
...****...
Mereka semua tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Putri Andhini Andita. Begitu juga dengan Prabu Bumi Jaya yang kini mendekati Putri Andhini Andita. Ia tidak suka jika ada yang mengganggu pertarungan itu.
"Berani sekali kau ikut campur!. Kau hanyalah orang luar-!."
TRAK!.
Belum sempat Prabu Bumi Jaya melanjutkan ucapannya, ia dikejutkan oleh Putri Andhini yang melangkah cepat ke arah belakangnya, dan menebas belati kecil yang hampir saja menusuk kepalanya. Mereka semua sangat terkejut, sehingga senopati dan penggawa lainnya bergegas melindungi Prabu Bumi Jaya.
"Hei!. Siapa kalian?!. Keluarlah!. Jangan hanya main bersembunyi saja!." Senopati Mataraga matanya liar mencari orang-orang yang mencurigakan.
"Jangan-jangan kau juga terlibat dalam masalah ini orang asing. Karena kau telah mengetahui akan terjadi masalah ini." Dalam keadaan seperti itu, Raden Bumi Putra malah menyalahkan Putri Andhini Andita.
"Jaga ucapan raka." Raden Raksa Wardhana tidak suka dengan apa yang dikatakan oleh kakaknya itu. Meskipun matanya tidak bisa melihat, namun bukan berarti ia tidak bisa mendengarkan suara sekitarnya. "Justru nyawa raka telah diselamatkan nimas putih, jadi raka jangan coba-coba untuk mencari kesalahan nimas Putih." Raden Raksa Wardhana bersiap, dan menebas belati yang datang ke arahnya, ia tebas belati itu dengan tepat.
Mereka semua terkejut, karena belati itu hampir saja mengenai penonton. "Kalian semua pergilah dari sini. Tempat ini sangat berbahaya!." Raden Raksa Wardhana memberitahu kepada mereka semua.
Dengan keadaan panik, mereka semua meninggalkan halaman istana. Karena mereka tidak mau jadi korban. Tadinya mereka hanya ingin melihat pertarungan maut, namun siapa sangka malah mereka yang hampir menjadi korban?. Kini yang tersisa hanyalah keluarga besar dari istana saja, prajurit serta penggawa istana.
"Aku juga sangsi, kalau kau suka bersekongkol dalam masalah ini raksa wardhana. Karena kau yang sangat mencurigakan. Aku yakin kau telah merencanakan ini semua." Raden Bumi Putra mengarahkan pedangnya. Namun Raden Raksa Wardhana hanya diam saja.
"Nimas, apakah ini yang nimas katakan waktu itu?. Apakah nimas telah mengetahui sesuatu?. Maaf jika aku meminta bantuan nimas untuk melihat istana ini." Raden Raksa Wardhana meminta bantuan Putri Andhini Andita.
"Kau berani mengabaikan aku raksa wardhana!." Raden Bumi Putra sangat marah. Namun tetap saja diabaikan.
"Sandika raden." Putri Andhini Andita sangat mengerti apa yang dikatakan oleh Raden Raksa Wardhana. "Hamba melihat ada hawa kedengkian yang sangat tidak menyenangkan sekali raden." Putri Andhini Andita membuka mata batinnya, Seeperti yang diajarkan oleh Nenek Putih.
"Apa yang kalian katakan?. Kalian jangan coba-coba bermain-main dengan kami!." Raden Bumi Putra sangat kesal dan marah. Ia merasa dipermainkan oleh Raden Raksa dan Putri Andhini Andita.
__ADS_1
"Apa sebenarnya tujuanmu orang asing. Apa yang kau rencanakan sebenarnya?." Prabu Bumi Jaya menatap tajam ke arah Putri Andhini Andita.
"Mohon ampun gusti prabu. Mungkin hamba telah bersikap kurang ajar karena telah ikut campur. Namun ada hal yang harus hamba pastikan saat ini." Putri Andhini Andita memberi hormat.
"Apa yang ingin kau pastikan?. Katakan padaku!." Prabu Bumi Jaya sedikit marah.
"Penyebab dari kebutaan yang dialami oleh raden raksa wardhana." Jawab Putri Andhini Andita.
Namun mereka semua terkejut, dengan apa yang dikatakan oleh Putri Andhini Andita. Mereka tidak menyangka ada orang luar yang berani menyinggung penyebab Raden Raksa Wardhana buta?.
"Apa yang kau rencanakan sebenarnya orang asing?. Bagaimana mungkin kau ingin mengetahuinya?. Apakah kau tidak bertanya pada orang yang bersangkutan kenapa ia bisa buta seperti itu?." Prabu Bumi Jaya semakin kesal.
"Maafkan hamba gusti prabu. Mungkin hamba memang telah berani ikut campur. Dan hamba telah mencari akar penyebabnya apa." Balas Putri Andhini Andita dengan sangat yakin.
"Benarkah?. Kalau begitu katakan padaku, apa yang kau dapatkan." Prabu Bumi Jaya hanya ingin mengetahui, bagaimana rangkaian cerita dari Putri Andhini Andita.
"Bagaimana mungkin kau mengetahui hutan bambu terlarang itu?. Apakah raksa wardhana telah menceritakan semuanya padamu, hah?." Prabu Bumi Jaya tidak menyangka, jika ada yang mengetahui tentang hutan itu?.
