
...***...
Mereka kali ini ingin mendengarkan cerita dari Putri Agniasari Ariani mengenai pertemuannya dengan Raden Rajaswa Pranawa. Mereka memaksa Putri Agniasari Ariani untuk mengatakannya.
"Katakan pada kami rayi, kami hanya penasaran. Bagaimana bisa rayi bertemu dengannya."
"Ibunda juga penasaran, bagaimana bisa nanda putri bertemu dengan nanda rajaswa."
"Apakah rayi tega membuat kami mati dalam penasaran?."
"Ibunda juga ingin mendengarkannya nak. Ibunda ingin mendengarnya dari nanda."
"Lihatlah rayi. Ibunda dewi penasaran juga."
"Rayi prabu. Bisakah perintahkan pada mereka untuk tidak bertanya sekarang?. Rasanya yunda belum siap mengatakannya." Rengek Putri Agniasari Ariani pada adiknya dengan raut wajah memelas.
"Tidak apa-apa yunda. Katakan saja. Semuanya juga ingin mendengarkan cerita dari yunda."
"Rayi prabu."
"Ahahaha rayi prabu berpihak pada kami, maaf saja ya rayi agniasari ariani."
"Ayolah rayi agniasari ariani. Jangan pelit untuk berbagi cerita dengan kami."
Lagi-lagi mereka tertawa geli melihat tingkah Putri Agniasari Ariani yang mengundang gelak tawa mereka. Setelah itu Putri Agniasari Ariani hanya menghela nafasnya dengan pelan. Ia menyerah, jika adiknya mengatakan untuk menceritakan apa yang telah ia alami.
"Pada saat itu, aku sedang berada di sebuah desa yang cukup ramai. Aku yang sedang lapar-."
...***...
Kembali ke masa itu.
Di sebuah desa. Di sinilah Putri Agniasari Ariani berada. Pengembaraannya cukup jauh. Ia pergi kemana kakinya hendak melangkah. Tidak mengetahui sama sekali daerah yang ia lewati.
"Ya Allah. Rasanya perutku sangat lapar sekali." Ia melihat ada sebuah warung terbuka yang cukup ramai. "Kebetulan sekali ya Allah. Alhamdulillah hirobbil'alamin, terima kasih ya Allah." Dalam hatinya sangat bersyukur dengan apa yang akan ia dapatkan.
Putri Agniasari Ariani duduk di salah satu kursi yang masih kosong. Ia Memanggil seorang wanita muda, yang tampaknya pemilik kedai tersebut.
"Maaf, apakah saya bisa memesan makanan?."
"Mau pesan apa neng?. Akan saya sediakan apapun yang neng minta."
"Saya pesan nasi putih, serta lalapan jika ada. Dan saya juga haus. Apakah ada air yang cocok untuk seorang pengembara setelah perjalanan jauh?."
"Baiklah neng. Akan segera saya siapkan. Tapi neng, agak menunggu lama. Karena banyak yang memesan."
"Tidak apa-apa. Kalau begitu, saya minta air putih saja dulu. Saya tidak tahan lagi menahan haus."
"Kalau begitu akan saya ambilkan dulu ya neng, tunggu sebentar ya."
"Terima kasih paman."
"Sama-sama."
Pemilik kedai makan itu bergegas mengambilkan air putih permintaan Putri Agniasari Ariani. Namun ada sepasang mata yang melihat kedatangannya. Tapi yang lebih mencemaskan adalah. Ketika ada lima orang laki-laki dengan penampilan yang sangat gahar mendekati kedai makan terbuka itu. Sepertinya mereka memiliki suatu masalah, sehingga mereka datang ke sana. Dan benar saja, mereka datang membuat kerusuhan. Tentu saja mereka semua merasa ketakutan yang luar biasa.
"Gawat nyi, orang suruhan nyai delima sepertinya tidak suka jika ada yang menyaingi kedai makan miliknya."
"Lalu kita harus bagaimana kang?. Apakah kita harus mengalah lagi?."
"Entahlah nyi. Kita lihat situasinya dulu. Kita tidak mungkin membiarkan mereka bertindak semena-mena terhadap kita nyi."
"Tapi kita tidak memiliki kekuatan untuk melawan mereka."
Sepasang suami istri tersebut sangat takut, karena mereka tidak mampu melawan. Hanya bisa pasrah saja. Sama seperti pelanggan yang tadinya masih duduk, kini lari berhamburan karena takut. Kecuali dua orang yang yang terlihat kebingungan, mengapa mereka semua berlari ketakutan.
"Hei!. Kau!. Masih saja kau berani membuka kedai makanan ini. Apakah kau tidak mengetahui, bahwa nyai delima tidak suka ada saingannya?."
__ADS_1
"Ka-kami juga ingin mencari makan. Kami tidak ber-."
"Ah!. Tidak usah banyak bicara. Jika kalian memang masih sayang nyawa!. Sebaiknya kalian segera bereskan barang-barang kalian!. Atau kalian memilih untuk kami musnahkan!."
