
...***...
Kembali ke masa itu.
Saat itu, seorang wanita yang tidak sengaja melihat seseorang tersandar di sebuah pohon dalam keadaan terduduk. Karena merasa penasaran ingin melihat keadaan orang itu, ia mendekatinya. Namun ia sangat terkejut, karena ada sebuah panah aneh yang menembus bahu kirinya. Panah itu telah mengalirkan darah, membuat orang itu merintih kesakitan. Sementara itu matanya terpejam dengan eratnya. Entah karena tidak sadarkan diri, atau karena kehabisan tenaga dalamnya?.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Sepertinya keadaanya sedang pingsan." Ia mencoba memeriksa keadaan orang misterius yang sedang tidak sadarkan diri itu. Akan tetapi, ketika hendak disentuh. Ia sangat terkejut, karena ada dua bayangan yang melintas di depannya. Bayangan hitam itu berada di atasnya, setelah itu menyerangnya?.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Wanita itu menghindari serangan bayangan itu dengan cepat. Dan ia tidak menyangka, jika dua bayangan itu adalah dua buah pedang.
"Ya Allah. Dua pedang itu seperti menjaga dirinya?. Siapa dia sebenarnya?." Wanita itu sungguh tidak percaya dengan apa yang ia lihat. "Apa yang harus hamba lakukan ya Allah." Padahal ia sama sekali tidak memiliki niat yang jahat pada orang itu. Tapi kenapa dua pedang itu seakan merasa terancam.
Kedua pedang itu terus saja menyerang dirinya. Seakan tidak mengizinkan wanita itu mendekati pemiliknya yang sedang terluka parah. Akan tetapi ada hal yang aneh terjadi, wanita itu seakan diseret paksa alam kesadarannya menuju alam sukma.
Deg!.
Matanya terbelalak terkejut, melihat dua sosok Sukma Naga besar di hadapannya.
"Sampurasun." Wanita itu mencoba bersikap baik pada dua sosok naga itu dengan memberi hormat pada keduanya. Karena ia tidak mau bermusuhan dengan isi dari kedua pedang itu yang ternyata diisi oleh sukma naga bumi.
"Rampes." Balas mereka dengan suara yang agak tidak bersahabat.
"Siapakah kalian wahai makhluk ciptaan Allah SWT."
"Aku adalah sukma naga dari pedang sukma naga pembelah bumi."
"Aku adalah sukma naga dari pedang pelebur sukma."
"Apa yang terjadi padanya?. Mengapa ia terluka parah?. Apakah ia baru saja bertarung dalam sebuah perperangan?." Wanita itu ingin mengetahui apa penyebab dari tuan mereka terluka parah seperti itu?.
"Tuanku raden cakara casugraha bertarung dengan seorang pemuda yang bisa menggunakan panah tiga dewa." Jawab Sukma naga Pembelah Bumi. "Panah itu telah menyedot sebagian tenaga dalamnya. Dan kini ia dalam keadaan lemah. Kami ingin sekali melepaskan panah yang menancap di dalam tubuhnya." Lanjutnya dengan perasaan sedih. Karena tidak bisa membantu Raden Cakara Casugraha?.
"Akan tetapi kami tidak bisa melakukannya. Karena kami hanyalah berbentuk sukma saja. Jadi kami hanya menyalurkan hawa murni kami agar dia bertahan, sampai ada seseorang yang mau membantunya." Sambung Sukma naga dari pedang pelebur sukma. Ada perasaan sedih yang ia rasakan karena sama sekali tidak bisa membantu Raden Cakara Casugraha yang telah bersedia menerima dirinya selama ini.
"Kalau begitu, izinkan aku untuk mengobatinya, mencabuti panah itu. Mungkin aku bisa menyembuhkannya." Wanita itu menawarkan bantuan pada dua Sukma naga?.
"Aku tidak percaya dengan orang seperti kau!. Kau hanya akan menyakiti tuan ku raden cakara casugraha!." Suara Sukma Naga Pembelah Bumi terdengar menggelegar, sehingga membuat angin kencang menerpa tubuh wanita itu.
"Kalau kau berani menipu kami, akan aku cabik-cabik tubuhmu sampai robek!." Bahkan Sukma naga dari Pedang Pelebur Sukma pun tidak mengizinkan sembarangan orang untuk memeriksa keadaan Raden Cakara Casugraha.
