
...***...
Paginya. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang kini berpenampilan sebagai Jaya Satria. Saat ini mereka sedang menuju ke Kerajaan Buana Dewa, dengan menggunakan Bedati. Namun kedua pangeran itu merasa penasaran, kenapa menggunakan topeng penutup wajah?. Apakah ia tidak mau ada yang mengenali wajahnya, sehingga ia menyamar seperti itu?. Hanya dengan bertanya maka akan menemukan jawabannya. Dari pada menduga-duga dan malah menimbulkan kecurigaan yang tidak berkesudahan.
"Mohon ampun gusti prabu. Kenapa gusti prabu menggunakan topeng penutup wajah?. Maaf jika hamba lancang gusti prabu." Raden Jatiya Dewa memutuskan untuk bertanya.
"Benar gusti prabu. Bagaimana jika ada yang mencurigai gusti prabu sebagai orang jahat?. Atau mereka bersikap kurang ajar pada gusti prabu, karena tidak mengenali siapa dibalik topeng ini. Apalagi pakaian yang gusti prabu gunakan, sama sekali tidak mencerminkan sebagai seorang raja." Raden Antajaya Dewa merasa penasaran dengan alasan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Sungguh tidak menggambarkan seorang raja ketika pergi meninggalkan istananya. Bagaimana mungkin ada orang yang akan tunduk padanya jika pakaiannya seperti ini?. Justru malah akan menimbulkan permusuhan karena dianggap orang yang mencurigakan.
"Di dunia pengembara, tidak akan kenal kata hormat pada raja. Akan tetapi, hanya dua pilihan. Sebagai musuh, atau sebagai kawan. Itu semua tergantung suasana. Jadi tidak masalah jika orang lain bersikap kurang ajar padaku." Jaya Satria menjelaskan pada mereka. "Ini adalah pakaian seorang pendekar yang sedang mengembara. Jadi wajar seperti ini." Lanjutnya. "Beda dengan pakaian seorang pangeran yang mungkin hanya sekedar menunjukkan siapa dirinya dihadapan orang lain." Lanjutnya.
"Jadi saat ini gusti prabu menganggap perjalanan menuju istana kerajaan sebagi pengembaraan?. Apakah gusti prabu tidak takut jika dicurigai oleh orang-orang yang ada di kerajaan buana dewa?." Raden Jatiya Dewa sedikit bingung dengan jalan pikiran Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang menyembunyikan identitasnya.
"Bisa jadi seperti itu. Karena tidak semua raja itu harus berpenampilan mewah. Apalagi berhadapan dengan musuh yang tidak diketahui seperti apa." Jawab Jaya Satria dengan yakin. "Justru harga diriku akan terhina jika aku kalah sebagai raja yang mengagungkan namaku. Justru akan lebih terhormat sebagai pendekar yang menang dengan pertarungan tanpa menunjukkan tahta atau pangkat yang ia pegang." Jaya Satria menatap lurus ke depan, dan ia teringat ketika dengan sombongnya ia mengatakan jika ia salah putra mahkota kerajaan suka damai. Dan Ia melakukan itu supaya orang-orang takut, serta tidak berani berhadapan dengannya.
"Jadi seperti itu?. Luar biasa sekali." Raden Jatiya Dewa dan Raden Antajaya Dewa merasa kagum dengan sikap Prabu Asmalaraya Arya Ardhana atau Raden Cakara Casugraha atau Jaya Satria.
Jaya Satria mengangguk kecil. "Ingat, panggil saja aku jaya satria saat berada di kerajaan buana dewa nanti. Jangan panggil aku gusti prabu." Jaya Satria memperingati mereka agar memanggilnya Jaya Satria, bukan sebagai Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Tapi gusti-." Mereka merasa sungkan karena memanggil nama. Mereka takut dianggap kurang ajar pada seorang raja terhormat, meskipun masih muda.
"Tidak apa-apa. Panggil saja aku jaya satria. Itu lebih baik." Jaya Satria hanya tersenyum kecil.
"Sandika gusti prabu." Mereka hanya pasrah saja. Mungkin Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memang tidak ingin menunjukkan jati dirinya pada orang lain. Jadi mereka harus menghargai apa yang dikatakan oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Keduanya hanya menuruti apa yang dikatakan oleh Jaya Satria. Mungkin itu Prabu Asmalaraya Arya Ardhana hanya tidak ingin Oemar, jika dirinya adalah seorang raja. Atau tidak mau membahayakan dirinya, saat orang mengetahui ia adalah seorang raja.
...***...
Di Kerajaan Suka Damai.
Mereka semua tidak menyangka, jika Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara telah masuk agama islam. Dan yang datang bersamanya adalah Raden Muhammad Yunus. Putra dari Raja islam, yang kebetulan saat itu sedang mengalami masalah perperangan di negerinya. Tapi setidaknya ini adalah kabar yang sangat membahagiakan bagi mereka semua.
"Mohon ampun gusti prabu. Pada saat itu, negeri kami sedang berperang. Namun saat itu, gusti ratu agung membantu kami. Sehingga terjalin hubungan yang baik diantara kami." Raden Muhammad Yunus memberi hormat pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Jadi yunda ratu masuk agama islam setelah berkenalan dengan raden muhammad yunus?." Putri Andhini Andita yang bertanya.
"Bisa dibilang seperti itu rayi. Saya belajar banyak tentang Islam dengannya." Jawab Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara.
"Alhamdulillah hirabbli'alamin, jika yunda ratu memang telah masuk agama islam. Itu adalah kabar yang sangat baik bagi kita semua." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat senang mendengarkan apa yang dikatakan oleh kakaknya.
"Benar nak. Alhamdulillah hirabbli'alamin. Ibunda sangat senang mendengarnya nak." Ratu Dewi Anindyaswari senang mendengarnya.
