
...***...
Keadaan Raden Cakara Casugraha kembali pulih. Meskipun rahasianya telah diketahui oleh keluarga istana, tapi setidaknya mereka semua menerima keadaan itu. Saat ini mereka sedang berkumpul bersama di Pendopo Istana. Menikmati kebersamaan mereka, makam bersama.
"Maafkan aku yunda ratu. Karena pertarungan itu, harusnya kita bisa menikmati acara pengangkatan yunda ratu, juga acara syukuran pernikahan raka hadyan hastanta, juga yunda bestari dhatu."
"Tidak apa-apa rayi prabu. Setidaknya keadaan rayi berdua baik-baik saja. Kami sangat bersyukur, karena kita kembali berkumpul bersama."
"Benar yang dikatakan yunda ratu. Lagipula kita semua tidak menduga itu akan terjadi. Tapi setidaknya kita bisa menikmatinya hari ini."
"Benar nanda prabu. Kami semua hari ini merasa senang, karena bisa berkumpul dengan nanda prabu. Nanda jaya satria juga ikut bersama kita, tanpa menggunakan topeng."
"Terima kasih ibunda. Rasanya sangat bersyukur, memiliki keluarga yang baik, sehingga kita semua dapat merasakan kebahagiaan bersama."
"Alhamdulillah hirobbil'alamin, terima kasih ibunda. Yunda, raka. Karena mau menerima keadaan kami yang sekarang. Sebagai raga kedua raden cakara casugraha, aku sangat bahagia mendengarnya. Karena selama ini hatiku sangat sedih, karena tidak bisa bersama raden cakara casugraha yang asli."
"Semuanya telah berlalu rayi. Hari ini kita telah berkumpul bersama dengan baik."
"Alhamdulillah hirobbil'alamin yunda. Jika saja ayahanda masih hidup, pasti ayahanda akan bahagia melihat ini."
"Andai saja kanda prabu masih hidup, pasti kanda prabu sangat senang. Melihat keluarganya berkumpul seperti ini."
Mereka semua merindukan sosok pemimpin yang mereka banggakan. Sosok ayah, serta suami yang sangat menyayangi keluarganya. Siapa lagi kalau bukan Prabu Kawiswara Arya Ragnala atau nama aslinya Bahuwirya Dihyan Darya. Namun saat itu, seorang Prajurit melapor, bahwa ada tamu kerajaan yang datang.
"Mohon ampun gusti prabu. Hamba menghadap hendak melapor."
"Katakan prajurit."
"Di depan gerbang istana ada rombongan gusti prabu nitisara Prabawa serta putra mahkota raden rajaswa pranawa."
"Kalau begitu izinkan masuk. Aku akan menjemputnya ke sana."
"Sandika gusti prabu."
Prajurit segera menuju gerbang istana, mempersilahkan tamu raja masuk. Sementara itu, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Raden Cakara Casugraha saling bertatapan satu sama lain.
"Bagaimana ini ibunda?. Apakah nanda akan menggunakan topeng?."
"Untuk saat ini gunakan saja dulu. Meskipun ibunda mengenali dinda prabu nitisara pranawa, ini akan menjadi kabar yang mengejutkan baginya. Karena ia hanya mengetahui, putra ibunda hanya satu."
"Baiklah ibunda. Kami mengerti."
"Kalau begitu nanda akan menyambut kedatangannya terlebih dahulu ibunda. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh."
__ADS_1
"Sampurasun."
"Rampes."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana pergi meninggalkan mereka semua, untuk menyambut kedatangan Prabu Nitisara Pranawa dan Putranya Rajaswa Pranawa.
"Sepertinya keluarga kita akan mendapatkan jodoh. Sama seperti yang dikatakan rayi prabu waktu itu."
"Yunda ratu benar. Saat sebelum kami sampai di istana kerajaan mekar jaya."
"Benarkah itu rayi cakara casugraha?."
"Jangan bertanya padaku yunda." Raden Cakara Casugraha segera mengenakan topeng menutupi wajahnya. Ia sengaja menghindari pertanyaan kakaknya itu.
"Lihatlah ibunda. Rayi cakara casugraha mulai pelit. Tidak mau berbagi cerita dengan nanda. Mulai main rahasia lagi."
Mereka semua hanya tertawa melihat tingkah Putri Andhini Andita yang sedang merajuk, karena pertanyaannya tidak dijawab oleh Raden Cakara Casugraha. Namun tak lama kemudian, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana kembali bersama Prabu Nitisara Prabawa dan Putranya Raden Rajaswa Pranawa.
