RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
KESEDIHAN MENDALAM


__ADS_3

...***...


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sedang berhadapan dengan Raden Ganendra Garjitha dan Raden Gentala Giandra. Sementara itu tiga pendekar yang dibayar oleh mereka hanya mengamati saja.


"Kita hanya menunggu perintah saja. Jadi kita tunggu aba-aba dari mereka."


"Apakah tidak apa-apa seperti itu?. Sudahlah, tidak perlu banyak bicara. Kita amati saja situasinya."


Sedangkan Prabu Rahwana Bimantara berusaha untuk mendekati anaknya. Ia merasa iba dengan apa yang telah dilakukan oleh anak yang ia cintai.


"Aku telah memberikan tahta pada salah satu anakmu. Tapi mengapa kau masih tidak terima putriku."


"Aku hanya ingin putraku yang menjadi raja ayahanda. Putriku ambarsari tidak akan sanggup memimpin istana ini. Kita harus tegas pada rakyat ayahanda prabu."


"Oh dewata yang agung, bagaimana caranya aku mengatakan pada putriku. Bahwa apa yang telah ia lakukan adalah hal yang salah."


"Aku tidak salah menginginkan putraku menjadi raja ayahanda prabu. Aku hanya ingin ia bahagia dengan tahta yang ia miliki."


"Tapi cara yang kalian lakukan ini sangat salah nak. Apakah kau tidak mendengarkan perkataan dari nanda prabu. Bahwa kalian tidak akan pernah menjadi seorang pemimpin, jika hati kalian masih dipenuhi oleh kedengkian."


"Ayahanda prabu tidak usah ikut menasehati aku. Semua yang kalian katakan hanyalah sebuah kebohongan. Supaya kami hanya menurut pada ayahanda prabu."


"Oh,, aku tidak tahu bagaimana caranya, mengatakan padamu nak."


...***...


Sementara itu di luar dihalaman istana.


Raden Hadyan Hastanta dan Putri Ambarsari sedang menjalankan rencana mereka. Dengan jurus angin penghempas raga. Jurus yang dapat memurnikan hawa keberadaan mereka, sehingga tubuh mereka tidak terlihat oleh musuh beberapa detik. Dengan jurus itu mereka menyembunyikan diri mereka. Perlahan-lahan mereka dapat menyambar salah satu dari mereka.


SRAKH


"Eghaaaaaaak."


Teriakan keras terdengar dari lelaki kurus tinggi. Tubuhnya kena sabetan dari pedang Raden Hadyan Hastanta dan Putri Ambarsari. Mereka bekerjasama untuk menghabisi mereka satu persatu. Setelah berhasil mengalahkan satu, mereka kembali menghilang, menggunakan jurus yang sama.


"Setan belang, aku tidak menyangka mereka cukup hebat juga."


"Kita harus berhati-hati. Jika tidak, mereka akan menghabisi nyawa kita kiat semua."


Mereka semakin waspada terhadap serangan yang datang. Sayangnya jurus itu sama sekali tidak mereka ketahui, sehingga satu lagi diantara mereka berhasil dibinasakan oleh dua kakak adik itu.


"Bedebah!. Jurus pengecut!."


"Bertarung lah dengan jantan!. Jangan beraninya menggunakan jurus bersembunyi seperti itu."


"Kami terpaksa menggunakan jurus itu, karena kalian bertarung main keroyokan."


"Ya, kalau kalian memang jantan, hadapi kami satu persatu. Jangan hanya mengeluh saja, itu tidak adil namanya. Jadi jangan salahkan kami jika kami menggunakan jurus itu untuk mengalahkan kalian."


Mereka saling bertatapan satu sama lain. Delapan orang yang tersisa, mereka tidak menyangka akan mendapatkan balasan seperti itu.


"Kakang, meskipun mereka tidak menggunakan pedang itu. Sepertinya mereka pendekar sejati. Menggunakan pikiran mereka untuk mengalahkan kita semua."

__ADS_1


"Lalu apa yang harus kita lakukan?."


"Tidak mungkin kita lari dari gelanggang pertarungan ini kakang. Mau taruh dimana wajah kita jika ada yang mengetahui ini?."


