
...
...***......
Ternyata masih ada lanjutan tentang Raden Cakara Casugraha. Raut wajah mereka berubah, karena penasaran.
"Akan tetapi, pada saat itu. Ada tiga orang pendekar yang memiliki ilmu kanuragan yang cukup tinggi, datang memasuki tempatku."
"Apakah nanda cakara casugraha berhadapan dengan ketiga orang itu?."
"Ya, adi perapian suaramuara benar. Itu sebenarnya ketiga pendekar itu mencariku. Tetapi raden cakara casugraha tidak membiarkan aku dikeroyok oleh ketiga pendekar golongan hitam itu."
"Apakah putra saya sanggup melawan mereka?."
"Apakah nanda cakara casugraha terluka saat pertarungan itu?."
Kedua Ratu Kerajaan Suka Damai terlihat cemas. Meskipun telah berlalu kejadian itu, tetapi rasa cemas yang ada di dalam diri mereka sangatlah besar. Karena memang Ratu Dewi Anindyaswari sangat mencemaskan keadaan anaknya yang berada jauh dari jangkauannya.
...***...
Kembali ke masa itu.
Raden Cakara Casugraha baru saja selesai membelah kayu, dan menyusunnya dengan sangat rapi. Tiba-tiba saja ia melihat ada tiga orang pendekar yang datang berhadapan dengan gurunya Jarah Setandan.
"Hei!. Jarah setandan!. Kau telah berbuat suatu kesalahan dengan membunuh adikku!."
"Kau bahkan telah membunuh anak buah yang telah aku sewa untuk menjaganya."
"Kau bahkan membunuh saudara seperguruanku. Maka kau juga akan kami bunuh!."
"Itu hanyalah masa lalu. Dan kalian telah sekali datang padaku. Bukankah kita telah menyelesaikannya pada saat itu?."
"Bedebah busuk!. Kau pikir aku akan mudah melupakannya?. Kau telah membunuh orang yang aku sayangi!."
"Kau harus membayar apa yang telah kau lakukan. Aku tidak akan membiarkan kau berkeliaran begitu saja dimuka bumi ini setelah melenyapkan adikku!."
"Kalian ini aneh. Sudahlah!. Jangan ganggu aku yang tidak ingin lagi menjadi seorang pembunuh."
__ADS_1
"Setan belang. Kau pikir kami takut hah?."
"Serang saja. Kita paksa saja ia untuk membayar hutangnya."
"Benar!. Tidak ada gunanya berbasa-basi lagi dengannya. Hyaaaat."
Pendekar Jarah Setandan berhadapan dengan ketiga orang itu. Tentunya Raden Cakara Casugraha yang memperhatikan itu tidak terima, jika gurunya dikeroyok oleh orang asing. Raden Cakara Casugraha ikut membantu gurunya.
"Siapa kau bocah!. Berani sekali kau ikut campur dalam masalah ini!."
"Kau tidak perlu mengetahui siapa aku. Namun yang pasti, aku tidak akan membiarkan kau menyerang guruku."
Tarik Serunai, itu adalah nama laki-laki yang berhadapan dengan Raden Cakara Casugraha. Sementara itu dua lagi berhadapan dengan Pendekar Jarah Setandan. Ia tertawa keras mendengarkan apa yang dikatakan oleh Raden Cakara Casugraha.
"Hei!. Kakang yuyu pandan. Bocah ini Katakana murid dari pendekar jahat itu. Bagaimana kakang?. Apakah aku harus menghabisinya?."
"Terserah kau saja. Jika memang kau ingin bermain dengannya, bunuh saja."
"Aku yakin kau mampu mengatasi bocah itu."
"Baik kakang. Dua jurus, dalam dua jurus akan aku bunuh bocah ini."
"Kalian sepertinya salah dalam merendahkan kepandaian orang lain. Kalian akan melihat, siapa muridku kali ini."
Dalam pertarungan itu, Pendekar Jarah Setandan dapat merasakan hawa angin sekitar telah berubah secara perlahan.
"Heh!. Bicara apa kau jarah setandan. Bocah kemarin sore tidak akan bisa berbuat apa-apa." Yuyu Pandan terus menyerang, begitu juga temannya Pasarasa. Mereka sangat bernafsu ingin membunuh Pendekar Jarah Setandan.
"Berani sekali kau merendahkan diriku. Aku ini adalah putra dari raja agung. Dan kau berani sekali ingin menuntut nyawa dari guruku!." Sorot mata Raden Cakara Casugraha telah berubah menjadi tajam.
