
...**...
Jaya Satria masih menjelaskan apa yang telah terjadi pada Raden Semana Hayana, ia sangat cemas terjadi kesalahpahaman.
"Maafkan jika hamba datang dengan kurang sopan." Ia memberi hormat. "Tapi hamba tidak bisa bisa menolak perintah dari gusti prabu asmalaraya arya ardhana." Ia menjelaskan alasan ia menggunakan topeng.
"Baiklah jaya satria, jika itu perintah dari prabu asmalaraya arya ardhana, aku akan menerimanya." Prabu Biantara Cayapta mencoba untuk memakluminya.
"Terima kasih atas pengertiannya gusti prabu." Jaya Satria merasa bersyukur dan lega.
"Lanjutkan penjelasannya jaya satria." Hatinya sangat gelisah. "Aku ingin mendengarnya, mengapa raka semana hayana bisa sampai ke kerajaan suka damai yang terkenal itu? Apa yang telah ia lakukan di sana?." Perasaan tidak nyaman itulah yang membuat Prabu Biantara Cayapta bertanya seperti itu.
"Tapi sebelum itu hamba mohon gusti prabu, juga gusti ratu dewi cempaka, harap mendengarkan apa yang hendak hamba sampaikan." Itulah permintaan Jaya Satria. "Hamba mohon simak baik-baik ucapan hamba supaya tidak lah dalam menangkap penyampaian nantinya."
"Katakan saja, aku mohon." Ratu Dewi Cempaka masih menangis, karena tidak sabar mendengarkan alasan penyebab kematian anaknya.
"Mungkin itu semua berasal dari dendam lama antara raden cakara casugraha dengan raden semana hayana." Jaya Satria mulai bercerita.
"Raden cakara casugraha?." keduanya bertanya karena merasa heran.
"Benar gusti prabu, itulah nama asli dari gusti prabu asmalaraya arya ardhana, gusti prabu."
"Aku pernah mendengar nama itu." Prabu Biantara Cayapta tampak berpikir sejenak. "Ketika raka mengatakan alasan ia mau ke kerajaan suka damai, untuk membalaskan sakit hatinya pada Raden cakara casugraha."
"Putraku juga pernah mengatakannya, bahwa ia akan balas dendam pada raden cakara casugraha." Hatinya sebagai seorang ibu sangat sedih mengingat ucapan anaknya.
...**...
Di sebuah tempat.
Ada dua orang pemuda yang sedang bertarung dengan seorang laki-laki tua. Pertarungan itu sangat tidak seimbang, karena dua melawan satu.
"Kurang ajar! Ternyata kalian memang berniat untuk mengambil benda pusaka yang ada padaku?!." Umpatnya dengan sangat kesalnya.
"Bukan hanya mengambil benda pusaka saja, namun aku datang untuk mempercepat kematianmu kakek tua!."
"Bersiap-siaplah menemui ajalmu."
"Bedebah! Kalian berani merendahkan aku hanya karena bentuk fisikku yang sudah tua ini?! Hyah!."
Pertarungan kembali terjadi, pada saat itu mereka telah mengerahkan semua tenaga dalam yang mereka miliki. Pertarungan yang memperebutkan benda pusaka yang konon memiliki kekuatan yang sangat dahsyat.
Beberapa jurus telah mereka mainkan, beberapa pukulan telah mendarat ditubuh, begitu juga dengan hantaman keras, bahkan tenaga dalam mereka gunakan untuk mengalahkan lawannya.
"Apa yang harus kita lakukan?." Bisiknya setelah ia berhasil menghindari serangan tenaga dalam kakek tua itu. "Apakah kau memiliki cara yang ampuh untuk mengakhiri pertarungan ini?."
"Kita pakai itu saja."
"Aku setuju."
"Hei! Apakah kalian telah kehilangan semangat setelah melawan orang tua seperti aku?." Kakek tua itu malah menantang balik mereka.
