
...***...
DUAKH
Lagi, kali ini Raden Cakara Casugraha menghajar Raden Gentala Giandra. Sementara itu Putri Andhini Andita dan Putri Ambarsari yang melihat itu langsung masuk ke dalam kaputren. Mengadu pada ibunda mereka, bahwa saudara mereka dihajar oleh Raden Cakara Casugraha.
"Kegh." Raden Gentala Giandra meringis sakit. Ia tidak menyangka jika Raden Cakara Casugraha bisa menghajar dirinya?. Matanya bahkan menangkap kakaknya Raden Ganendra Garjitha yang sedang meringis kesakitan.
"Bahkan raka ganendra garjitha pun dihajarnya." Dalam hatinya mulai merasa takut, melihat keadaan saudaranya yang terluka parah.
"Kenapa tiba-tiba kau menjadi ganas cakara casugraha." Teriak Raden Hadyan Hastanta yang dari tadi memperhatikan mereka berkelahi. Dan ia sudah tidak tahan lagi.
"Itu karena kalian telah berani menghina ibundaku." Raden Cakara Casugraha membalikkan tubuhnya, melihat Raden Hadyan Hastanta yang berlari ke arahnya sambil mengepal tinjunya, siap-siap ingin memukulnya.
"Aku tidak akan mengampuni orang, yang telah berani menghina ibundaku. Karena kalian berkata yang tidak sesuai dengan kenyataannya. Akan aku hajar kalian semuanya." Ucapnya dengan penuh amarah.
Ia cukup bersabar selama ini. "Bahkan kalian menyakiti yundaku. Kalian pikir aku ini orang yang cukup sabar untuk itu?." Dengan perasaan marah, ia menghindari semua serangan Raden Hadyan Hastanta.
Dan sebaliknya, ia dengan ganasnya menghajar Raden Hadyan Hastanta. Ia lepaskan beberapa pukulan, serta tendangan ke arah Raden Hadyan Hastanta.
"Kegha." Raden Hadyan Hastanta yang terkena pukulan dan tendangan itu meringis kesakitan.
"Rayi." Raden Gentala Giandra terkejut melihat bagaimana Raden Hadyan Hastanta dihajar oleh Raden Cakara Casugraha dengan ganasnya. Ia berniat membantunya, tapi malah dihajar juga.
"Kalian hanya bermulut besar saja. Tidak ada apa-apanya." Kemarahan itu masih menguasai dirinya.
"Raka, rayi." Raden Gentala Giandra membantu mereka berdiri. "Mari kita hajar dia raka, rayi." Raden Gentala Giandra benar-benar tidak tahan lagi menahan rasa kesalnya.
"Ya, mari kita hajar dia." Raden Ganendra Garjitha bersiap-siap menghajar Raden Cakara Casugraha.
"Majulah kalian bertiga. Akan aku hajar kalian bertiga sekaligus." Raden Cakara Casugraha tidak takut sama sekali. Meskipun dikeroyok oleh mereka bertiga.
"Anak selir telah berani menantang kita." Raden Gentala Giandra benar-benar muak.
Pertarungan mereka satu lawan tiga. Raden Hadyan Hastanta mencoba terus menyerang Raden Cakara Casugraha, begitu juga dengan Raden Gentala Giandra dan Raden Ganendra Garjitha. Keempat putra mahkota benar-benar memperlihatkan ilmu kadigjayaan siapa yang paling kuat.
__ADS_1
Sesekali mereka mengatur hawa murni mereka, agar tidak ngos-ngosan saat bertarung.
"Kau jangan bangga dulu anak selir. Kami pasti bisa mengalahkanmu." Raden Ganendra Garjitha dengan geramnya menunjuk ke arah Raden Cakara Casugraha.
"Kegh." Raden Cakara Casugraha mendengus kecil. "Kau benar-benar membuat aku kesal ganendra garjitha. Berani sekali kau menyebutku dengan sebutan anak selir!." Kemarahan itu semakin besar. Kemarahannya semakin meningkat, rasa sakit hatinya telah menggerogoti dirinya. Hawa kemerahan itu semakin menyelimuti dirinya.
"AKAN AKU HABISI KALIAN SEMUANYA!." Kepalanya benar-benar tidak bisa berpikir jernih lagi. Dengan ganasnya ia menyerang mereka semuanya. Tidak ada lagi perlawanan dari mereka kecuali pasrah menerima tubuh mereka yang dihajar habis-habisan oleh Raden Cakara Casugraha.
"Cakara casugraha!." Dari dalam kaputren Ratu Ardiningrum Bintari, dan Ratu Gendhis Cendrawati terkejut melihat keadaan anak-anak mereka yang terluka parah.
Mereka datang bersama Putri Andhini Andita dan Putri Ambarsari. Mereka terlihat serius menatap dirinya.
"Ibunda." Pandangan mereka kembali teralihkan, karena Raden Hadyan Hastanta, Raden Gentala Giandra dan Raden Ganendra Garjitha meringis kesakitan setelah dihajar habis-habisan oleh Raden Cakara Casugraha.
