
...***...
Pertarungan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria melawan Segala Geni. Kali ini disaksikan oleh Prabu Wajendra Bhadrika. Ia penasaran kehebatan apa yang dimiliki oleh pedang Sukma Naga pembelah Bumi itu?.
Sementara itu Segala Geni mengeluarkan Senjata berupa tameng api yang sangat panas. Tameng atau pelindung berbentuk baja, seperti benda bulat yang di tepiannya terdapat duri-duri tajam yang siap menusuk lawannya.
"Majulah kalian bersamaan. Aku tidak takut sama sekali. Melawan kalian itu sangat mudah. Akan segel kekuatan yang kalian miliki."
"Cukup aku saja yang maju. Tidak usah kau memancing amarah diriku yang satunya lagi."
Jaya Satria memberi kode pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana agar tetap berada di belakangnya saat ini. Ia maju sambil menggesekkan ujung pedangnya ke tanah tiga kali seperti mengasah pedangnya, namun pedang itu menghasilkan percikan api.
Percikan api itu mengarah pada Segala Geni, namun Segala Geni dapat menahan percikan api itu dengan tameng yang berada ditangannya.
"Sialan, percikan api itu seperti sedang menguji seberapa kuat tameng api ku dapat menahan hawa panas yang ditimbulkan dari pedang itu." Dalam hatinya sedikit terkejut karena ia dapat merasakan bagaimana efek dari pedang sukma pembelah bumi itu.
"Boleh juga dia menggunakan pedang itu." Prabu Wajendra Bhadrika sedikit terkesan melihat pedang itu memercikkan api.
Namun belum sempat Segala Geni memikirkan hal lain, tiba-tiba saja Jaya Satria hampir saja menyerangnya, ia hampir saja terkena sabetan pedang itu jika ia tidak menyadarinya, dan menahannya dengan menggunakan tameng itu.
"Kau tadi berkata, tameng mu itu tameng yang sangat kuat. Namun yang aku rasakan tameng ini sedikit bergetar, setelah menerima percikan api dari pedangku."
"Bajingan busuk!. Diam kau!. Itu karena api memakan api, karena itulah tameng ini sedikit bergetar!."
"Kalau begitu, akan aku belah tameng itu beserta kau. Agar aku bisa menghentikan getarannya, yang sama sekali tidak enak untuk dirasakan."
"Banyak bicara!. Akulah yang akan memusnahkan mu!." Segala Geni merasa sakit hati, dengan apa yang dikatakan jaya satria, mengenai senjatanya juga dirinya. Setelah itu ia merapalkan mantram yang aneh untuk memperkuat tamengnya.
Tapi apa yang terjadi setelah itu?. Tiba-tiba saja tameng itu terlihat mengembang besar. prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang melihat itu langsung berlari ke depan, ia tarik baju belakang Jaya Satria agar menjauh dari tameng yang seakan hendak menerkam tubuh Jaya Satria.
Setelah itu ia salurkan tenaga dalamnya ke pedangnya, ia tebas ke arah kepala Segala Geni. Sayangnya Segala Geni menyadari serangan itu, tameng ditangannya bisa membentuk apa saja melindungi kepalanya, hingga tebasan itu dapat dihalangi dengan mudah.
Tameng yang berada di tangan Segala Geni seperti memiliki nyawa, dengan sendirinya menyerang Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria. Akan tetapi keduanya melompat mundur agar tidak terkena serangan aneh itu. Saat keduanya masih berada di udara ketika masih melompat menjauh agar tidak terkena serangan, keduanya melambari pedang mereka dengan aura merah yang sangat pekat ke pedang itu. Begitu kaki mereka telah menapak ke tanah, keduanya lanjutkan membuat gerakan tarian naga melingkar bumi. Gerakan mereka sama persis, seperti melihat seseorang yang sedang berdiri di depan cermin, saking miripnya gerakan yang mereka lakukan.
"Jurus itu terlihat berbahaya. Bagaimana mungkin seorang raja memiliki jurus berbahaya?." Prabu Wajendra Bhadrika melihat dengan seksama jurus itu seperti menyerap sukma lawannya. Menyerap Sukma lawan, sama saja dengan mengambil kekuatan jiwa lawannya. Bukan hanya itu saja kekuatan pedang itu, melainkan menebas sukma itu dengan sekali tebasan saja.
"Ayahanda. Raja itu sepertinya menyatu dengan bawahannya, seakan mereka satu raga dua jiwa yang terpisah. Gerakan mereka sangat mirip tanpa cacat sedikitpun." Bahakan putri Gempita Bhadrika juga dapat merasakan ada yang aneh dengan gerakan mereka yang sama.
