
...***...
Jaya Satria menatap keempat sukma naga yang saling bertarung itu. Seakan tidak ada habisnya, mereka bertarung untuk mendapatkan tempat. Jaya Satria atau nama aslinya Bahuwirya Cakara Casugraha tidak mengerti sama sekali, mengapa mereka malah jadi seperti ini?. Bagaimana mungkin mereka bisa bertarung, sementara waktu sebelumnya mereka bisa bersama?.
"Belah raga." Ucap pendekar tabib wanita itu. "Mungkin sebelumnya mereka bisa menyatu karena ragamu bisa menampung kebaikan dan kejahatan yang telah terpisah dengan baik." Lanjutnya. "Namun saat ragamu bergabung karena batu nirwana itu, mereka saling bertarung untuk memperebutkan tempat mereka yang sebelumnya."
Namun tubuh Jaya Satria malah bergetar takut, sehingga rasanya ia tidak bisa bergerak lagi. Kakinya seakan terpaku ditempat.
"Jaya satria. Apa yang kau takutkan?. Apa yang membuatmu gelisah?. Apakah kau sudah tidak percaya dengan takdir yang telah ditetapkan oleh Allah SWT?."
Jaya Satria hanya diam, tidak menanggapi apa yang dikatakan oleh Pendekar wanita itu. Setelah itu ia kembali melihat ke arah keempat sukma naga.
"Mereka semua berontak, karena merasakan kegelisahan yang kau rasakan jaya satria. Itu alasan lain mengapa mereka bertarung di alam sukma mu. Sehingga mereka ingin menguasai satu sama lain. Pedang dan batu memang memiliki perbedaan. Namun sebenarnya, tetaplah sama-sama ciptaan Allah SWT." Ia juga menatap keempat sukma naga itu. "Batu memang tidak bergerak, sama seperti raga keduamu. Sedangkan pedang, adalah kau yang asli jaya satria. Yang lebih suka bergerak, karena kau tidak bisa mengendalikan kemarahanmu."
Entah mengapa, Jaya meneteskan air matanya saat mendengarkan apa yang dikatakan oleh pendekar tabib wanita itu. Rasanya memang ia memiliki banyak kegelisahan, dan kecemasan setelah raganya dimusnahkan oleh pendekar segala Tahu.
"Tapi apakah kau tidak pernah berpikir bahwa kau terlalu menangisi, meratapi sukma keduamu sehingga mereka juga ikut merasa kehilangan?. Coba sadari dirimu sendiri jaya satria. Sadarilah kesedihan yang berlebihan itu tidak baik, raden cakara casugraha." Pendekar tabib wanita itu ingin menyadarkan Raden Cakara Casugraha tentang ketakutan yang ia rasakan setelah kehilangan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang sebenarnya adalah dirinya sendiri.
"Ya, menangis lah jaya satria. Kau butuh tempat untuk menangis, dan jangan kau pendam sendirian. Kau berhak untuk tersenyum bahagia." Ia tersenyum tulus menatap Jaya Satria. "Jika kau merasa gelisah, gundah, dan sedih. Maka kau tahu, siapa tempat yang paling pantas untuk mengadu bukan?."
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Ampunilah dosa hamba. Dosa hamba yang masih meragukan kebesaran-Mu." Jaya Satria menangis terisak sesegukan.
Sementara itu di alam nyata. Mereka yang melihat itu hampir saja tidak percaya, jika mereka melihat Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menetaskan air mata?. Meskipun matanya terpejam, dan mulutnya bergetar sambil membaca kalimat istighfar.
"Oh putraku cakara casugraha. Kuatkan lah dirimu nak." Rasanya Ratu Dewi Anindyaswari tidak tega melihat anaknya. Ingin sekali ia membantu anaknya, akan tetapi ia tidak memiliki kekuatan untuk itu.