"Kau pasti akan kami bunuh kakek tua." Ucapnya sambil mendekati kakek tua itu. "Kali ini aku sangat yakin jika kau tidak akan sanggup lagi melihat dunia nanti sore."
"Jumawa!."
Setelah itu pertarungan itu kembali terjadi, tanpa disadari jika salah satu dari mereka menggunakan panah yang sangat berbahaya, juga cambuk mengerikan yang akan mereka gunakan untuk bertarung.
Pertarungan itu sangat cepat, hampir tidak bisa disimak dengan mata biasa saking cepatnya pertarungan itu, hingga saat itu dengan cara yang licik mereka mengecoh musuhnya.
"Eagkh!."
Terdengar suara kesakitan yang sangat keras dari kakek itu, ia terkena cambuk dan panah di saat yang bersamaan.
"Hahaha!."
Keduanya tertawa sangat keras, tawa yang sangat puas ketika berhasil mengalahkan musuhnya.
"Kalian akan mendapatkan karma atas apa yang telah kalian lakukan padaku!." Teriaknya sebelum jatuh ke tanah dan tak sadarkan diri.
"Hahaha! Kau tidak usah berkata yang tidak-tidak, tenang saja di alam sana."
"Hahaha! Malang sekali nasibmu bertemu dengan kami pendekar pemburu benda pusaka."
Keduanya memang tampak puas setelah apa yang telah mereka lakukan pada kakek tua itu, mereka sangat tidak memiliki hati nurani terhadap sesama wanita. Siapakah mereka itu?. Simak terus ceritanya.
...***...
Di Istana Kerajaan Suka Damai.
Putri Andhini Andita saat itu sedang melatih ilmu kanuragannya sendirian, ia sangat bosan karena tidak ada yang bisa ia kerjakan setelah beberapa hari hanya di biliknya saja. Namun siapa yang menduga jika Raden Hadyan Hastanta melihat itu, ia sangat penasaran alasan kenapa adiknya latihan sendirian.
"Gerakan yang sangat bagus sekali rayi."
"Raka?." Putri Andhini Andita menghentikan kegiatannya.
"Gerakanmu semakin lincah rayi, sepertinya kau sedang mengasah kemampuanmu."
"Aku hanya sedang bosan saja raka."
"Benarkah?."
"Jika tidak percaya ya sudah?!."
"Hahaha! Jangan cepat marah seperti itu."
Raden Hadyan Hastanta heran dengan sikap adiknya yang agak aneh.
"Raka, apakah aku boleh bertanya sesuatu padamu?."
"Tanyakan saja, apapun itu akan aku jawab."
"Bagaimana caranya raka mendapatkan pedang panggilan jiwa itu? Apakah ada cara khusus yang bisa kita gunakan untuk mendapatkannya?."
Raden Hadyan Hastanta terlihat sangat terkejut dengan ucapan adiknya.
"Tidak biasanya, tapi kenapa kau bertanya seperti itu rayi?."
"Sebab, kata ayahanda Prabu hanya keturunan dari eyang Prabu jayantaka byakta yang mampu menggunakan pedang itu, pedang panggilan jiwa." Tatapannya yang saat itu sedang memikirkan sesuatu. "Mereka yang memiliki tekad untuk menyelamatkan sesuatu berdasarkan panggilan hati nurani tanpa adanya perasaan dengki di hati mereka." Kali ini ia menatap langit yang cerah. "Apakah menurut raka? Aku masih belum bisa dikatakan baik? Hanya karena aku tidak bisa menggunakan pedang panggilan jiwa seperti raka? Rayi Prabu? Bahkan agniasari yang memiliki pedang panggilan jiwa yang sangat indah." Ada bentuk perasaan iri yang terselip di hatinya saat itu. "Katakan padaku raka, bagaimana kau bisa mendapatkan pedang panggilan jiwa? Sedangkan kita dulu sama-sama jahat pada saudara sendiri, bagaimana mungkin raka setelah berbaikan dengan keluarga ibunda Ratu dewi malah berhasil menguasai pedang panggilan jiwa? Katakan padaku raka." Tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja, dadanya sangat sesak sambil memikirkan tentang dirinya yang belum juga mendapatkan pedang panggilan jiwa.
