
...***...
Di Istana Kerajaan Suka Damai. Di kaputren.
"Kau harus mengetahuinya agniasari ariani. Adikmu cakara casugraha sedang dihukum oleh ayahanda prabu!. Aku yakin dia sekarang menangis merengek ingin pulang." Putri Ambarsari berkata dengan suara yang keras.
"Adikmu itu pasti tidak akan sanggup menjalani hukuman dari ayahanda prabu." Putri Andhini Andita malah tertawa, membayangkan apa yang terjadi pada Raden Cakara Casugraha.
Sedangkan Putri Agniasari Ariani mencoba untuk menguatkan dirinya. Ia merasa cemas memikirkan adiknya. "Rayi cakara casugraha mengatakan, jika dirinya bukan dihukum ayahanda. Melainkan rayi sendiri yang ingin membantu ayahanda menyelesaikan masalah di desa itu." Dalam hati Putri Agniasari Ariani. Ia teringat dengan apa yang dikatakan oleh adiknya itu.
"Sudahlah rayi agniasari ariani. Kau tidak perlu bersedih seperti itu. Kami semua tahu, itu pasti turunan dari seorang ibu yang tidak baik."
"Ya. Lihatlah kami. Ayahanda prabu begitu menyayangi kami. Sedangkan adikmu itu, liar. Pemarah, kurang ajar, tidak ada sopan santunnya sama sekali."
Putri Ambarsari dan Putri Andhini Andita benar-benar mengeluarkan kata-kata jelek tentang Raden Cakara Casugraha.
*Yunda. Jika mereka berkata buruk tentangku. Yunda tidak usah mendengarkan apa yang mereka katakan. Sebaiknya yunda pergi saja dari sana. Dari pada yunda sakit hati mendengarkan apa yang mereka katakan. Lebih baik yunda tinggalkan saja mereka.*
Putri Agniasari Ariani masih ingat dengan apa yang dikatakan adiknya. Hatinya memang tidak terima dengan apa yang mereka katakan tentang adiknya. Lebih baik ia pergi dari sana. Adiknya mengatakan itu lebih baik, dari pada meladani perkataan menyakitkan dari mereka.
"Agniasari ariani!. Mau kemana kau!. Kami belum selesai berbicara!."
"Agniasari ariani!. Jangan kurang ajar kau!."
Putri Ambarsari dan Putri Andhini Andita sangat marah. Karena ditinggal begitu saja oleh Putri Agniasari Ariani. Mereka mengejarnya, karena mereka belum puas mengeluarkan kata-kata untuk mengungkapkan tentang Raden Cakara Casugraha.
Begitu mereka hampir keluar dari kaputren, mereka dikejutkan dengan kedatangan Raden Cakara Casugraha.
"Cakara casugraha!." Putri Ambarsari dan Putri Andhini Andita menghentikan langkah mereka.
"Rayi?." Putri Agniasari Ariani juga terkejut, ia berbalik arah. Ia tidak menyangka melihat kedatangan adiknya. Ia mendekati adiknya, ia ingin memastikan bahwa itu memang adiknya.
"Bukankah kau seharusnya berada di desa damai setia?." Putri Ambarsari merasa heran dengan kedatangan Raden Cakara Casugraha.
__ADS_1
"Jangan katakan, jika kau melarikan diri dari hukumanmu cakara casugraha." Putri Andhini Andita mencoba menebak apa yang dilakukan oleh Raden Cakara Casugraha.
"Hukuman adalah urusanku. Kalian tidak perlu ikut campur dengan apa yang telah ditetapkan ayahanda prabu." Raden Cakara Casugraha terlihat marah. "Mau kalian apakan yundaku!. Kenapa kalian mengejar yundaku?!." Ia menatap tajam ke arah mereka.
"Itu urusan kami. Mau kami apakan dia!." Putri Ambarsari sangat kesal mendengarkan perkataan Raden Cakara Casugraha.
"Sebaiknya kau pergi dari sini! Jalani hukuman yang telah diberikan ayahanda prabu!. Agniasari ariani adalah urusan kami!." Putri Andhini Andita tak kalah kesalnya. Ia merasa kesal dengan Raden Cakara Casugraha.
"Akan aku hajar kalian berdua, jika kalian berani mengganggu yundaku!. Akan aku buat kalian menyesal, karena telah berani membuat yundaku menangis karena kata-kata kurang ajar yang keluar dari mulut kalian itu." Raden Cakara Casugraha benar-benar marah.
"Sudahlah rayi. Bukankah rayi yang mengatakan pada yunda untuk tidak meladani mereka." Putri Agniasari Ariani hanya tidak ingin adiknya mendapatkan masalah baru.
