RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
PERTARUNGAN RADEN CAKARA CASUGRAHA


__ADS_3

......***......


prabu asmalaraya arya ardhana menggunakan pukulan halilintar menyambar pohon, jurus yang sangat berbahaya. Pengaruh dari jurus itu membuat tubuh seseorang terluka secara perlahan-lahan, aliran petir itu masuk ke dalam darah hingga menyebabkan rasa sakit pada musuhnya.


"Kurang ajar! Kenapa tubuhku semakin sakit?." Dalam hati Raden Semana Hayana semakin cemas dengan kondisi tubuhnya saat itu.


Jurus itu ia ciptakan sendiri ketika ia menyendiri selama satu tahun dalam pengembaraannya. Selama satu tahun ia bersembunyi karena menahan amarahnya. Dan sekarang jurus itu arahkan untuk memukul mundur Raden Semana Hayana yang hendak menerjangnya. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dengan lihainya memainkan jurus itu, namun Raden Semana Hayana berhasil menghindarinya.


"Kenapa kau tidak gunakan saja, jurus-jurus berbahaya milikmu dimasa lalu?." Meskipun ia kesakitan, ia masih saja ingin memancing amarah Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Apakah kau tidak ingin memperlihatkan kepada mereka? Betapa bengisnya kau dimasa lalu, raden cakara casugraha?." Nafasnya memang telah terlihat ngos-ngosan tapi masih saja ia ingin membuat orang lain marah?.


"Hanya Allah lah yang tahu, apa yang telah aku lakukan dimasa lalu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terus menyerang Raden Semana Hayana. "Aku tidak perlu mengulangi kesalahan yang sama, atau menggunakan jurus lama untuk menghentikanmu yang sekarang." Ia lepaskan kembali pukulannya dengan cepat. Gerakan sang prabu begitu cepat, membuat raden Semana Hayana sedikit kewalahan, hingga kahirnya terkena pukulan itu tepat di bahu kanannya.


"Kegh!."


"Aku minta kau segera pergi dari sini, aku tidak mau berurusan lagi denganmu, anggap saja kita tidak pernah bertemu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memberikan penegasan. "Hilangkan semua dendam yang ada di dalam dirimu, sebelum Allah SWT memberikan azab padamu, karena kau tidak mau bertaubat."


"Kau pikir aku takut dengan ancamanmu?!." Ia malah tersinggung. "Aku akan kembali lagi padamu! Dan akan aku pastikan, aku akan membunuhmu pada saat itu cakara casugraha!." Ia meringis kesakitan, tangan kanannya seperti semakin mati rasa. Ia pergi meninggalkan tempat itu dengan melompati tembok tinggi yang mengelilingi istana.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah, bukakanlah pintu hatinya untuk menerima kebaikan, ya Allah." Dalam hati sang prabu berharap Raden Semana Hayana dapat hidayah dari Allah SWT.


"Rayi prabu."


Putri Andhini Andita, Putri Agniasari Ariani, Raden Hadyan Hastanta, dan Jaya Satria langsung mendekat. Tentu saja mereka sangat cemas dengan keselamatan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Apakah rayi prabu baik-baik saja? Apakah orang itu menyakiti rayi prabu? Katakan pada kami."


"Aku baik-baik saja yunda, tidak perlu dicemaskan, orang itu telah pergi meninggalkan istana ini."


"Alhamdulillah hirobbil alamin, syukurlah jika rayi prabu baik-baik saja, kami sangat mengkhawatirkanmu rayi."


"Itu benar rayi prabu, kami sangat takut, jika orang itu menyakitimu."


"Raka, yunda tenang saja, Allah SWT selalu bersama orang-orang baik."


Mereka sangat lega mendengarnya, mereka tadi sangat waspada jika raden Semana Hayana melukai sang Prabu. Maka mereka tidak akan mengampuninya, karena telah berani mengancam keselamatan raja.


"Jaya satria, ikuti aku, ada hal penting yang ingin aku bahas denganmu."


"Sandika gusti prabu."


"Yunda dan raka kembalilah dahulu, maafkan aku tidak bisa ikut dengan yunda dan raka masuk ke istana."