"Rayi." Raden Hadyan Hastanta tidak tahu harus berkata apa pada adiknya.
Bagaimana tanggapan dari Raden Hadyan Hastanta mengenai pertanyaan dari Putri Andhini Andita?. Simak terus ceritanya.
...***...
Kembali ke Jaya Satria.
"Apakah raka semana hayana menyerang raden cakara casugraha? Hingga ia terbunuh ditangannya?." Hatinya sedikit panas tidak terima. "Apakah Raden cakara casugraha yang telah membunuhnya?."
"Katakan pada kami kebenarannya, jangan engkau berkata dusta hanya untuk membela apa yang telah dilakukan Raden cakara casugraha pada anakku!."
"Mohon dengarkan dulu penjelasan dari hamba, gusti prabu, gusti ratu." Jaya Satria melihat bagaimana kemarahan Prabu Biantara Cayapta, dan Ratu Dewi Cempaka.
"Baiklah, lanjutkan." Prabu Biantara Cayapta mencoba untuk menangkan diri.
"Pada saat itu, ada beberapa orang wanita yang meminta bantuan pada raden cakara casugraha." Jaya Satria menjelaskan alasan awalnya. "Untuk membunuh Raden semana hayana yang telah menyakiti hati mereka, mencampakkan mereka, setelah mendapatkan madu dari mereka."
Deg!.
Tentu saja ucapan Jaya Satria sangat membuat mereka terkejut, tidak menduga sama sekali jika itu alasan yang telah membuat Raden Cakara Casugraha membuat akar masalah dengan Raden Semana Hayana.
__ADS_1
"Raden semana hayana sangat gemar bermain dengan wanita, bahkan setelah ia berhasil memadu kasih? Dengan sangat teganya ia lepas dari tanggung jawanya, sehingga beberapa dari wanita itu meminta pada Raden cakara casugraha agar membalaskan rasa sakit hati yang mereka rasakan."
"Oh?! Dewata yang agung, ku memang mendengar kabar itu dari beberapa laporan yang masuk ke istana ini." Ratu dewi Cempaka merasa gelisah dengan informasi yang ia dapatkan dari luar mengenai anaknya. "Anakku memang suka berbuat hal yang sangat tidak pantas di luar sana." Hati ibu mana yang tidak tega mendengarkan kabar itu. "Setiap hari ada saja laporan yang masuk ke istana mengenai keburukan anakku." Ratu Dewi Cempaka menangis pilu mengingat bagaimana perangai anaknya di masa lalu.
"Apakah hanya karena permintaan itu? Raden cakara casugraha langsung melakukannya? Tapi kenapa raka semana hayana masih hidup jika memang mereka meminta Raden cakara casugraha untuk membunuhnya?." Pertanyaan itu muncul begitu saja dari mulut Prabu Biantara Cayapta.
"Raden cakara casugraha tidak langsung bertindak, namun menyelidikinya terlebih dahulu supaya tidak salah dalam bertindak."
"Jadi raden cakara casugraha menyelidikinya?."
"Tentu saja, karena raden cakara casugraha, tidak ingin melakukan kesalahan yang fatal, hanya karena satu ucapan saja." Jaya Satria mengingat kejadian itu. "Beliau menyelidiki semua perilakunya." Matanya melihat sosok Ratu Dewi Cempaka yang sedang menangis sedih. "Hatinya terbakar amarah ketika melihat Raden semana hayana menganiaya ibundanya yang mencoba memberikan nasihat padanya."
Deg!.
Ratu Dewi Cempaka sangat terkejut mendengarkan ucapan itu.
