RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
MENJAGA RAHASIA


__ADS_3

"Ibunda."


Begitu kedua mata itu terbuka, kata pertama yang mereka ucapkan adalah ibunda.


"Putraku."


Ratu Dewi Anindyaswari segera berpindah menuju ujung tempat tidur anaknya.


Hatinya bergetar bahagia ketika melihat kedua anaknya yang sedang mencoba untuk duduk?.


"Alhamdulillah hirobbil a'lamin. Nanda berdua sudah bangun nak." Air mata kebahagiaan terpancar di sana ketika melihat kedua anaknya menatap ke arahnya.


Selain itu, dengan perlahan-lahan keduanya mendekatinya, memeluknya dengan eratnya.


"Ibunda."


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria memeluk Ratu Dewi Anindyaswari dengan perasaan yang sangat cemas.


"Alhamdulillah hirobbil a'lamin. Nanda berdua sudah baikan. Ibunda sangat senang sekali." Ratu Dewi Anindyaswari mengelus kepala belakang anaknya, tak lupa ia mencium puncak kepala anaknya dengan sayang.


"Maafkan kami ibunda. Maafkan kami yang telah membuat ibunda merasa cemas dengan keadaan kami." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dengan nada sedih meminta maaf pada ibundanya.


"Sungguh kami tidak bermaksud untuk melakukannya." Begitu juga dengan Jaya Satria.


Ratu Dewi Anindyaswari melepaskan pelukannya. Menatap kedua anaknya dengan senyuman lembut.


"Yang penting nanda berdua harus kuat. Sebagai seorang raja, nanda harus tetap tabah mengahadapi cobaan." Ratu Dewi Anindyaswari mengelus wajah anaknya dengan sayang. "Nanda berdua adalah putra mahkota ibunda yang paling berharga. Karena itulah nanda berdua tidak boleh menyerah apapun yang akan terjadi. Ibunda akan selalu bersama nanda." Senyuman yang sangat tulus ia tunjukkan kepada kedua anaknya.


"Terima kasih ibunda. Terima kasih karena ibunda selalu ada untuk kami." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria tidak dapat menahan air mata kebahagiaan itu.


Beruntung sekali hidup mereka karena memiliki seorang ibu yang sangat baik hati seperti Ratu Dewi Anindyaswari. Kasih sayang yang melimpah yang mereka dapatkan dari seorang ibu. Kasih sayang yang tidak pernah putus meskipun sempat berpisah selama delapan tahun lamanya.


Disaat mereka larut dalam perasaan mereka.


"Sampurasun ibunda." Putri Andhini Andita, Ratu Gendhis Cendrawati, Raden Hadyan Hastanta, Syekh Asmawan Mulia, Ayu dan Lingga masuk ke bilik Prabu Asmalaraya Arya.


"Rampes. putiku." Balas Ratu Dewi Anindyaswari sambil tersenyum kecil.


"Rayi." Ratu Gendhis Cendrawati mendekati Ratu Dewi Anindyaswari yang masih mengenakan mukenah.


"Yunda." Ratu Dewi Anindyaswari melihat raut wajah cemas pada Ratu Gendhis Cendrawati.

__ADS_1


"Wajah yang sama?." Dalam hati Lingga merasa heran melihat dua orang yang memiliki wajah yang sama. Sebab sebelumnya Jaya Satria menggunakan topeng penutup wajah.


"Sangat mirip?. Apakah ayu tidak salah lihat?." Begitu juga dengan Ayu, untuk pertama kalinya melihat wajah orang yang telah menolongnya waktu itu.


Sementara itu, Putri Andhini Andita semakin mendekat ke arah Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria.


"Rayi prabu, jaya satria. Syukurlah kalian sudah baikan. Aku sangat mengkhawatirkan keadaan kalian."


"Benar rayi. Kami semuanya sangat mencemaskan keadaan kalian."