"Tapi sepertinya kita tidak memiliki urusan dengan mereka."


"Dari awal juga sudah saya katakan untuk tidak terlibat dengan orang agung."


"Itu karena mereka berjanji akan memberikan kita pangkat yang bagus jika kita berhasil mengalahkan orang-orang ini kakang."


"Tapi aku ragu, apakah janji orang agung itu bisa ditepati. Biasanya jika dia sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan, dia akan lupa dengan janjinya."


"Ya, itulah yang aku takutkan jika kita berhasil mengalahkan musuh mereka."


"Lalu bagaimana tindakan kita?."


Sepertinya mereka masih ragu ingin melanjutkan pertarungan atau tidak?. Temukan jawabannya.


...*** ...


Kembali ke dalam Istana.


"Apa bedanya anak perempuan dengan anak laki-laki nak. Ayahanda mohon kembalilah menjadi putri ayahanda yang dulu. Sangat baik, menghormati siapa saja, mencintai siapa saja."


"Aku sudah melakukannya ayahanda prabu. Akan tetapi justru rasa sakit yang aku dapatkan. Aku hanya menginginkan anakku menjadi raja di istana kerajaan suka damai. Akan tetapi, anak dewi anindyaswari yang busuk itu malah menjadi raja."


"Sadarlah nak. Karena ambisimu yang berlebihan itulah kedua putramu tidak bisa mendapatkannya. Aku sendiri telah merasakannya ketika aku mencoba untuk duduk di singgasana sana itu. Aku melihat menantuku nanda prabu kawiswara arya ragnala marah padaku."


"Kenapa ayahanda prabu malah berkata seperti itu. Aku benar-benar muak!. Aku tidak akan pernah mendengarkan apa yang ayahanda prabu katakan!." Ratu Ardiningrum Bintari berteriak keras. Amarah telah menguasai dirinya.


CHEKH!.


Dengan tanpa perasaan, Ratu Ardiningrum Bintari menikam perut ayahandanya. Hati siapa yang tidak iba diperlakukan dengan kejam oleh anak sendiri.


"Kakek prabu!." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana segera mendekati Prabu Rahwana Bimantara. Ia segera menopang tubuh itu agar tidak limbung.


"Kakek prabu!." Jantung Prabu Asmalaraya Arya Ardhana berdetak kencang. Dadanya bergemuruh melihat apa yang terjadi barusan.


"Anak durhaka. Berani sekali kau menikamku!." Sakit, bukan hanya fisik saja, melainkan hatinya juga sakit karena diperlakukan seperti itu.


"Aku baru saja menikam ayahanda?." Dalam hatinya bertanya pada dirinya sendiri. Matanya melotot tidak percaya jika dirinya melakukannya, apalagi melihat darah ditangannya.


"Aku kutuk kau ardiningrum bintari!." Dengan penuh amarah sang Prabu mengutuk perbuatan putrinya itu. Saat itu terdengar suara petir yang menggelar.


"Ibunda!." Raden Ganendra Garjitha dan Raden Gentala Giandra mendekati Ratu Ardiningrum Bintari. Mereka tidak menyangka akan melihat tindakan nekat itu.


"Kakek prabu bertahanlah. Nanda akan mencabuti keris itu. Biar nanda obati, agar kakek prabu tidak merasakan sakit." Dengan suara bergetar, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba untuk mencabuti keris yang menancap di perut prabu Rahwana Bimantara.


"Tidak usah nanda prabu. Rasanya aku memang tidak kuat lagi."


"Tidak. Tidak. Kakek prabu tidak boleh berkata seperti itu. Kakek prabu harus kuat. Mari kita hukum, kita hukum mereka semua. Kakek prabu mampu bertahan, demi yunda ambarsari." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana berusaha menahan tangisnya. Ia tidak sanggup melihat hal yang seperti ini. Ia teringat dengan ayahandanya ketika itu.


"Aku sudah tua nanda prabu. Jadi wajar jika aku tidak sanggup lagi."