"Hatinya sangat sakit ketika dengan tanpa perasaan menyakiti wanita yang telah melahirkannya dengan darah, namun dengan sangat mudahnya ia malah menyakiti hati ibunda yang dengan penuh kasih sayang memberikan ia nasihat." Entah mengapa, ia merasakan aura kemarahan Raden Cakara Casugraha pada saat itu. Namun Jaya Satria sebisa mungkin berusaha untuk menenangkan dirinya.
"Bahkan orang luar kerajaan pun tahu bagaimana kelakuan kasar dari anakku?." Ratu dewi Cempaka tidak dapat membantah fakta itu.
"Setelah itu, apa yang dilakukan oleh raden cakara casugraha?." Tanya prabu Biantara Cayapta. "Kau belum menjawab pertanyaan dariku."
"Raden cakara casugraha menerima permintaan mereka, mengikuti pertarungan itu. Hatinya yang terbakar amarah, menghajar raden semana hayana tanpa ampun." Ia memberi jeda ucapannya. Karena ia mengingat semua yang dialami oleh Raden Cakara Casugraha pada saat itu. "Namun saat itu Raden cakara casugraha memberikan pengampunan padanya." Raut wajahnya terlihat sangat jelas menyimpan kesedihan yang sangat dalam.
"Raden cakara casugraha mengampuninya? Kenapa?."
"Itu karena Raden cakara memikirkan ada banyak calon bayi yang akan lahir tanpa bapak, jika Raden cakara casugraha membunuhnya." Ia masih ingat dengan hari itu. "Raden cakara casugraha sangat tidak tega memikirkan betapa malangnya nasib mereka lahir tanpa adanya bapak." Tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja.
"Oh? Raden cakara casugraha masih memikirkan sampai ke sana? Sedangkan anakku sama sekali tidak peduli dengan masalah yang telah ia timbulkan." Ratu Dewi Cempaka semakin menangis mendengarkan penjelasan dari Jaya Satria. "Kenyataannya putraku sama sekali tidak mengubah sikap dan perangainya sama sekali, bahkan ia berniat membuat masalah baru dengan Raden cakara casugraha." Hatinya sangat sesak dengan sikap anaknya.
"Dendam hanya akan membuat kesengsaraan hati, dendam sangat tidak baik."
"Hamba sangat setuju dengan ucapan Gusti Prabu."
"Tapi apa yang membuat anakku terbunuh? Apakah ia bertarung dengan Raden cakara casugraha hingga mati?." Ratu Dewi Cempaka sangat penasaran.
"Jika dikatakan pertarungan sampai mati? Hamba rasa itu kurang tepat."
"Kenapa kau berkata seperti itu?."
"Karena setelah diperiksa dengan baik, Raden semana hayana mengalami penyakit aneh karena terlalu sering melakukan itu, maaf jika hamba kurang sopan menyampaikannya." Jaya Satria agak ragu mengatakannya.
"Penyakit aneh?."
"Ya, itu adalah resiko jika melakukan itu terus menerus Gusti Prabu." Jaya Satria merasa tidak enak. "Karena kondisi mental dan fisiknya bermasalah, sehingga dengan mudahnya Raden semana hayana dapat dikalahkan, hingga menemui ajalnya di hutan yang tak jauh dari istana."
"Jadi raka semana hayana melarikan diri setelah bertarung dengan Raden cakara casugraha?."
"Seperti itulah kenyataannya Gusti Ratu."
Hati Ratu Dewi Cempaka semakin iba mendengarnya, ibu mana yang tega mendengarkan kisah sedih tentang anaknya.
...***...
Sementara itu di sisi lainnya ada seorang wanita yang sedang berjalan menyusuri hutan yang sangat sepi, ia sedang dalam perjalanan menuju rumahnya setelah belajar ilmu agama yang cukup dari gurunya.
