
...***...
Mereka semua tidak menyangka akan mendengarkan ucapan yang mengejutkan dari Raden Rajaswa Pranawa. Bahkan ayahandanya pun terkejut, dan bertanya pada anaknya.
"Apakah nanda yakin?. Juga ingin memeluk agama islam?."
"Tentu saja ayahanda. Nimas agniasari ariani saja perilakunya sangat baik. Apalagi dengan agama yang ia yakini. Pasti baik juga ayahanda."
"Jika itu memang keputusan nanda, ayahanda tidak bisa mencegahnya. Jika memang nanda ingin masuk agama islam. Tapi nanda belajar dengan siapa?."
"Jika masalah itu paman prabu jangan khawatir. Kebetulan kami juga sedang belajar agama islam bersama rayi prabu. Jika memang adimas rajaswa ingin belajar agama islam, tentu saja bisa belajar bersama kami di istana ini."
"Benarkah itu gusti putri?. Saya boleh belajar di istana ini?."
"Tentu saja boleh. Dan satu lagi. Panggil saja yunda. Nanti juga akan seperti itu."
"Yunda. Jangan buat raden rajasawa merasa tidak kerasan di sini."
"Ya maaap."
Mereka tidak dapat menahan tawa melihat tingkah Putri Andhini Andita, Putri Agniasari Ariani dan Raden Rajaswa. Putri Andhini Andita yang berusaha menggoda adiknya.
"Jika memang rayi agniasari ariani akan dijodohkan, itu artinya saya tidak bisa mengajaknya ke istana mekar jaya. Kalau begitu saya akan kembali dan mencari guru agama."
"Jika masalah itu, yunda ratu tidak perlu khawatir. Nanti aku akan meminta tolong pada syekh asmawan mulia."
"Terima kasih rayi prabu."
"Rasanya setelah sekian lama tidak berkunjung ke istana ini. Ternyata suasananya mengalami banyak sekali perubahan. Terutama pada nanda cakara casugraha. Rasanya sangat mengejutkan sekali perubahannya."
"Semuanya telah berjalan sesuai kehendak takdir yang kuasa paman prabu. Manusia pasti akan mengalami perubahan."
"Ya, Nanda benar. Tapi saya mohon Nanda agar lebih sabar membimbing nanda rajaswa. Jika memang ia mau belajar agama islam di istana ini."
__ADS_1
"Insyaallah, saya akan mengajarnya dengan sabar paman prabu."
"Sepertinya keluarga kita akan berkurang satu, jika memang nanda putri agniasari akan menikah dengan raden rajasawa. Rasanya terlalu cepat melepaskan kepergian seorang anak."
"Ibunda jangan berkata seperti itu. Nanda tidak akan pergi ke mana-mana. Nanda masih di sini ibunda."
"Benar yang dikatakan nanda putri agniasari ariani, yunda. Sebagai seorang ibu. Sebagai ibu kandung dari nanda putri agniasari ariani. Aku juga merasakan yang yunda rasakan. Akan tetapi, tidak mungkin selamanya mereka bersama kita."
"Itu benar ibunda ratu gendhis. Contohnya saya. Baru sebentar rasanya bersama kedua orang tua, setelah itu saya diboyong oleh kanda hadyan hastanta ke istana ini. Nanti rayi andhini andita juga sama seperti saya."
Tiba-tiba saja suasana haru menyelimuti perasaan mereka. Memang berat berpisah dengan orang yang mereka cintai. Tapi apa boleh buat. Anak perempuan memang akan ikut kemana suaminya pergi. Mereka harus menguatkan diri mereka, supaya hati mereka tidak goyah, ketika orang yang mereka sayangi pergi jauh dari jangkauan mereka.
...***...
Di sisi lain.
Di sebuah tempat yang aneh, terlihat seorang wanita muda dengan pakaian serba hitam. Hatinya saat ini sedang dipenuhi oleh kemarahan yang luar biasa.
"Ini tidak bisa dimaafkan. Berani sekali raden rajaswa mengkhianati aku, dan dia malah memilih putri dari kerajaan suka damai?." Kabar kepergian Raden Rajaswa Pranawa menuju Istana Kerajaan Suka Damai sampai ke telinganya. Meskipun kabar yang ia dengar tidak menyebutkan bahwa untuk apa kepergian Raden Rajaswa Pranawa ke sana?. Namun ia mengetahuinya, lewat air ajaib yang ada di dalam kendi miliki keluarga turun temurun nenek moyangnya.