"Baiklah rayi prabu, berhati-hatilah, kami akan menunggu rayi di ruang makan setelah magrib nanti."


"Tentu saja yunda."


"Jika terjadi sesuatu padamu, katakan saja pada kami, kami akan selalu bersamamu rayi Prabu, jangan sungkan untuk meminta bantuan pada kami"


"Itu benar rayi prabu, meskipun dirimu sekarang adalah seorang raja? Tapi kami adalah kakakmu. Jadi jangan ragu untuk mengatakan keluhanmu pada kami."


"Terima kasih raka, yunda. Kebaikan yunda serta raka akan aku ingat, kalau begitu aku pamit dulu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat senang mendengarkan ucapan mereka. "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, sampurasun."


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."


"Rampes."


Setelah itu sang pergi bersama jaya Satria menuju suatu tempat. Sementara itu, Raden Hadyan Hastanta, Putri Andhini Andita dan Putri Agniasari Ariani masuk ke dalam istana. Apa yang akan dibicarakan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria?. Temukan jawabannya.


......***......


kembali ke masa itu.


Di sebuah tempat, dimana hanya ada kesenangan anak muda. Para pangeran yang ingin adu ilmu kadigjayaan, serta ilmu kanuragan, bahkan tak segan-segan pamer harta. Mereka hanya ingin bersenang-senang saja, tanpa adanya yang menghalangi. Karena itulah arena itu dibuat untuk, gagahan saja bagi mereka yang merasa tinggi derajatnya dari yang lainnya.


"Hadirin yang berbahagia." Terdengar suara laki-laki dengan bersemangatnya menyapa mereka semua. "Sepertinya raden semana hayana, masih berada diperingkat pertama dalam pertarungan ini." Ia semakin bersemangat ketika menyebutkan nama Raden Semana Hayana.


Sehingga beberapa dari mereka ada yang menyambut itu dengan tepukan tangan, dan ada juga yang merasa kesal karena pernah kalah dari Raden Semana Hayana. Kekuatannya begitu tinggi hingga hampir tidak ada yang bisa mengalahkannya.


"Apakah masih ada yang mau melawannya? Apakah masih ada yang ingin memamerkan kekuatannya? Silahkan saja naik ke atas panggung ini." Lawe Alas melihat bagaimana reaksi mereka yang benci pada Raden Semana Hayana.


"Aku yakin mereka tidak akan berani berhadapan lagi denganku." Dalam hati Raden Semana Hayana sangat bosan melihat sikap penakut mereka.


"Langsung saja naik ke panggung untuk menantangnya." Lawe Alas kembali mencoba berinteraksi dengan mereka yang hadir. "Tidak perlu basa-basi lagi, karena sepertinya Raden semana hayana telah siap untuk bertarung."


"Apakah hanya segitu saja nyali kalian? Kecil sekali jiwa kesatria kalian sebagai seorang pangeran terhormat." Raden Semana Hayana menatap mereka dengan sangat merendahkan.


Tentu saja mereka yang sakit hati mendengarkan itu merasa sangat tersinggung. Tak selang berapa lama, ada seseorang yang naik ke atas panggung dengan melompat ke atas. Sepertinya ia mendapatkan lawan yang lumayan tangguh.


"Siapakah Gusti raden ini? Apakah Gusti Raden ingin menjadi penantang pertama?." Lawe Alas sangat senang ketika melihat ada yang masuk ke arena. "Dengan begini pekerjaanku masih berlanjut." Dalam hatinya malah cemas akan hilang pekerjaan jika tidak ada yang mau menantang Raden Semana Hayana.


"Tentu saja aku ingin menantangnya, apalagi memangnya kalau bukan untuk itu?." Hatinya sangat panas karena merasa terhina dengan ucapan tadi. "Aku tidak takut sama sekali dengan kau!." Suaranya yang tinggi itu menggambarkan dengan sangat jelas bahwa ia memiliki harga diri sebagai seorang pangeran yang tidak mau direndahkan begitu saja.


"Ho? Punya nyali juga kau ingin menantang aku? Luar biasa." Raden Semana Hayana merasa tertantang.