"Sepertinya ini akan menjadi perjalanan yang membosankan karena aku sendirian." Keluhnya sambil menghela nafasnya dengan sangat lelahnya.
"Kalau begitu kami yang akan menemanimu berjalan supaya tidak bosan lagi nimas." Ucap suara laki-laki yang seakan-akan mendengarkan apa yang dikeluhkan wanita cantik itu.
Deg!.
Tentu saja wanita cantik itu sangat terkejut melihat ada dua orang pemuda yang sedang menghadang jalannya?. Perasaannya saat itu mengatakan akan ada ancaman bahaya yang akan ia dapatkan dari dua orang itu.
"Tidak perlu berwajah seperti itu nimas, aku tahu jika aku memiliki wajah yang sangat tampan, jadi biasa saja memandangi aku seperti itu." Dengan penuh percaya diri ia berkata seperti itu.
"Aku rasa dia tidak mengerti dengan apa yang kau katakan kakang."
...***...
Putri Andhini Andita masih menyimak dengan benar apa yang disampaikan Raden Hadyan Hastanta padanya saat itu, alasan kenapa ia bisa menggunakan pedang panggilan jiwa.
"Aku hanya berpasrah saja rayi, saat itu aku merasakan ada seseorang yang menuntun aku untu melakukan itu." Sebenarnya Raden Hadyan Hastanta tidak yakin. "Keinginan yang sangat kuat untuk melindungi kalian seperti langit itu sangat membuncah di hatiku rayi." Lanjutnya lagi. "Aku tidak menduga karena keinginanku itu membuat aku menggenggam pedang serat raga dewa langit." Perasaannya saat itu sangat membuncah sangat luar biasa.
"Tapi kenapa raka ingin melindungi kami seperti langit? Pasti raka memiliki alasannya kan?." Putri Andhini Andita masih saja belum puas.
"Bagiku langit itu adalah hal yang sangat luar biasa sekali rayi, walaupun dia berada di atas, namun ia tidak pernah merasa tinggi." Jawabnya dengan senyuman lembut. "walaupun begitu banyak badai yang ia tampung ataupun hujan? Ia masih tetap di sana untuk menyampaikan bahwa masih ada harapan bagi langit untuk menampilkan pelangi indah yang memberikan kebahagiaan kepada orang yang ia cintai."
Putri Andhini Andita sangat terkesan mendengarkan penjelasan dari Raden Hadyan Hastanta, ia tidak menduga jika kakaknya akan berpikiran seperti itu?.
"Dulu aku merasakan awan badai yang sangat jahat rayi, namun semuanya telah berubah ketika kita dibimbing rayi Prabu melalui jaya satria."
"Aku rasa raka benar." Putri Andhini Andita dapat merasakan perubahan itu. "Kalau begitu aku akan bersungguh-sungguh menemukan apa yang pantas aku lindungi demi kebahagiaan semua orang." Putri Andhini Andita telah memutuskan. "Bahwa aku akan selalu melindungi rayi Prabu dari apapun itu, aku telah bersumpah, siapa saja yang menyakitinya akan berhadapan denganku, Putri andhini andita."
"Aku rasa itu tekad yang bagus rayi."
Begitulah percakapan Putri Andhini Andita dan Raden Hadyan Hastanta mengenai pedang panggilan jiwa yang dimiliki oleh keturunan langsung dari Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta. Pedang yang lahir dari tekad sang pemilik untuk menggunakannya ke arah mana.
...**...
Setelah itu, Jaya Satria pamitan dengan Prabu Biantara cayapta. Ia akan segera kembali ke Kerajaan Suka Damai, karena masalah telah menuju ke arah yang baik.
"Sampaikan salam damaiku pada prabu asmalaraya arya ardhana, mngkin lain kali aku akan mengundangnya, menghadiri pernikahanku yang tidak akan lama lagi akan digelar meriah di istana ini."