__ADS_1


"Kakek prabu harus kuat. Nanda akan menyalurkan tenaga dalam agar kakek prabu bisa bertahan. Nanda mohon dengarkan apa yang nanda katakan. Nanda tidak mau kehilangan kakek prabu. Cukup ayahanda prabu yang keras kepala yang akhirnya pergi meninggalkan nanda. Kakek prabu jangan meninggalkan nanda juga." Tangis dan amarah menjadi satu, hingga rasa pilu yang ia rasakan membuatnya sesak, hampir saja tidak bisa bernafas dengan benar.


"Astaghfirullah hal'azim gusti prabu. Mengapa bisa terjadi?. Mengapa gusti prabu tidak menjaga kakek prabu?." Bahkan Jaya Satria yang terhubung dengan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga merasakan kesedihan yang luar biasa.


"Haaaah aku sudah berusaha jaya satria. Aku sudah berusaha melakukannya. Akan tetapi, akan tetapi aku terlalu fokus."


"Oh nanda prabu. Rasanya aku bahagia karena masih ada yang mencintai dan menyayangiku dengan sepenuh hati." Prabu Rahwana Bimantara mengusap air mata Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Terima kasih karena nanda sangat baik padaku."


"Kakek prabu. Nanda mohon ya. Mari nanda obati kakek prabu. Kita baru saja dekat, kakek prabu jangan berkata seakan kakek prabu akan meninggalkan nanda."


"Takdir. Semua telah berjalan sesuai dengan takdir. Karena itulah aku titipkan istana serta kerajaan ini pada nanda. Angkatlah yundamu menjadi ratu istana agar dapat memimpin kerajaan ini dengan baik. Berjanjilah nanda."


"Hiks, hiks, kakek prabu. Bertahanlah barang sebentar."


"Jika aku diperkenankan meminta satu permintaan, aku ingin sekali lagi mendengarkan sholawat badar yang nanda lantunkan. Aku mohon nanda prabu."


"Ya Allah. Apa yang harus hamba lakukan. Rasanya tidak sanggup, rasanya sangat perih. Maafkan dosa hamba jika menolak takdir ini."


"Gusti prabu. Hamba mohon kuatkan hati gusti prabu."


"Nanda prabu."


"Baiklah kakek prabu. Nanda akan membacakan sholawat badar sesuai dengan kakek prabu. Tapi nanda mohon agar kakek prabu tidur dengan tenang tanpa adanya beban. Jangan kakek prabu bawa kenangan pahit hari ini dalam mimpi kakek prabu. Lupakan semua yang terjadi, nanda yakin kakek prabu akan bahagia ketika tidur."


"Ya, aku akan melupakannya. Aku ingin istirahat sebentar dengan lantunan pengantar tidur yang nanda prabu bacakan."


"Baiklah kakek prabu. Akan nanda lakukan."


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana membacakan sholawat badar sesuai dengan permintaan prabu Rahwana Bimantara. Ia berusaha menahan Isak tangisnya sambil melantunkan bacaan tersebut.


Hatinya sangat sedih, pilu, berduka, terluka. Apakah ia akan kehilangan orang yang ia cintai di dalam hidupnya?.


...***...


Sementara itu, di luar istana. Mereka semua mendengarkan bacaan sholat badar. Membuat mereka menghentikan pertarungan itu. Suara sedih, mengandung luka, namun indah untuk didengar.


"Suara siapa itu?."


"Entahlah. Aku baru mendengarkan suara merdu seperti itu."


"Suara itu sangat menenangkan hatiku. Rasanya seperti disiram oleh air telaga yang menyejukkan dahagaku selama ini."


"Yunda. Bukankah itu suara rayi prabu?."


"Rayi benar. Tapi mengapa rayi prabu membacakan bacaan itu?. Apa yang terjadi di dalam?."


"Kita lihat apa yang terjadi di dalam yunda."


"Mari rayi."


Putri Ambarsari dan Raden Hadyan Hastanta bergegas masuk ke dalam. Mumpung para pendekar itu sedang terhipnotis dengan suara Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


Apakah yang akan mereka lihat?. Temukan jawabannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2