
...***...
"Bukankah itu pedang panggilan jiwa kakang?."
"Kau benar adi. Ternyata mereka adalah keturunan dari prabu bahuwirya jayantaka byakta."
"Lalu bagaimana caranya kita menghadapi mereka?. Bukankah pedang itu bukan sembarangan pedang?.
"Kita harus tetap melawan mereka. Aku tidak ingin melarikan diri dari gelanggang pertarungan ini."
"Baiklah, aku juga akan menghadapi mereka. Toh mereka hanya menggertak saja. Mereka masih kalah dalam jumlah, jadi tidak ada yang perlu ditakutkan."
"Mari kita gunakan jurus andalan kita. Kita hajar saja mereka semua tanpa ampun."
"Ya, aku setuju dengan ide itu. Kita jangan sampai kalah dari bocah kemarin sore seperti mereka."
Sepertinya pendekar senior seperti mereka sedikit mengetahui pedang panggilan jiwa yang dimiliki kakak beradik keturunan prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta. Sementara itu keduanya sedang menyusu rencana untuk mengalahkan mereka semua.
"Yunda, aku memang tidak sepintar rayi andhini adnita jika menyusun rencana, tetapi jika yunda setuju. Bagaimana kita pancing mereka satu persatu, kita hadang merek dengan jurus yang pernah diajarkan ayahanda. Jurus angin penghempas raga."
"Baiklah rayi, itu rencana yang bagus. Kita hajar saja mereka. Karena mereka adalah orang jahat. Kita harus membunuh mereka semua, atau kita yang akan terbunuh rayi."
"Karena yunda telah setuju, kita mulai saja rencananya."
"Saya siap kapan saja rayi."
Keduanya telah siap dengan rencana tersebut. Apa yang akan mereka lakukan?. Temukan jawabannya.
...***...
Sementara itu Prabu Asmalaraya Arya Ardhana masih berhadapan tiga orang pendekar suruhan Raden Gentala Giandra. Namun matanya masih mengamati dimana keberadaan Prabu Rahwana Bimantara yang sedang berhadapan dengan cucunya itu.
"Ya Allah. Apa yang harus hamba lakukan, jika mereka menghalangi hamba untuk membantu kakek prabu."
"Gusti prabu harus membantu kakek prabu. Jangan sampai gentala giandra menyakiti kakek prabu."
"Aku sedang mengusahakannya jaya satria. Namun mereka tidak membiarkan aku mendekati kakek prabu."
Saat ini pertarungan mereka hampir menuju ruang utama Istana, karena ruangan yang sempit hanya akan menghambat gerakan mereka. Akan tetapi saat mereka sampai di sana, ternyata ada Ratu Ardiningrum Bintari dan anaknya Raden Ganendra Garjitha. Mereka sangat terkejut melihat pertarungan itu.
__ADS_1
"Ayahanda prabu?." Ratu Ardiningrum Bintari terkejut melihat ayahandanya masih bisa bertarung?.
"Tidak usah kau sebut aku ayahanda, jika kau kembali hanya untuk menguasai istana ini."
"Tentu saja itu tujuan kami kakek tua. Karena kau tidak adil pada kami, dan kau malah mengangkat ambarsari menjadi ratu istana ini."
"Ganendra garjitha!. Bersikap sopan lah kau dihadapan kakek prabu!."
Bentakan suara keras itu berasal dari Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Ia terlihat marah luar biasa. Mereka yang mendengarkan itu terkejut, apalagi suara itu terdengar berbeda.
"Nanda prabu." Bahkan Prabu Rahwana Bimantara juga terkejut melihat bagaimana hawa Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang berbeda dari yang biasanya.
"Hoo kau disini rupanya cakara casugraha."
"Aku datang ke istana ini karena ingin melihat keadaan kakek prabu."
"Dia hanya akan menghambat keinginan kita raka prabu."
"Kenapa kau selalu saja mengganggu cakara casugraha. Apakah itu memang kelakukan tidak bergunamu itu?."
"Aku akan selalu mengganggu kalian, selagi yang kalian lakukan itu adalah perbuatan salah."
"Kami tidak merasa bersalah sedikitpun cakara casugraha."
"Diam kau cakara casugraha!."
"Apakah kalian tidak ingat dengan apa yang dikatakan ayahanda prabu?. Seorang pemimpin tidak boleh dikuasai oleh amarah yang membuat rakyatnya menderita. Tahta yang ia pegang, demi kesejahteraan rakyat, bukan kesenangan pemimpin. Kejayaan yang dimiliki raja, harus dibagikan pada rakyat, bukan untuk gagah-gagahan dihadapan rakyat. Tapi kalian sangat berambisi untuk menguasai sebuah kerajaan dengan hati busuk, karena itulah kalian tidak bisa menjadi pemimpin dimanapun. Entah itu di istana suka damai ataupun istana ini."
