
...****...
Suasana Istana Kerajaan Mekar Jaya saat ini sedang ramai. Karena hari ini ada acara penobatan ratu yang akan memimpin kerajaan ini. Petinggi istana, serta rakyat sama-sama menyaksikan acara tersebut dengan meriahnya. Acara tersebut dilaksanakan di halaman istana, agar rakyat semua dapat menyaksikan juga acara penobatan tersebut.
"Hadirin yang berbahagia. Kita semua telah kehilangan raja yang sangat kita cintai. Namun kita tidak boleh membiarkan istana serta kerajaan ini kosong tanpa adanya penerus beliau." Patih Arda Turan memperhatikan mereka semua. Ia mewakili keluarga istana sebagai pembuka acara.
"Memang gusti prabu hanya memiliki satu orang putri yang bernama gusti ratu ardiningrum bintari. Namun beliau tidak bisa diangkat menjadi ratu agung di istana ini, karena beliau telah berkhianat pada kerajaan ini."
Suasana agak ribut, karena mereka telah mengetahui pengkhianatan tersebut. Mereka bahkan pernah menjadi korban kekejaman kedua putra Ratu Ardiningrum Bintari.
"Namun, gusti putri ambarsari akan melanjutkan tampuk pemerintahan, dari mendiang gusti prabu rahwana bimantara."
Mereka semua melihat ke arah Putri Ambarsari yang sudah siap dinobatkan menjadi seorang ratu agung di Istana ini.
"Gusti patih. Apakah gusti patih tidak salah?. Nanti ia juga akan melakukan kekejaman pada kami semua."
"Benar gusti patih. Sebaiknya cari yang lain saja. Kami takut ia akan memiliki watak yang sama dengan ibundanya itu."
Mereka semua menunjukkan sikap tidak suka, atau tidak terima karena Putri Ambarsari masih anak dari Ratu Ardiningrum Bintari. Bisa jadi ia juga akan berlaku sama bukan?.
"Tidak!. Itu tidak mungkin terjadi. Bahkan dalam pemberontakan pertama, gusti putri ambarsari ikut membela keutuhan kerajaan ini."
"Memangnya dari mana gusti patih mengetahuinya?. Apakah gusti patih juga ikut dalam penyelamatan itu?."
"Saya memang tidak ikut, akan tetapi apakah kalian tidak percaya dengan ucapan seorang raja?."
"Maksud gusti patih adalah mendiang gusti prabu rahwana bimantara?."
"Beliau adalah raja dari kerajaan suka damai, yang bernama gusti prabu asmalaraya arya ardhana."
Mereka semua melihat kemana arah Patih Arda Turan memberi hormat. Ternyata pada anak muda yang sedang duduk tak jauh dari Putri Ambarsari. Ia mengenakan mahkota yang unik sebagai seorang raja. Dan pakaian yang ia kenakan sangat mewah, sehingga terlihat aura ketampanannya.
"Lalu apa jaminannya, jika ratu agung yang akan dinobatkan, tidak akan berkhianat pada kerajaan ini gusti patih?."
"Mohon ampun gusti putri. Bisakah gusti putri menunjukkan kepada mereka, sehingga gusti putri bisa meyakinkan mereka, bahwa gusti putri pantas menjadi ratu agung di istana ini."
__ADS_1
"Baiklah paman patih."
Putri Ambarsari maju ke depan. Ia melihat mereka semua dengan seksama. "Salam sejahtera untuk rakyat mekar jaya." Senyumannya begitu ramah, sehingga mereka dapat merasakan ketulusan dari tatapan dan senyuman itu.
"Saya adalah putri dari mendiang ayahanda prabu kawiswara arya ragnala. Nama saya bahuwirya ambarsari." Ia memperkenalkan namanya dengan sangat sopan dihadapan mereka semua. "Saya hanyalah manusia biasa, yang kebetulan memiliki kelebihan, untuk memimpin negeri ini." Ucapnya lagi.
Mereka tidak menyangka, jika ia adalah anak dari raja yang hebat?. Pantas saja auranya sangat berbeda. Namun setelah itu, Putri Ambarsari mengeluarkan pedang panggilan jiwa miliknya. Yaitunya pedang Batari Saka Raksa. Mereka semua yang memperhatikan itu sangat terkejut. Apakah ratu agung mereka akan membunuh mereka?. Serta mengancam mereka agar memilihnya menjadi ratu agung?.
"Pedang ini adalah simbol dari panggilan jiwa, yang hanya dimiliki keluarga bahuwirya. Jadi tidak semua orang, memiliki pedang ini. Karena, hanya keturunan bahuwirya saja, mendapatkan takdir untuk menggenggam pedang ini." Putri Ambarsari menjelaskan pada mereka semua. "Pedang ini adalah bukti kesetiaan, serta kecintaannya terhadap orang-orang yang ia sayangi." Ia menatap pedang yang ia dapatkan ketika ia berusaha untuk membela adiknya putri Agniasari Ariani.
"Jika saya berkhianat, maka saya akan dimakan oleh pedang ini. Saya telah bersumpah, akan menjadi seorang ratu agung yang menjadi penopang untuk kerajaan ini. Sesuai dengan nama pedang ini. Pedang batari saka raksa."
Mereka semua menyimak apa yang dikatakan oleh Putri Ambarsari. Mereka mencoba untuk yakin dengan apa yang disampaikan Putri Ambarsari.
"Gusti putri ambarsari telah mengatakan semuanya. Saatnya kita menuju acara penobatan ratu agung."