Kedua sukma naga tersebut malah menyerang ke arah wanita itu. Mereka hanya tidak ingin Raden Cakara Casugraha malah dicelakai oleh wanita itu. Kedua sukma naga itu benar-benar melindungi Raden Cakara Casugraha dari siapa saja. Tidak mudah bagi mereka untuk mempercayai siapa saja yang mencoba mendekati Raden Cakara Casugraha yang sedang terluka saat ini.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Ternyata mereka memang penjaga orang itu. Apa yang harus hamba lakukan ya Allah." Dalam hati wanita itu merasa gelisah, dan ia terus menghindari serangan kedua Sukma naga itu. Akan tetapi pada saat itu mereka semua melihat seseorang yang sedang merintih kesakitan.
__ADS_1
"Hentikan!. Hentikan kalian berdua!." Entah dari mana asal suara itu, namun saat itu juga mereka melihat Raden Cakara Casugraha di alam sukma?.
"Raden cakara casugraha." Kedua Sukma naga itu segera mendekat. Mereka tidak tega melihat Raden Cakara Casugraha yang saat ini sedang merintih kesakitan, karena panah tiga dewa masih menancap di bahu kirinya.
"Apa yang kalian lakukan?. Mengapa kalian malah menyerang orang itu?." Raden Cakara Casugraha bertanya pada kedua Sukma naga yang ada di dalam tubuhnya.
"Dia mencoba menyakiti raden, makanya kami menyerangnya raden." Jawab Sukma naga pembelah bumi.
"Benar raden. Kami tidak ingin ada orang lain yang menyakiti raden, disaat kondisi raden." Lanjut Sukma naga dari Pedang Pelebur Sukma.
"Kegh. Benarkah itu nisanak?." Raden Cakara Casugraha merintih sakit, karena panah itu masih menyedot tenaga dalamnya.
"Tidak. Aku justru ingin mengobati mu kisanak. Panah tiga dewa bukanlah panah biasa. Kisanak akan mati, jika tidak segera dilepaskan panah itu dari tubuh kisanak." Wanita itu terlihat sangat cemas. "Apalagi butuh waktu yang sangat lama untuk melepaskan panah tiga dewa itu. Aku takut, jika tidak segera di cabut. Nyawamu tidak akan bisa diselamatkan." Kecemasan itu terlihat sangat murni dari wanita itu. Keinginan untuk menolong seseorang yang sedang dalam keadaan bahaya.
"Baiklah. Jika kau berkata dengan jujur, aku mohon bantu aku untuk melepaskan panah ini. Rasanya sangat sakit sekali." Raden Cakara Casugraha sangat berharap sekali, jika wanita itu memang mau membantunya.
"Baiklah kisanak." Ada perasaan lega yang ia rasakan saat itu, karena Raden Cakara Casugraha mempercayainya.
"Tapi raden-." Sepertinya Kedua Sukma naga itu masih belum percaya.
"Tidak apa-apa. Percayakan semuanya pada Allah SWT. Bahwa semua ini adalah bantuan dari Allah SWT." Suara Raden Cakara Casugraha hampir saja tidak terdengar, sehingga wanita itu tidak bisa menyimak dengan baik apa yang dikatakan oleh Raden Cakara Casugraha.
"Baiklah. Kami serahkan pengobatan tuanku raden cakara casugraha padamu."
Kedua Sukma Naga tersebut kembali ke dalam bawah sadar mereka masing-masing. Wanita itu kembali ke alam nyata. Ia segera mendekati Raden Cakara Casugraha atau yang kini adalah Jaya Satria. Ia sedikit memeriksa keadaan Raden Cakara Casugraha. Ia ingin memastikan jika Raden Cakara Casugraha masih sempat untuk ditolong. "Aku harus membawanya ke suatu tempat. Agar pengobatan yang aku lakukan lebih mudah. Aku takut, nanti mendapatkan masalah, jika aku mengobatinya di sini." Wanita itu mencoba untuk menekan titik-titik dimana kemungkinan hawa panas tiga dewa itu menyerap kuat tenaga dalam Raden Cakara Casugraha.
...***...
Kembali ke masa ini.
Mereka semua menyimak cerita dari Cahaya Mutiara. Bagaimana ia bisa bertemu dengan Raden Cakara Casugraha pada saat itu. Mereka tidak menyangka, jika wanita muda itu telah menyelamatkan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dari bahaya yang mengintainya?. "Begitulah ceritanya gusti ratu. Hamba pada saat itu sedang melakukan pengembaraan." Pendekar tabib wanita itu menjelaskan kepada mereka semua agar tidak terjadi kesalahpahaman diantara mereka nantinya.