"Ibunda juga sangat senang mendengarnya. Dengan begitu, kita semua telah menjadi pemeluk agama yang baik." Begitu pun dengan Ratu Gendhis Cendrawati.
__ADS_1
"Benar apa yang dikatakan ibunda. Kita harus mensyukuri nikmat yang luar biasa ini."
"Alhamdulillah hirabbli'alamin yunda ratu. Kami sangat mendukung sekali. Jika memang berjodoh pun. Kami juga akan mendukung yunda ratu."
"Itu benar yunda ratu. Kami pasti mendukungnya."
"Do'akan saja semoga semuanya berjalan lancar."
"Kami akan selalu mendo'akan yang terbaik untuk yunda ratu. Karena yunda ratu adalah yunda kami semua."
"Terima kasih rayi prabu. Rasanya saya sangat merindukan kalian semua." Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara menangis terharu. Namun mereka semua menghiburnya kembali. Kini kebahagiaan keluarga Bahuwirya telah lengkap.
...***...
Masih diperjalanan menuju Kerajaan Buana Dewa. Namun tiba-tiba prajurit yang menghentikan laju bedati itu. Karena ada beberapa orang yang menghalangi perjalanan mereka.
"Ada prajurit?. Mengapa berhenti?."
"Maaf raden, di depan ada beberapa orang yang menghalangi kita raden."
Jaya Satria, Raden Jatiya Dewa, dan Antajaya Dewa turun dari Bedati. Mereka ingin melihat,siapa yang menghalangi jalan mereka.
"Maaf tuan. Jika kami menghalangi perjalanan tuan."
"Ada apa Talapadi? Apakah ada sesuatu yang terjadi?."
"Maaf jaya satria. Maaf jika kami menghalangi perjalananmu. Hanya saja, sudah lama kita tidak bertemu. Apakah ada masalah di dalam istana?."
"Benar Pendekar jaya satria. Sudah lama kau tidak meronda sampai ke sini. Warga desa sini sering menanyakan keadaanmu."
"Kami sampai kebingungan mau menjelaskan apa pada mereka. Apalagi bantuan yang datang hanya dibawa prajurit istana saja."
"Oh itu. Maafkan aku. Memang benar, ada masalah besar yang harus kami hadapi. Gusti prabu telah mengatasinya."
Ternyata mereka adalah Talapadi, salah satu pendekar yang dipercayai oleh Jaya Satria, untuk menjamin keamanan desa ini.
"Ternyata mereka saling kenal?."
"Tapi bukan sebagai raja, melainkan sebagai sesama penggawa istana?. Ini sangat aneh sekali." Dalam hati kedua kakak beradik itu merasa heran dengan kedekatan mereka.
"Lalu kau hendak kemana jaya satria?. Bukankah mereka adalah dua orang pangeran dari kerajaan buana dewa, yang tempo hari masuk ke wilayah kerajaan suka damai?."
__ADS_1
"Aku hendak menuju kerajaan buana dewa. Jadi beberapa hari ke depan, aku tidak berada di kerajaan suka damai. Tolong jaga keamanan di desa ini ya."
"Insyaallah, kami akan menjaga keamanan desa ini dengan baik."
"Tapi apakah aman bagimu jaya satria?. Karena ini adalah puasa pertama. Kami rasa agak berat melakukan perjalanan jauh."
"Doakan saja semoga kau bisa menjalankan ibadah puasa dengan baik."
"Semoga saja bisa jaya satria."
"Kalau begitu kami pamit dulu. Aku harus segera menuju kerajaan buana dewa."
"Berhati-hatilah jaya satria. Semoga Allah SWT selalu melindungi mu, dimanapun kau berada."
"Terima kasih atas doa baik kalian. Aku pamit dulu, assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh."
"Mari raden."
Raden Jatiya Dewa dan Raden Antajaya Dewa hanya diam menurut. Mereka kembali masuk ke dalam Bedati, dan meneruskan perjalanan.
"Berhati-hatilah jaya satria."
"Ya. Kalian juga berhati-hatilah saat melalukan ronda." Balas Jaya Satria sedikit keluar melihat mereka semua.
"Apakah tidak apa-apa seperti itu gusti prabu?. Bagaimana reaksi mereka, jika mereka mengetahui. Jika mereka sedang berbicara dengan junjungan mereka."
"Apakah gusti prabu sudah terbiasa saat menemui mereka dengan menggunakan topeng seperti ini?."
Jaya Satria tersenyum kecil. "Seperti yang aku katakan tadi. Di dunia pendekar, dunia pengembara. Hanya ada kawan, atau musuh. Tapi tetap saling menghargai. Sebagai seorang pendekar, aku sangat senang mereka mau membantu menjaga keamanan desa. Apalagi berbicara dengan mereka seperti itu."
Sepertinya kedua Pangeran tersebut mendapatkan pelajaran yang baik Jaya Satria. Bahwa kehormatan bukan hanya dari gelar saja, melainkan kedekatan kita. Cara kita berkomunikasi dengan orang lain, itulah yang sangat penting. Sehingga kehormatan, rasa segan itu akan muncul dengan sendirinya.
"Meskipun masih muda, prabu asmalaraya arya ardhana sangat menghormati siapa saja. Baik kalangan atas, bahkan sampai kalangan Pendekar. Rakyatnya sendiri, semuanya ia hormati. Meskipun bersembunyi dibalik topeng itu, ia sangat memperhatikan semuanya. Sungguh raja yang sangat luar biasa."
"Setelah ini aku akan belajar banyak darinya. Aku merasa malu dengan apa yang aku lakukan selama ini."
Sepertinya akan ada perubahan sikap keduanya?. Benarkah?. Temukan jawabannya.
...***...
__ADS_1