"Tentu saja! Nyaliku masih lebih kuat dibandingkan jurus-jurus yang akan kau keluarkan!." Hatinya semakin memanas.


"Kalau begitu majulah! Tidak usah kau banyak bicara." Raden Semana Hayana balik menantang.


"Baiklah Gusti Raden yang terhormat, jangan sungkan lagi untuk menunjukkan bagaimana kekuatan yang kalian miliki." Lawe Alas mempersilahkan mereka untuk melakukan pertarungan itu.

__ADS_1


Pertarungan mereka dimulai, mereka saling memamerkan ilmu Kanuragan yang mereka miliki. Sementara itu, ada sepasang mata yang sedang mengamati dan pertarungan itu. Dari apa yang ia dengar tentang Raden Semana Hayana, ada yang mengatakan, jika Raden Semana Hayana adalah putra raja yang sangat kurang ajar. Suka bermain dengan wanita mana saja, dan bahkan mengambil hal yang tidak seharusnya ia lakukan.


"Benar-benar orang yang sangat tidak tahu malu." Dalam hatinya sangat kesal dengan itu. "Jadi dia yang telah berani membuat iba hati wanita?." Dalam hatinya saat itu bertanya-tanya sikap Raden Semana Hayana.


Sementara itu yang lainnya sedang bersorak gembira?. Mereka ada yang mendukung Raden Semana Hayana dan ada juga yang ingin ia jatuh saat itu juga di tangan Raden Gempar Alam.


"Ibuku adalah seorang wanita, dan dia telah berani melukai wanita, akan aku bunuh dia." Ia sudah gatal ingin menghajar Raden Semana Hayana. Saat itu ia dimintai seseorang untuk menghajar Raden Semana Hayana agar sadar atas apa yang telah diperbuatnya.


Kembali ke arena pertarungan.


Pertarungan kali ini masih dimenangkan oleh Raden Semana Hayana, pertarungan yang sangat ganas, jurus-jurus yang dimainkan oleh Raden Semana Hayana sangat berbahaya, sangat mematikan. Raden Gempar Alam terpaksa mengakui kehebatan yang dimiliki oleh Raden Semana Hayana. Kekuatan mereka jauh berbeda, sehingga ia harus mengakui kekalahannya.


"Sangat luar biasa sekali Raden semana hayana." Dengan penuh kebanggaan ia menyebutkan nama Raden Semana Hayana. "Tidak ada yang bisa mengalahkan Gusti Raden hingga sampai sekarang." Sebenarnya ada kecemasan yang ia rasakan, hanya saja ia tidak ingin memperlihatkan itu.


"Tentu saja aku adalah orang yang sangat luar biasa hebatnya." Ada kebanggaan yang ia rasakan saat itu.


"Apakah masih ada yang ingin bertarung?." Lawe Alas mengabaikan itu. "Jika masih ada silahkan masuk, dan selesaikan pertandingannya dengan cepat." Lanjutnya lagi.


"Aku rasa besok saja lanjutnya, lagipula aku sudah bosan untuk hari ini, dan aku akan bersenang-senang dulu." Nada suaranya terkesan meremehkan mereka semua.


"Apakah Gusti Raden yakin?." Lawe Alas memastikannya.


"Ya, lagi pula mereka juga tidak ingin bertarung denganku, mereka semua sangat pengecut!." Tatapan matanya memang sangat merendahkan mereka semua.


Tentu saja mereka yang mendengarkan itu merasa sangat sakit hati, hanya saja tidak berani berhadapan dengan Raden Semana Hayana secara langsung.


"Baiklah, sepertinya raden semana hayana ingin istirahat, besok masih bisa dilanjutkan." Lawe Alas memang memahami situasi, ia juga tidak ingin memanasi suasana saat itu.


......***......


Malam telah menyapa, Raden Semana Hayana baru saja keluar dari sebuah rumah yang cukup mewah, suasana hatinya begitu bahagia, hingga terlihat jelas di wajahnya.


"Selain perusak harga diri wanita." Ada suara yang menyapa dirinya dengan nada marah. "Ternyata kau juga perebut istri orang, ketika suaminya tidak ada di rumahnya! Benar-benar perbuatan yang sangat bejad." Tatapan matanya sangat tajam.