"Astaghfirullah hal'azim, putraku. Ibunda sangat mencemaskan keadaan nanda. Ibunda takut jika terjadi sesuatu padamu nak. Kenapa nanda tidak menceritakan masalah itu pada ibunda nak?." Ratu Dewi Anindyaswari sangat cemas. "Ibunda tidak bisa membayangkan, jika saja waktu itu pendekar tabib tidak menyelamatkanmu waktu itu." Ingin rasanya ia menangis karena mendengarkan apa yang diceritakan oleh Pendekar tabib wanita itu.
"Benar rayi. Aku terus memikirkan mu yang belum juga kembali." Putri Agniasari Ariani juga terlihat sangat cemas.
"Maaf ibunda, yunda. Satu bulan penuh dirawat oleh nini cahaya mutiara. Itu karena kondisi tubuhku yang sangat melemah karena panah tiga dewa itu."
"Tapi syukurlah keadaan nanda bisa pulih. Alhamdulillah hirabbli'alamin, nanda jaya satria masih berkumpul bersama kita karena Allah SWT." Syekh Asmawan Mulia mengucapkan rasa syukur yang paling dalam dari hatinya.
"Alhamdulilah hirabbli'alamin." Mereka semua bersama-sama mengucapakan rasa syukur atas nikmat yang mereka berikan.
"Tapi pastinya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengobati nanda bukan?. Syekh Asmawan Mulia kembali bertanya pada Raden Cakara Casugraha atau Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
__ADS_1
"Memang memakan waktu yang cukup lama untuk sembuh syekh guru."
"Lalu selama sebulan itu, rayi prabu hanya diobati sendirian oleh nini cahaya mutiara?." Putri Andhini Andita sedikit curiga, karena ia takut akan terjadi apa-apa dengan mereka.
"Memang hamba sendiri yang merawatnya gusti putri. Karena tempat itu sangat sepi."
"Aku yakin kau telah berbuat kurang ajar pada adikku."
"Yunda."
"Nanda putri."
Mereka semua terkejut mendengarkan apa yang dikatakan oleh Putri Andhini Andita. Tapi Nini Cahaya Mutiara menanggapinya dengan senyuman.
"Apakah itu adalah ungkapan kecemburuan seseorang pada orang yang dicintainya?."
"Heh!." Putri Andhini Andita mendengus kesal. Ia memalingkan wajahnya, karena ia tidak suka dengan ucapan itu.
"Yunda. Jangan seperti itu pada orang yang telah mengobati rayi prabu."
"Benar nak. Tidak baik seperti itu."
Putri Agniasari Ariani dan Ratu Gendhis Cendrawati mencoba mengingatkan Putri Andhini Andita agar tidak menyinggung perasaan pendekar tabib wanita itu.
"Maaf ibunda, yunda. Sebenarnya, nini cahaya mutiara adalah-."
Mereka semua melihat ke arah Jaya Satria. Karena ia yang berbicara saat ini. "Apakah kau yakin ingin mengatakannya jaya satria." Bisik Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sedikit ragu. "Tidak apa-apa gusti prabu. Lebih cepat lebih baik. Aku takut semakin memberikan harapan pada yunda andhini andita."
"Memangnya nini cahaya mutiara siapa rayi prabu?." Putri Andhini Andita merasakan perasaan yang tidak enak. Ia merasakan ada hal yang tidak ia inginkan disampaikan oleh Jaya Satria.
"Ada apa nak?. Jangan ragu untuk mengatakannya. Katakanlah."
"Benar nanda prabu. Katakan saja, apa yang ingin nanda prabu sampaikan."
"Sebenarnya nini cahaya mutiara adalah kekasih nanda ibunda."
Deg!.
DUARRRR
Mereka semua tidak menyangka, jika Raden Cakara Casugraha mengatakan kata itu?. Apakah benar?. Jika Nini Cahaya Mutiara adalah kekasihnya?. Bagaimana itu bisa terjadi?. Kapan mereka menjalin asmara?. Kapan mereka menyatakan diri mereka adalah pasangan kekasih?. Rasanya itu sangat mustahil. Bagaimana lanjutannya?. Tunggu updatenya wkwkwk.
...***...
__ADS_1