
Di Istana Kerajaan. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tampak sedikit kesal. Karena dari penglihatannya yang terhubung dengan Jaya Satria saat ini.
"Maaf raka, sepertinya ada sesuatu yang ingin aku kerjakan. Untuk saat ini raka lakukan persiapan. Jika memang raka mencintai nyai bestari dhatu. Lamar dia setelah ada kabar dari jaya satria."
"Baiklah rayi prabu. Terima kasih atas perhatian yang kau berikan padaku rayi prabu."
"Sampurasun."
"Rampes."
Raden Hadyan Hastanta sedikit heran melihat perubahan raut wajah adiknya. Apa yang terjadi sebenarnya?.
"Mungkin rayi prabu melupakan sesuatu. Ya sudahlah, mungkin ia memang lupa." Raden Hadyan Hastanta mencoba berpikir positif. Setelah itu ia juga meninggalkan ruangan pribadi raja. Ia tidak mau berlama-lama di sana karena ruangan itu bukan untuknya.
Sedangkan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang sedang berjalan cepat menuju biliknya. Ia duduk semedi di bawah lantai. Memusatkan pikirannya agar terhubung dengan Jaya Satria.
"Jaya Satria. Jaya Satria." Tampaknya sang prabu sedikit marah karena melihat orang itu?.
Sementara itu Jaya Satria yang namanya dipanggil oleh Gusti Prabu.
"Gusti prabu marah karena orang itu menghambat perjalanan kami?."
"Tentu saja aku marah jaya satria. Aku tidak mau membuang-buang waktu terlalu lama sampai di istana kerajaan angin selatan. Segera lumpuhkan dia!."
"Sandika gusti prabu. Akan aku hamba lakukan."
"Hei!. Jaya Satria. Mengapa kau berhenti menyerangku?. Apakah kau sudah takut dengan jurus yang aku keluarkan, hah?."
"Diam kau!. Berani sekali kau menghambat perjalanan penting ini. Kau sudah aku ampuni dimasa lalu, tapi kau masih saja tidak menyadari kesalahanmu!."
__ADS_1
Pemuda itu terkejut mendengarkan suara bentakan keras dari Jaya Satria. Begitu juga dengan Nyai Bestari Dhatu yang seakan menyaksikan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga ikut marah di belakang Jaya Satria. Namun tubuh itu seakan membayangi Jaya Satria.
"Gusti prabu marah?." Dalam hati Nyai Bestari Dhatu tidak menyangka akan melihat itu.
"Aku dendam padamu karena kau telah membuatku lumpuh!. Kau pikir aku akan menerima nasib pahit itu begitu saja?."
"Itu adalah kesalahanmu. Allah SWT harusnya menghukummu lebih berat lagi dari pada lumpuh!." Jaya Satria benar-benar marah besar. "Harusnya kau sadar!. Dengan kesembuhan yang diberikan oleh Allah, kau harusnya kembali ke jalan yang benar. Bukannya mencariku untuk balas dendam!."
Pemuda itu hanya diam sambil menahan amarah yang menguasai dirinya. Ia kepal tangannya dengan erat sambil menahan semua kebenciannya.
"Apakah tidak ada sedikitpun kasih sayang yang kau miliki pada seorang ibu?. Kau telah dilahirkan ke dunia ini dengan darah, keringan, dan nyawa. Tapi kau malah menyakiti hati ibundamu?. Manusia macam apa kau!." Hati Jaya Satria benar-benar dipenuhi oleh kemarahan luar biasa. Namun tidak ada aura kemerahan seperti biasanya jika ia sedang marah.
"Apakah kau tidak melihat bagaimana ibundamu membesarkanmu?. Apakah kau tidak melihat apa saja yang dilakukan ibundamu untuk memberikanmu makan?."
Ucapan Jaya Satria yang sedang dibumbui oleh kemarahan. Namun perlahan-lahan diresapi oleh Pemuda itu.
"Apakah kau tidak kasihan dengan nasib adikmu tanpa kasih sayang dari seorang ibunda?. Apakah kau tidak bisa memikirkan betapa irinya adikmu pada teman sebaya dengannya saat ia mengetahui bahwa kakangnya telah membunuh ibundanya?. Apakah hati nuranimu sudah mati hingga kau tidak bisa merasakan bagaimana sedihnya perasaan adikmu?!." Jaya Satria ingat ketika ia hendak membunuh pemuda itu. Ada seorang anak perempuan yang memohon padanya agar kakaknya tidak dibunuh olehnya saat itu.
"Jika kau memang menyayangi adikmu. Maka pikirkan baik-baik apa yang aku katakan. Jika kau masih saja tidak berubah. Akan aku pastikan, bukan hanya hukuman dariku yang kau terima. Namun Allah murka padamu, karena telah menganiaya saudaramu sendiri."
Pemuda itu perlahan-lahan melunak. Mengingat kembali bagaimana adiknya yang mengatakan bahwa ia diejek oleh teman-teman sebaya dengannya. Ingatannya kembali pada saat itu. Dimana dua bulan setelah kejadian dimana ia lumpuh serta ibunya meninggal.