"Pesan gusti prabu akan hamba sampaikan dengan baik, pada prabu asmalaraya arya ardhana, kalau begitu hamba pamit gusti." Jaya Satria memberi hormat.
"Aku harap kalian semua berhati-hati dalam perjalanan, semoga dewata agung melindungi kalian semua."
"Terima kasih atas kebaikan gusti prabu, sampurasun."
"Rampes."
Prabu Biantara Cayapta hanya melihat kepergian mereka yang meninggalkan istananya.
"Sungguh utusan yang luar biasa." Ada kekaguman yang ia sematkan untuk Jaya Satria. "Sangat jelas, dan terperinci atas apa yang ia sampaikan tadi, pasti sesuai dengan harapan rajanya." Prabu Biantara cayapta terkesan dengan Jaya Satria. Meskipun ia merasa penasaran, dengan wajah utusan kerajaan suka damai.
...**...
Kembali pada seorang wanita muda sedang berhadapan dengan dua orang pendekar yang menghalangi langkahnya.
"Untuk apa kalian menghadang aku?!." Amarahnya keluar begitu saja. "Aku hanyalah rakyat biasa! Tidak memiliki harta yang bisa kalian rampas dariku."
Kedua orang itu tertawa terbahak-bahak. padahal wanita itu tidak mengeluarkan kata-kata bercanda sedikitpun.
"Kau boleh berkata apa nisanak, tapi yang kami inginkan darimu bukanlah harta saja."
"Tetapi pusaka kipas batari bawita yang berada di dalam tubuhmu, dan mataku sangat jelas menangkap kipas itu bersemayam di dalam tubuhmu." Bandana Sekata yang memiliki mata yang bagus dalam melihat keberadaan benda pusaka yang dimiliki oleh seseorang. Karena itulah ia tahu benda pusaka apa yang dimiliki oleh seseorang di dalam tubuhnya.
Deg!.
"Benda pusaka apa yang kalian maksudkan? Pergilah! Sebelum aku murka!."
Lagi-lagi mereka tertawa, meskipun itu adalah ancaman dari wanita itu. Namum mereka malah tertawa?.
"Cantik-cantik, galak juga kakang."
"Ahaha! Tapi aku suka yang seperti ini."
Mereka seakan mempermainkan wanita itu.
"Diam! Kalian benar-benar membuatku marah!." Wanita itu sangat kesal.
__ADS_1
"Aku! Bandana sekata Dan dia?! Adalah saudaraku betung sekata." Dengan suara tinggi ia menyebutkan namanya.
"Kami adalah sepasang pendekar pemburu benda pusaka! Tidak ada yang lolos dari kami, kecuali kematian!. Hahaha!."
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah, sepertinya mereka, memang musuh yang jahat." Dalam hati wanita itu mulai cemas. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan orang jahat, diperjalanan pulangnya menuju rumahnya.
"Bagaimana cantik? Serahkan baik-baik, atau kami yang akan merebut paksa darimu? Sambil main kucing-kucingan."
"Lebih baik kau serahkan, dari pada kau akan celaka karena kami merebut paksa darimu, cah ayu."
"Diam kalian! Aku tidak akan menyerahkan benda pusaka apapun pada kalian! Aku yakin, pasti kalian gunakan untuk melakukan kejahatan! Aku tidak akan mengampuni kalian berdua!."
"Itu sangat benar cah ayu. Selain itu, kami juga telah banyak memiliki benda pusaka, yang berhasil kami rebut dari putra atau putri mahkota raja, bahkan dari seorang raja."
"Rasanya sangat menyenangkan dapat memiliki benda pusaka, serta membunuh mereka."
Lagi dan lagi mereka tertawa semakin keras, mereka begitu meremehkan kemampuan ilmu kanuragan yang dimiliki oleh putri Cahya Candrakanti.
"Ya Allah, tolong selamatkan hamba, jauhkan marabahaya yang akan menimpa hamba." Dalam hatinya berdoa meminta keselamatan, ia merasakan ketakutan yang membuatnya bergetar takut.