"Rasanya ingin aku belah sukmamu. Karena kau telah berani mengganggu latihan yang telah aku lakukan dengan guruku."
Tiba-tiba saja angin sekitar berubah menjadi ganas. Membuat Tarik Serunai kebingungan. Begitu juga dengan mereka yang tadinya bertarung, sekarang terhenti karena terkejut melihat sebuah pedang aneh di tangan Raden Cakara Casugraha. Pendekar Jarah Setandan tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Demi dewata yang agung. Itu adalah pedang sukma naga pembelah bumi. Ternyata dia memang keturunan langsung dari gusti prabu bahuwirya jayantaka byakta."
"Pedang sukma naga pembelah bumi?. Jadi bocah itu adalah anak dari raja agung suka damai?."
__ADS_1
"Tidak mungkin dia adalah putra dari raja agung suka damai."
"Heh!. Kalian sepertinya telah membangkitkan jiwanya yang lain. Jiwanya merasa terpanggil untuk menebas jiwa kalian yang kotor itu dengan pedang panggilan jiwa, yang dimiliki oleh keturunan prabu bahuwirya."
Tentu saja pertarungan itu tidak seimbang, karena dengan ganasnya Raden Cakara Casugraha membunuh ketiga pendekar itu. Namun kemarahannya kali ini sangat berbeda, jadi ia lebih ringan mengendalikan dirinya.
...***...
Kembali ke masa ini.
Mereka semua hampir tidak bisa berkata-kata. Karena apa yang dilakukan Raden Cakara Casugraha sungguh mengejutkan mereka semua.
"Jadi rayi cakara casugraha bisa menggunakan pedang panggilan jiwa meskipun pada saat ia belum bisa mengendalikan dirinya?."
"Iya raden. Itu sangat benar."
"Bukankah ayahanda prabu pernah mengatakan, jika pedang panggilan jiwa tidak bisa digunakan dalam keadaan marah?."
"Benar. Ayahanda prabu pernah mengatakan itu pada kami semua."
"Seperti yang hamba katakan gusti putri, raden. Bahwa kemarahan raden cakara casugraha itu sebenarnya hanya dipengaruhi sekitarnya saja. Kemarahan itu tidak selamanya buruk. Jika ia gunakan untuk kebaikan, maka hasil yang ia dapatkan baik pula. Namun jika ia dikuasai oleh kemarahan ingin menguasai sesuatu atau seseorang, itulah yang tidak boleh. Mungkin itu yang dimaksudkan oleh gusti prabu kawiswara arya ragnala."
"Mungkin, nanda prabu marah padaku juga pada yunda ardiningrum bintari, karena aku juga yunda selalu saja berkata buruk tentang rayi dewi. Itulah alasan kemarahan nanda prabu lebih ganas. Oh dewata yang agung. Aku sangat berdosa sekali padanya." Dalam hati Ratu Gendhis Cendrawati mengingat bagaimana masa lalu yang mereka hadapi saat itu.
"Jadi pada dasarnya, raden cakara casugraha adalah anak yang baik. Hanya saja ia tidak bisa mengendalikan dirinya karena amarah kutukan yang ada di dalam dirinya."
"Ya, raden cakara casugraha sangat baik. Bahkan pada orang yang tua seperti hamba. Dengan sabar raden cakara casugraha mengingatkan hamba untuk kembali ke jalan kebaikan." Paman Perapian Suramuara juga mengingat bagaimana pertemuannya, serta Raden Cakara Casugraha yang berusaha mengubah dirinya ke arah yang lebih baik.
"Sungguh luar biasa sekali rayi cakara casugraha. Ia selalu memikirkan kebaikan orang lain, meskipun dirinya terkesan buruk di mata orang lain."
"Benar apa yang dikatakan oleh yunda ratu. Aku sampai kagum dengan apa yang dilakukan rayi cakara casugraha. Meskipun menjalani hukuman buang, namun ia tetap melakukan kebaikan-kebaikan dengan membantu orang lain."
"Rasanya aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan rindu rayi cakara casugraha pada ibunda. Delapan tahun tidak bisa bertemu, apakah rayi cakara casugraha tidak merindukan ibunda?."
"Tentu saja nanda cakara casugraha merindukan ibunda nak. Nanda cakara casugraha yang mengatakannya pada ibunda." Ratu Dewi Anindyaswari merasa iba. Karena memang itu kenyataannya.
Bagaimana kisah kelanjutannya hingga Raden Cakara Casugraha menjadi dua?. Temukan jawabannya.
__ADS_1
...***...