
...***...
"Kau jangan sombong dulu cakara casugraha!. Aku tidak akan mengampunimu, jika kau berani menyakiti ibundaku!."
"Tidak usah banyak bicara kau hadyan hastanta. Jika kau ingin aku hajar, majulah!. Tidak usah kau mengancamku!."
Raden Cakara Casugraha memainkan satu jurus andalannya. Ia benar-benar muak dengan apa yang dikatakan oleh Raden Cakara Casugraha. Pertarungan antara mereka benar-benar terjadi dengan cepat. Raden Hadyan Hastanta menyerang dengan kekuatan penuh. Tidak ia biarkan Raden Cakara Casugraha memainkan jurusnya kecuali, hanya bisa menahan serangannya saja.
"Ibunda. Apakah ibunda baik-baik saja?. Ibunda tidak disakiti setan itukan?."
"Ibunda baik-baik saja nak. Ibunda sangat takut dengan amarahnya itu."
Matanya memperhatikan pertarungan anaknya dengan Raden Cakara Casugraha. Hatinya sangat cemas menyaksikan pertarungan yang tidak seimbang itu. Karena Raden Cakara Casugraha yang sedang dikuasai amarah, dapat mematahkan semua serangan yang datang padanya.
Sementara itu Raden Ganendra Garjitha dan Raden Gentala Giandra sedang berusaha untuk membawa ibundanya ke dalam kaputren.
"Rayi. Panggil tabib istana. Kita harus segera menyembuhkan ibunda."
"Jangan lupa temui ayahanda. Katakan pada ayahanda Prabu, jika ibunda diserang oleh cakara casugraha."
"Baiklah raka. Aku akan menemui tabib terlebih dahulu, setelah itu baru menemui ayahanda prabu." Putri Ambarsari segera meninggalkan kaputren, ia takut terjadi sesuatu pada ibundanya setelah mendapatkan serangan dari Raden Cakara Casugraha tadi.
"Akan aku buat dia menyesali perbuatannya." Raden Gentala Giandra benar-benar sangat dendam terhadap Raden Cakara Casugraha.
Kembali pada pertarungan Raden Cakara Casugraha dengan Raden Hadyan Hastanta.
"Kau tidak akan bisa mengalahkan aku hadyan hastanta. Kau pikir dengan ilmu kanuraganmu yang tidak seberapa itu dapat mengalahkan aku?. Berkaca lah terlebih dahulu, renungkan semua kebodohanmu yang berani menantang aku."
"Sombong!. Kau tidak usah sombong dihadapanku cakara casugraha."
Raden Hadyan Hastanta kembali menyerang Raden Cakara Casugraha, namun apa yang terjadi?. Justru ia mendapatkan pukulan bertubi-tubi, bahkan tubuhnya mendapatkan sepakan serta hantaman kuat dari Raden Cakara Casugraha.
"Putraku!." Ratu Gendhis Cendrawati sangat terkejut melihat anaknya dihajar habis-habisan. Ia mendekati Raden Hadyan Hastanta, untuk melindungi anaknya dari serangan Raden Cakara Casugraha.
"HENTIKAN CAKARA CASUGRAHA!." Hatinya panas karena anaknya mengalami luka parah. Ia memeluk erat anaknya yang telah tidak berdaya lagi.
"Cakara Casugraha!. Kau benar-benar biadab!. Berani sekali kau menyerang rakaku!." Putri Andhini Andita juga mendekat. Ia sangat marah, ketika kakaknya dipukul tanpa ampun.
"Aku juga akan menghajarmu!. Karena kau juga ikut menyakiti yundaku!. Berani sekali kau melakukan itu pada yundaku. Hingga yundaku kesakitan akibat ulahmu yang busuk itu!."
__ADS_1
"Coba saja kalau kau berani!."
DUAKH
Siapa sangka, Raden Cakara Casugraha memang menyerang Putri Andhini Andita.
"Putriku!." Ratu Gendhis Cendrawati melihat anaknya yang terjajar karena mendapatkan pukulan keras di perutnya. Hingga ia terbatuk, karena saking kerasnya pukulan yang ia terima.
"CAKARA CASUGRAHA!. KAU BENAR-BENAR IBLIS!. BERANI SEKALI KAU MEMUKUL PUTRIKU!."
"Rayi." Raden Hadyan Hastanta mencoba untuk bangkit, ia membantu adiknya yang sedang kesakitan.
"Aku juga berencana untuk menghajarmu gendhis cendrawati. Karena kau telah berkata kurang ajar tentang ibundaku."
"Prajurit!. Prajurit!." Teriaknya dengan suara yang sangat keras. Ia sangat takut dengan ancaman dari Raden Cakara Casugraha.
"Ibunda. Kegh." Putri Andhini Andita mendekati ibundanya dan kakaknya. Ia meringis sakit, perutnya terasa mau remuk karena pukulan itu.
Tak lama kemudian, prajurit Istana datang. Ada sekitar lima orang prajurit Istana yang mendekati Ratu Gendhis Cendrawati.
