
...***...
Jaya Satria dan Pupuh Ayu saat ini memasuki istana Kerajaan Teluk Mutiara. Namun, saat ini mereka tidak menyangka. Jika petinggi istana, serta raja-raja tetangga datang melihat keadaan Prabu Maheswara Jumanta. Sehingga mereka menatap keduanya dengan tatapan tidak suka.
"Nimas pupuh ayu. Aku tahu kau cucu dari mpu mahaprana, tapi mengapa kau membawa orang asing ini masuk ke istana. Di saat kami sedang berduka melihat kondisi gusti prabu yang sedang sekarat seperti ini?." Putri Hapsari Iswara merasa sedih.
"Mohon ampun gusti putri. Hamba datang untuk memberitahukan, bahwa ada utusan dari kerajaan suka damai." Jawabnya. Ia hanya tidak ingin ada kesalahpahaman yang akan terjadi.
"Utusan dari kerajaan suka damai?." Mereka semua bertanya-tanya. "Ada urusan apa, sehingga raja dari kerajaan suka damai datang kemari?." Putri Haspari Iswara penasaran.
"Hamba tidak mengetahuinya gusti putri. Itu karena utusan tersebut, hanya ingin menyampaikan berita penting pada gusti prabu." Pupuh Ayu melirik ke arah Jaya Satria yang dari tadi belum bersuara.
"Ada urusan penting apa yang engkau bawa dari rajamu?. Apakah ia tidak tahu bagaimana keadaan ayahandaku saat ini?." Suara itu menunjukkan ketidaksukaannya, disaat kondisi seperti ini ada Raja yang datang dengan utusan mereka?.
"Apalagi dia mengutus orang yang tidak bisa menunjukkan wajahnya. Bukankah itu suatu tindakan yang sangat mencurigakan?. Apakah raja itu, hendak menyatakan perang dalam kondisi seperti ini?." Ada hawa kemarahan, dikala ia merasa sedih, disaat ayahandanya yang tak kunjung juga bisa diobati oleh tabib manapun?.
Jaya Satria membuka membuka topeng penutup wajahnya dihadapan mereka semua. Mereka melihat wajah pemuda yang gagah rupawan, begitu menawan hati. Sejuk untuk dipandang, karena senyumannya yang tipis itu, mampu menghipnotis mata mereka semua.
Mereka tidak menyangka, ada wajah yang begitu tampan, tersembunyi dibalik topeng itu. Mereka mengira wajahnya buruk rupa, sehingga mengenakan topeng itu?.
Akan tetapi, disaat kekaguman mereka pada Jaya Satria.
"Raden cakara casugraha?." Ternyata salah satu Raja Bawahan itu, ada yang mengenali Jaya Satria sebagai Raden Cakara Casugraha?.
Mata mereka tertuju pada Prabu Sajana Reswara. Apalagi ketika ia mendekati Jaya Satria.
"Jika aku tidak salah ingat, bukankah kau adalah raden cakara casugraha?." Ia bertanya lagi, ia takut salah mengenali seseorang.
"Hamba gusti. Hamba adalah raden cakara casugraha." Jaya Satria memberi hormat pada Prabu Sajana Reswara.
Disaat itu juga, MPU Mahaprana juga mendekati Jaya Satria. Menatapnya dengan tatapan meneliti dengan baik.
__ADS_1
"Benarkah engkau adalah raden cakara casugraha?. Aku adalah mpu mahaprana." Mpu Mahaprana memperkenalkan dirinya.
"Benar mpu. Saya adalah raden cakara casugraha." Jawab Satria.
"Oh dewata yang agung. Akhirnya kau datang juga, raden cakara casugraha." Raut wajah kebahagiaan sangat jelas terpancar di sana. Ia tidak menyangka, jika Raden Cakara Casugraha sendiri yang datang menemuinya?.
"Eyang mpu. Sebenarnya siapa orang itu?." Putri Haspari Iswara tidak mengetahuinya sama sekali.
"Mohon ampun gusti putri. Jika boleh, nanti saja bertanya. Izinkan raden cakara casugraha untuk mengobati gusti prabu. Akan sangat berbahaya, jika kita menundanya lebih lama lagi." Balas Mpu Mahaprana.
"Baiklah eyang mpu. Jika memang kedatangannya untuk mengobati ayahandaku. Akan aku izinkan." Mau tidak mau, putri Hapsari Iswara mengizinkannya.
"Ayo raden. Segera obati gusti prabu." Mpu Mahaprana mempersilahkan Jaya Satria untuk berjalan mendekati tempat tidur Prabu Maheswara Jumanta.
