
...***...
Nini Kabut Bidadari memperhatikan bagaimana perubahan warna kulit dari putri Gempita Bhadrika. Kulitnya lebih pucat dan terasa sangat dingin. Nini Kabut Bidadari tidak habis pikir, bagaimana caranya pemuda itu memiliki jurus-jurus berbahaya itu?.
"Jurus aliran kilat menutup darah itu adalah jurus aliran hitam yang sangat langka."
Rasanya hatinya sangat sedih menerima kenyataan ini. Sementara tubuhnya sendiri juga merasakan sakit. Sedangkan Mayang Sari dan Semara Layana, memperhatikan apa yang akan dilakukan oleh Nini Kabut Bidadari terhadap putri Gempita Bhadrika.
Nini Kabut Bidadari mengeluarkan sebotol tempat air kecil. Botol yang berisikan ramuan obatan, yang ia gunakan untuk mengembalikan aliran tenaga dalam Putri Gempita Bhadrika.
"Semoga saja, dengan ramuan ini kau bisa kembali bergerak." Nini Kabut Bidadari sangat berharap, semuanya akan baik-baik saja.
Setelah beberapa menit, obat itu menunjukkan pengaruhnya. Putri Gempita Bhadrika terbatuk, ia mulai sadar.
"Syukurlah kau baik-baik saja tuan putri."
Nini Kabut Bidadari senang melihat putri Gempita Bhadrika sudah siuman. Itu artinya ia berhasil mengobati anak junjungannya.
Putri Gempita Bhadrika mencoba bangun, meskipun bagian tubuhnya terasa sakit. Kepalanya juga terasa pusing, namun ia masih bisa mengingat apa yang terjadi padanya.
"Apakah nini yang telah mengobatiku?." Putri Gempita Bhadrika bertanya pada wanita itu.
"Aku hanya melakukan tugasku. Aku tidak mau dipenggal oleh prabu wajendra bhadrika, jika aku gagal melindungi putrinya." Balasnya sedikit cuek. Namun sebenarnya, hatinya sangat gelisah.
"Terima kasih banyak nini." putri Gempita bersyukur, karena masih bisa ditolong oleh Nini Kabut Bidadari.
"Lalu apa yang harus kita lakukan selanjutnya nini?."
Dalam keadaan terluka pun Putri Gempita Bhadrika masih memikirkan apa yang akan mereka lakukan setelah ini?.
"Kita harus mundur terlebih dahulu. Karena sepertinya orang bertopeng itu, tidak bisa kita anggap remeh ilmu kanuragannya." Nini Kabut Bidadari tidak ingin mengambil resiko.
"Apa maksudmu nini?. Kita kabur begitu saja setelah kalah darinya?." Putri Gempita Bhadrika merasa kesal, apakah itu maksudnya?.
"Kita hanya perlu menggembleng lagi ilmu Kanuragan kita. Menambah kesaktian yang kita miliki, agar kita bisa mengalahkanya."
Putri Gempita Bhadrika memikirkan apa yang diucapkan Nini Kabut Bidadari. Memang ia akui bahwa ilmu kanuragan yang dimiliki oleh pemuda itu sangat tinggi, sehingga ia kewalahan menghadapinya.
"Baiklah nini. Kalau begitu ajari aku beberapa jurus ilmu kanuragan yang kau miliki. Asah lah diriku, tempa aku dengan ilmu kanuraganmu."
Amarah yang dirasakan putri Gempita begitu besar, ia memang harus menambah kekuatan baru. Jika melawan orang misterius itu saja mereka kalah?. Bagaimana dengan prabu Asmalaraya Arya Ardhana?.
"Setelah kau agak baikan, kita akan pergi ke tempatku telaga warna bidadari. Kita akan belajar ilmu Kanuragan di sana."
Nini Kabut Bidadari mengambil ramuan obat, untuk menyembuhkan luka dalam yang dialami oleh putri Gempita Bhadrika.
...***...
Di Istana Kerajaan Suka Damai.
Raden Ganendra Garjitha dan saudara-saudaranya saat ini sedang berkumpul. Mereka masih mencari bukti untuk menjatuhkan sang Prabu. Kali ini mereka membahas apa yang dilihat oleh putri Andhini Andita pada malam itu.
"Aku sungguh melihatnya raka, yunda. Gurunya syekh asmawan mulia mengobati rayi prabu, juga jaya Satria. Aku melihat mereka memuntahkan darah." Putri Andhini Andita menceritakan bagaimana keadaan adiknya pada malam itu.
"Memangnya apa yang terjadi pada mereka?. Apakah mereka habis bertarung?."