"Siapa kau?!." Raden Semana Hayana terkejut ketika melihat sosok asing. "Berani sekali kau berkata seperti itu padaku?!." Hatinya sangat memanas. "Apa kau tidak punya pekerjaan selain mengikutiku?! Atau jangan-jangan kau ingin ikut denganku?!." Ia sangat penasaran dengan pemuda itu.


"Aku akan memperkenalkan diriku dipertarungan besok, dan tunggulah aku." Balasnya dengan kesalnya. "Aku tidak sudi mengikuti orang bejad seperti kau!." Setelah berkata seperti itu, orang misterius itu melompat menjauh dari Raden Semana Hayana.


"Siapa dia?." Dalam hatinya bertanya-tanya. "Kenapa dia mengikuti aku? Tapi untuk apa?." Itulah yang membuat ia bingung. "Berani sekali dia mengatai aku bejad? Akan aku hajar dia nanti." Ia tadi masih menyimak ucapan pemuda aneh itu. "Benar-benar mulut kurang ajar!." Umpatnya dengan sangat kesalnya.


Saat itu ia sedang berada di sebuah rumah yang sangat mewah, ia memadu cinta bersama seorang wanita yang telah memiliki suami, namun siapa sangka ada seorang pemuda yang melihatnya keluar dari rumah mewah itu?.


"Sudahlah! Berpikir hanya membuat otakku terasa sakit! Akan aku tunggu dia besok, jika dia memang muncul." Ucapnya dalam hati. Ia tidak mau mengambil pusing dengan orang aneh itu. Setelah itu, ia pergi dari sana, dan ia tidak mau membebankan pikirannya hanya untuk itu. "Belum ada yang bisa mengalahkan aku, jadi aku tidak perlu takut lagi."


Apakah benar ia tidak takut pada orang misterius itu?. Temukan jawabannya.


......****......


Pertarungan di tempat yang sama, Raden Semana Hayana masih menantang pendekar atau pangeran yang memiliki ilmu kanuragan, ia sangat terlihat kuat di mata mereka semua. Ia tak terkalahkan, tidak ada yang berani berhadapan satu lawan satu dengannya.  Namun saat itu ia masih memikirkan pemuda malam tadi yang hendak menantangnya?.


"Kurang ajar!. Orang yang kemarin telah mempermainkan aku!." Dalam pertarungan, suasana hatinya merasa tidak tentram. itu karena orang semalam belum muncul juga.


"Sangat luar biasa sekali! Sepertinya Raden semana hayana memang sangat kuat, Gusti Raden semana hayana tidak terkalahkan." Lawe Alas terlihat bersemangat, namun masih ada kecemasan yang ia rasakan. "Apakah masih ada yang mau bermain-main dengan Gusti Raden semana hayana? Silakan saja masuk, jangan sungkan-sungkan."


Saat itu belum ada yang mau maju, mereka masih memikirkan resiko yang akan didapatkan jika masih berani berhadapan dengan Raden Semana Hayana.


"Ini gawat sekali, dia memang sangat kuat." Dalam hati Lawe Alas semakin cemas.


Namun saat itu siapa yang menduga ada seorang pemuda yang gagah masuk ke arena dengan cara melompat ke atas panggung pertandingan.


"Oh? Akhirnya kau datang juga." Raden Semana Hayana terlihat lega. "Aku kira kau melarikan diri, atau hanya sekedar untuk menggertak aku saja?." Nada sombong itu masih saja terpampang jelas.


"Aku tidak melarikan diri, dan itu bukanlah sebuah gertakan." Balasnya dengan santainya. "Tentunya aku akan berhadapan denganmu secara jantan."


"Kau punya nyali juga rupanya? Hebat juga kau." Ia sedikit terkesan.


"Tentu saja aku punya nyali untuk berhadapan denganmu." Balasnya tidak mau kalah.


"Baiklah hadirin, kita memiliki satu penantang baru, Gusti raden bisa memperkenalkan nama pada kami semua."  Lawe Alas mempersilahkan tamu untuk memperkenalkan diri.