"Baiklah mpu." Meskipun tidak mengetahui, pengobatan seperti apa yang dimaksudkan oleh MPU Mahaprana, namun Jaya Satria akan mencobanya.
Dengan sekuat hati, ia mencoba mendekati Prabu Maheswara Jumanta. Matanya tidak salah lagi melihat siapa, yang sedang terbaring di sana, dalam keadaan sekarat?. Entahlah, tapi itu kabar yang ia dapatkan.
"Hamba menghadap, sesuai dengan permintaan gusti prabu. Yang menginginkan bantuan dari hamba." Raden Cakara Casugraha atau Jaya Satria yang kini. Ia memberi hormat pada Raja tersebut, meskipun tidak ada tanggapan. Karena keadaannya yang tidak memungkinkan dirinya untuk membalas hormat dari Jaya Satria.
Sementara mereka yang melihat itu, merasa aneh. Sejak kapan Prabu Maheswara Jumanta mengutus seseorang menemui Raden Cakara Casugraha?. Termasuk Prabu Sajana Reswara yang merupakan kerabat dekat keluarga istana ini.
Namun, tiba-tiba sesuatu aneh terjadi. Membuat semua yang hadir di istana kerajaan Teluk Mutiara. Ada pancaran cahaya yang menyilaukan dari tubuh Jaya Satria. Yaitunya hawa dari Tombak Pusaka Kelana Jaya yang keluar dari tubuh Jaya Satria.
"Demi dewata yang agung. Bukankah itu tombak pusaka kelana jaya?." Mereka semua bertanya-tanya. Bagaimana bisa Jaya Satria, atau yang baru saja mereka ketahui itu adalah Raden Cakara Casugraha, memiliki tombak itu?.
Yang mereka ketahui, tombak itu adalah milik prabu Maheswara Jumanta. Seketika suasana istana menjadi ribut, tidak terkendali.
Namun terhenti, ketika Jaya Satria memberi kode pada mereka untuk diam?. Dan dengan paruhnya mereka menurutinya?.
"Sungguh luar biasa sekali, bisa mengendalikan suasana." Dalam hati Mpu Mahaprana merasa kagum dengan apa yang ia lihat.
__ADS_1
Akan tetapi, ada hal yang lebih berbeda dilihat oleh Jaya Satria, ketika menyelami keadaan Prabu Maheswara Jumanta saat ini.
Jaya Satria seakan ditarik paksa kesadarannya, melihat apa yang terjadi di masa Prabu Maheswara Jumanta masih sehat. Sepertinya Tombak pusaka Kelana Jaya ingin memperlihatkan padanya, bagaimana kondisi pada saat itu.
Di alam bawah sadar Jaya Satria. Ia melihat ada seorang laki-laki yang sedang memegang tombak pusaka kelana jaya dengan eratnya.
"Beliau adalah, prabu maheswara jumanta ketika masih sehat." Suara itu, suara dari seseorang?.
Jaya Satria tidak menyangka, jika suara itu berasal dari tombak kelana jaya yang kini berada ditangannya.
"Sebenarnya apa yang hendak engkau perlihatkan padaku?. Bukankah seharusnya, aku mengobati gusti prabu maheswara jumanta?."
"Jika gusti prabu ingin menyembuhkan gusti prabu maheswara jumanta, maka gusti prabu harus mencari dimana keberadaan sukmanya."
"Mencari keberadaan sukma gusti prabu maheswara jumanta?."
"Benar gusti prabu. Sebab, saat ini sukma gusti prabu maheswara jumanta, ditahan oleh ratu siluman dari penghuni istana gaib kerajaan teluk mutiara ini gusti."
"Astaghfirullah hal'azim. Mengapa sampai seperti itu?." Sungguh, Jaya Satria tidak mengerti sama sekali.
"Berhati-hatilah jaya satria." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana ternyata berdiri di belakang Jaya Satria. "Aku yakin, akan ada kekuatan gaib, yang akan menghalangi kita untuk menemukan prabu maheswara jumanta nantinya." Ia menatap lurus ke depan.
"Gusti prabu." Jaya Satria menghadap, memberi hormat Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Jaya Satria tidak menyangka, jika Prabu Asmalaraya Arya Ardhana masih bisa bersama dengannya?.
"Lalu apa yang harus kita lakukan gusti." Jaya Satria tidak mengerti, karena di alam sukma dimana mereka berada saat ini. Sama sekali tidak melihat apapun, kecuali kegelapan malam yang mencekam.
Apa jawaban dari prabu Asmalaraya Arya Ardhana?. Temukan jawabannya. Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya.
Salam cinta untuk pembaca tercinta.
...***...
__ADS_1