"Kakang. Ayu sangat sedih sekali. Karena mereka mengejek ayu karena tidak memiliki biyung juga bopo." Adik kecilnya yang merawat dirinya menangis sesenggukan. Begitu sedih dan pilu hati adiknya karena ucapan Pedas dari teman-teman sebayanya.
"Kakang. Apakah biyung juga bopo tidak bisa kembali ke rumah ini lagi kakang?. Ayu sangat merindukan biyung juga bopo."
Rintihan tangis Ayu begitu memilukan. Anak sekecil itu harus menerima kenyataan pahit. Bahwa dirinya menjadi anak yatim piatu. Dirinya yang belum mengerti apa-apa tentang dunia yang kejam ini tanpa kedua orangtuanya.
Bayangan tentang kesedihan yang dialami oleh adiknya terbayang semua dibenaknya saat ini. Hingga tanpa sadar itu tertunduk lemah. Seakan kekuatannya benar-benar menghilang.
__ADS_1
"Jika kau memang kasihan pada adikmu. Maka kau harus berubah kearah yang lebih baik. Jangan kau turuti amarah yang bersarang di dalam dirimu. Apakah tidak ada rasa penyesalan dihatimu setelah membunuh ibumu?." Ucap Jaya Satria lagi.
Pemuda itu mengingat kembali bagaimana perlakuan kasarnya pada ibundanya. Bagaimana ia berkata kasar pada seorang ibu yang melahirkan durinya?.
"Biyung." Tanpa sadar ia menangis, membayangkan hal kejam apa yang telah ia lakukan semasa hidup ibunya. Tidak ada satupun kebaikan yang ia lakukan untuk ibunya.
"Jika kau memang menyayangi ibundamu. Perbaikilah kesalahan yang kau lakukan selama ini. Minta maaflah padanya. Juga pada adikmu yang telah kehilangan kasih sayang seorang ibu selama hidupnya." Lanjut Jaya Satria. Perlahan-lahan amarah yang ia rasakan sedikit berkurang.
"Tapi bagaimana caranya aku meminta maaf pada biyungku?. Bukankah kau sudah mengetahui bahwa biyungku sudah meninggal." Tangis air mata penyesalan terpancar diwajah pemuda itu.
"Perbaiki semua kesalahanmu. Kembalilah ke jalan yang benar. Simpan semua dendammu padaku." Jawabnya.
"Tapi kepada siapa aku belajar untuk berbuat baik serta memperbaiki kesalahanku ini, jaya satria?." Sepertinya hatinya memang berubah.
"Jika memang kau ingin berubah, memperbaiki diri. Temui syekh asmawan mulia di desa damai jati. Katakan padanya bahwa aku yang menyuruhmu untuk menemuinya. Belajar agama yang baik dan benar. Bawa serta adikmu agar dia dibimbing juga olehnya."
"Baiklah jaya satria. Maafkan kesalahanku. Maafkan aku karena dendam padamu." Ia bangkit, mencoba untuk tegar. Mencoba menenangkan dirinya.
"Kalau begitu aku pergi dulu jaya satria. Sampurasun." Pemuda itu benar-benar pergi meninggalkan tempat.
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin ya Allah. Sepertinya kita bisa melanjutkan perjalanan ini nyai." Jaya Satria tersenyum kecil. Hatinya benar-benar lega.
"Kau sangat luar biasa sekali raden. Baru kali ini aku melihat ada orang yang mau berubah secepat itu." Nyai Bestari Dhatu benar-benar kagum luar biasa dengan apa yang telah ia lihat tadi.
"Tidak semua permasalahan harus diselesaikan dengan senjata. Apalagi dengan baku hantam. Banyak yang bisa kita gunakan, karena kita adalah manusia. Bukan binatang yang menggunakan cakar mereka untuk menentukan siapa yang benar, dan siapa yang salah." Balas Jaya Satria sambil menghela nafasnya. Mengatur kembali hawa murninya yang sempat kacau karena terlalu melepaskan kemarahannya tadi.
"Mari nyai." Jaya Satria mempersilahkan Nyai Bestari Dhatu berjalan mendahuluinya. Mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju Kerajaan Angin Selatan.
Sementara itu di Bilik Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Ia membuka matanya secara perlahan. "Alhamdulillah hirobbil a'lamin ya. Semoga setelah ini perjalanan mereka benar-benar aman." Dalam hatinya sangat berharap seperti itu. Kali ini ia memang mengendalikan amarahnya. Karena ia tidak mau menjadi ganas walaupun dalam keadaan marah.
__ADS_1
Bagaimana kelanjutannya?. Temukan jawabannya. Jadilah pembaca yang baik dengan meninggalkan jejaknya. Komentar yang pembaca berikan adalah cambuk untuk penulis melanjutkan ceritanya. Karena itu jangan lupa klik favoritnya. Like, share, vote. Serta berikan penilaian dan hadiah sebagai apresiasi penulis. Terima kasih pembaca tercinta.