Ya, itu hanyalah pendapat Raden Ganendra Garjitha saja.
"Atau ada sesuatu yang mereka sembunyikan?. Misalnya, mereka terkena penyakit parah?." Raden Hadyan Hastanta memberikan pendapat lain.
"Rasanya ingin aku langsung menemuinya. Memakinya, dan bertanya sebenarnya apa tujuannya menjadi raja dengan kelakuan seperti itu." putri Ambarsari merasakan aneh dengan sikap yang ditunjukkan oleh adiknya setelah menjadi raja.
"Tapi kita tidak bisa melakukannya begitu saja rayi. Kita bisa dianggap pemberontak, karena berusaha mencari kesalahan raja dengan sengaja."
Disisi lain Raden Gentala Giandra masih berpikir jernih, ia tidak mau mereka yang kena imbas hanya karena sikap buru-buru mereka.
"Kalau begitu ayo kita lakukan rencana kita. Aku sudah muak hanya mencari kebenaran saja. Aku tidak sabar ingin melihat mereka terusir dari istana ini." Raden Ganendra Garjitha menyarankan mereka untuk segera melakukan rencana mereka?.
"Benar sekali raka. Kita harus segera menyingkirkan rayi prabu beserta keluarganya. Aku sudah muak melihat mereka di istana ini." Kebencian yang dirasakan oleh Raden Hadyan Hastanta tidak bisa ia bendung lagi.
Bahkan ia mengingat perkataan ibundanya bahwa ia tidak betah lagi berada di istana ini, dan memilih untuk pergi ke rumah keluarganya.
"Kalau begitu, kita mulai dengan menyamar menjadi rakyat biasa. Setelah itu kita sebar kabar tentang rayi prabu." putri Ambarsari terlihat berambisi untuk memulai melakukan rencana mereka.
"Aku akan terus bersamamu yunda. Kita akan melakukannya berdua." putri Andhini Andita ingin membantu kakaknya, tentu saja kakaknya setuju.
Apakah mereka berhasil?. Kabar apa yang mereka sampaikan kepada rakyat Suka Damai?. Mengapa mereka begitu membenci Raden Cakara Casugraha menjadi raja?. perpecahan seperti apa yang akan timbul?. Temukan jawabannya.
__ADS_1
...***...
Masih dilingkungan Istana.
Ratu Dewi Anindyaswari mencari keberadaan anaknya, Raden Cakara Casugraha. Entah mengapa hatinya terasa cemas, namun kecemasannya hilang ketika ia melihat anaknya bersama syekh Asmawan Mulia, juga ada seorang wanita?.
"Oh ibunda."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mendekati ibundanya, ia mencium tangan ibunda sambil tersenyum.
"Ada apa nak?. Ibunda sangat mencemaskan keadaanmu."
Ratu Dewi Anindyaswari mengusap bahu anaknya, ia begitu mencemaskan putranya.
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin. Nanda baik-baik saja ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum kecil. Ia tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Tetapi ia tidak mau ibundanya mengkhawatirkannya.
"Nanda prabu baik-baik saja gusti ratu." Syekh Asmawan Mulia meyakinkan pada Ratu Dewi Anindyaswari, bahwa tidak terjadi apa-apa pada putranya.
"Syukurlah kalau begitu syekh. Sungguh saya sangat mencemaskan keadaannya." Ratu Dewi Anindyaswari merasa lega, ia hanya takut putranya terkena masalah.
Setelah itu matanya tertuju pada wanita yang cantik dengan pakaian yang sopan, dan agak berbeda dengan kebanyakan wanita lainnya. Ia memakai penutup kepalanya?. Tapi mengapa?.
"Ibunda. Beliau adalah bibi ayudiyah purwati. Bibi yang nantinya akan mengajari ibunda banyak tentang agama islam."
seakan mengerti dari sorot mata ibundanya, prabu Asmalaraya Arya Ardhana menjelaskan pada ibundanya siapa wanita yang bersama mereka.
"Hormat hamba gusti ratu." Ayudiyah Purwati memberi salam pada ratu Dewi Anindyaswari, senyum ramah wanita itu terlihat anggun.
"Terima kasih karena nini mau datang ke sini. Maaf, telah membuat nini karena telah membuatmu kerepotan."
Ratu Dewi Anindyaswari merasa senang, ia tidak menyangka jika putranya memang mencarikan guru agama wanita untuknya.
"Tidak apa-apa gusti ratu. Hamba senang melakukannya." Suaranya begitu lembut, dan ramah.
