
Mata itu menatap dengan teliti, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria. Entah apa yang ia lihat, akan tetapi, sorot mata itu seakan sedang membedakan seseorang.
"Siapakah diantara kalian berdua yang bernama raden cakara casugraha?. Katakan padaku dengan jujur." Lelaki itu bertanya pada keduanya?.
Tentu saja mereka merasa heran. "Siapakah kisanak ini?. Mengapa kisanak mengetahui nama raden cakara casugraha?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana ingin mengetahui alasannya.
"Apakah raden cakara casugraha, sebelumnya pernah bertemu dengan Kisanak?." Jaya Satria juga bertanya. Seingatnya dan seingat prabu Asmalaraya Arya Ardhana, tidak pernah menemui orang ini.
Atau ada sesuatu yang telah mereka lupakan begitu saja?. Tapi kapan?.
"Aku memang belum pernah bertemu dengan raden cakara casugraha. Akan tetapi, sebelum aku menemui ajalku. Aku disarankan mpu mahaprana." Ucapnya dengan nada sedih. "Saat ini, aku sedang sekarat, setelah mengalami sakit selama sepuluh tahun. Aku sudah tidak kuasa lagi menahan sakit, yang aku alami." Lanjutnya. Menatap sedih prabu Asmalaraya Arya Ardhana, dan Jaya Satria.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Sebenarnya apa yang terjadi pada kisanak?. Mengapa sampai seperti itu?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak sampai hati mendengarkan cerita sedih itu.
"Jika kami boleh tahu, siapa kisanak?. Mungkin kami bisa membantu kisanak." Jaya Satria menanyakan, siapa orang yang ingin meminta bantuan pada Raden Cakara Casugraha?.
"Namaku adalah maheswara jumanta." Jawabnya dengan nada tegas. Namun masih mengandung kesedihan.
"Lalu apa yang harus kami lakukan, untuk membantu kisanak?."
"Ya, katakan pada kami."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria ingin mengetahui, apa yang akan mereka lakukan untuk membantunya.
Namun, saat mereka ingin mendengarkan jawaban dari orang itu. Tiba-tiba saja, mereka tersedot kembali ke alam nyata.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Keduanya terbangun dengan paksa, membuat kepala mereka sedikit pusing.
Di kaki Gunung Menawan Batin.
"Syukurlah, nanda sudah bangun. Hamba sangat mengkhawatirkan Nanda." Aki Jarah Setandan masih berada di dekat Jaya Satria. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan muridnya.
Jaya Satria mencoba untuk duduk dengan benar. Mencoba untuk menenangkan dirinya.
"Apa yang terjadi sebenarnya. Mengapa hamba tidak bisa menyentuh tubuh nanda?." Aki Jarah Setandan tidak mengerti sama sekali. Ia sudah berusaha untuk membangunkan Jaya Satria.
"Guru. Tadi nanda bermimpi. Bertemu dengan seseorang yang bernama, maheswara jumanta. Apakah guru pernah mendengar nama itu?." Jaya Satria menceritakan pada gurunya.
"Maheswara jumanta?." Aki Jarah Setandan malah mengulangi menyebut nama itu. Ia mencoba mengingat nama yang disebutkan oleh Jaya Satria.
__ADS_1
Cukup lama untuk menunggu, Aki Jarah Setandan akhirnya mengingatnya.
"Kalau tidak salah. Maheswara jumanta, dia dulunya adalah seorang raja yang berasal dari ujung pulau ini." Aki Jarah Setandan mengingat sedikit, siapa orang itu.
"Konon, kabar yang hamba denger masa itu. Gusti prabu maheswara jumanta, memang memiliki tombak pusaka yang bernama tombak kelana jaya. Tapi entah mengapa, tiba-tiba tombak itu menjadi tombak kutukan."
"Lalu, apa yang harus kami lakukan guru?. Ia meminta tolong pada kami. Tapi kami tidak tahu harus menolongnya dengan cara seperti apa." Jaya Satria tidak menyangka, jika pemilik tombak kelana jaya, merupakan seorang Raja?.
"Meminta bantuan pada nanda?."
"Benar guru. Ia mengatakan, jika ia meminta bantuan raden cakara casugraha, untuk memulihkan rasa sakit yang ia alami selama sepuluh tahun. Kondisinya saat ini sedang sekarat."
"Jadi nasib raja itu berada di tangan nanda?. Ini sangat aneh."
"Entahlah guru. Nanda tidak mengerti sama sekali. Ia mengatakan itu atas saran dari mpu mahaprana." Jaya Satria tampak kebingungan. "Apa yang harus nanda lakukan guru?. Sementara kami tidak mengetahui cara membantunya." Lanjut Jaya Satria.
"Kalau begitu, nanda temuilah beliau di kerajaan ujung pulau ini. Bagian bawah pulau ini. Kalau tidak salah, di sanalah sang prabu berada." Hanya itu yang dapat disarankan oleh Aki Jarah Setandan sebagai seorang guru.
