
...***...
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana bingung mau menjelaskan apa yang ia lihat pada diri Raden Raksa Wardhana, juga ibundanya. Sementara itu Jaya Satria atau raga asli Raden Cakara Casugraha sedang menuju suatu tempat untuk memastikan, bahwa apa yang ia lihat itu salah. Penglihatan yang sangat menyakitkan hati, sangat pilu untuk dilihat.
"Yunda. Maaf, jika aku merusak hari kebahagiaanmu. Tapi ada satu hal yang ingin aku pastikan dari raden raksa wardhana juga ibundanya-." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana rasanya sedang menelan obat pahit, sehingga ia kesulitan mengatakan pada kakaknya itu.
"Apa maksudmu rayi?. Apa yang terjadi sebenarnya?." Putri Andhini Andita merasakan perasaan yang sangat tidak enak.
"Apa maksudmu nak?. Kenapa nanda prabu berkata seperti itu?." Ratu Gendhis Cendrawati merasa heran dengan apa yang dikatakan oleh anaknya itu.
"Benar sekali nak. Kenapa nanda berkata seperti itu?." Ratu Dewi Anindyaswari juga heran. Kenapa anaknya menatap sedih ke arah Raden Raksa Wardhana?. Selain itu, mereka juga belum mengatakan namanya. Tapi kenapa anaknya bisa mengetahui nama mereka?.
"Rayi prabu-." Tiba-tiba saja perasaan Putri Andhini Andita tidak enak. Karena ia mencium aroma yang tidak biasa di ruangan itu. Tentunya ia merasakan perasaan yang sensitif setelah mata batinnya dibuka oleh nenek Putih.
"Yunda. Bukankah yunda bisa melihatnya melalui tatapan mata batin?. Coba yunda lihat dengan pelan, dan pastikan sendiri yunda. Tapi aku harap yunda jangan bersedih hati setelah melihatnya." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana berkata dengan hati-hati. "Aku harap yunda lebih memahami apa yang ingin yunda lihat." Lanjutnya lagi. Bukan hanya berusaha untuk menguatkan hatinya, ia juga berusaha untuk menguatkan kakaknya.
Putri Andhini Andita mencoba untuk mengambil nafasnya agak dalam, sambil memejamkan matanya. Mencoba untuk menenangkan dirinya untuk membuka mata batinnya. Sedangkan Ratu Gendhis Cendrawati, Ratu Dewi Anindyaswari, Putri Agniasari Ariani, dan Raden Rajaswa Pranawa tidak mengerti sama sekali dengan apa yang terjadi.
__ADS_1
Deg!!!.
"Rayi prabu. Apa yang terjadi?. Kenapa rayi-." Belum sempat Putri Agniasari Ariani bertanya, ia melihat kakaknya menangis?.
"Katakan rayi. Apa yang kau lihat pada mereka. Katakan, jika yang kau lihat hanyalah kebohongan saja." Rasanya Putri Andhini Andita tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Ia tidak kuasa menahan tangisnya, saat melihat kenyataan yang sebenarnya. Sungguh sangat menyakitkan hati atas apa yang ia lihat saat ini. Rasanya ia tidak mau melihat ini, dan tidak mau percaya dengan apa yang ia lihat.
"Oh putriku." Ratu Gendhis Cendrawati, Ratu Dewi Anindyaswari segera mendekati Putri Andhini Andita. Keduanya mencoba untuk menenangkan putrinya. "Apa yang terjadi nak?." Tentunya mereka cemas dengan keadaan Putri Andhini Andita yang menangis sedih.
"Apa yang terjadi sebenarnya rayi prabu." Putri Agniasari Ariani bingung dengan apa yang terjadi.
"Ada apa nak?. Kenapa nanda menangis?." Ratu Gendhis Cendrawati memeluk anaknya, mencoba menenangkan anaknya. "Katakan pada ibunda, apa yang terjadi sebenarnya nak?."
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Ratu Dewi Anindyaswari, Ratu Gendhis Cendrawati, Putri Agniasari Ariani, dan Raden Rajaswa Pranawa terkejut melihat keadaan Raden Raksa Wardhana dan Selir Ratna Wardhani. Tubuh mereka saat ini dipenuhi oleh darah?. Serta anak panah yang menancap tubuh mereka?. Sebenarnya apa yang terjadi pada mereka?. Kenapa tubuh mereka sampai seperti itu?.
