RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
MASIH ADA PERASAAN KAH?.


__ADS_3

...***...


DUAKH


"Aaaakgh."


Pukulan keras mendarat di telapak tangan Raden Cakara Casugraha. Sehingga ia meringis kesakitan. Sepertinya Ratu Ardiningrum Bintari, memukulnya dengan sepenuh hatinya.


"Putraku!. Kuatkan dirimu nak. Maafkan ayahanda yang tidak bisa membantumu saat ini." Dalam hati Prabu Kawiswara Arya Ragnala mencoba untuk menguatkan dirinya.


"Pukul lebih kuat lagi ibunda. Biar ia merasakan sakit yang kita rasakan selama ini."


"Benar ibunda. Nanda sakit hati karena sikap kasarnya itu."


DUAKH


"Kegh."


Ratu Ardiningrum Bintari semakin bersemangat memukul tangan Raden Cakara Casugraha. Hingga ia memejamkan erat, menahan sakit yang mendera telapak tangannya.


"Kau rasakan itu cakara casugraha. Kau akan merasakan sakit yang kami rasakan." Dalam hati Ratu Gendhis Cendrawati merasa puas dengan apa yang ia lihat.


DUAKH


"Kegh."


Lima belas pukulan, dan telapak tangannya telah memerah dengan sempurna. Bahkan ada darah terlihat di telapak tangannya. Bukan hanya itu saja, Raden Cakara Casugraha bahkan menahan nafasnya sesekali, karena tangannya juga gemetaran menahan sakit akibat pukulan itu.


"Rasanya sangat puas, melihat wajahnya yang kesakitan seperti itu." Putri Ambarsari tidak bisa menyembunyikan perasaan hatinya yang terlalu bahagia.


Sementara itu, mereka semua tertawa dalam hati. Sorot mata mereka memancarkan kebahagiaan dan kepuasan yang luar biasa. Menyaksikan Raden Cakara Casugraha dihukum seperti itu. Bahkan mereka menginginkan hukuman yang lebih dari itu.


"Harusnya dia lebih menderita dari yang ini. Tapi untuk saat ini, melihatnya yang kesakitan seperti itu saja membuat aku senang." Putri Andhini Andita tersenyum puas melihat wajah kesakitan Raden Cakara Casugraha.


DUAKH DUAKH


"Kghaakh."


Tubuhnya bahkan sampai gemetaran, karena pukulan itu semakin menyakitkan tangannya. Rasa sakit yang tidak bisa ia tahan lagi.


"Kau rasakan sakitnya anak setan." Dalam hati Ratu Ardiningrum Bintari semakin bersemangat menghajar tangan Raden Cakara Casugraha.


DUAKH.


"Eghaaakh."


"Cukup!."


Prabu Kawiswara Arya Ragnala menarik tangan Raden Cakara Casugraha, sehingga Ratu Ardiningrum Bintari terkejut, karena pukulannya tidak mengenai targetnya.


"Kanda prabu."


"Ayahanda prabu."


Mereka semua terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Prabu Kawiswara Arya Ragnala.


"Apa yang kanda prabu lakukan." Ratu Ardiningrum Bintari terkejut, ia tidak menyangka jika suaminya menarik tangan Raden Cakara Casugraha, sehingga pukulannya meleset dari target.

__ADS_1


"Ekgh."


Raden Cakara Casugraha meringis sakit. Tubuhnya sampai gemetaran menahan sakit itu.


"Hukuman mu sudah cukup putraku." Prabu Kawiswara Arya Ragnala tidak tega melihat anaknya sampai kesakitan seperti itu.


"Kanda prabu. Dinda belum selesai menghukumnya kanda prabu."


"Kanda prabu. Mengapa kanda prabu membelanya?. Hukumannya belum selesai.".


"Ayahanda prabu. Mengapa ayahanda menghentikan hukuman rayi cakara casugraha?."


"Katakan pada kami alasannya ayahanda."


"Benar ayahanda Prabu. Ini namanya tidak adil."


"Apakah ayahanda ingin pilih kasih?."


