
...***...
Jaya Satria saat ini sedang mengobati beberapa prajurit yang terkena penyakit kulit. Mereka yang berhasil diobati untuk saat ini disarankan untuk beristirahat. Prabu Kanigara Laksana, dan Patih Arya Sena melihat itu dengan kagum.
"Terima kasih atas kebaikan yang kau lakukan terhadap prajurit kami jaya satria."
"Sama-sama gusti prabu. Hamba hanya kasihan saja pada mereka."
"Itu sungguh luar biasa sekali jaya satria. Aku merasa bersyukur karena dewata telah mengirimkan aku orang yang baik sepertimu jaya satria."
"Semuanya karena Allah SWT gusti prabu. Jika Allah SWT tidak menggerakkan hati hamba, mungkin saja hamba tidak akan mengembara sampai ke sini."
"Sungguh itu adalah sebuah takdir baik."
Prabu Kanigara Laksana sangat senang, karena ada orang baik yang mau membantunya dalam perang ini.
"Mohon ampun gusti prabu. Mohon ingatkan pada mereka agar tidak minum tuak. Selain tidak sehat, itu akan mempengaruhi akal pikiran mereka. Bisa jadi musuh mendadak menyerang ketika mereka dalam keadaan mabuk. Itu sangat tidak baik gusti prabu. Maaf jika hamba lancang untuk mengatakannya pada gusti prabu."
"Mohon ampun gusti prabu. Hamba rasa, apa yang dikatakan jaya satria sangat benar. Kita akan mengalami kekalahan yang merugikan, jika kita diserang dalam keadaan seperti itu gusti prabu."
"Baiklah patih arya sena. Katakan pada prajurit agar tidak terlalu banyak minum tuak. Jika perlu tuak itu disimpan saja terlebih dahulu sampai keadaan benar-benar aman, dan kita terbebas dari cengkraman kerajaan rencong."
"Sandika gusti prabu."
Patih Arya Sena pamit, meninggalkan tempat, karena ia menjalankan apa yang diperintahkan oleh rajanya. Sementara itu Prabu Kanigara Laksana masih mau berbincang-bincang dengan Jaya Satria.
"Mari jaya satria."
"Mari gusti prabu."
Mereka mencari tempat yang aman untuk berbincang-bincang. Mungkin mereka menemukan cara untuk mengatasi perang ini. Apakah yang akan mereka rencanakan?. Temukan jawabannya.
...***...
Sementara itu, dipihak musuh. Mereka juga sedang merencanakan penyerangan besok pagi. Mereka akan menyerang secara besar-besaran terhadap musuh. Tidak peduli siapa saja yang akan mereka hadapi.
__ADS_1
"Kita akan menghadapi orang-orang lemah!. Namun kita tidak boleh lengah!. Kita serang mereka dengan kekuatan penuh."
"Hamba sangat setuju gusti prabu. Sebagai patih, hamba menyarankan taktik kita besok adalah taktik sapuan angin topan. Kita terbangkan saja mereka semua, biar mereka mengetahui bagaimana kekuatan orang-orang yang berkuasa sebenarnya gusti prabu."
"Kau benar patih wenda sekatara. Aku tidak akan mengampuni mereka. Karena mereka tidak mau tunduk dan menjadi budakku."
"Hamba telah menyewa pendekar pilih tanding gusti prabu. Jadi kita akan menggunakan mereka untuk taktik sapuan angin topan. Gusti prabu bisa melihat hasilnya besok sambil tersenyum penuh kemenangan diatas bedati gusti prabu."
"Kau memang bisa aku andalkan patih wenda sekatara. Kau akan aku angkat menjadi mahapatih, jika rencana yang kau lakukan besok berhasil dengan sempurna."
"Suatu kehormatan bagi hamba menjadi mahapatih kepercayaan gusti prabu."
"Lihat saja raja bodoh. Kau telah melakukan kesalahan yang sangat besar, karena telah menolak ajakan dari raja rencong untuk menjadi budak."
"Jangan beri ampun mereka semua gusti prabu. Mari kita habisi mereka semua besok pagi dengan rencana sempurna ini gusti prabu."
"Ahahaha kemenangan besar, akan segera aku dapatkan besok!."
Mereka membayangkan kemenangan besar berada di tangan mereka. Dengan bangganya mereka menyebutkan besok adalah hari bahagia mereka?. Apakah mereka benar-benar akan mendapatkan kenangan itu?. Temukan jawabannya.
