnya hati Prabu Bumi Jaya saat ini. Apa yang salah sebenarnya?. Kenapa kenyataan pahit ini malah mendatangi istana ini?. Padahal tujuannya datang ke istana Kerajaan Suka Damai adalah untuk berbagi kebahagiaan. Untuk mendapatkan kebahagiaan, bukan malah sebaliknya. Apakah nasib buruk ini telah menjadi takdir Allah SWT?. Bisakah mereka semua menerima kenyataan ini?. Hanya hati dan nurani mereka yang masih disirami kebaikan yang mampu menjawabnya, atau mereka tidak bisa lagi menahan diri karena kondisi yang menyakitkan ini. Apakah yang akan mereka lakukan setelah ini?. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya.


...***...


Sementara itu di Istana Kerajaan Suka Damai. Syekh Asmawan Mulia bersama Raden Jatiya Dewa dan Prabu Lingga Dewa telah sampai di istana. Tapi mereka langsung di bawa ke ruang pribadi raja oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Karena mereka mendapatkan informasi dari prajurit istana, bahwa sang Prabu berada di ruang pribadi raja.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh, nanda prabu." Syekh Asmawan Mulia mengucapkan salam.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh, syekh guru." Balasnya sambil mempersilahkan Syekh Asmawan Mulia untuk duduk.


"Nanda prabu." Prabu Lingga Dewa memberi hormat. Meskipun masih muda, baginya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana layak untuk dihormati.


"Paman prabu?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga memberi hormat.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh, raden jatiya dewa." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana hanya tersenyum kecil. Ia tidak menyangka akan melihat Prabu Lingga Dewa, juga Raden Jatiya Dewa yang datang bersama dengan Syekh Asmawan Mulia.


"Sudah lama rasanya kita tidak bertemu nanda prabu." Prabu Lingga Dewa sangat senang bertamu dengan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana atau Raden Cakara Casugraha.


"Paman prabu benar. Sudah sangat lama sekali sejak kejadian di istana kerajaan buana dewa." Tentunya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat ingat dengan apa yang terjadi. "Bagaimana keadaan kakek prabu?. Apakah beliau sehat?." Ia juga ingat dengan Prabu Maharaja Dewa Negara. "Lalu bagaimana dengan keadaan paman prabu sendiri?. Sepertinya paman prabu terlihat sangat bahagia sekali." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menangkap raut wajah kebahagiaan dari Prabu Lingga Dewa.


"Apakah terlihat seperti itu?." Prabu Lingga Dewa tertawa kecil mendengarkan apa yang dikatakan oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Ayahanda prabu maharaja dewa negara masih sehat. Walaupun kadang-kadang ayahanda Prabu mengeluh sakit, namun masih memliki semangat untuk melakukan banyak hal." Prabu Lingga Dewa merasa bangga dengan ayahandanya yang masih memiliki semangat untuk hidup.

__ADS_1


"Alhamdulillah hirabbli'alamin jika memang seperti itu paman prabu. Senang sekali mendengarnya." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum kecil.


"Seperti yang nanda lihat, aku baik-baik saja." Prabu Lingga Dewa menjelaskan keadaannya saat ini. "Rasanya aku lebih bahagia lagi saat melihat nanda prabu baik-baik saja." Lanjutnya lagi. Ia sangat senang melihat Prabu Asmalaraya Arya Ardhana masih seperti terakhir mereka bertemu.


"Alhamdulillah hirabbli'alamin paman prabu. Aku baik-baik saja." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana lagi-lagi hanya tersenyum saja.


"Aku ucapkan terima kasih, karena nanda telah memberikan kesempatan pada nanda jatiya dewa untuk belajar di kerajaan ini. Sepertinya banyak hal yang telah berubah darinya sejak belajar di sini." Prabu Lingga Dewa mengungkapkan apa yang ia rasakan tentang anaknya saat ini.


"Syukurlah jika memang seperti itu paman prabu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menatap ke arah Raden Jatiya Dewa yang tersipu malu mendengarkan apa yang dikatakan ayahandanya. "Saya hanya mengajarkan sedikit saja, tentunya yang lebih mendalami semua ajaran tersebut adalah syekh guru." Kali ini ia menatap ke arah Syekh Asmawan Mulia yang hanya menyimak apa yang mereka bicarakan.


"Hamba hanya bisa mengajarkan apa yang telah hamba pelajari gusti prabu." Syekh Asmawan Mulia memberi hormat pada kedua raja agung. "Raden jatiya dewa telah belajar dengan sangat baik. Hamba hanya membimbingnya saja gusti prabu." Lanjutnya lagi.


"Saya sangat senang sekali. Meskipun awalnya agak keberatan. Namun saya percaya, jika belajar dengan nanda prabu, nanda jatiya dewa bisa berubah ke arah yang lebih baik." Prabu Lingga Dewa bersyukur atas apa yang telah dilakukan anaknya.


"Jika ada kemauan, tentunya kita semua bisa belajar dengan baik paman prabu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak merasa berjasa, namun baginya berbagi kebaikan itu adalah hal yang sangat luar biasa baginya.


"Jika ada kemauan yang kuat, maka dengan sendirinya ilmu akan mengalir, dan memberikan manfaat bagi yang menerimanya. Sehingga ia akan menjadi pribadi yang lebih baik." Syekh Asmawan Mulia selaku menanamkan itu pada semua muridnya.


"Benar apa yang dikatakan oleh syekh guru. Yang paling penting itu adalah kemauan." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana membernarkan ucapan syekh Asmawan Mulia.


Apakah yang akan mereka bahas selanjutnya?. Temukan jawabannya. Jangan lupa dukungannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2