"Maaf Kisanak. Mengapa kisanak sekalian mengganggu kami yang sedang lapar. Apakah kisanak tidak punya pekerjaan lain?."
Mereka melihat ke arah Putri Agniasari Ariani yang berbicara dengan mereka.
"Hei!. Kau wanita muda. Kedai makanan ini tidak boleh disinggahi siapa saja, termasuk kau. Kalau kau lapar, kau bisa mendatangi kedai makan miliki nyai delima."
"Jangan neng. Selain mahal, kata warga desa yang makan di sana, makanannya tidak enak."
"Hus!. Jaga ucapan kalian!. Berani sekali kalian. Apakah kalian benar-benar ingin kami hancurkan?."
"Habisi saja kakang. Nyai delima akan suka mendengarkan kabar bahagia ini."
"Jangan dikasih ampun kakang."
"Hajar saja kakang. Lagi pula mereka itu lemah!."
Mereka tertawa keras, karena memang yang akan mereka hadapi itu hanyalah orang yang tidak akan berdaya sama sekali menghadapai Mereka. Namun mereka tidak mengetahui, siapa yang akan mereka hadapi. Kedua orang yang tinggal itu merasa kesal, dan menyerang mereka dari mereka. Sehingga kelima orang itu terjerembab ke tanah. Karena mereka ingin menyerang sepasang suami istri tersebut. Sementara itu, suami istri tersebut terkejut melihat apa yang dilakukan dua orang itu.
"Berani sekali kalian mengganggu makanku. Aku ini tidak suka diganggu ketika lapar."
"Sebaiknya kalian pergi. Aku sangat ganas, jika diganggu ketika lapar."
"Kurang ajar!. Berani sekali kalian menghajar kami!."
Kelima orang bertampang gahar merasa kesal. Mereka tanpa ragu menyerang keduanya. Akan tetapi keduanya melawan, sehingga terjadi pertarungan diantara mereka.
"Oh gusti, mereka malah bertarung toh kakang."
"Sebaiknya kita lihat siapa yang akan menang nyi."
"Loh?. Kakang ini aneh, kok malah senangan melihat mereka bertarung sih."
"Mereka itu bertarung dengan pendekar toh nyi. Anggap aja kedua anak muda itu lagi membela kita. Walaupun tidak gitu sih. Tapi, ya sedikit menghibur diri setidaknya dengan pertarungan mereka."
Sementara itu, Putri Agniasari Ariani dan pemuda yang belum dikenal identitasnya itu masih bertarung dengan lima orang laki-laki gahar. Mereka saling menyerang satu sama lain. Terkadang memberikan pukulan, terkadang sepakan, terkadang mengerahkan tenaga dalam mereka.
"Baiklah, kalau begitu aku akan menggunakan pukulan angin di ruang hampa yang diajarkan rayi prabu." Dalam hatinya merasa kesal. Ia hanya mengingat jurus itu, ketika perutnya yang lapar seperti ini. Rasanya otaknya sulit untuk berpikir.
Gerakan jurus itu terlihat cepat, sehingga mereka yang melihat itu terpesona. Termasuk pemuda yang membantu Putri Agniasari Ariani melawan kelima laki-laki gahar.
"Luar biasa sekali gerakannya. Sangat lincah dan terkesan anggun. Tapi jurus apa yang ia gunakan itu?. Aku baru melihatnya." Dalam hati pemuda itu merasa kagum dengan apa yang ia lihat.
Namun dalam kekaguman gerakan itu siapa sangka, kelima laki-laki gahar itu malah terkena jurus itu. Sehingga mereka meringis kesakitan. Rasanya tenaga dalam mereka cukup terkuras.
"Sebaiknya kalian pergi dari sini. Atau aku gunakan jurus penotok aliran darah, sehingga kalian tidak akan sanggup lagi bergerak. Mati perlahan, setelah itu aku beri jasad kalian ke buaya lapar. Aku jamin dosa kalian akan segera lenyap bersama jasad kalian."
"Tidak, kami tidak mau."
Mereka lari ketakutan mendengarkan ancaman dari Putri Agniasari Ariani. Mereka tidak berkata apa-apa lagi, selain meninggalkan tempat.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Apa yang mereka inginkan sebenarnya?. Mengapa mereka berbuat jahat seperti itu?."
"Neeeng. Neeeeeeng."
Sepasang suami istri tersebut mendekati Putri Agniasari Ariani, begitu juga dengan pemuda itu.
"Neng, terima kasih karena telah membantu kami."
"Iya neng. Tadi itu gerakan yang sangat cantik sekali neng. Gerakan yang bisa memukul mundur mereka."
"Jurus apa yang nisanak mainkan?. Jurus itu baru pertama kali aku lihat."
"Itu adalah jurus pukulan angin di ruang hampa udara. Pukulan yang memang menggunakan kecepatan, meskipun awalnya terlihat anggun, namun jangan tertipu dengan gerakan anggun tersebut." Ia tersenyum kecil, sambil menjelaskan jurus yang ia mainkan tadi.