"Namaku adalah raden cakara casugraha, dari kerajaan suka damai, dan aku datang ke sini untuk menghentikan semua tindakan bejatmu terhadap kaum wanita." Ada kemarahan yang ia rasakan saat itu.


Mereka semua yang mendengarkan itu terkejut, sepertinya akan ada balas dendam yang tercipta di sana. Apakah keduanya memiliki permasalah pribadi sebelumnya?. Itulah yang membuat mereka sangat penasaran.


"Apa urusanmu?!." Raden Semana Hayana sangat tersinggung. "Aku mau melakukan apa saja pada wanita! Kau tidak berhak mengatur aku!." Amarahnya sangat membuncah.


"Tentu saja itu urusanku!." Raden Cakara Casugraha sangat marah, hingga ia menunjuk kasar ke arah Raden Semana Hayana. "Karena aku memiliki seorang ibu, yang merupakan seorang wanita!." Ia sangat ingat dengan apa yang ia lihat saat itu.


"Ada apa ini? Sepertinya menang ada dendam pribadi diantara mereka." Dalam hati Lawe Alas menangkap bagaimana kemarahan dua orang pangeran yang sama-sama memiliki hati yang sangat keras.


"Wanita yang telah melahirkan aku dengan darah, dan keringat, serta nyawa! Kecuali kau? Ayang mungkin lahir dari rahim seorang bapak, maka aku tidak mempermasalahkannya!." Amarahnya benar-benar memuncak.


Ucapan Raden Cakara Casugraha membuat mereka semua tertawa, merasa lucu dengan ucapan itu. Mereka tidak menduga akan ada seorang laki-laki yang berkata seperti itu, tentu saja mereka tidak dapat menahan tawa.


"Bedebah sinting! Mana ada seseorang lahir dari rahim bapak? Kurang ajar sekali mulutmu itu!." Raden Semana Hayana juga marah, ia sangat tersinggung dengan ucapan itu. "Apakah kau sudah gila berkata seperti itu? Hah? Bahkan bocah saja mengetahui jika ia lahir dari rahim seorang ibu!." Bentaknya.


"Kalau kau sudah mengetahuinya? Tapi kenapa kau masih saja menyakiti hati wanita? Kau ini memang tidak tahu diri!."


"Tutup mulutmu! Sangat kurang ajar mencari tahu tentang diriku!."

__ADS_1


Kemarahan yang mereka rasakan semakin besar, dan pertarungan dimulai. Mereka semua menyimak pertarungan dua pangeran yang sedang dikuasai oleh amarah mereka masing-masing karena mempertahankan apa yang menurut mereka itu benar. Raden Semana mengeluarkan senjatanya, berupa pedang yang terlihat sangat tajam.


Raden Cakara Casugraha juga tidak mau kalah, ia mengeluarkan senjatanya berupa panah. Mereka menggunakan senjata untuk menyerang lawannya.


"Kau lumayan kuat juga." Kali ini Raden Semana Hayana bersikap siap siaga jika musuhnya menyerang.


"Aku tidak perlu pujian darimu!."


"Aku tidak tahu masalah apa yang kau tangguhkan padaku, tapi aku pasti akan mengalahkan mu."


Pertarungan yang sangat cepat, hampir saja tidak bisa disimak dengan baik oleh mereka.


"Ada banyak wanita yang ingin kau mati! Walaupun mereka telah dinodai olehmu! Aku adalah malaikat kematianku!."


"Kurang ajar! Kalau begitu, majulah!."


Keduanya kembali mengadu kesaktian mereka, sementara itu yang menonton pertarungan yang sangat menguras emosi. Dalam hati mereka berharap Raden Semana Hayana bisa dikalahkan oleh Raden Cakara Casugraha.


Beberapa kali Raden Cakara Casugraha berhasil menendang tubuh Raden Semana Hayana, terkadang ia dapat menghantam punggung Raden Semana Hayana dengan busur panahnya. Arena pertandingan telah menjadi ajang kematian yang sangat menyeramkan untuk dilihat. Keduanya menggunakan senjata yang sangat berbahaya untuk mengalahkan musuhnya.


"Kghagkh!." Raden Semana Hayana meringis kesakitan, ia melompat ke depan, menjaga jarak.


