
...***...
Putri Andhini Andita saat ini sedang berhadapan dengan Lereng Api. Sepertinya tidak mudah baginya untuk mengalahkan pemuda itu. Beberapa kali ia terkena serangan dari Lereng Api yang tampak bernafsu sekali untuk membunuhnya. Juga untuk mendapatkan apa yang sedang ia incar saat ini.
"Hahaha!. Kau pikir kau bisa mengalahkan aku anak manis?." Dengan menggunakan belati pencuri Sukma, ia terus membuat pedang Pembangkit Raga Dewi Suarabumi terus bergetar dari tadi. "Sebaiknya kau menyerah saja, dan jadilah anak yang baik." Ia terus menyerang Putri Andhini Andita tanpa belas kasihan sama sekali. Namun Putri Andhini Andita tidak akan mengalah begitu saja. Walaupun tubuhnya terluka karena berhadapan dengan laki-laki itu, ia tidak akan mudah menyerah begitu saja.
"Aku tidak akan menyerah pada orang seperti kau!. Kegh!." Putri Andhini Andita menangkis semua serangan yang datang padanya. Meskipun ia mengalami kesulitan, ia tidak akan mengalah dari orang jahat.
DUAKH!
Lereng Api berhasil menendang perut Putri Andhini Andita, sehingga ia terjajar dan menabrak pohon yang ada di belakangnya.
"Kegh." Tubuhnya terasa sakit, dan ia hampir saja tidak bisa bergerak. Berhadapan dengan lelaki itu membuat tenaga dalamnya benar-benar terkuras habis.
DUAKH!.
Nenek putih berhasil mengalahkan keempat anak buah Lereng Api. Nafasnya memburu, karena bertarung satu lawan empat. Kali ini matanya melihat ke arah Lereng Api. Sorot matanya penuh kebencian yang mendalam. Nenek Putih mendekati Lereng Api, ia sudah tidak dapat menahan dirinya lagi.
"Tidak akan aku biarkan kau mengambil sukma dewi suarabumi yang ada di dalam tubuhnya." Kebencian yang selama ini ia tahan, dan ia sangat menderita karena dendam yang ia rasakan selama ini.
"Heh!. Kau boleh saja mengalahkan anak buah ku yang tidak berguna itu." Ia mendengus kesal. "Namun kau tidak akan pernah bisa membunuh aku. Bahkan ketika kau hidup, kau tidak pernah mampu mengalahkan aku." Setelah itu ia menyeringai dengan lebarnya.
"Kau!." Amarahnya semakin bergejolak, bahkan api biru itu kembali menyelimuti tubuhnya. "Kau jangan sombong dulu bedebah!." Amarahnya telah sampai pada puncaknya. Ia kembali ke wujud kematiannya dalam sosok tengkorak mengerikan.
__ADS_1
"Nenek putih." Putri Andhini Andita merasa simpati. Ia tidak mengerti sakit dan penderitaan apa yang dialami oleh Nenek putih selama ini. Namun saat ini ia mencoba untuk bangkit. Saat itu ia melihat nenek Putih mendekatinya. Tanpa banyak bicara, ia tubuh Putri Andhini Andita.
Deg!!!
Di dalam alam bawah sadar Putri Andhini Andita. Ia dan Sukma Dewi Suarabumi melihat Nenek Putih dalam wujud wanita yang sangat cantik.
"Bagaimana mungkin kau bisa memasuki alam sukma ini?. Kau ajari jurus apa padanya?. Sehingga kau bisa masuk ke sini dengan mudahnya." Sukma Dewi Suarabumi terlihat marah pada nenek putih.
"Maafkan aku. Karena aku telah melambari jurus pemurnian hawa alam sukma dengan jurus menyembunyikan hawa keberadaan sukma." Nenek Putih hanya menundukkan wajahnya.
"Kenapa kau melakukan itu?. Apa yang kau inginkan dariku?." Sukma Dewi Suarabumi bertanya lagi.
"Aku hanya ingin menuntut balas, atas apa yang telah ia lakukan selama ini padaku. Aku tidak terima dia melakukan hal yang keji padaku." Nenek Putih menangis sedih. Bertahun-tahun aku menderita karena terbuang gentayangan di hutan ini." Kesedihan dan rasa sakit hati yang ia rasakan pada saat itu tidak bisa ia lupakan begitu saja. "Aku mati dengan terhina oleh laki-laki itu. Dan aku mendapatkan kesempatan untuk balas dendam, saat pertama kali aku melihatmu cah ayu." Ia tidak dapat lagi menahan perasaan sakit itu, sehingga ia hanya menangis sesegukan.