"Bagaimana menurut gusti prabu." Jaya Satria dalam hati berkomunikasi dengan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Pergilah ke sana jaya satria. Aku mohon padamu, kali ini aku meminta bantuanmu. Selesaikan masalah ini dengan segera. Aku tidak mau merasakan kegelisahan yang mencekam kita berdua." Balas Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Sandika gusti prabu." Jaya Satria tentunya akan melakukannya. Ia tidak mau Prabu Asmalaraya Arya Ardhana kecewa padanya.
"Semoga saja gusti prabu. Do'akan lah, semoga hamba selamat diperjalanan menuju ke sana."
"Aku akan selalu mendoakan keselamatanmu jaya satria." Sang prabu selalu berdoa seperti itu.
"Kapan Nanda akan berangkat ke sana?. Apakah nanda tidak kembali dulu ke istana, meminta izin pada nanda prabu, tentang kepergian nanda ke sana."
"Sebelum anda berangkat ke sini. Nanda telah meminta izin pada gusti prabu, jika nanda akan kembali lagi ke istana, jika nanda telah berhasil menyelesaikan semua masalah yang sedang terjadi."
"Syukurlah kalau begitu." Aki Jarah Setandan merasa lega mendengarnya. "Hamba merasa cemas, karena akan berbahaya, jika nanda bertemu dengan orang-orang jahat. Nanda terluka, maka nanda prabu juga akan ikut terluka."
Itulah yang membuat Aki Jarah Setandan selalu mencemaskan keadaan kedua muridnya.
"Tenanglah guru. Kami akan berusaha untuk menjaga satu sama lain. Guru jangan terlalu cemas. Serahkan semuanya kepada Allah SWT." Jaya Satria tersenyum kecil. Meyakinkan gurunya, bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Doaku selalu menyertai nanda, juga nanda prabu."
"Terima kasih guru. Semoga saja kebaikan guru selalu dibalas oleh sang pencipta." Jaya Satria bersyukur memiliki guru yang baik.
__ADS_1
...***...
Sementara itu di Istana Kerajaan Suka Damai. Masih berada di ruangan pribadi Raja.
"Ya Allah. Hanya kepada-Mu lah, hamba meminta pertolongan. Tiada daya dan upaya kecuali pertolongan-Mu." Dalam hati prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Ia sangat mencemaskan kepergian Jaya Satria.
Akan tetapi, ia juga tidak memiliki pilihan lain, selain menemui prabu Maheswara Jumanta. Ia tidak mau menimbulkan masalah baru lagi.
"Jika memang raja itu meminta tolong padaku. Tapi mengapa malah masuk ke dalam mimpiku, dan memberikan mimpi yang mengerikan seperti itu padaku?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sungguh tidak mengerti sama sekali.
"Memangnya, pertolongan seperti apa yang ia inginkan dariku?." Itulah pertanyaan yang belum sempat terjawab oleh Prabu Maheswara Jumanta.
"Assalamualaikum, nanda prabu."
Dari arah luar, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mendengar suara ibundanya yang mengucapkan salam.
"Ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana langsung menuju ke luar.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh, ibunda." Sang prabu langsung mendekati ibundanya, salam pada ibundanya.
"Oh, nanda prabu." Ratu Dewi Anindyaswari terlihat cemas. Ia menyambut tangan putranya, mengelus puncak kepala anaknya, serta mencium puncak kepalanya.
"Rayi prabu. Apa yang terjadi?. Mengapa rayi prabu begitu lama di dalam ruangan pribadi?." Raden Hadyan Hastanta juga khawatir.
"Kami semua, sangat mencemaskan keadaan rayi prabu. Bahkan ibunda dari tadi sangat gelisah, menunggu rayi prabu keluar." Putri Andhini Andita merasa heran. Apa yang dikerjakan oleh adiknya, sehingga selama itu berada di dalam?.
"Maafkan nanda ibunda. Nanda sedang memikirkan sesuatu yang akan nanda berikan nanti, sebagai hadiah untuk raka hadyan hastanta. Karena sulit memikirkannya, nanda tidak mau diganggu siapa saja. Sungguh maafkan nanda." Sang prabu terpaksa berbohong, untuk menyembunyikan apa yang ia rasakan saat ini.
"Oh putraku." Ratu Dewi Anindyaswari mulai terlihat tersenyum.
"Oh ya ampun rayi. Kenapa sampai seperti itu." Raden Hadyan Hastanta sungguh tidak mengerti sama sekali.
"Maafkan aku raka. Aku hanya ingin membuat raka bahagia di hari lamaran nanti." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat menunjukkan sikap perhatiannya pada kakaknya.
"Oh ya ampun rayi prabu. Jangan terlalu berat memikirkan seperti itu. Kami benar-benar mencemaskanmu." Putri Andhini Andita mencubit pipi adiknya dengan gemas. Hingga sang prabu kesakitan.
"Ampun yunda. Lepaskan, sakit." Sang prabu merintih sakit. Sungguh, kakak perempuannya itu mencubit pipinya tanpa ampun.
Sementara itu, Ratu Dewi Anindyaswari dan Raden Hadyan Hastanta malah tertawa melihat itu. Tingkah laku keduanya membuat mereka tidak bisa menahan tawa.
__ADS_1
Tapi pertanyaannya, apakah Prabu Bahuwirya Cakara Casugraha bisa mengatasi masalahnya?. Temukan jawabannya. Jangan lupa vote ya. Mohon dukungannya.