Pertarungan yang sangat menegangkan, namun saat itu ia mendengar sorak Sorai penonton yang merasa terhibur. Apalagi hatinya merasa kesal, karena ia merasa diremehkan penonton karena terkena beberapa kali pukulan dan hantaman.


Tring!


"Bedebah!." Umpatnya dengan sangat marahnya. "Tidak usah mengejek aku hanya karena terkena satu pukulan darinya, hyah!!." Ia banting  pedang ditangannya, setelah itu ia mengarahkan tenaga dalamnya ke penonton, membuat mereka terkejut, tidak bisa melawan.


Mereka hanya pasrah menerima serangan kuat itu, hingga mereka terluka, bahkan ada yang tak sadarkan diri. Mereka sangat terkejut dengan serangan kuat dari Raden Semana Hayana. Begitu juga dengan Raden Cakara Casugraha, ia sangat marah melihat itu, hingga ia banting busur panah yang ia gunakan tadi.


"Kurang ajar sekali dia itu!." Ia melompat ke arah Raden Semana Hayana, ia hajar berkali-kali tubuh itu dengan perasaan marah yang bergejolak.


Raden Semana Hayana yang tidak siap menerima pukulan itu hanya pasrah saja. Sementara itu penonton semakin tegang melihat betapa ganasnya Raden Cakara Casugraha saat ini, meskipun mereka terluka.


"Selain kurang ajar! Perusak wanita? Kau juga berhati binatang! Kau menyerang orang yang seharusnya tidak terlibat dalam pertarungan ini. Kau memang pantas mati!." Ia kunci gerakan Raden Semana Hayana, sehingga berteriak kesakitan. "Kau harus menerima hukuman dariku!."


"Lepaskan! Lepaskan aku!." Ia meronta-ronta ingin dilepas, ia merasakan tubuhnya tidak bisa digerakkan lagi, tenaga dalamnya seakan terkuras karena aura merah yang dikeluarkan Raden Cakara Casugraha. "Bedebah! Lepaskan aku!." Teriaknya dengan penuh amarah. Raden Semana Hayana tidak mudah menyerah, ia mencoba untuk membebaskan diri dari jeratan itu, tetapi semakin ia berontak, tekanan tenaga dalam itu semakin menyiksanya.


"Aku tidak akan melepaskan bajingan busuk seperti kau!." Raden Cakara Casugraha tidak mau melepaskannya begitu saja. "Aku bersumpah pada Dewata Agung, aku akan membunuh siapa saja yang berani menyakiti wanita!."


Drakh!.


Terdengar seperti suara retakan tulang yang sangat keras, penonton yang melihat itu tidak percaya, Raden Cakara Casugraha mematahkan bahu kanan Raden Semana Hayana.


"KHAGKH!."


Terdengar teriakan keras dari Raden Semana Hayana, sakit yang luar biasa, membuatnya tidak bisa bergerak lagi kecuali rasa sakit yang begitu dalam. Mereka yang melihat itu hampir tidak bernafas saking tegangnya pemandangan yang terjadi di hadapan mereka. Namun saat itu ketegangan itu sedikit longgar ketika Lawe Alas bersuara.


"Sepertinya kita memiliki pemenang, yaitunya raden cakara casugraha." Lawe Alas merasakan ketegangan itu, namun ia harus tetap tenang.


"Akan aku balas kau suatu hari nanti, raden cakara casugraha!." Meskipun rasa sakit luar biasa yang ia terima, namun sakit hatinya jauh lebih besar.


"Kau harusnya bersyukur, karena aku tidak membunuhmu! Aku beri kau satu kesempatan untuk memperbaiki sikapmu pada wanita! Jika suatu hari nanti aku bertemu denganmu, namun kau masih saja berkelakuan buruk terhadap wanita? Akan aku bunuh kau." Raden Cakara Casugraha mengancamnya, ia sangat marah, sangat terlihat dari auranya yang sangat berbeda dengan yang sebelumnya. Mereka yang menonton bahkan bisa melihat cahaya merah seakan menyelimuti tubuh Raden Cakara Casugraha.