...***...
"Gerakan yang ia lakukan sangat berbeda. Gerakan apa yang ia lakukan sebenarnya?." Dalam hatinya bertanya-tanya apa yang dilakukan oleh Jaya Satria.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh." Jaya Satria mengucapkan salam sambil menoleh ke kiri dan ke kanan, setelah itu ia menadah kedua tangannya seraya berdoa kepada Allah SWT.
"Ya Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Berikanlah kami kemudahan dalam perang ini. Lindungilah kami semua dari kekejaman manusia yang ingin menyiksa manusia lainnya. Hanya kepada-Mu lah hamba meminta pertolongan. Jauhilah kami dari marabahaya ketika perang nantinya terjadi. Berikan kami kekuatan hati untuk mempertahankan kebaikan, dan jauhi kami dari kejahatan yang menyesatkan. Aamiin aamiin ya rabbal aalaamiin."
Setelah selesai berdoa, Jaya Satria membacakan surah Al Baqarah ayat 186 untuk menenangkan hatinya yang sedang gundah.
"وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ."
Prabu Kanigara Laksana benar-benar terpaku dengan suara merdu dari Jaya Satria. Dan tanpa sadar ia mendekati Jaya Satria dan bertanya.
"Hai jaya satria. Apa yang kau bacakan tadi?. Sungguh bacaan itu sangat menggetarkan hatiku saat mendengarkan apa yang kau bacakan jaya satria."
__ADS_1
"Oh gusti prabu. Yang hamba bacakan tadi adalah ayat suci al-qur'an. Surah Al Baqarah ayat 186 yang menceritakan bahwa Allah SWT akan mengabulkan doa apa saja dari hamba-Nya, jika ia berdoa kepada Allah SWT."
"Sungguh arti yang sangat bagus. Tapi siapa Allah itu jaya satria?. Mengapa aku tidak mengetahuinya sama sekali?."
"Allah SWT adalah Tuhan yang menciptakan alam semesta ini beserta isinya gusti prabu. Termasuk menciptakan manusia."
"Jadi kita ini diciptakan oleh Allah?. Bagaimana caranya?. Bukankah kita lahir dari rahim seorang ibu?."
"Ya, gusti prabu benar. Semua pertanyaan gusti prabu terjawab di dalam al-qur'an. Awal permulaan manusia diciptakan, hingga bagaimana bisa lahir dari rahim seorang ibu."
"Lalu apa itu al-qur'an?. Bagaimana bisa ia menjelaskan tentang semua itu?."
"Al-qur'an adalah pedoman atau petunjuk bagi manusia gusti prabu. Mengenai peristiwa yang terjadi dimasa lalu bisa menjadi pembelajaran bagi kita sekarang. Al-qur'an turun sesuai dengan peristiwa yang terjadi. Misalnya perang yang kita lakukan saat ini gusti prabu."
"Apakah ada di dalam al-qur'an yang seperti itu?."
"Tentu saja ada gusti prabu. Seperti dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 216 disebutkan.
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ."
Prabu Kanigara Laksana mendengarkan apa yang dibacakan oleh Jaya Satria dengan baik. Hatinya berdebar-debar saat mendengarkan lantunan ayat Al-Qur'an.
"Artinya, diwajibkan atas kamu berperang. Padahal perang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu. Padahal ia amat baik bagimu. Boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui. Sedangkan kamu tidak mengetahui.”
"Ya, tidak ada yang menginginkan perang. Karena perang hanya menimbulkan keburukan jaya satria."
"Tapi apa yang gusti prabu lakukan adalah demi menjaga kehormatan rakyat gusti prabu yang akan dijadikan budak. Semoga saja Allah SWT melindungi niat baik gusti prabu. Allah akan selalu bersama orang-orang yang sabar dan mendirikan kebaikan. Tapi alangkah baiknya lagi, jika gusti prabu mengenali agama islam dengan baik."
"Jika dewata yang agung melindungi aku dalam perang ini. Aku mohon padamu agar mengajarkan ilmu agama islam pada kami nantinya jaya satria."
"Insyaallah gusti prabu. Semoga saja Allah mengabulkan harapan baik gusti prabu."
Jaya Satria sangat senang mendengarkan apa yang dikatakan oleh Prabu Kanigara Laksana. Apakah yang akan terjadi?. Temukan jawabannya. Jangan lupa komentarnya agar author yang tidak berwujud ini semangat lanjutin ceritanya.
...***...
__ADS_1