"Kau benar-benar memuakkan cakara casugraha."
"Aku tidak butuh kata-kata tidak bergunamu itu."
"Nah?. Lihat?. Apakah kalian tidak menyadari, alasan kalian tidak bisa menggunakan pedang panggilan jiwa?. Itu karena jiwa kalian masih kotor. Apakah kalian tidak melihat mengapa yunda ambarsari bisa menggunakan pedang panggilan jiwa?. Itu karena keinginannya yang kuat untuk melindungi keluarganya. Bukan pikiran untuk menjatuhkan serta keinginan untuk menguasai yang bukan haknya." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengatakan semuanya pada mereka.
"Bukan hanya berkhianat pada kerajaan suka damai, kalian juga telah berkhianat pada kakek prabu. Harusnya kalian malu, karena kakek prabu masih menampung kalian di istana ini setelah kejadian perperangan itu."
Mereka benar-benar sakit hati, dan tidak terima dengan apa yang diucapkan oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Cakara casugraha!. Ucapanmu itu membuatku marah!. Sebaiknya kau kembali ke istanamu. Karena ini bukan wilayah-."
__ADS_1
"Diam kau!. Aku tidak akan mengampuni apa yang telah kau lakukan!. Karena kau telah berani bersikap kurang ajar pada kakek prabu!. Aku tidak akan membiarkan kalian menyakiti kakek prabu."
"Oh dewata yang agung. Nanda prabu begitu perhatian padaku. Sehingga ia melindungiku dari mereka." Dalam hati Prabu Rahwana Bimantara merasa iba dengan keadaannya saat ini.
"Cakara casugraha. Kau tidak usah berpura-pura baik dihadapan kami semua hanya untuk membela ayahanda prabu. Dari dulu kau selalu saja bermuka dua. Selain itu jaga ucapanmu itu!. Beraninya kau berkata kami ini adalah pengkhianat."
"DIAM KAU ARDININGRUM BINTARI. KAU ADALAH ANAK DURHAKA. KAU ADALAH RATU PENGKHIANAT. KAU MENGATAKAN IBUNDAKU WANITA LICIK?. WANITA RENDAHAN?. TAPI APA YANG TELAH KAU LAKUKAN HARI INI ADALAH PENGKHIANAT YANG TIDAK AKAN PERNAH BISA DIAMPUNI. DAN AKU BERSUMPAH, AKAN MENGHUKUM MATI KALIAN, ATAS APA YANG TELAH KALIAN LAKUKAN. ENTAH ITU PADA KERAJAAN SUKA DAMAI, JUGA KERAJAAN MEKAR JAYA!." Dengan amarah yang membara, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengucapkan sumpahnya. Tentu saja mereka semua terkejut, tidak percaya akan mendengarkan kata sumpah yang keluar dari mulut seorang raja yang sedang murka.
"Nanda prabu telah menunjukkan ketegasannya. Ia sangat marah, sehingga hawa kemerahan menyelimuti dirinya. Bahkan aku tidak bisa seperti dirinya yang telah melihat jelas kesalahan fatal dari mereka semua."
"CAKARA CASUGRAHA!. RUPANYA KAU INGIN MATI DITANGAN KAMI!." Raden Ganendra Garjitha, dan Raden Gentala Giandra tidak terima dengan apa yang mereka dengar.
"Bunuh dia putraku. Dia sangat memuakkan, juga tidak pantas hidup." Hati Ratu Ardiningrum Bintari sangat sakit mendengarkan ucapan itu. "Berani sekali dia mengancam ibunda."
"Tentu saja dia akan kami bunuh ibunda."
"Akan kami cercah mayatnya."
Raden Ganendra Garjitha dan Raden Gentala Giandra maju, menghadang Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Dengan pancingan kemarahan tadi, setidaknya untuk sementara waktu aku bisa mengalihkan perhatian mereka dari kakek prabu agar menyerang diriku."
"Tapi itu terlalu berisiko gusti prabu. Kenapa gusti prabu menanggung risiko terlalu tinggi."
"Tidak apa-apa jaya satria. Kondisi kakek prabu saat ini sudah tidak memungkinkan untuk bertarung. Aku hanya tidak ingin kakek prabu terluka."
"Kalau begitu hamba akan menyusul ke sana gusti Prabu."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sedang berhadapan dengan Raden Ganendra Garjitha dan Raden Gentala Giandra.
"Tidak jaya satria. Kau harus tetap berada di istana. Jaga ibunda dengan baik, jangan sampai ada musuh yang datang ke istana."
"Tapi gusti Prabu."
"Dengarkan apa yang aku katakan jaya satria."
Dalam keadaan marah, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menyerang mereka, karena Jaya Satria tidak mau mendengarkan apa yang ia ucapkan?.
"Sandika gusti prabu."
__ADS_1
Apa yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya.
...***...