Setelah itu, Raden Cakara Casugraha melompat keluar panggung, ia pergi entah kemana. Satu yang pasti, ia akan menenangkan kemarahannya.  Kemarahan yang ia lepaskan setelah bertarung tadi, kemarahan yang membuatnya bertarung seperti orang kesetanan.


...***...


Kembali ke masa ini.


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria menemui ratu Dewi Anindyaswari di kamarnya, keduanya duduk bersimpuh dihadapan ibundanya, menceritakan betapa sakitnya hati mereka saat itu.


"Ayahanda kalian pernah mengatakan, jika kemarahan yang kalian miliki adalah sumber kekuatan yang dapat menyakiti orang yang kalian anggap lawan." Ratu Dewi Anindyaswari mengelus kepala mereka, ia begitu gelisah dengan cerita putranya. "Semakin kalian marah? Maka kekuatan kutukan itu akan semakin menguasai kalian, hingga lepas kendali." Ada perasaan sedih yang dirasakannya sebagai seorang ibu, mengingat kejadian masa lalu.


Kejadian dimana ketika seminggu ia melahirkan. Prabu Kawiswara Arya Ragnala bertarung dengan seorang pendekar yang menginginkan kerajaan ini, namun kalah. Pendekar itu mengatakan jika anak yang akan dilahirkannya akan menjadi anak terkutuk, kemarahan yang dimiliki sang anak akan menjadi keganasan hingga ia akan menjadi seorang pembunuh sadis.


"Maafkan kami ibunda, kesalahan yang lakukan dimasa lalu."


"Maafkan nanda, yang tidak bisa mengendalikan amarah." Jaya Satria tentunya dapat merasakan itu. "Amarah yang membuat nanda merasa sedih karena ibunda yang diperlukan tidak adil di istana ini, ibunda." Hampir saja ia tidak dapat menahan air matanya.


"Sudahlah putraku." Ratu Dewi Anindyaswari tidak tega mendengarkan ucapan anaknya. "Itu hanyalah masa lalu, jangan diingat lagi nak." Hatinya terasa sedih. "Rasanya ibunda tidak sanggup untuk hidup karena nanda pergi dari istana karena itu." Ratu Dewi Anindyaswari mencium puncak kepala Jaya Satria, dan prabu Asmalaraya Arya Ardhana, ia tidak sanggup menahan air matanya.


Ratu Dewi Anindyaswari mengetahui jika itu bukanlah kesalahan anaknya, ia yang pada saat itu memang tertekan karena perlakuan dari Ratu Ardiningrum Bintari, dan Ratu Gendhis Cendrawati. anaknya tidak terima dengan apa yang dialaminya.


Fitnah-fitnah yang dilakukan oleh mereka hingga membuat anaknya terusir dari istana. Hatinya sangat sedih karena itu, namun siapa sangka, ternyata anaknya yang ia anggap benar-benar pergi meninggalkan dirinya, selama ini berada di dekatnya.


"Setidaknya kami merasa lega, karena ayahanda mengatakan jika ibunda, juga yunda berada di tempat yang aman selama nanda tidak ada di istana."


"Ya, setiap ayahanda datang, nanda selalu menanyakan kabar ibunda, juga yunda."


Keduanya sangat bersyukur dengan informasi yang didapatkan tentang Ratu Dewi Anindyaswari.


"Ibunda dan yundamu selalu berhati-hati, seperti yang nanda katakan." Ratu Dewi Anindyaswari juga merasakan itu. "Ayahanda kalian tidak pernah mengizinkan siapa saja datang ke istana selatan, karena itulah kami merasa aman, walaupun kadang ada sedikit masalah yang terjadi."


"Setidaknya itu semua telah berlalu ibunda."


"Sekarang kita telah berkumpul sesuai dengan janji nanda pada saat itu, bahwa nanda akan membahagiakan ibunda, mengangkat derajat ibunda sebagai Ratu agung di kerajaan ini."


Suasana menjadi haru, mengeluarkan semua yang dirasakan saat itu. Mereka yang terluka di masa lalu, dan sekarang dapat merasakan bagaimana kebahagiaan yang hendak mereka raih.

__ADS_1


...***...


__ADS_2