"Baiklah kalau begitu. Kami akan membantumu. Namun jika kau berani mengambil nyawa anak ini untuk menghidupkan kembali dirimu yang telah lama mati itu. Aku tidak akan mengampunimu." Sorot mata Sukma Dewi Suarabumi begitu tajam, begitu mengancam musuhnya.
"Terima kasih atas bantuan gusti Putri. Hamba tidak akan melupakan kebaikan gusti Putri." Wajah itu terlihat lega?. "Setidaknya aku akan hidup tenang di alam sukma ini. Itu lebih baik, dari pada aku hanya menderita dalam kegelapan." Nenek Putih tersenyum kecil. Suasana hatinya merasakan kelapangan dari yang sebelumnya.
Sementara itu, raga Putri Andhini Andita dari tadi bertarung dengan ganasnya, setelah dirasuki oleh Nenek Putih. Terus menghajar Lereng Api, melampiaskan semua amarahnya.
"Heh!. Kau boleh juga. Tapi aku tidak akan kalah, hanya karena kau merasuki tubuh wanita itu." Lereng Api semakin tertarik untuk berhadapan dengan Putri Andhini Andita yang sedang dirasuki roh.
"Kau jangan banyak bicara!. Aku pasti akan membunuhmu kali ini!." Dengan menggunakan pedang pembangkit raga Dewi Suarabumi, ia terus menyerang Lereng Api. Sehingga laki-laki itu merasa kewalahan, dan hampir saja tidak bisa mengalahkan Putri Andhini Andita yang sedang bersemangat untuk bertarung.
__ADS_1
"Kau tidak usah merasa bangga dulu." Lereng Api kali ini melompat agak jauh, ia memberi ruang untuk mengeluarkan cambuk pelecut sukma. Cambuk yang sangat berbahaya.
Deg!!!
Di alam sukma, Nenek Putih terlihat sangat pucat. Membuat Sukma Dewi Suarabumi dan Putri Andhini Andita keheranan.
"Ada apa?. Kenapa kau malah raut wajahmu tampak ketakutan seperti itu?." Sukma Dewi Suarabumi yang bertanya seperti itu.
"Kita harus waspada. Karena cambuk itulah, dia berhasil mengambil sukma dewi langit dari dalam tubuhku." Tiba-tiba saja Nenek Putih merasa takut, dan jadi waspada terhadap cambuk itu.
"Memang aku merasakannya." Sukma Dewi Suarabumi menyentuh dada kirinya yang terasa sakit.
"Lalu apa yang harus kita lakukan gusti Putri?. Apakah kita harus melawannya?." Putri Andhini Andita merasa bimbang, jika musuh yang ia hadapi sangat lah tangguh.
"Kita harus mencari cara untuk mengalahkannya." Sukma Dewi Suarabumi tidak akan mudah kalah, dan itu adalah tekad yang harus ia pertanahan kan.
Sementara itu di alam nyata. Lereng Api merasa di atas angin, karena ia berhasil memojokkan Putri Andhini Andita yang sama sekali tidak bisa menghadapi cambuk itu.
"Kegh!." Putri Andhini Andita yang sama sekali tidak bisa mengendalikan dirinya hanya bisa mencoba untuk menghalau semua serangan yang datang ke arahnya. Tubuhnya terasa sangat sakit, jika terkena cambuk itu.
"Ahahaha!. Sebaiknya kau menyerah saja!. Tidak ada gunanya kau melawanku!." Lereng Api terlihat sangat bahagia. "Sebentar lagi, aku akan mendapatkan sukma dewi suarabumi!." Lereng Api tertawa kerasnya. Seakan-akan ia mendapatkan kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan selama ini.
Namun pada saat cambuk itu hampir saja menyentuh tubuh putri Andhini Andita, ada dua sosok yang menyelematkan dirinya. Mereka semua terkejut dengan apa yang mereka lihat pada saat itu. Apakah yang akan terjadi?. Temukan jawabannya.
__ADS_1
...***...