"Aku ulangi sekali lagi! Sebaiknya nisanak menyerahkan benda pusaka itu, dari pada celaka?."
"Meskipun aku celaka atau mati sekalipun? Namun aku tidak bisa menyerahkan begitu saja yang memang bukan milik kalian!." Perasaan yang ingin mempertahankan haknya, membuatnya pantang menyerah.
Putri Cahya Candrakanti menyerang mereka, dengan jurus-jurus yang ia miliki. Ia mempertahankan apa yang menurutnya tidak akan ia serahkan pada orang lain.
Kedua orang itu dengan senang hati meladani pertarungan itu. Mereka menganggap pertarungan itu sebagai hiburan, sebelum mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Tapi bisakah putri Cahya Candrakanti melarikan diri dari mereka untuk menyelamatkan Kipas Batari Bawita?. Temukan jawabannya.
...**...
Di Istana kerajaan Suka Damai.
"Assalamualaikum, putraku."
"Wa'alaikumussalam, ibunda."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana baru saja ingin keluar dari biliknya. Akan tetapi saat itu ia melihat ibundanya yang sedang gelisah.
"Ada apa ibunda? Apa yang ibunda khawatirkan?."
Mereka masuk kembali ke bilik, duduk di pinggir dipan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Entah mengapa tiba-tiba ibunda merasa cemas nak."
"Tenanglah ibunda, coba ceritakan pada nanda."
"Tiba-tiba wajah nanda jaya satria rakamu membayangi pikiran ibunda nak." Terlihat sangat Cepat susul adikmu ke kerajaan suragawi. "Ibunda sangat mencemaskan keselamatannya, apakah nanda tidak bisa merasakan adanya ancaman atas keselamatan rakamu jaya satria nak?." Suasana hati Ratu Dewi Anindyaswari sangat tidak karuan mengenai keselamatan Jaya Satria.
"Ibunda." Perasaan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak tenang mendengarnya. "Nanda mohon tenanglah, jaya satria akan segera kembali, ibunda cemas karena jaya satria jauh dari ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sebenarnya dapat merasakan itu, hanya saja tidak ingin membuat ibundanya cemas.
"Ibunda sudah mencobanya, tapi tetap saja ibunda merasa cemas padanya nak." Ratu Dewi Anindyaswari berusaha meyakinkan perasaannya.
"Ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum lembut. "Jaya satria saat ini sedang menuju pulang ke istana, jadi ibunda bersabarlah, ya?." Hanya bisa mencoba menenangkan ibundanya saja. "Nanda harap ibunda tetap tenang, berdoalah kepada Allah SWT untuk keselamatan jaya satria."
"Ya, nanda prabu benar, semoga saja nanda jaya satria baik-baik saja." Hanya itu saja harapan Ratu Dewi Anindyaswari. "Ya Allah, hamba mohon lindungilah putra hamba nanda jaya satria, di mana pun ia berada ya Allah? Aamiin ya rabbal aalaamiin." Ratu Dewi Anindyaswari memohon kepada Allah SWT
"Semoga saja jaya satria baik-baik saja ya Allah. Karena untuk saat ini hamba tidak merasakan apapun." Dalam hati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dapat merasakan bagaimana jiwanya yang berada pada tubuh Jaya Satria. Semuanya masih sangat baik-baik saja, semuanya masih aman dalam perlindungan Allah SWT.
...***...
Kembali pada pertarungan itu.
Putri Cahya Candrakanti sepertinya memang kewalahan menghadapi dua orang itu, hingga ia merasa terdesak.
"Hyah!."
"Hiyah!."
Dengan sekali pukulan keras, tubuh Putri Cahya Candrakanti terlempar jauh. Tubuhnya melayang begitu saja seperti kapas yang ditiup dengan sangat kencang.