Putri Andhini Andita dan Raden Hadyan Hastanta mencoba untuk tersenyum, hati mereka sudah mulai lega.


"Alhamdulillah hirobbil a'lamin yunda, raka, kami sudah baikan. Terima kasih yunda dan raka telah membantu kami."


"Terima kasih atas kebaikan gusti putri, juga raden hadyan hastanta. Maaf karena keadaan hamba, gusti prabu juga ikut terluka. Sehingga membuat gusti ratu, gusti putri, juga raden mencemaskan keadaan gusti prabu. Sekali lagi maafkan hamba." Jaya Satria terlihat sangat sedih, sehingga membuat mereka merasa bersimpati padanya.


"Kami juga mencemaskanmu jaya satria." Putri Andhini Andita mendekati Jaya Satria. "Bagaimanapun juga, kau adalah orang kepercayaan rayi prabu. Keselamatan kalian itu sangat penting bagi kami."


"Itu bener jaya satria. Meskipun kami bingung bagaimana kalian bisa terhubung seperti itu itu. Tetap saja, darah yang mengalir dalam tubuhmu adalah darah rayi prabu." Raden Hadyan Hastanta tidak mengerti sama sekali, tapi ia tidak bisa menyalahkan Jaya Satria atas apa yang terjadi pada adiknya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Syekh. Apakah tidak ada cara untuk membuat jaya satria juga nanda prabu tidak merasakan kesakitan yang sama syekh?." Ratu Gendhis Cendrawati yang bertanya seperti itu. Membuat mereka semua melihat ke arahnya.


"Mohon ampun gusti ratu. Jika masalah itu hamba rasa itu sangat diluar kehendak kita semua. Tidak ada yang bisa memisahkan jika telah satu darah."


"Maafkan aku rayi. Aku hanya mencemaskan keadaan nanda prabu saja. Apa yang akan terjadi jika mereka mengetahui titik kelemahan nanda prabu?. Mereka beramai-ramai menyerang jaya Satria, yang dapat terhubung dengan nanda prabu." Ya. Kecemasan Ratu Gendhis Cendrawati ini memang bukan tanpa alasan. Memang sangat berbahaya jika ada yang mengetahui informasi penting ini.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Apa yang dikatakan yunda benar. Ibunda sangat khawatir dengan keadaan kalian berdua, putraku." Ratu Dewi Anindyaswari terlihat semakin cemas.


"Rayi prabu. Sepertinya apa yang dikhawatirkan oleh ibunda ratu gendhis cendrawati harus kita waspadai. Bisa jadi ada pihak yang ingin mencelakai atau mengambil alih kerajaan ini." Putri Andhini Andita juga khawatir setelah mendengarkan apa yang dikatakan oleh ibundanya.


"Benar rayi prabu. Jangan sampai orang-orang yang membencimu, memanfaatkan kabar ini rayi prabu."


Putri Andhini Andita dan Raden Hadyan Hastanta juga ikutan khawatir.


"Ibunda, raka, yunda, aku mohon tetaplah tenang. Semoga kita tetap bisa menjaga rahasia ini dengan baik. Semoga Allah SWT selalu melindungi kami berdua." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana jadi khawatir dengan kepergian Jaya Satria.


"Semoga saja ya Allah." Ratu Dewi Anindyaswari sangat berharap kedua anaknya akan baik-baik saja.


"Kami akan menyimpan rahasia ini dengan sebaik-baiknya rayi prabu." Putri Andhini Andita bersumpah akan menyimpan rahasia itu sampai mati.


"Tentu saja rayi prabu. Kami sangat mengkhawatirkan keadaan rayi prabu. Bagaimana mungkin kami sampai hati mengatakan rahasia penting itu pada siapapun." Raden Hadyan Hastanta tidak akan pernah berkhianat pada adiknya. Ia telah bersumpah untuk itu.