"Ada apa gusti ratu?. Apa yang bisa kami bantu?."
Prajurit Istana melihat ke arah Raden Cakara Casugraha yang sedang marah?. Mereka sedikit bergidik ngeri melihat keadaannya.
"Kalian berani melawanku?. Kalian ingin aku hajar juga?." Raden Cakara Casugraha menyeringai seram. Senyumannya itu senyuman yang paling mengerikan dilihat oleh prajurit Istana.
"Ti-tidak raden. Ka-ka-kami tidak berani melawan raden." Mereka memberi hormat pada Raden Cakara Casugraha.
"Kalau begitu tinggalkan tempat ini!. Kembali kalian bertugas seperti biasanya!."
"Sa-sa-sandika raden." Dengan patuhnya mereka meninggalkan Raden Cakara Casugraha. Mereka kembali menuju tempat masing-masing. Karena mereka tidak ingin celaka. Kemarahan Raden Cakara Casugraha berbeda dengan yang lainnya, itulah alasan mengapa mereka lebih memilih untuk pergi dari pada kena imbasnya.
"Benar-benar prajurit tidak berguna. Mereka bahkan takut dengan ancaman cakara casugraha." Ratu Gendhis Cendrawati benar-benar prustasi dengan apa yang ia lihat.
Sementara itu Raden Cakara Casugraha malah tertawa keras, hatinya puas. "Kalian tidak akan bisa melawanku. Bahkan prajurit istana tidak berkutik dihadapan cakara casugraha."
Namun saat itu juga, Prabu Kawiswara Arya Ragnala datang bersama Putri Ambarsari, dan juga tabib Istana.
"Hamba akan memeriksa keadaan gusti ratu, hamba pamit gusti prabu."
__ADS_1
"Ya, lakukan tugasmu dengan baik." Perintah Prabu Kawiswara Arya Ragnala, mempersilahkan Tabib Darsa untuk melakukan tugasnya.
"Sampurasun."
"Rampes."
Tabib Darsa meninggalkan tempat, ia menuju kaputren. Karena ia diperintahkan untuk memeriksa keadaan Ratu Ardiningrum Bintari.
"Putraku cakara casugraha!. Apa yang telah kau lakukan?. Mengapa hawa kemarahan itu menyelimuti tubuhmu?." Ia tidak menyangka akan melihat pemandangan yang mengerikan dihadapannya.
Putri Andhini Andita dengan tertatih mendekati Prabu Kawiswara Arya Ragnala. Keadaannya tidak baik, raut wajahnya yang sedih, membuat siapa saja bersimpati melihatnya. Termasuk Prabu Kawiswara Arya Ragnala yang menyayangi putrinya.
"Ayahanda prabu. Nanda putri dihajar oleh rayi cakara casugraha. Rasanya sangat sakit sekali ayahanda prabu." Ia mengadu pada ayahandanya dengan raut wajah penuh belas kasihan. Tak lupa tangisnya yang begitu pilu, seakan ia yang paling teraniaya di dunia ini.
"Putriku. Kuatkan dirimu nak." Prabu Kawiswara Arya Ragnala memeluk anaknya yang menangis terisak. Hatinya merasa sedih dengan apa yang dialami oleh putrinya.
"Kanda prabu. Lihatlah putra kita. Nanda cakara casugraha sungguh sangat keterlaluan."
"Sakit sekali ayahanda." Raden Hadyan Hastanta merengek menangis. Tubuhnya benar-benar sakit, seakan-akan tenaga dalamnya benar-benar terkuras habis.
"Rayi cakara casugraha menyerang ibunda ratu ardiningrum bintari. Ia benar-benar keterlaluan ayahanda." Putri Ambarsari menangis, karena ia tidak kuasa melihat ibundanya yang terluka.
Deg
Prabu Kawiswara Arya Ragnala tidak percaya, dengan apa yang dikatakan oleh putrinya.
"Benarkah itu putraku cakara casugraha!." Suara Prabu Kawiswara Arya terdengar sangat keras. Ia tidak dapat lagi menyembunyikan kemarahannya.
"Mohon ampun ayahanda prabu. Nanda melakukan itu, karena ibunda ratu ardiningrum bintari, telah berkata yang tidak baik tentang ibunda ratu dewi anindyaswari. Nanda tidak terima dengan apa yang telah dikatakannya ayahanda."
"Bohong!. Itu sangat dusta kanda prabu!. Dia yang telah berkata yang tidak baik!. Tapi ketika kami menasehatinya. Nanda cakara casugraha tidak terima, dan malah menyerang yunda ardiningrum bintari, kanda prabu."
"Tutup mulut yang busuk itu gendhis cendrawati!. Berani sekali kau memfitnahku dihadapan ayahanda prabu."
"Putraku cakara casugraha!. Tenangkan dirimu!."
Prabu Kawiswara Arya Ragnala tidak menyangka, jika putranya yang sedang dikuasai oleh kemarahan sangat tidak sopan.
Apa yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya. Mohon dukungannya pembaca tercinta.
__ADS_1
...****...