"Ayahanda prabu. Biarkan ibunda ratu menghukum rayi cakara casugraha. Agar dia jera jika ingin melakukan sesuatu pada kami ayahanda."


"Tidak apa-apa ayahanda prabu. Biar mereka puas melihat nanda menderita. Itu yang mereka inginkan ayahanda prabu." Dengan suara bergetar menahan sakit, Raden Cakara Casugraha menatap sendu ayahandanya.


"Tidak putraku. Ini bukan hukuman yang adil untukmu. Mereka benar-benar ingin menyiksa nanda."


"Kanda prabu. Apa yang kanda prabu katakan." Ratu Ardiningrum Bintari terkejut mendengarkan apa yang dikatakan suaminya.


"Kanda tahu, jika nanda cakara casugraha bukan anak kandung dinda. Tapi bagaimanapun juga, ia adalah putra dinda. Sejahat apapun, ia masih tetap putra dinda. Jangan dinda turuti kemarahan dinda dalam menghukumnya." Tidak sampai hati Prabu Kawiswara Arya Ragnala melihat tangan anaknya yang penuh darah, dan luka gores akibat pukulan itu.


"Dinda menghukumnya karena ia telah berbuat hal yang membahayakan nyawa dinda."


"Apakah dinda akan tetap akan menghukum salah satu putra dinda, jika mereka berbuat salah. Apakah dinda akan tetap menghukum mereka, jika kanda katakan bahwa yang telah memecahkan kendi kesayangan dinda itu sebenarnya adalah nanda gentala giandra?. Kanda sendiri yang menyaksikan itu. Tapi mereka malah menuduh nanda cakara casugraha yang melakukannya. Apakah dinda akan memukul tangan putra dinda, jika kanda perintahkan untuk menghukumnya?." Ucap Prabu Asmalaraya Arya Ardhana masih ingat dengan kejadian masalah pecahnya Kendi hiasan milik Ratu Ardiningrum Bintari.


"Kanda jangan menyangkut pautkan masalah lain dengan hukuman nanda cakara casugraha. Dinda hanya ingin nanda cakara casugraha menyadari kesalahannya."


"Ini hukuman yang berlebihan. Ketika anak-anak dinda melakukan kesalahan. Apakah kanda menghukum mereka sampai mengeluarkan darah seperti itu?. Sebagai seorang ibu, dinda harusnya lebih bersabar, dan jangan sampai menimbulkan perpecahan diantara mereka bersaudara."


Mereka hanya terdiam mendengarkan apa yang dikatakan oleh Prabu Kawiswara Arya Ragnala. Karena memang kenyataan yang dikatakan oleh sang Prabu.


"Nanda cakara casugraha ke sini untuk meminta maaf dengan tulus. Apakah dinda tidak merasa tersentuh sedikitpun?. Apakah kanda harus turun tangan, mengatakan semua kesalahan kalian, dan kanda akan menghukum kalian semua atas rencana yang ingin kalian lakukan?." Sang Prabu sedikit mengancam mereka.


"Ampuni dinda. Jangan hukum dinda kanda prabu."


"Jangan hukum kami kanda prabu."


"Maafkan kami ayahanda prabu."


Mereka semua takut dihukum oleh Prabu Kawiswara Arya Ragnala. Mereka tidak menyangka akan mendapatkan ancaman seperti itu.


"Kalau begitu masalah ini kanda anggap selesai. Tidak ada lagi masalah baru setelah ini. Kanda hanya tidak ingin ada dendam diantara kita. Apakah kalian mengerti?."


"Kami mengerti kanda prabu."


"Kami mengerti ayahanda prabu."


Mereka hanya menurut, dari pada mendapatkan masalah jika berani membantah apa yang dikatakan oleh Prabu Kawiswara Arya Ragnala.


"Kanda harap, kalian tidak memancing keributan lagi. Kita ini adalah keluarga. Apakah kalian tidak malu?. Jika rakyat mengetahui, keluarga istana saling bermusuhan."

__ADS_1


Tidak ada tanggapan dari mereka. Karena mereka takut dengan ancaman yang dilayangkan sang prabu.