__ADS_1


"Benar nanda prabu. Meskipun sebelumnya kita berada dipihak yang berbeda. Namun dari lubuk hati kami yang paling dalam, kami sangat menyayangi nanda prabu." Ratu Gendhis Cendrawati hampir saja menangis, namun i berusaha untuk menahannya.


"Terima kasih yunda, raka, juga ibunda. Rasanya sangat bahagia sekali mendapatkan perhatian dari ibunda, yunda, serta Raka." Senyuman Prabu Asmalaraya Arya Ardhana begitu tulus, hingga sampai pada Jaya Satria. Mereka memang memiliki perasaan yang sama. Hingga kata-kata yang dikeluarkan oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mewakili perasaan Jaya Satria juga.


"Nanda juga mengucapkan terima kasih pada syekh guru yang mau datang ke istana." Lanjut sang prabu yang masih diliputi rasa haru.


"Terima kasih syekh guru. Karena bantuan syekh guru kami baik-baik saja." Jaya Satria menambahkan ucapan prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Alhamdulillah hirobbil a'lamin, syekh guru yang kebetulan masih berada di desa damai setia bisa bertemu saat itu dijemput oleh gusti putri andhini adnita." Balas Syekh Asmawan Mulia.


"Lalu mereka ini siapa syekh guru?." Tanya sang prabu berpura-pura tidak mengenali kedua orang yang ikut bersama Syekh Asmawan Mulia.


"Menurut keterangan keduanya, mereka datang menemui hamba karena disuruh oleh nanda jaya satria." Jawab Syekh Asmawan Mulia menatap ke arah Jaya Satria.


"Benarkah itu jaya satria?."


"Mohon ampun gusti prabu. Hamba memang menyuruh keduanya untuk menemui syekh guru. Hamba pernah menceritakannya pada gusti prabu." Jaya Satria yang Memberikan sedikit kode.


"Ah ya, aku baru ingat. Kalau tidak salah namamu lingga, dan adikmu ayu?." Sang prabu mencoba untuk menebaknya.


"Hamba gusti prabu." Keduanya memberi hormat pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Kisahnya agak panjang, namun hamba tidak menyangka jika jaya satria adalah orang kepercayaan gusti prabu." Ucap Lingga mencoba mencerna dari pembicaraan mereka tadi.


"Hamba pikir jaya satria adalah seorang pangeran kerajaan. Tapi hamba berterima kasih karena berkat jaya satria. Kakang lingga dapat melupakan dendam masa lalunya." Ayu dengan ramahnya menyampaikan rasa ucapan terima kasih, membuatnya menjadi pusat perhatian mereka semua.


"Baiklah jika itu yang terjadi." Sang prabu menerima keadaan seperti itu. "Tapi aku mohon pada kalian untuk menjaga rahasia yang kalian dengar tadi." Lanjutnya.


"Hamba gusti. Kami akan sebaik-baiknya menjaga rahasia itu. Tapi izinkan kami untuk belajar agama islam pada syekh asmwan mulia." Ucap Lingga dengan setulus hati.


"Hamba juga memohon pada gusti prabu untuk mengizinkan hamba belajar agama dengan syekh asmawan mulia." Begitu juga dengan Ayu.


"Jika itu yang kalian inginkan. Tentu saja boleh. Belajarlah dengan baik bersama syekh guru."


"Terima kasih banyak atas kebaikan gusti prabu."


Keduanya sangat senang mendapatkan izin dari Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Mereka akan memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baik mungkin.


Tapi setidaknya, prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria berharap rahasia tentang kelemahan mereka ini bisa terjaga dengan baik. Sepertinya hidup sang prabu dipenuhi banyak rahasia yang dapat mengancam keselamatannya.


Bagaimana kisah rahasia sang Prabu?. Temukan jawabannya. Jangan lupa klik favoritnya bagi yang belum, agar tidak ketinggalan episode berikutnya.

__ADS_1


Mohon dukungannya ya. Terima kasih banyak pembaca tercinta.


__ADS_2