"Ya Allah, selamatkan hamba." Putri Cahya Candrakanti yang terlempar di udara merasa cemas. Apakah ia akan mendarat di tanah, atau menghantam pohon.
Namun siapa sangka tubuh itu ditangkap oleh Jaya Satria?. Apakah benar itu adalah Jaya Satria?.
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin ya Allah." Dalam hatinya merasa bersyukur. "Hamba pikir hamba akan melayang seperti batu yang dilempar tanpa perasaan, dan mendarat begitu saja sambil membentur benda keras lainnya." Ia diselamatkan oleh seseorang.
Deg!.
Namun jantungnya berdetak kencang, karena ia ditolong oleh seorang laki-laki?. Jantungnya berdegup sangat kencang ketika ia menyadari jika seorang pemuda yang telah menyelamatkannya?.
"Dua orang laki-laki main keroyokan pada seorang wanita? Sungguh sangat memalukan sekali." Ia menurunkan Cahya Candrakanti dari gendongannya. "Aku rasa kalian bukan laki-laki."
"Diam kau!." Bentaknya dengan suara yang sangat keras. "Siapa kau tiba-tiba saja datang? Dan ikut di gelanggang colong playu kami?! Kehebatan apa yang kau miliki sehingga berani berbuat nekad menangkap mangsa kami?."
"Sebaiknya kau mundur saja selagi kami berikan kesempatan untuk meniggalkan tempat ini." Betung Sekata terlihat sangat kesal. "Tidak ada gunanya kau ikut campur dengan masalah kami!."
"Hya?!." Putri Cahya Candrakanti sangat terkejut ketika pemuda itu menarik tangannya dengan sangat kuat, hingga ia berlari seperti orang terbang saking kuatnya ilmu meringankan tubuh yang digunakan pemuda bertopeng serba berpakaian hitam itu.
Deg!.
Bandana Sekata dan Betung Sekata sangat terkejut melihat pemuda bertopeng itu berhasil membawa lari Putri Cahya Candrakanti dari incaran mereka.
"Kita kejar dia kakang!."
"Tentu saja! Tidak akan aku biarkan benda pusaka itu pergi begitu saja."
Keduanya cepat mengejar orang bertopeng yang menyelamatkan wanita itu, tentu saja mereka tidak akan melepaskan mangsa begitu saja.
...**...
Sementara itu.
"Ah! Maafkan aku nisanak, bukan bermaksud untuk kurang ajar padamu." Jaya Satria merasa canggung.
"Tidak apa-apa, saya justru ingin berterima kasih padamu kisanak, karena telah menolong saya dari mereka."
Rasa canggung diantara keduanya sangat terlihat jelas. Mereka tidak tau mau berbicara apa. Sangat kaku, dan terlihat gugup?. Entahlah. Itulah yang mereka rasakan.
"Ya Allah? Apalagi yang harus hamba katakan padanya?." Dalam hati Putri Cahya Candrakanti merasa gugup aneh.
"Apa yang nisanak lakukan? Aku yakin mereka masih mengejar nisanak."
"Apakah saya boleh minta bantuan kisanak?."
"Bantuan apa yang nisanak inginkan?."
"Tolong antarkan saya ke istana kerajaan telapak tiga, saya mohon padamu."
"Baiklah nisanak, tunjukkan padaku jalannya, kita harus segera pergi dari sini, karena aku merasakan keberadaan mereka."
"Baiklah, kita harus melewati jalan itu."
Namun sebelum Putri Cahya Candrakanti melanjutkan kata-katanya, tangannya ditarik oleh Jaya Satria.
"Bedebah! Kemana mereka pergi? Padahal aku yakin mereka tadi di sini."
Ternyata Bandana Sekata dan Betung Sekata yang tidak melihat keberadaan wanita itu dan orang asing.
Apa yang akan terjadi?. Temukan jawabannya. Jangan lupa jejak komentar agar makin semangat menulisnya.
__ADS_1
...***...