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin, hamba dipercayai untuk menyebarkan agama islam di istana ini." Lanjutnya lagi.
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin, terima kasih bibi." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum kecil. "kalau begitu, ibunda bisa berbicara leluasa dengan bibi ayudiyah purwati. Nanda dan syekh guru ingin ke tempat pelatihan prajurit" prabu Asmalaraya Arya mohon pamit pada ibundanya.
"Ibunda juga mengucapkan terima kasih padamu nak." Ratu Dewi Anindyaswari merasa senang, anaknya sangat perhatian padanya.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh. Bibi ayudiyah purwati." prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengucapkan salam.
"Nanda pamit dulu ibunda. Sampurasun." Kali ini sang prabu mengucapkan salam pada ibundanya.
"Rampes." Balas Ratu Dewi Anindyaswari.
"Semoga nimas bisa mengajari gusti ratu dengan baik." Ucap Syekh Asmawan Mulia. "Kakang pamit dulu. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh."
"Insyaallah kakang. Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh."
"Sampurasun. Gusti ratu."
"Rampes."
Syekh Asmawan Mulia menyusul Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Kalau begitu ikutlah denganku nini."
Ratu Dewi Anindyaswari mengajak Ayudiyah Purwati untuk pergi dari sana. Ia mengajaknya ke kamarnya untuk belajar banyak tentang Islam.
Apakah Ratu Dewi Anindyaswari bisa belajar dengan baik?. Memahaminya dengan baik?. Temukan jawabannya.
...***...
Di luar Istana Kerajaan Suka Damai.
Seperti yang telah mereka rencanakan sebelumnya. Bahwa mereka akan melakukannya dengan sempurna. Putri Andhini Andita dan Putri Ambarsari ke kota raja, daerah terdekat dengan istana kerajaan. Mereka yang saat ini sedang menyamar, sedang gencar menebarkan fitnah.
"Aku menginginkan keadilan saudara-saudara!. Aku melihat orang bertopeng itu!. Dia adalah seorang dukun hitam yang kini bekerjasama dengan gusti prabu asmalaraya arya ardhana!. Aku sungguh tidak mau memiliki raja seperti dia!."
Mereka semua menyimak dan melihat, ada dua orang wanita dengan menggunakan caping, sedang menangis di depan mereka.
"Apa maksudmu nisanak?. Tidak mungkin gusti prabu melakukan perbuatan kotor seperti itu."
Mereka tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.
"Aku berkata yang sebenarnya!. Raja baru kita itu sebenarnya licik!. Demi tahta ia rela melakukan apa saja!. Termasuk menyewa dukun yang berpura-pura menolong siapa saja demi menutupi kebusukannya."
__ADS_1
Dua wanita itu memainkan perannya dengan baik. Sehingga mereka semua mulai percaya dengan apa yang mereka katakan.
"Aku adalah bukti kebiadaban raja baru itu!. Saat aku meminta makanan ke istana, aku diperlakukan dengan kasar, mereka mengusirku dengan cara keji."
Wanita yang agak lebih tinggi itu membuka capingnya, memperlihatkan wajahnya yang penuh luka-luka seperti dianiaya oleh seseorang. Mereka merasa simpati dengan apa yang terjadi pada wanita muda itu. Kemarahan mulai tersulut di hati mereka yang sudah termakan hasutan itu.
Apakah yang akan mereka lakukan, setelah mendengarkan cerita tentang raja mereka, yang menganiaya rakyatnya yang membutuhkan pertolongan?. Dan mereka juga tidak percaya, bahwa orang bertopeng yang menolong mereka semua adalah seorang dukun?.
Sepertinya rencana yang dilakukan oleh Putri Ambarsari dan Putri Andhini Andita, berhasil membuat penduduk kota raja marah dan membenci prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
Lalu bagaimana dengan Raden Hadyan Hastanta, Raden Ganendra Garjitha dan Raden Gentala Giandra?. Mereka saat ini sedang berada di desa terdekat dengan istana. Saat ini mereka sedang menyamar menjadi pemungut pajak istana. Mereka merampas harta rakyat yang tidak mau membayar pajak.
Terjadilah perkelahian antara mereka, dengan ganasnya mereka menghajar penduduk desa yang tidak mau membayar pajak.
"Kenapa tuan-tuan mengambil dan merampas harta kami."
Seorang wanita setengah tua yang sudah tidak berdaya menangis karena hartanya diambil paksa. Suaminya juga dipukuli, bahkan dirinya dianiaya oleh tiga orang pemuda bengis itu.
Sedangkan penduduk yang lainnya tak mampu menghalangi mereka untuk tidak berbuat sewenang-wenang. Apalagi sampai berbuat kasar seperti itu.