Sementara itu Syekh Asmawan Mulia yang memperhatikan itu, juga Perapian Suramuara, dan Raden Hadyan Hastanta yang sedang menyalurkan tenaga dalamnya mereka untuk menolong kedua putri raja. Mereka tidak ingin menggangu keduanya dalam menghadapi Segala Geni.
"Bahkan nanda prabu juga lepas kendali. Ia tidak bisa membendung emosinya."
"Apakah kita akan membiarkan begitu saja syekh?."
"Saya sendiri juga sulit menghentikannya. Saya tidak bisa menghentikan kemarahan dari nanda prabu."
"Maaf jika aku menyela pembicaraan. Sebenarnya apa yang terjadi syekh asmawan mulia?. Aku yakin kau tau mengenai jaya Satria. Saat itu kami melihat kau begitu dekat dengan jaya Satria, dan saat ibunda dewi Anindyaswari mendekat, jaya Satria menghilang. Apa yang sebenarnya kalian sembunyikan dari kami semua?." Raden Hadyan Hastanta memiliki banyak pertanyaan.
Syekh Asmawan Mulia hanya terdiam, ia tidak tau harus menjawab apa. Karena janjinya pada sang Prabu harus ditepati.
"Katakan syekh, katakan padaku. Dia adalah adikku, dan aku berhak mengetahuinya."
"Maafkan hamba raden. Hamba tidak bisa mengatakannya, hamba telah bersumpah pada mendiang Gusti Prabu Kawiswara Arya Ragnala, untuk tidak mengatakan pada siapapun mengenai rahasia raden cakara casugraha."
Rasanya sangat ingin marah, namun apalah daya. Ternyata Syekh Asmawan Mulia telah bersumpah pada mendiang ayahandanya?. Dan itu artinya jika ia melanggar sumpah pada seorang raja, ia bisa terkena kutukan.
Kembali ke pertarungan.
Jurus yang dimainkan mereka, cukup merepotkan Segala Geni. Mantram yang ia gunakan untuk menyegel kekuatan keduanya seakan-akan tidak mempan, justru ia merasa dipermainkan oleh jurus tarian Naga melingkar bumi.
Gerakan pedang mereka yang berputar dari arah yang tidak bisa ia prediksi. Membuatnya berputar-putar seperti mangsa yang sudah terdesak, terjepit, tidak tau arah lagi. Namun Segala Geni tidak menyerah begitu saja, ia kembali mencoba merapal mantramnya, ia salurkan tenaga dalamnya ke telapak tangannya. Matanya tertuju pada Jaya Satria yang terlihat sedang lengah karena fokus dengan gerakan pedangnya.
"Matilah kau dalam kekuatan penyesalan karena telah berani melawanku!."
__ADS_1
Teriaknya dengan penuh kesenangan, raut wajahnya tampak bahagia karena ia sepertinya akan berhasil, melepaskan pukulan ke dada Jaya Satria dan menyegel kekuatan orang itu, namun disaat itu ia justru lengah.
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana justru menusukkan pedangnya dari arah belakang, membuat Segala Geni menghentikan langkahnya. Ia merasakan sakit yang luar biasa dari tusukan pedang itu.
"Kau pikir jurus tarian naga melingkar bumi itu jurus apa?. Jurusku ini hanyalah tipuan maya dalam lingkaran. Kau tau lingkaran bukan?. Tidak bertepi, yang pasti bisa menusuk ke arah mana saja yang ia sukai."
"Eqhaaaaaakh."
Disaat itu juga Jaya Satria menggunakan pedangnya untuk menebas sukma Segala Geni, hingga ia menjerit panjang, dan akhirnya tumbang ke tanah dengan keadaan mengenaskan.
Mereka yang melihat itu terkejut. Keduanya berhasil membunuh Segala Geni?. Sepertinya keduanya sudah tidak bisa dihentikan lagi. Kemarahannya telah menguasai tubuh mereka, hingga mereka terlihat ganas.
Jaya Satria dan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mendekati Prabu Wajendra Bhadrika dan putrinya. Keduanya masih tampak gahar karena masih mengeluarkan amarahnya.
"Siapa sangka, putra mahkota, putra dari prabu kawiswara arya ragnala memiliki kekuatan golongan hitam?. Aku baru melihat hal aneh ini."
"Diam kau!. Sudah aku katakan padamu!. Jangan sebut nama ayahandaku, dengan mulut kotormu itu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat kesal, dan mengayunkan pedangnya sekali. Namun memercikkan api ke arah Prabu Wajendra Bhadrika dan putrinya, membuat mereka sedikit mundur dan menghindar.
Prabu Wajendra Bhadrika mengernyitkan keningnya. "Bukankah yang tadi awal berkata seperti itu adalah orang bertopeng itu?. Hum, aku jadi penasaran." Dalam hatinya berkata seperti itu. Ia ingin melihat siapa mereka sebenarnya.