"Mari kita pergi dari sini nak."


Prabu Kawiswara Arya Ragnala menggendong putranya Raden Cakara Casugraha. Ia begitu perhatian pada anak bungsunya itu. Sementara mereka menatap iri dengan apa yang dilakukan oleh Prabu Kawiswara Arya Ragnala terhadap Raden Cakara Casugraha.


Setelah itu sang Prabu membawa anaknya pergi dari sana. Karena ia ingin mengobati luka yang dialami oleh anaknya.


"Ayahanda prabu. Yang sakit itu tangan nanda, bukan kaki nanda."


"Maafkan ayahanda. Jika ayahanda telah membuatmu terluka nak."


"Terima kasih ayahanda." Raden Cakara Casugraha memeluk erat leher ayahandanya. "Maafkan nanda, jika nanda telah mengecewakan ayahanda prabu."


"Tidak nak. Nanda tidak pernah mengecewakan ayahanda." Rasanya sang Prabu hampir saja meneteskan air matanya. Karena pada dasarnya anak bungsunya ini adalah anak yang baik. Hanya keadaan yang membuat anak bungsunya terkesan jahat luar biasa.


Sang Prabu membawa anaknya ke ruang pengobatan. Namun siapa sangka, ia malah berpas-pasan dengan Ratu Dewi Anindyaswari dan Putri Agniasari Ariani.


"Putraku. Apa yang terjadi padanya pada putraku kanda prabu." Dengan perasaan cemas, ia melihat anaknya yang sedang digendong oleh suaminya.


Prabu Kawiswara Arya Ragnala menurunkan Raden Cakara Casugraha dari gendongannya.


"Rayi. Apa yang terjadi padamu rayi. Mengapa tanganmu sampai berdarah seperti itu?."


"Oh dewata yang agung. Apa yang terjadi pada tangan nanda?. Mengapa sampai berdarah seperti ini?." Ratu Dewi Anindyaswari begitu terkejut dengan keadaan telapak tangan anaknya.


"Kanda prabu. Apa yang terjadi pada putra kita?." Ratu Dewi Anindyaswari sangat cemas.


"Ooh itu,,, tadi nanda latihan bersama ayahanda prabu. Karena terlalu bersemangat, nanda sampai melukai tangan nanda dengan memukul keras batang kayunya ibunda."


"Kenapa nanda melakukan hal yang membahayakan seperti itu?. Bagaimana kalau terluka parah?."


"Benar rayi. Lihatlah, lukanya sampai berdarah seperti itu."


Keduanya merasa cemas dengan apa yang diceritakan oleh Raden Cakara Casugraha.


"Maafkan kanda, dinda dewi."


"kanda prabu. memangnya latihan seperti apa yang kanda berikan pada putra kita."


"Ayahanda prabu tidak salah ibunda. Nanda saja yang terlalu bersemangat ibunda. Nanda yang salah."


"Oh putraku. Berhati-hatilah nak. Jangan buat ibunda merasa khawatir nak. Nanda juga harus memperhatikan keselamatan nanda."


"Maafkan nanda, ibunda."


"Ya sudah. Kalau begitu mari kita obati luka nanda. Ibunda takut terjadi sesuatu padamu nak."


"Terima kasih atas kebaikan ibunda." Raden Cakara Casugraha mencoba untuk tersenyum, agar ibunda tidak merasa khawatir padanya.


"Itu karena ibunda menyayangi nanda."


"Yunda juga sayang pada rayi."


"Terima kasih ibunda, yunda."


"Putraku cakara casugraha. Ia berbohong agar dinda dewi tidak mencemaskan keadaannya. Hatinya sangat baik, hanya saja kemarahan itu yang mudah terpancing dan akhirnya meledak. Sungguh, ayahanda sangat menyayangimu nak." Ada perasaan bangga terselip di hatinya tentang putranya Cakara Casugraha.

__ADS_1


Apa yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya. Mohon dukungannya ya pembaca tercinta.


...****...


__ADS_2