"Berani sekali kau menyakiti putraku!." Bentak Ratu Ardiningrum Bintari menatap tajam ke arah Raden Cakara Casugraha.
"Oh putraku." Ratu Gendhis Cendrawati mendekati anaknya yang meringis kesakitan. Tidak sampai hati ia melihat anaknya saat ini. Ia merasa iba melihat kondisi anaknya yang banyak mengalami luka.
"Sakit ibunda." Ia menangis mengadu pada ibundanya. Betapa teraniaya dirinya karena Raden Cakara Casugraha?.
"Putraku." Dari arah lain, Ratu Dewi Anindyaswari mendekati putranya. Terlihat ada beberapa bekas goresan di wajah putranya.
"Ibunda. Mengapa ibunda ada di sini?. Mana yunda?." Raden Cakara Casugraha mencoba untuk mengendalikan amarahnya. Ia mencoba untuk menekan perasaan marahnya yang telah menguasai dirinya.
"Rayi dewi!. Lihatlah!. Apa yang telah dilakukan oleh putramu pada anak-anak kami!." Ratu Ardiningrum Bintari mendekati Ratu Dewi Anindyaswari.
"Putraku cakara casugraha. Apa yang terjadi-."
"Aku sedang berbicara padamu rayi dewi!." Dengan perasaan marahnya, ia membentak Ratu Dewi Anindyaswari.
"Ibunda ratu ardiningrum bintari. Tidak perlu ibunda ratu membentak ibundaku!." Kemarahan itu kembali menguasai tubuhnya. Ia berdiri di hadapan Ratu Ardiningrum Bintari, seakan ia ingin menantang sang Ratu.
"Kau sungguh tidak sopan sekali cakara casugraha!." Ratu Ardiningrum Bintari sangat marah pada Raden Cakara Casugraha.
Namun saat itu, Prabu Kawiswara Arya Ragnala datang. "Ada apa ini?. Mengapa ribut-ribut sekali di kaputren.?." Sang prabu tidak mengerti, mengapa keluarganya bisa berada di sini?.
__ADS_1
"Lihatlah kanda. Apa yang telah dilakukan oleh nanda cakara casugraha terhadap anak-anak kami." Ratu Ardiningrum Bintari menangis?. Mengapa tiba-tiba sang Ratu bisa menangis?.
"Demi dewata yang agung. Apa yang terjadi pada kalian?." Sang Prabu melihat luka-luka yang dialami oleh mereka semua.
"Ayahanda. Itu semua karena rayi cakara casugraha yang memukuli mereka semua." Putri Andhini Andita yang sedari tadi memperhatikan mereka dalam takut, akhirnya buka suara juga.
"Benarkah itu putraku cakara casugraha?. Nanda lah yang melakukan itu semua?." Sang Prabu menatap Raden Cakara Casugraha meminta penjelasan darinya.
"Benar ayahanda. Nanda yang melakukannya." Jawabnya dengan jujur. Ia tidak mengelak sama sekali dengan apa yang telah ia lakukan.
"Putraku. Mengapa nanda melakukan ini nak?." Ratu Dewi Anindyaswari sangat terkejut mendengarkan apa yang dikatakan oleh putranya.
Raden Cakara Casugraha membalikkan tubuhnya, menatap ibundanya dengan perasaan sedih.
"Nanda tidak perlu mengulangi apa yang mereka katakan. Alasan mengapa nanda marah." Jawabnya dengan perasaan sedih.
"Ibunda janji. Bahwa ibunda tidak akan mendengarkan apapun yang mereka katakan tentang ibunda. Bagi nanda, ibunda adalah wanita sempurna. Ibunda janji ya, kalau ibunda tidak akan mendengarkan kata-kata buruk dari mereka. Janji ya." Raden Cakara Casugraha menatap sayang ibundanya.
"Aura kemerahan yang menyelimuti tubuhnya, perlahan menghilang?." Prabu Kawiswara Arya Ragnala memperhatikan bagaimana putra bungsunya itu itu berkata pada Ratu Dewi Anindyaswari.
Entah mengapa, aura kemerahan itu menghilang begitu Saja?.
"Oh putraku." Ratu Dewi Anindyaswari memeluk erat anaknya. "Terima kasih atas perhatiannya ya nak." Ia tidak dapat lagi menyembunyikan perasaan hatinya.
Anaknya sangat peduli padanya. Hingga ia seperti kehilangan kata-kata untuk mengungkapkan sayang pada anaknya.
"Kalau begitu mari ibunda." Raden Cakara Casugraha membawa ibundanya pergi dari sana.
"Cakara Casugraha!. Mau kemana kau!. Aku belum selesai berbicara denganmu!." Ratu Ardiningrum Bintari benar-benar marah tingkat dewa. Ia diabaikan oleh Raden Cakara Casugraha.
Sementara itu, sang prabu yang memperhatikan itu. Antara kagum dan keheranan. Anaknya memiliki sifat unik, untuk mengungkapkan kasih sayangnya pada ibundanya.
Bagaiman kelanjutannya?. Temukan jawabannya.
......***......
__ADS_1