"Aku tidak akan mengampuni orang yang telah membunuh prabu kawiswara arya ragnala, dan aku telah bersumpah untuk membalasnya!." Kali ini jaya Satria yang berbicara.
"Lakukan jika kau mampu!. Akan aku pastikan kau lah yang akan mati ditanganku!." Prabu Wajendra Bhadrika sangat geram, ia tidak akan membiarkan dirinya diremehkan begitu saja oleh keduanya.
"Putriku, mundur lah. Biarkan ayahanda yang menghadapinya sendirian."
"Tapi ayahanda."
"Mundurlah!." Suaranya terdengar marah, ia membentak putrinya.
"Baiklah ayahanda." Ia mundur ke belakang, ia tidak mau ayahandanya marah padanya.
"Bersiap-siaplah kalian untuk menghadapi jurusku, jurus pelebur sukma yang aku gunakan pada prabu kawiswara arya ragnala."
"Kami juga memiliki senjata pelebur sukma. Pedang pelebur sukma namanya, dan kau pasti akan kami kalahkan!."
Mendengar itu, keduanya semakin marah, mereka langsung menyerang, Prabu Wajendra Bhadrika yang melihat mereka melompat ke arahnya sambil menghunuskan pedang itu, ia melompat ke atas, setelah itu ia pergi agak menjauh karena di belakangnya ada putrinya, ia tidak mau anaknya terkena dampak tebasan pedang mereka.
Keduanya yang melihat itu mengejarnya, tidak akan membiarkan prabu Wajendra Bhadrika melarikan diri. Namun begitu merasa aman Prabu Wajendra Bhadrika turun, dan ia telah menyiapkan jurus api kegelapan yang siap ia lepaskan pada keduanya.
"Hyaaaah."
Keduanya yang masih berada di udara dapat menahan serangan api itu dengan menyalurkan tenaga dalam mereka, memanfaatkan angin untuk mengusir serangan api kegelapan itu.
Api kegelapan itu berhasil ditahan, dan api kegelapan itu malah berbalik ke arah prabu Wajendra Bhadrika, membuatnya terhempas ke belakang. Akan tetapi masih bisa bertahan karena keseimbangan tubuhnya tetap terjaga, walaupun ia merasakan sakit akibat serangan yang berbalik ke arahnya. Keduanya berhasil menapakkan kaki di tanah, dan menghadapi prabu Wajendra Bhadrika.
"Ayahanda!."
Putri Gempita Bhadrika sangat khawatir melihat Ayahandanya yang terkena serangan.
"Ukhuk." Prabu Wajendra Bhadrika sedikit terbatuk, nafasnya sedikit ngos-ngosan.
"Heh!. Apa kau lupa. Angin itu dapat menghembuskan apa saja, termasuk menghembuskan api kegelapan milikmu itu." Jaya Satria mendengus kecil, dan setelah itu ia menyerang Prabu Wajendra Bhadrika, tidak akan ia berikan kesempatan raja Kegelapan itu beristirahat mengambil nafasnya barang sejenak.
Apalagi kemarahan masih menguasai dirinya, sementara itu Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengamati pertarungan itu dari jarak jauh.
Sementara itu disisi lain.
"Uhuk uhuk uhuk." Putri Andhini Andita dan putri Agniasari Ariani yang mendapatkan bantuan melalui tenaga dalam yang disalurkan oleh syekh Asmawan Mulia, paman Perapian Suramuara, dan Raden Hadyan Hastanta akhirnya bangun.
"Rayi, akhirnya kalian bangun juga." Ia sangat senang melihat adik-adiknya sudah sadar?.
Keduanya mencoba untuk bangun dengan dibantu oleh Syekh Asmawan Mulia dan paman Perapian Suramuara.
__ADS_1
"Apa yang terjadi pada kami?."
"Kenapa kami tidak sadarkan diri?."
"Kalian terkena jurus beracun milik nini kabut bidadari." Jawab paman Perapian Suramuara.
"Apa?. Uhuk uhuk lhalhu apa yang terjadi?."
Putri Agniasari Ariani terkejut, namun ia masih belum bisa berbicara dengan lancar seperti biasanya karena tubuhnya masih sakit.
"Tenanglah gusti putri, saat ini keadaan gusti putri belum sembuh total." Syekh Asmawan Mulia mencoba mengingatkan
"Lalu dimana jaya satria dan rayi prabu?. Aku tidak melihat mereka. Kemana merek?" Putri Andhini Andita yang masih kesakitan masih mengingat Jaya Satria dan adiknya?.
Namun pertanyaannya Putri Andhini Andita terjawab saat mereka mendengarkan suara ledakan dari arah tempat pertarungan yang tak jauh dari mereka.