Dalam beberapa waktu yang lama, ia telah mempelajari semua mantram pengikat, bahkan mantram untuk mengalahkan musuh-musuhnya. Jadi ia tidak takut untuk meneluh putri suka damai itu.
"Aku pasti akan membunuhmu. Kau akan aku buat menyesal, karena telah berani merebut kekasihku!." Dengan penuh amarah yang membuncah, ia kerahkan tenaga dalamnya. Mencari petunjuk, ilmu teluh seperti apa yang bisa membuat putri suka damai itu menangis darah, dan akhirnya mati tersiksa. Apa yang akan ia lakukan?. Temukan jawabannya.
...***...
Malam harinya. Putri Andhini Andita, di tempat biasa. Menatap langit malam, dengan pandangan yang sangat jauh. Namun tiba-tiba saja, Raden Cakara Casugraha datang, membuatnya terkejut.
"Apa yang membuat yunda masih betah berada di sini?."
"Ya ampun rayi."
"Apa yang yunda lamunkan?."
__ADS_1
"Tidak dalam wujud jaya satria, atau yang sekarang. Kau itu memang suka sekali membuat aku terkejut. Kau ini memang sangat menyebalkan rayi."
"Maafkan aku yunda. Maafkan jika aku membuat yunda terkejut."
"Hufff,,,jika saja kau bukan orang yang aku cintai, sudah aku hajar kau cakara casugraha." Dalam hati Putri Andhini Andita ingin sekali berkata seperti itu. Akan tetapi, kalimat itu seakan terkunci di dalam hatinya. Perasaan bencinya pada Cakara Casugraha, kini telah menjadi cinta.
Malam seperti biasanya. Mereka duduk berdua sambil menatap awan hitam yang menghiasi langit malam.
"Jaya satria. Aku ingin bertanya sesuatu padamu."
"Apa yang ingin yunda tanyakan?. Katakan saja. Semoga saja aku bisa menjawabnya yunda."
"Apakah aku akan berdosa jika aku mencintai aku mencintai adikku sendiri?."
"Apakah yunda tidak bisa menghilangkan perasaan cinta itu menjadi perasaan sayang pada adiknya?."
"Aku mencobanya jaya satria. Tapi sepertinya aku terkena sebuah karma."
"Apa maksud yunda?. Karma apa yang yunda dapatkan?."
"Karma karena selama ini aku terlalu membencimu Cakara casugraha. Sehingga perasaan cinta itu tidak bisa aku kendalikan lagi."
"Akupun kadang bertanya yunda. Cinta itu sebenarnya apa. Tapi aku tidak bisa memberikan harapan pada yunda. Hanya karena aku tidak bisa menjawab apa itu cinta. Tapi terima kasih karena yunda telah mencintaiku."
Namun tiba-tiba Putri Andhini Andita malah memukul kepala Raden Cakara Casugraha, tentu saja membuatnya kebingungan.
"Mengapa yunda malah memukul kepalaku. Katanya yunda sangat mencintaiku. Ini namanya penganiayaan yunda."
"Kau jangan terlalu manis senyumnya Cakara casugraha. Aku tidak kuat melihat senyumanmu yang membuat aku semakin melupakan dirimu adalah adikku." Dengan malu-malunya Putri Andhini Andita menutupi wajahnya dengan tangannya. Karena sungguh, tadi itu senyuman termanis yang pernah ia lihat dari wajah adiknya.
"Perasaan aku senyumnya biasa saja yunda." Raden Cakara Casugraha mengelus kepalanya yang terasa sakit berdenyut karena dipukul kakaknya. Tapi sungguh ia bingung dengan perasaannya.
"Apakah aku mati rasa?. Sehingga aku tidak bisa merasakan perasaan apapun terhadap yundaku sendiri?. Syekh guru. Nanti aku akan bertanya pada syekh guru mengenai ini. Dan anehnya. Mengapa aku tidak bisa berhubungan dengan gusti prabu?. Padahal, jika dalam kondisi seperti ini. Gusti prabu akan cepat mengingatkan aku." Dalam hati Raden Cakara Casugraha merasa ada yang aneh dengan dirinya.
__ADS_1
Bahkan sejak ia sudah baikan, raga keduanya telah kembali, tapi ia tidak bisa berkomunikasi dengan baik. Apa yang terjadi sebenarnya? Temukan jawabannya.
...***...