"Maaf ayahanda prabu. Tapi hamba tidak pernah menceritakannya. Bahkan nanda sangat terkejut, saat nimas putih mengatakan. Mata nanda bisa kembali pulih, jika akar dari permasalahan ini bisa dibinasakan." Raden Raksa Wardhana tidak menyangka akan mengatakannya. Karena memang itulah kenyataannya.
"Oh putraku." Selir Ratna Wardhani mendekati anaknya. Ia tidak menyangka akan mendengarkan itu. "Apakah itu benar nak?. Apakah kau bisa melihat lagi?." Selir Ratna Wardhani seperti memiliki harapan.
"Iya ibunda. Karena itulah ananda berjuang, setelah apa yang dikatakan oleh nimas putih. Bahwa mata nanda masih bisa diselamatkan. Asalkan akar dari permasalahan ini bisa dibinasakan." Jawab Raden Raksa Wardhana dengan sangat yakin.
"Apak yang kau maksudkan raksa wardhana?. Katakan pada kami dengan jelas!. Jangan buat kami semua bertanya-tanya!." Prabu Bumi sangat emosi. Karena ia sama sekali tidak mengetahui apa yang dimaksudkan oleh anaknya itu.
"Mohon ampun ayahanda prabu. Jika masalah itu, nanda serahkan pada nimas putih. Karena hanya nimas putih saja yang mengetahui semuanya." Raden Raksa Wardhana memberi hormat.
Kali ini mata Prabu Bumi Jaya menatap tajam ke arah Putri Andhini Andita. "Katakan padaku dengan jelas!. Dan jangan coba-coba untuk mengarang cerita bohong padaku!." Rasanya emosinya hampir saja memuncak.
__ADS_1
"Sandika gusti prabu." Putri Andhini Andita memberi hormat. "Akan hamba tunjukkan pada gusti prabu, serta yang ada di sini semuanya. Tapi hamba harap tidak ada yang panas ketika melihat apa yang hamba perlihatkan." Putri Andhini Andita tersenyum kecil. Setelah itu ia mengayunkan pedang Pembangkit Raga Dewi Suarabumi.
Mereka semua sangat terkejut, saat melihat hawa yang dipancarkan oleh Pedang Panggilan jiwa. Mereka juga terkejut, saat Putri Andhini Andita menebas dua kali hawa pedang itu ke arah mereka semua. Sehingga menimbulkan tekanan angin yang sangat tinggi. Namun bukan hanya sampai disitu saja bentuk keterkejutan mereka. Karena mereka melihat alam sukma?. Putri Andhini Andita memperlihatkan pada mereka semua apa yang terjadi pada hari itu. Hari dimana Raden Raksa Wardhana mengalami kebutaan di hutan bambu terlarang.
Mereka semua melihat Raden Raksa Wardhana pada saat itu menuju hutan itu karena ucapan Raden Telaga Bumi?.
"Oh raka. Apa yang terjadi raka?. Kenapa raka terlihat sangat khawatir sekali?." Raden Raksa Wardhana sangat terkejut melihat kakaknya yang sedang panik.
"Maaf rayi. Apakah kau bisa membantuku?." Jawab Raden Telaga Bumi.
"Apa yang bisa aku bantu raka?. Katakan saja." Raden Raksa Wardhana terlihat sangat antusias.
"Sebenarnya tadi aku berhadapan dengan seseorang. Dan dia melarikan diri ke dalam hutan bambu larangan. Tapi kau mengetahuinya bukan?. Bahwa tidak ada yang bisa masuk ke hutan itu selain ayahanda prabu. Jika aku ketahuan masuk ke sana, aku takut ayahanda prabu akan marah padaku. Aku mohon pastikan orang itu tidak merusak apa yang ada di dalam hutan bambu terlarang itu rayi." Raden Telaga Bumi memelas meminta bantuan pada adiknya.
"Baiklah raka. Aku akan masuk ke sana, dan memastikan semuanya akan baik-baik saja." Raden Raksa Wardhana tanpa banyak bertanya langsung menyetujuinya.
"Maafkan aku rayi, jika aku membuatmu-."
"Tidak apa-apa raka. Raka adalah putra mahkota tertinggi. Jadi raka jangan sampai membahayakan diri raka." Raden Raksa Wardhana sangat khawatir terjadi sesuatu pada kakaknya.
"Kau sangat baik sekali rayi." Raden Telaga Bumi sangat senang mendengarnya.
"Kalau begitu aku masuk ke sana raka. Jagalah di sini. Aku akan kembali dengan cepat." Raden Raksa Wardhana masuk ke dalam tanpa ada rasa curiga.
Mereka semua melihat Raden Raksa Wardhana masuk ke dalam sana. Mereka melihat Raden Raksa Wardhana telah mengitari hutan bambu terlarang itu, Namum tidak melihat siapapun. Hingga tiba-tiba saja ad angin kencang yang berhembus ke arah Raden Raksa Wardhana.
Angin itu benar-benar telah menutupi pandangan mata Raden Raksa Wardhana. Hingga terdengar suara teriakan keras dari Raden Raksa Wardhana yang berteriak kesakitan. Matanya diterkam oleh sosok Hitam?. Ya, sosok hitam itu telah melukai kedua mata Raden Raksa Wardhana. Namum bukan itu yang membuat mereka tercengang. Mata mereka menangkap sosok yang telah menebaskan angin kencang beserta makhluk gaib yang suka memakan mata manusia itu bersama Raden Telaga Bumi. Apa maksudnya itu?. Temukan jawabannya.
...***...
__ADS_1