RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
PERASAAN TAKUT


__ADS_3

...***...


Di Istana Kerajaan Angin Selatan.


Ratu Dewi Anindyaswari melaksanakan sholat Magrib. Ia berharap dan berdoa kepada Allah SWT, agar ia diberikan kekuatan hati ketika melihat kondisi anaknya.


"Ya Allah. Tiada kekuatan kecuali kekuatan-Mu yang maha dahsyat. Berikanlah hamba kekuatan untuk selalu menahan hati dan perasaan hamba." Ia berusaha untuk tidak menangis. Tapi hatinya sangat sedih, sehingga ia tidak bisa menahan dirinya.


"Ya, Allah. Selamatkan kedua putra hamba. Sayangilah kedua putra hamba, berikanlah kesehatan pada keduanya. Hamba masih ingin bersama keduanya. Hamba hanya memohon kepada-Mu maha pemilik kekuasaan hidup dan mati hamba-Nya." Dalam doanya yang penuh kecemasan, ia memohon anaknya sehat seperti sedia kala.


Sementara itu, Prabu Kawanda Labdagati memperhatikan apa yang sedang dikerjakan oleh Ratu Dewi Anindyaswari.


"Apakah dinda dewi anindyaswari sebelumnya beragama islam?." Prabu Kawanda Labdagati sedikit penasaran.


"Rayi dewi anindyaswari baru memeluk agama islam setelah melihat nanda prabu yang akhirnya kembali setelah delapan tahun berpisah darinya." Ratu Gendhis Cendrawati yang menjawabnya.


"Delapan tahun berpisah?." Tentu saja mereka heran mendengarnya. "Selama delapan tahun?." Mereka hampir tidak percaya dengan kisah itu.


"Banyak yang terjadi sebelum nanda cakara casugraha sebelum menjadi raja." Ucap Ratu Gendhis Cendrawati. "Maaf jika saya tidak bisa mengatakannya. Karena ini rahasia yang tidak bisa kami ceritakan kepada siapapun." Ucapnya lagi.


Mereka juga tidak mau mengetahui rahasia apa yang sedang mereka simpan. Tapi mereka merasa simpati dengan apa yang dialami oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


Setelah selesai sholat. Ratu Dewi Anindyaswari mendekati putranya yang masih terbaring di tempat tidur. Ia menggenggam erat tangan anaknya. Hatinya sangat sedih, melihat wajah anaknya yang pucat pasi.


"Ibunda. Jika ibunda bersedih, ibunda bacalah sholawat. Semoga dengan bersholawat hati ibunda akan lebih nyaman dan merasakan ketenangan." Kata-kata yang sering diucapkan oleh anaknya ketika ia merasa gelisah. Ratu Dewi Anindyaswari mencoba untuk membacakan sholawat badar dan sholawat lainnya untuk menenangkan hatinya yang sedang gelisah.


"Semoga saja putraku jaya satria yang berada di istana kerajaan suka damai baik-baik saja. Semoga nanda juga bisa mensejahterakan suara ibunda. Maafkan ibunda tidak bisa melihat keadaan nanda saat ini. Sungguh ibunda sangat mencemaskan nanda." Dalam hatinya begitu sedih, perih, karena ia tidak bisa melihat kondisi anaknya Jaya Satria yang entah bagaimana kondisinya saat ini.


...***...


Sementara itu. Di Istana Kerajaan Suka Damai.

__ADS_1


Putri Cahya Candrakanti memperhatikan Jaya Satria yang sedang diobati oleh tabib Istana. Ia sangat mencemaskan keadaan Jaya Satria yang sedang terluka parah.


"Ya Allah. Hamba mohon selamatkan jaya satria. Hamba hanya memohon padamu." Dalam hatinya sangat berharap keselamatan Jaya Satria. Ia tidak mau terjadi sesuatu pada Jaya Satria.


Tapi dalam hal ini kita bertanya-tanya mengapa seorang putri raja bisa datang ke kerajaan lain?. Apa yang sebenarnya ia lakukan hingga ia sampai di Kerajaan Suka Damai?.


"Bagaimana keadaannya tuan tabib?. Apakah jaya satria baik-baik saja?." Putri Cahya Candrakanti terlihat cemas melihat kondisi Jaya Satria yang belum sadarkan diri.


"Gusti putri tenang saja. Tuan pendekar jaya satria untuk saat ini baik-baik saja." Balasnya dengan senyuman kecil. "Tuna pendekar jaya satria memang terluka parah tadinya. Tapi entah mengapa seakan ada kekuatan lain yang telah mengobatinya dengan gaib." Lanjutnya lagi. Ia merasa heran dengan apa yang ia lihat. Padahal perut kiri Jaya Satria sangat terluka parah. Namun dalam pengobatan ini, ia tidak sulit melakukannya.


"Tuan pendekar jaya satria akan siuman besok pagi. Karena kondisinya saat ini masa pemulihan."