"Sampurasun."
"Rampes."
"Silahkan duduk dinda prabu."
"Terima kasih yunda dewi. Maaf jika kedatangan saya tidak memberi kabar."
"Terima kasih sekali lagi yunda dewi."
Saat itu mata Prabu Nitisara Pranawa melihat ada sosok asing ditengah-tengah mereka semua. Sosok yang mengenakan topeng penutup wajah. Namun disaat itu juga, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengerti arti tatapan itu.
"Oh. Dia adalah saudara kami juga paman prabu. Maaf jika ia tidak bisa menunjukkan wajahnya."
"Jadi begitu?. Maaf jika saya curiga nanda prabu. Maafkan saya."
"Tidak apa-apa paman prabu."
"Ekhm sepertinya ada yang tidak sabar ingin dijodohkan."
"Ish, apa yang katakan?. Jangan berkata yang tidak-tidak."
Mereka semua hanya tersenyum kecil melihat tingkah malu-malu dari Putri Agniasari Ariani. Ia tidak menyangka jika orang yang ia sukai datang bertamu ke istana ini.
"Kami hanya berkunjung saja nimas. Sekalian melihat keadaan kerajaan suka damai. Kerajaan besar yang sesuai dengan namanya."
"Jika berbicara tentang jodoh juga tidak apa-apa. Saya ikhlas kok harus dilangkahi oleh rayi agniasari ariani."
__ADS_1
"Shh yunda. Kenapa yunda yang bersemangat."
Lagi-lagi mereka tertawa kecil. Sungguh, mereka tidak menyangka, sikap malu-malu Putri Agniasari Ariani mengundang tawa mereka semua.
"Jadi benar?. Rayi agniasari ariani akan dijodohkan dengan adimas rajaswa?."
"Kami dulu pernah membahasnya dengan kanda prabu. Memang seperti itulah nimas."
"Waah tidak disangka juga. Ayahanda menjodohkan putrinya dengan anak raja yang hebat."
"Raden bisa saja. Justru kami merasa terhormat, karena bisa bersahabat dengan raja hebat seperti kanda prabu kawiswara arya ragnala."
"Kata pepatah, jodoh tak akan kemana. Jadi tak perlu mengejar jodoh, jika jodoh itu sendiri akan datang menemui kita."
"Walah, sejak kapan yunda bestari dhatu pandai dalam merangkai kata."
Mereka semua juga tidak menyangka akan mendengarkan kata bagus itu dari putri Bestari Dhatu.
"Jadi rayi dewi merestui hubungan kedekatan nanda putri agniasari ariani dengan nanda rajaswa?."
"Benar yunda. Lagipula keduanya juga pernah bertemu saat melakukan pengembaraan."
"Yunda agniasari ariani bertemu dengan raden rajaswa saat mengembara?."
"Benar rayi prabu. Saat acara perkawinan yunda bestari dhatu, raka hadyan hastanta waktu itu mereka bertemu. Kami juga terkejut mendengarkan cerita pertemuan mereka."
"Sungguh luar biasa. Garis tangan jodoh yang luar biasa sekali."
"Nanda ratu agung benar. Benar-benar telah ditulis dalam garis takdir untuk hidup bersama."
"Semoga saja dewata agung merestui hubungan mereka."
Mereka semua berharap akan ada hubungan baik yang terjalin diantara mereka. Namun ada hal yang harus mereka ingat sebelum mereka menjalin hubungan yang lebih serius lagi.
"Tapi apakah pernikahan beda agama tidak menjadi permasalahan?. Apakah tidak akan menjadi perdebatan nantinya?."
"Rayi andhini andita benar. Rayi agniasari ariani saat ini memegang kepercayaan sebagai pemeluk agama islam. Sementara itu, raden rajaswa memeluk agama hindu-buddha."
"Akan terjadi perbedaan dalam pandangan kepercayaan."
"Nanda akan bertanya pada syekh guru. Apa hukum mengenai perkawinan beda agama."
"Tidak apa-apa gusti prabu. Gusti putri. Jika memang agama islam adalah agama yang baik, maka saya akan mengikuti agama yang baik pula. Karena saat pengembaraan, saya melihat nimas cempaka putih melaksanakan sholat. Dan entah mengapa rasanya saya sangat tenang melihatnya."
Mereka semua tidak menyangka, akan mendengarkan perkataan itu. Bagaimana kelanjutannya?. Temukan jawabannya.
__ADS_1
...****...