"Bukankah itu, bukankah itu pedang Sukma Naga Pembelah bumi?."
Putri Agniasari Ariani terkejut melihat pedang itu berada di tangan adiknya?. Tidak, yang lebih membuatnya terkejut adalah Jaya Satria memegang pedang itu?.
"Bagaimana bisa orang yang bukan keturunan dari eyang prabu, bisa memiliki pedang yang sama dengan rayi prabu?. Tidak mungkin ayahanda salah dalam berbicara." Dalam hatinya tidak percaya.
Kita lihat bagaimana ledakan itu terjadi?. Ledakan itu akibat benturan tenaga dalam dari Jaya Satria dan Prabu Wajendra Bhadrika.
"Kegh."
keduanya meringis kesakitan, akibat benturan tenaga dalam mereka yang tidak biasa.
"Jaya satria, aku telah melihat titik-titik kelemahannya. Sekarang kita bisa gunakan pusaka kembar Keris naga penyegel sukma, untuk menghentikannya." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang dari tadi tidak ikut bertarung karena mengamati titik kelemahan prabu Wajendra Bhadrika.
Walaupun tidak bertarung, namun luka-luka yang dialami oleh Jaya Satria seakan berpindah padanya. Lihat saja Sudut mulutnya yang berdarah, itu tadi karena Jaya Satria terkena sepakan keras dari prabu Wajendra Bhadrika.
Begitu juga dengan bahu kirinya yang menghitam karena bahu kiri jaya satria yang terkena sambaran api kegelapan milik Prabu Wajendra Bhadrika.
Apa yang dialami Jaya Satria selama bertarung, maka dampaknya akan mengenai prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Dan mereka menyaksikan itu dengan penuh tanda tanya, kecuali Syekh Asmawan Mulia yang sudah mengetahui rahasia dari sang Prabu.
"Baiklah gusti prabu. Mari kita selesaikan masalah ini dengan cepat. Lama-lama kemarahan ini semakin memuncak, karena melihat wajahnya yang bodoh itu." Ucap Jaya Satria.
Jaya Satria dan prabu Asmalaraya Arya Ardhana menyimpan kembali pedang Sukma Naga Pembelah Bumi ke dalam tubuh mereka. Untuk sejenak mereka mengatur hawa murni mereka agar pedang itu tersimpan baik, setelah itu mereka mengeluarkan keris naga penyegel sukma.
Tentunya Prabu Wajendra Bhadrika sangat terkejut melihat itu keris itu. Bahkan ia merasakan kekuatan dari keris kembar itu seakan menarik jiwanya.
"bedebah!. Bagaimana mungkin mereka memiliki keris itu?. Bukankah keris itu bisa menyegel bangsa jin, bahkan membinasakan bangsa kami?."
Prabu Wajendra Bhadrika mulai merasa cemas, ia tidak menyangka mereka memiliki keris pusaka itu?. Artinya mereka datang ke sini dengan persiapan matang?
"Heh!. Kalian pikir kalian bisa membunuhku dengan kekuatan keris itu?."
"kau pikirkan saja sendiri, yang pasti keris ini akan menghentikanmu selama-lamanya!."
"Diam kau orang bertopeng!."
Kemarahan dan kekhawatiran melebur jadi satu dalam pikirannya, apakah ia sanggup menghindarinya?. Apalagi lama kelamaan pamor dari keris kembar itu semakin kuat, menghasilkan cahaya putuh yang menyilaukan.
"Cahayanya membuat sekitarnya lebih bercahaya dibandingkan tadi." Syekh Asmawan Mulia yang dari jarak jauh melihat itu, merasakan cahaya itu menyinari sekitar.
"Rayi prabu. Apa yang terjadi sebenarnya?. Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan rayi prabu." Putri Agniasari merasa cemas melihat adiknya, ia tidak menyangka akan melihat dua orang yang dapat menggunakan senjata pusaka, yang seharusnya tidak sembarangan orang mendapatkannya.
"Jaya satria, sebenarnya kau siapa?. Kenapa kemarahan yang kau tunjukan sama persis dengan rayi prabu dimasa lalu?." Entah kenapa putri Andhini Andita merasakan firasat yang tidak enak, melihat aura merah yang menyelimuti tubuh Jaya Satria.
"Jaya satria, kemarahanmu memang tidak berubah sama sekali. Sangat mengerikan, dan ganas." Perapian Suramuara mengingat bagaimana kemarahan jaya satria.
Tapi pertanyaannya adalah, apakah Jaya Satria dan prabu Asmalaraya Arya Ardhana mampu mengalahkan prabu Wajendra Bhadrika Raja Kegelapan?. Temukan jawabannya.
__ADS_1
Vote nya pembaca tercinta.
...***...