Raden Cakara Casugraha menghela nafas dengan pelan. "Baiklah yunda. Mari kita tinggalkan tempat ini." Raden Cakara Casugraha tersenyum kecil menatap kakaknya.
"Kalian benar-benar akan aku hajar, jika kalian masih berani menyakiti yundaku." Raden Cakara Casugraha sempat mengancam mereka. Setelah itu ia pergi dari sana bersama kakaknya.
"Kita harus memberitahu ibunda juga raka. Jika kita diancam oleh cakara casugraha." Putri Ambarsari tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh Raden Cakara Casugraha padanya.
Setelah itu mereka masuk ke kaputren, ingin melaporkan apa yang telah mereka alami tadi. Apakah yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya.
Sementara itu. Raden Cakara Casugraha dan Putri Agniasari Ariani. "Bagaimana keadaanmu rayi?. Apakah masalah di desa damai setia telah selesai?." Putri Agniasari Ariani merasa penasaran, karena adiknya telah kembali dari sana.
"Tentunya telah selesai yunda. Aku dibantu oleh mereka dalam mengatasi masalah yang terjadi. Sehingga aku bisa pulang cepat ke istana." Jawabnya dengan senyuman kecil.
"Syukurlah rayi. Aku sangat senang mendengarnya." Putri Agniasari Ariani merasa bersyukur, karena adiknya telah kembali dengan cepat.
"Apakah ibunda baik-baik saja?. Aku sangat merindukan ibunda."
"Ibunda baik-baik saja nak."
Raden Cakara Casugraha melihat wanita cantik yang berada di taman Istana. Ia tersenyum manis melihat kedatangan putranya.
"Ibunda." Raden Cakara Casugraha langsung mendekati Ratu Dewi Anindyaswari. "Ibunda." Ia memeluk ibundanya dengan kasih sayangnya sebagai seorang anak. "Nanda sangat merindukan ibunda."
__ADS_1
"Ibunda juga merindukanmu putraku." Ratu Dewi Anindyaswari membalas pelukan putranya. Ia usap sayang kepala anaknya, setelah itu ia kecup puncak kepala anaknya dengan sayang.
"Nanda telah kembali. Ibunda sangat bahagia sekali nak."
"Nanda juga sangat bahagia bisa bertemu dengan ibunda. Nanda tidak sabar lagi ingin bertemu dengan ibunda." Ia mengungkapkan rasa sayangnya pada ibundanya.
"Ibunda, rayi. Kalian sangat curang sekali karena telah melupakan aku." Putri Agniasari Ariani terlihat sedih. Namun itu sebenarnya hanya candaannya saja.
"Oh putriku. Kemarilah nak." Ratu Dewi Anindyaswari tertawa kecil melihat raut wajah manyun anak perempuannya itu. Begitu juga Raden Cakara Casugraha yang ikut tertawa.
Rasa bahagia yang mereka nikmati, benar-benar lahir dari hati mereka yang memiliki sifat kasih sayang alami.
"Oh iya. Nanda memiliki hadiah yang cantik untuk ibunda, juga yunda." Raden Cakara Casugraha mengeluarkan dua buah tusuk konde cantik.
"Ini untuk ibunda. Dan ini untuk yunda." Ia memberikan satu untuk ibundanya, dan satunya lagi untuk kakaknya.
"Waah cantik sekali rayi." Putri Agniasari Ariani sangat senang mendapatkan hadiah dari adiknya.
"Benar nak. Nanda sangat pandai sekali memilih hadiah. Terima kasih ya nak." Ratu Dewi Anindyaswari sangat senang mendapatkan hadiah pemberian anaknya.
"Syukurlah jika ibunda juga yunda menyukainya." Raden Cakara Casugraha sangat senang, karena ibunda juga yundanya menyukai apa yang telah ia berikan kepada mereka berdua.
"Apakah ayahanda tidak mendapatkan hadiah juga?." Prabu Kawiswara Arya Ragnala tiba-tiba datang mendekati mereka.
"Ayahanda." Raden Cakara Casugraha dan Putri Agniasari Ariani tidak menyangka akan melihat ayahanda mereka.
"Kanda prabu?." Ratu Dewi Anindyaswari sedikit heran. Bagaimana mungkin suaminya ini menyadari kepulangan anaknya?.
"Apakah tidak ada hadiah untuk ayahanda putraku cakara casugraha." Sang Prabu kembali bertanya pada anak bungsunya.
Raden Cakara Casugraha bingung mau menjawab apa. Ia juga tidak tahu hadiah yang cocok untuk ayahandanya. Apa yang akan terjadi?. Temukan jawabannya. Mohon dukungannya ya pembaca tercinta.
...***...
__ADS_1