__ADS_1
"Rayi prabu. Apa yang terjadi padamu di alam sukma?. Apakah ada hal yang membuatmu merasa sedih?. Sehingga kau menangis seperti itu rayi prabu." Dalam hati Putri Andhini Andita merasa gelisah, dan ia mencoba menghapus air matanya yang mengalir di pipinya. "Kau pasti bisa melewati semua ini rayi prabu. Aku yakin kau bisa, sama seperti ketika kau ditikam dengan keris waktu itu." Hatinya sangat iba mengingat semua yang terjadi pada adiknya.
"Rayi prabu. Kau adalah adikku yang sangat kuat. Aku mohon bertahanlah rayi prabu. Maaf jika aku tidak bisa membalas semua kebaikan yang kau berikan padaku rayi." Dalam hati Putri Agniasari Ariani juga merasa iba, melihat adiknya dalam keadaan seperti itu. Sementara ia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Nanda prabu. Meskipun dimasa lalu kita bermusuhan. Akan tetapi ibunda mohon bertahanlah nak. Ibunda sangat menyayangi nanda. Ibunda mohon cepatlah sembuh. Ibunda sangat merindukan suara nanda ketika mengaji." Bahkan Ratu Gendhis Cendrawati juga merasakan kesedihan yang luar biasa. Terselip rasa takut yang luar biasa saat ia membayangkan jika Prabu Asmalaraya Arya Ardhana atau Raden Cakara Casugraha akan pergi meninggalkan mereka semua.
Kembali ke alam sukma.
"Percayalah padamu, dan pada Allah SWT. Semuanya telah terjadi sesuai garis takdir. Karena itulah, jangan takut akan takdir yang telah kau jalani jaya satria. Teruslah ingat Allah dalam setiap hembusan nafas mu."
Jaya Satria mencoba memejamkan matanya, mengatur hawa murni yang ada di dalam tubuhnya. Mencoba menenangkan dirinya. Setelah itu ia membaca sholawat badar dengan suara yang sangat merdu. Sehingga keempat naga yang sedang bertarung terdiam. Perlahan-lahan mereka juga mulai tenang, tidak berontak lagi.
"Ya, itu lebih baik jaya satria." Pendekar tabib wanita itu tersenyum kecil. Rasanya sangat lega melihat keempat sukma itu sudah tenang. Apalagi ketika keempat sukma naga itu mendekati Jaya Satria.
"Ampuni kami gusti prabu. Maafkan kami karena telah membuat gusti prabu menjadi sakit."
"Maaf kiranya jika kami membuat gusti prabu dalam keadaan lemah. Maafkan kami gusti prabu."
"Ampuni kami gusti prabu." Mereka semua terlihat sungguh-sungguh ingin minta maaf pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana atau Raden Cakara Casugraha.
"Justru aku yang minta maaf pada kalian. Karena ketakutan yang aku rasakan membuat kalian terkena imbasnya." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana maju selangkah, menyentuh salah satu kepala sukma naga. "Mulai saat ini, kita sama-sama mendukung ke arah yang lebih baik lagi. Aku mohon, kalian tetaplah tenang di dalam tubuhku. Aku akan tetap menjaga tempat kalian di dalam tubuhku agar tetap seimbang."
"Sandika gusti prabu." Mereka kembali memberi hormat pada Sang Prabu.
Setelah berkata seperti itu, keempat sukma naga tersebut berubah ke wujud mereka. Pedang Pelebur Sukma, Pedang Sukma Naga Pembelah Bumi, Batu Nirwana Dewa, dan Mustika Naga Merah Delima.
__ADS_1
"Menyatu lah kalian dalam tubuhku tanpa menimbulkan rasa sakit. Tetaplah membaca kalimat yang baik, dan jangan lupa untuk tetap mengingat Allah SWT." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba mengingatkan mereka semua, dan juga dirinya sendiri agar tidak melakukan kesalahan.
Pedang pelebur Sukma, pedang Sukma Naga Pembelah Bumi, Batu Nirwana Dewa, dan Mustika Naga Merah Delima masuk ke dalam tubuh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dengan baik. Begitu juga dengan pedang Pelebur Sukma, dan Pedang Sukma Naga Pembelah Bumi yang berada di dunia nyata dengan cepat memasuki tubuh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Tentunya mereka semua yang menyaksikan itu sangat terkejut sekali. Tidak menyangka jika kedua pedang itu malah masuk ke pemiliknya?.