"Sungguh, maafkan aku nimas." Raden Raksa Wardhana terlihat menangis sedih, karena rasa sakit yang mendera tubuhnya. Juga mendera hatinya yang pilu. "Sepertinya kita tidak disatukan untuk bersama. Maafkan aku nimas, karena aku datang dalam keadaan seperti ini." Tangisannya begitu pilu. "Ini adalah keinginan terakhir ku, sebelum aku menghembus nafas terakhir ku. Aku ingin melihatmu nimas, ingin melihat senyumanmu." Meskipun ia menangis, namun ia berusaha untuk tetap tersenyum walaupun itu terasa sakit. "Terima kasih karena nimas telah memberikan aku kesempatan untuk mencintai nimas. Terima kasih karena telah memberikan aku kesempatan untuk melihat wanita sebaik dirimu nimas. Semoga suatu hari nanti kau bisa bahagia dengan seseorang yang lebih mencintaimu dari pada aku." Tubuh itu perlahan semakin menghilang.
"Terima kasih, nini telah memberikan kebahagiaan pada putra saya. Sungguh saya bahagia saat ia mengatakan ingin melamar nini." Selir Ratna Wardhani tersenyum kecil. "Nini tentunya mengetahui apa yang telah dialami oleh putra saya. Terima kasih karena telah memberikan kesempatan kepada putra saya untuk berjuang mendapatkan seseorang. Ia telah belajar dengan baik, supaya ia menepati janjinya untuk bertemu dengan nini di sini." Lanjutnya lagi. "Sebagai seorang ibu. Saya merasa sangat bahagia, karena dapat menyaksikan anaknya telah berusaha keras, demi seseorang yang sangat ia cintai. Terim kasih sekali lagi saya ucapkan pada nini. Saya mendoakan kebahagiaan nini." Senyuman yang sangat ramah, dari seorang ibu yang mejyaks bagaimana anaknya telah berjuang selama ini.
__ADS_1
"Aku sangat mencintaimu, nimas putih. Semoga suatu hari nanti kita bisa bertemu di alam nirwana, dan menjalin hubungan yang baik." Raden Raksa Wardhana benar-benar mengungkapkan apa yang ingin ia sampaikan pada Putri Andhini Andita. Bagaimana perasannya selama ini, bagaimana ia memendam perasaannya ingin bertemu dengan orang yang ia cintai.
Setelah itu keduanya menghilang tanpa ada bekas. Kecuali rasa sedih yang dirasakan oleh Putri Andhini Andita. Ia menangis dengan kuat, melepaskan rasa sakit hati yang ada di dalam dirinya.
"Raden raksa wardhana. Kenapa kau datang dalam keadaan seperti itu." Putri Andhini Andita tidak dapat menahan tangisnya. Sungguh hatinya sangat sakit menerima kenyataan pahit ini.
"Tenangkan dirimu nak." Ratu Gendhis Cendrawati tidak tahu haru bagaimana. Ia juga tidak menyangka, jika akan terjadi seperti ini.
"Oh yunda." Putri Agniasari Ariani merasa sangat bersimpati pada kakaknya. Memang sulit menerima kenyataan itu, apalagi apa yang menimpa seseorang yang telah kita tunggu kedatangannya. Tapi kenapa ia datang dalam keadaan seperti itu?. Apa yang terjadi sebenarnya?. Kenapa ini semua bisa terjadi?.
"Ibunda. Ibunda. Ibunda!." Hati Putri Andhini Andita sangat sakit. Rasanya ia tidak sanggup menerima kenyataan yang menyakitkan ini. Kenapa nasib malang ini bisa menimpa dirinya?. Apakah ia tidak boleh merasakan kebahagiaan?. Apa yang salah dengan salah dengan dirinya?. Sehingga seperti ini yang ia dapatkan?.
...***...
Sementara itu, Jaya Satria mengikuti jejak penampakan yang dilihat oleh Raden Raksa Wardhana, dan Selir Ratna Wardhani. Ia memberikan petunjuk pada Jaya Satria, dimana mereka saat ini berada.
Hampir memasuki batas wilayah kerajaan Tebing Alas, yang katanya memang terkenal dengan keganasan para perampok, juga pendekar yang menjajal ilmu kanuragan yang mereka miliki. Oleh karena itulah, sejak didirikannya kerajaan Suka Damai oleh mendiang Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta, beliau melarang siapa saja untuk ke sana. Karena kerajaan Tebing Alas tidak bersahabat dengan siapa saja. Memang untuk masuk ke daerah Kerajaan Suka Damai bagian Utara melewati perbatasan daerah itu. Namun masih ada jalan lain, hanya saja agak memutar lebih jauh lagi, agak setengah hari sampai ke perbatasan wilayah kerajaan Suka Damai bagian Utara.
__ADS_1
Apakah yang tejadi pada Raden Raksa Wardhana, serta ibundanya?. Kenapa mereka bisa mengalami hal yang mengerikan seperti itu?. Temukan jawabannya.
...***...