Mereka semua setuju dengan apa yang dikatakan oleh Patih Arda Turan. Hari itu juga, Putri Ambarsari diangkat menjadi ratu agung di kerajaan Mekar Jaya.
"Gusti ratu bahuwirya ambarsari bimantara, telah diangkat menjadi ratu agung. Dengan begini, istana ini telah memiliki orang yang berhak untuk mengatur semuanya. Mari kita sambut gusti ratu agung dengan sambutan yang sangat meriah."
Mereka semua merasakan kegembiraan yang sangat luar biasa mereka dapatkan. Mereka tidak akan melupakan sejarah berharga ini.
"Alhamdulillah hirobbil'alamin gusti prabu. Ibunda pasti senang mendengar kabar ini."
"Katakan pada ibunda, salam maaf pada ibunda, bahwa tidak bisa mengundang ibunda untuk menyaksikan acara penobatan ini."
"Tidak apa-apa gusti prabu. Hamba yakin ibunda akan memahami situasinya."
"Ya, semoga saja jaya satria."
Sementara itu, petinggi Istana serta rakyat, sangat bahagia. Karena mereka menyambut ratu agung baru. Namun setelah itu, kebahagiaan itu sedikit bergeser, ketika beberapa orang prajurit membawa Ratu Ardiningrum Bintari, Raden Ganendra Garjitha, dan Raden Gentala Giandra dalam keadaan terikat rantai.
"Merekalah yang telah membunuh gusti prabu rahwana bimantara. Mereka telah melakukan kesalahan." Sorot mata Patih Arda Turan menjadi lebih tajam. Ia sangat benci melihat mereka semua.
"Oh. Selamat atas tahta yang kau miliki ambarsari. Aku yakin kau sangat bahagia, sehingga kepalamu telah diberatkan oleh mahkota kebesaran ayahanda prabu."
__ADS_1
"Kau memang pengkhianat ambarsari. Aku tidak akan mengampunimu!."
"Raka, ibunda. Mohon dengarkan apa yang hendak nanda sampaikan."
"Apalagi yang ingin kau sampaikan ketika kau sudah berada diatas angin anak durhaka."
"Kau tidak perlu basa-basi lagi ambarsari. Langsung saja jika kau ingin memberi kami hukuman mati sekalipun. Aku tidak sudi, mendengarkan apa yang akan kau sampaikan pada kami."
"Kata-katamu itu, tidak akan berguna bagi kami. Jadi kau tidak usah mengeluarkan kata-kata yang tidak berguna sama sekali!."
Mereka semua mendengarnya merasa sakit hati. Mereka tidak terima, karena itu belum tentu yang akan disampaikan oleh Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara. Tetapi sepertinya mereka memang tidak mau mendengarkan apa yang hendak disampaikan Ratu Agung pada mereka.
"Hukum mati saja mereka yang tidak tahu diuntung itu!." Dharmapati Sharera merasa muak dengan mereka.
"Hukum mati saja mereka, karena mereka tidak pantas diberikan kesempatan hidup, untuk memperbaiki diri."
"Percuma saja gusti ratu ratu agung meminta pada kami untuk me-rukiyah mereka. Jika mereka sendiri tidak mau berubah."
"Ya, itu benar. Gusti ratu agung tidak perlu merasa kasihan lagi. Karena mereka telah menolak kebaikan yang akan gusti ratu agung sampaikan kepada mereka!."
Memang sebelum acara dimulai, Putri Ambarsari tadi meminta mereka untuk memaafkan kesalahan mereka. Dan untuk sementara waktu, mereka akan diobati oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana melalui rukiyah. Namun sepertinya, mereka malah berpikiran buruk pada Gusti Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara.
"Mereka benar-benar tidak tahu diuntung. Sudah berbaik hati kami memberikan izin untuk merenungi kesalahan, tapi mereka malah berkata yang tidak-tidak."
"Hukum mati saja mereka!. Karena mereka tidak pantas hidup!."
Mereka semua benar-benar geram dengan balasan dari ketiganya. Bukan hanya dari petinggi Istana saja, bahkan rakyat yang menyaksikan itu juga ikut geram. Mereka semua menyorakkan hukuman mati untuk ketiganya.
"Jadi sebenarnya anakku ambarsari ingin membebaskan aku?. Tapi aku terlanjur sakit hati padanya." Dalam hati Ratu Ardiningrum Bintari merasa sangat menyesal, karena mengeluarkan kata-kata seperti itu. Ingin rasanya ia menarik kembali ucapannya, namun mereka semua telah terlanjur mendengarkannya.
"Mohon ampun gusti ratu agung. Kami telah sepakat untuk menghukum mati mereka bertiga. Maaf sebelumnya, dengan sikap mereka yang seperti itu. Kami tidak bisa menyetujui apa yang gusti ratu agung katakan sebelumnya."
Gusti Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara tidak bisa berkata apa-apa lagi. Hatinya sangat iba, karena ibundanya, serta kedua kakaknya benar-benar telah menolak kebaikan yang akan ia tawarkan.
"Mengapa ibunda malah memilih jalan seperti itu?. Padahal nanda telah mencoba untuk melindungi ibunda, juga raka." Putri Ambarsari berusaha untuk menekan perasaannya. Apalagi itu adalah keputusan dewan agung istana. Jadi ia tidak bisa mencegahnya.
__ADS_1
Apa yang akan terjadi?. Temukan jawabannya. Jangan lupa vote, komentar, agar author yang tidak berwujud ini semangat lanjutin ceritanya.
...****...