__ADS_1
"Waaah hebat sekali neng."
"Hooh, sangat luar biasa sekali."
"Itu hanyalah jurus biasa. Aku tidak sehebat itu."
"Pendekar memang pandai merendahkan diri."
Mereka tertawa kecil, hanya sekedar ramah tamah, namun memang mereka tidak bisa menyembunyikan tawa.
"Kalau Begitu, sebagai gantinya. Silahkan duduk, kami akan membuatkan makanan enak untuk neng juga aden untuk makan. Pasti lapar setelah bertarung tadi."
"Benar atuh. Anggap saja sebagai balasan karena telah dibantu."
"Terima kasih banyak nyi, paman. Kebetulan, saya memang sangat lapar. Apalagi setelah melakukan perjalanan jauh."
"Saya juga lapar sekali. Karena seharian belum makan, tetapi tadi malah diganggu."
"Kalau begitu silahkan menunggu sebentar ya, kami akan siapkan dengan cepat. Mari duduk dulu."
"Akan kami bawa minum dulu, biar dahaganya hilang setelah tadi bertarung."
"Terima kasih nyi, paman. Kami merasa terbantu sekali."
"Sama-sama membantu neng."
Setelah itu, sepasang suami istri tersebut memasuki kedai mereka. Menyiapkan semua hidangan yang mereka masak tadinya untuk tamu lain. Tetapi mereka sudah keburu kabur, karena takut jadi korban. Sedangkan Putri Agniasari Ariani duduk bersama pemuda itu.
"Tadi itu sungguh gerakan yang hebat. Aku sangat terpesona melihatnya."
"Saya belajar dari adik saya. Karena bosan berada di rumah, saya mengembara."
"Jadi begitu. Memang hebat sekali. Tapi, siapa nama nisanak?. Jika saya boleh mengetahuinya."
"Tidak mungkin aku menggunakan nama asliku. Tapi nama apa yang akan sebutkan padanya?." Dalam hatinya sedikit bingung, karena ia tidak mau jika pemuda itu mengetahui nama aslinya, dan ia mengetahui jika ia adalah putri seorang raja?.
"Yunda. Jika yunda mengembara, sebaiknya yunda jangan menggunakan nama asli. Maka perjalanan yunda akan mengalami banyak rintangan yang sangat berat. Nyawa yunda bisa jadi taruhannya, karena mereka mengetahui siapa yunda." Tiba-tiba saja ia ingat dengan pembicaraannya dengan adiknya. "Lalu apa yang harus aku lakukan rayi prabu?." Ia mengingat lagi. "Gunakan saja nama-."
"Namaku cempaka putih. Aku hanya seorang pendekar yang suka keluyuran menurut kata hati."
"Nama yang sangat bagus sekali. Cempaka putih, seputih orangnya."
Putri Agniasari Ariani hanya tersenyum kecil mendengar ucapan itu. "Lalu siapa nama kisanak?. Jika saya boleh mengetahuinya."
"Aku tidak mungkin mengatakan namaku yang sebenarnya. Bisa gawat, bisa jadi dia adalah orang yang jahat, namun berpura-pura baik saja." Dalam hatinya sedikit waspada, jika memang Pendekar wanita yang duduk di hadapannya ini adalah seorang wanita sandiwara yang ingin membunuh siapa saja. "Oh, namaku dewarasa. Aku juga seorang pengembara."
"Wah, nama yang bagus juga. Dewarasa. Semoga saja kau selalu diberikan perasaan yang kuat untuk membela kebenaran."
...***...
Kembali ke masa ini. Mereka benar-benar menyimak cerita dari Putri Agniasari Ariani mengenai dirinya yang tidak sengaja bertemu dengan Raden Rajaswa Pranawa.
"Jadi rayi mengatakan, nama rayi adalah cempaka putih itu saran dari rayi prabu?."
"Benarkah itu rayi prabu?. Tapi itu nama yang sangat cantik sekali."
"Ya, nama yang sangat cantik."
"Benar sekali yunda. Aku menggunakan nama itu. Tapi setidaknya dengan begitu aku benar-benar aman saat bepergian."
"Benar yunda, raka. Aku hanya ingin yunda agniasari ariani merasa aman, tanpa satu orangpun yang mengetahui siapa jati dirinya."
"Oh syukurlah jika nanda putri merasa aman. Nanda prabu memang sangat perhatian pada saudarinya."
"Alhamdulillah hirobbil'alamin. Ibunda selalu merasa cemas, jika nanda putri pergi dari istana. Terima kasih nanda prabu. Dengan nama itu, yundamu benar-benar aman."
"Sama-sama ibunda."
__ADS_1
Mereka kembali bercerita mengenai hal yang lain. Sesekali mereka bertanya mengenai Putri Bestari Dhatu. Kedekatan mereka telah dimulai sebagai keluarga baru. Meskipun sebelumnya sudah saling kenal, namun masih canggung. Bagaimana kisah kelanjutan mereka?. Temukan jawabannya. Jangan lupa komentarnya ya pembaca tercinta.
...***...