"Alhamdulillah hirobbil 'alamin ya Allah." Putri Cahya Candrakanti sangat bersyukur mendengarkan kabar baik itu.


"Gusti putri bisa beristirahat malam ini di wisma tamu. Karena keluarga istana lainnya sedang berada di kerajaan angin selatan untuk menghadiri acara lamaran putri bestari dhatu." Tabib Istana menjelaskan kondisi Istana Kerajaan Suka Damai saat ini.


"Jika diperbolehkan, saya ingin menjaga jaya satria. Saya sangat khawatir padanya."


"Baiklah gusti putri. Di sebelah ada tempat tidur untuk gusti putri tidur." Ucapnya. "Kalau begitu hamba pamit dulu. Karena hamba ingin mengerjakan sesuatu. Hamba pamit dulu. Sampurasun."


"Pantas saja tidak ada yang datang disaat jaya satria bertarung tadi." Putri Cahya Candrakanti merasakan ada yang aneh. "Ternyata mereka semua tidak ada di istana." Dalam hatinya merasa cemas karena kondisi Jaya Satria. "Tapi aku masih penasaran. Mengapa orang orang itu memanggil jaya satria dengan sebutan raden cakara casugraha?." Putri Cahya Candrakanti masih penasaran dengan itu. Apalagi dengan wajah Jaya Satria yang saat ini masih ditutupi oleh topeng itu.


Rasa penasarannya begitu besar, sehingga ia ingin membuka topeng itu. Tapi rasanya akan sangat tidak sopan jika melihat wajah seseorang ketika ia sedang tidak sadarkan diri.


"Ya Allah. Apakah hamba akan berdosa jika hamba membuka topeng ini." Rasa penasarannya begitu besar. Tapi sebisa mungkin ia harus menahan dirinya agar tidak melakukannya.


"Tidak. Aku tidak boleh kurang ajar pada seseorang. Apalagi pada orang yang pernah menyelamatkan aku." Sepertinya ia akan menanyakannya pada Jaya Satria, jika ia berkenan menjawabnya nanti.


...***...


"Ibunda." Ada suara yang memanggilnya dengan sebutan ibunda?. Matanya mencari seseorang yang memanggilnya.

__ADS_1


"Ibunda." Dari arah belakangnya, ia mendengar suara itu berasal dari belakangnya.


"Putraku."


Matanya melihat putranya yang terlihat gelisah?.


"Ibunda."


"Putraku." Ia segera mendekati kedua putranya. Memeluknya dengan sangat eratnya.


"Ibunda." Keduanya membalas pelukan Ratu Dewi Anindyaswari. Mereka mengungkapkan kerinduannya pada Ratu Dewi Anindyaswari.


"Apakah nanda baik-baik saja nak?." Hatinya sangat gelisah. Ia menatap ke arah Jaya Satria, karena ia tidak bisa bertemu dengan anaknya.


Namun ia terkejut, ketika ia hendak menyentuh putranya.


"Nanda jaya satria." jaya Satria menghilang dari pandangannya. Ia mendadak panik. Hatinya bergemuruh hebat ketika matanya tidak melihat anaknya itu. Dan hatinya semakin bergemuruh kencang, saat Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga menghilang dari pandangannya.


"Nanda prabu." Tanpa sadar air matanya mengalir membasahi pipinya. "Nanda jaya satria. Nanda prabu. Nanda kemana nak. Nanda dimana." Ia terus memanggil kedua anaknya. Ia tidak dapat lagi menahan perasaan sedihnya, Hingga ia menangis terisak karena merasa kehilangan kedua anaknya.


"Ibunda."


Perlahan-lahan ia mendengar suara anaknya memanggilnya kembali. Tubuhnya terasa terguncang pelan. Ia mencoba untuk membuka matanya. Matanya perlahan-lahan melihat bayangan putranya. Apakah ia tidak bermimpi?.


"putraku." Ratu Dewi Anindyaswari langsung memeluk erat anaknya. Ia menangis sedih, sambil memeluk putranya.


"Jangan tinggalkan ibunda nak. Jangan nanda pergi lagi dari ibunda. Cukup sudah ibunda menahan kerinduan yang ibunda tahan selama delapan tahun. Ibunda tidak kuasa menahan perasaan rindu ibunda nak. Jangan tinggalkan ibunda." Ucapnya sambil menahan isak tangisnya. Ia ungkapkan kesedihannya yang luar biasa itu pada anaknya.


"Ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga dapat merasakan perasaan itu. Perasaan yang tidak ingin menjauh dari orang yang paling mereka sayangi.


"Sungguh. Rasanya aku semakin berdosa pada rayi dewi anindyaswari yang seperti ini." Dalam hati Ratu Gendhis Cendrawati merasa bersalah, melihat pemandangan itu.

__ADS_1


Apa yang akan terjadi?. Temukan jawabannya. Mohon dukungannya ya pembaca tercinta.


...***...


__ADS_2