"Sudah aku katakan!. Jika ini adalah perintah dari raja kalian, prabu Asmalaraya Arya Ardhana!. Jika kalian tidak mau menyerahkan harta kalian, maka hukuman gantung yang akan kalian terima!."
Suara bentakan keras itu membuat mereka terkejut sekaligus takut. Benarkah sang prabu dengan tega memberi perintah kepada mereka bertiga untuk melakukan perbuatan kejam ini?.
Bukankah sang prabu kemarin baru memberikan sedekah, pada rakyat miskin dengan memberi mereka bahan makanan?. Lalu apa artinya semua ini?.
"Tidak mungkin!. Tidak mungkin prabu asmalaraya arya ardhana melakukannya."
Mereka tidak percaya dengan perkataan seperti itu. Akan tetapi apa yang mereka dapatkan?. Mereka semakin dihajar oleh ketiga orang itu, mereka menyebut ini perintah dari sang Prabu.
Sepertinya negeri ini memang ingin dihancurkan oleh keluarganya sendiri, yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa, keluarga dari ibu yang berbeda menjadi raja.
Sementara mereka yang menginginkan pangkat sebagai raja, malah berbuat aniaya. Bagaimana bisa suatu negeri atau kerajaan bisa damai, jika kebencian lahir dari dalam istana itu sendiri.
Kebencian yang ditebarkan oleh Raden Ganendra Garjitha serta saudara-saudaranya telah meresahkan rakyat Suka Damai. Mereka marah, benci, sakit hati dengan apa yang dilakukan oleh raja mereka yang zalim, kejam dan bengis.
Lalu apa artinya pertolongan yang dilakukan oleh sang prabu selama ini?. Juga orang bertopeng itu jika akhirnya hanyalah membuat mereka menderita?.
Karena sudah tidak tahan lagi dengan apa yang dilakukan oleh sang Prabu, mereka beramai-ramai datang ke istana untuk menuntut sang prabu atas tindakannya.
Hari itu rakyat Suka Damai memperlihatkan kemarahan yang mereka rasakan, kepercayaan mereka terhadap sang prabu telah hilang. Berubah menjadi dendam, benci, ingin menurunkan sang prabu dari jabatannya.
Mereka semua mengeluarkan suaranya berteriak keras untuk menuntut sang prabu. Sementara itu prajurit yang sedang berjaga-jaga di gerbang istana terkejut karena kedatangan rakyat yang begitu banyak.
"prajurit! Jaga gerbang dengan baik!. Aku akan melaporkan kejadian ini pada gusti prabu." Senopati Mandaka Sakuta terkejut, mengapa rakyat tiba-tiba datang ke istana dengan keadaan marah?
"Sandika gusti senopati."
prajurit sekuat tenaga untuk menutupi gerbang istana agar rakyat tidak masuk, namun mereka dengan ganasnya mendobrak pintu gerbang istana.
Sementara itu Senopati Mandaka Sakuta buru-buru menghadap sang prabu.
"Mohon ampun gusti prabu. Jika hamba mengganggu gusti prabu."
Senopati Mandaka Sakuta memberi hormat pada sang prabu yang sedang berbincang dengan Syekh Asmawan Mulia dan beberapa Pedanda istana.
"Ada apa Senopati. Sepertinya ada hal penting yang ingin kau sampaikan."
Sang prabu sepertinya melihat raut wajah kegelisahan dipancarkan oleh senopatinya.
"Mohon ampun gusti prabu. Di depan istana banyak rakyat yang mengamuk gusti."
Senopati Mandaka Sakuta melaporkan apa yang sedang terjadi. Tentu saja sang prabu terkejut mendengarnya.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah."
Begitu juga dengan Syekh Asmawan Mulia, dan Pedanda Istana.
"Apa yang membuat mereka mengamuk?." Sang Prabu merasa gelisah, ia ingin mendengarkan penjelasan dari senopatinya.
"Mohon ampun gusti prabu. Hamba tidak tau penyebabnya, tapi sepertinya mereka tidak bisa ditahan oleh prajurit dengan mudah gusti."
Laporan dari Senopati Mandaka Sakuta membuat sang prabu semakin gelisah, hingga tanpa sadar ia melangkah, meninggalkan tempat itu menuju gerbang istana. Ia tidak mau terjadi sesuatu pada prajuritnya.
Mereka semua mengikuti langkah sang prabu, ingin melihat apa yang sedang terjadi.
bagaimana ceritanya?.
__ADS_1
Next halaman.
...***...