"Apakah itu akan baik-baik saja syekh?." Ratu Dewi Anindyaswari sangat mencemaskan anaknya.
"Semoga baik-baik saja gusti ratu." Syekh Asmawan Mulia hanya berharap semuanya akan baik-baik saja.
Begitu juga dengan harapan mereka yang melihat keadaan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana saat ini.
Kembali ke alam sukma
Pendekar tabib wanita itu tersenyum kecil menatap Raden Cakara Casugraha. "Jika masalah raga keduamu. Kau bisa menggunakannya seperti semula jaya satria."
"Jadi kau bisa melihat raga keduaku nini?." Raden Cakara Casugraha sedikit heran.
"Ya. Tentu saja jaya satria. Dia adalah dirimu, dan dirimu adalah dia, aku bisa melihatnya. Jadi kau tidak perlu khawatir lagi. Tidak perlu cemas, jika suatu hari nanti kau tidak bisa menggunakan raga keduamu. janganlah engkau bersedih hati. Semuanya telah digariskan oleh Allah SWT." Senyuman kecil, senyuman yang meyakinkan. "Ketakutan yang kau rasakan. Entah itu ketika kau bertarung dengan musuh kuat, kemudian kau terluka. Ketakutan yang menghantui perasaan bersalah mu padanya. Karena jika kau terluka, maka dia juga akan terluka." Kali ini senyuman itu hanya senyuman pahit yang dirasakannya. "Kau takut, jika kau mati dia akan mati juga. Perasaan waspada, perasaan takutmu. Juga ketakutan pada kutukan yang kau terima sejak bayi. Itulah dua alasan mengapa dua sukma naga dari batu berontak dak ingin menyerangmu. Seakan-akan mereka memusuhimu karena kau merasa kehilangan raga keduamu. raga kedua yang sebenarnya adalah dirimu sendiri. Mereka juga merasa kehilangan raga atau wadah tempat mereka bersemayam, sehingga mereka bertarung untuk memperebutkan tempat sebagai wadah. Tentunya raga aslimu yang kena dampaknya jaya satria." Pendekar tabib wanita itu menjelaskan detail alasan mengapa keempat sukma itu bertarung di alam sukma di dalam tubuh Raden Cakara Casugraha.
"Jadi begitu?. Memang itulah yang selama ini itu yang aku takutkan nini. Aku takut ketika aku bertarung dan terluka. jika raga keduaku sakit, maka aku tidak bisa menjadi raja. Sementara raga asliku hanyalah wadah gumpalan kutukan kemarahanku." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menundukkan wajahnya, karena ia merasakan kesedihan yang sangat luar biasa.
"Sekarang lepaskanlah ketakutan itu jaya satria. Kutukan yang kau terima tidak akan menjadi penghalang untukmu menduduki tahta kerajaan suka damai. Percayalah, jika gusti prabu kawiswara arya ragnala ayahandamu, juga raja-raja sebelumnya telah memilihmu menjadi penerus mereka semua." Kata-kata itu sangat membuat Jaya Satria menyadari semuanya.
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mendongakkan wajahnya, menatap Pendekar tabib wanita itu. Memang benar apa yang dikatakan oleh Pendekar tabib wanita itu. Ia pernah mendengarnya langsung dari Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta, bahwa mereka akan selalu mendukung apa yang akan ia lakukan. "Terima kasih nini. Sudah kedua kalinya, kau membantuku nini." Senyum Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terlihat sangat tulus. Sehingga dapat ia rasakan sampai ke lubuk hatinya. Saat itu seakan terjadi sebuah keajaiban, yang tidak pernah diduga. Entah itu di dunia nyata ataupun di alam sukma. Apakah itu?. Temukan jawabannya. Mohon dukungannya. Biar author yang tidak berwujud ini semangat lanjutin ceritanya.
...***...
__ADS_1