
Di Kerajaan Angin Selatan.
Sebelum masuk ke Istana Kerajaan Angin Selatan.
"Apakah raden masih ingin menggunakan topeng itu ketika menghadap ayahanda serta ibundaku?."
"Apakah aku akan bersikap kurang ajar menghadap seorang raja dalam keadaan seperti ini sebagai utusan?."
"Baiklah. Aku rasa tidak apa-apa. Semoga saja ayahanda tidak mempermasalahkannya." Nyai Bestari Dhatu tersenyum kecil. Ia tidak bertanya atau membantah lagi.
Setelah gerbang istana dibuka lebar. Jaya Satria dan Nyai Bestari Dhatu masuk ke halaman Istana yang cukup luas.
Setelah itu mereka masuk ke dalam Istana. Kedatangan mereka disambut baik oleh Prabu Kawanda Labdagati, Pangeran Kawindra Labda, dan permaisuri Gendari Candramaya.
"Daulat sang prabu." Jaya Satria memberi hormat pada Prabu Kawanda Labdagati.
"Hormat hamba ayahanda prabu." Nyai Bestari Dhatu memberi hormat pada ayahandanya. Mereka berdua duduk bersimpuh dihadapan Prabu Kawanda Labdagati yang sedang duduk di Singgasananya.
Sepertinya kerajaan ini sedikit berbeda saat menerima tamu.
"Siapakah kisanak ini. Mengapa kisanak datang dengan putriku bestari dhatu.?. Apa tujuan Kisanak datang ke kerajaan."
"Hamba gusti prabu." Jaya Satria memberi hormat pada Prabu Kawanda Labdagati. "Hamba adalah jaya satria. Utusan dari prabu asmalaraya arya ardhana." Lanjutnya.
Mereka semua terkejut nama Prabu Asmalaraya Arya Ardhana disebutkan.
"Apa gerangan tujuan prabu asmalaraya arya ardhana mengutus engkau datang kemari?." Prabu Kawanda Labdagati penasaran.
"Bukankah prabu asmalaraya arya ardhana adalah raja baru dari kerajaan suka damai?. Putra bungsu dari mendiang prabu kawiswara arya ragnala." Pengeran Kawindra Labda sedikit mendengar tentang Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Mohon ampun gusti prabu. memang benar, bahwa gusti prabu asmalaraya arya ardhana adalah raja dari kerajaan suka damai. Putra bungsu dari mendiang prabu kawiswara arya ragnala." Jaya Satria memberi jeda pada ucapannya.
"Mungkin kabar yang hamba bawakan sedikit mengejutkan gusti prabu serta keluarga. Karena ini sangat mendadak, namun kabar ini harus hamba sampaikan karena permintaan dari prabu."
Prabu Kawanda Labdagati, pangeran Kawindra Labda dan permaisuri Gendari Cendrmaya sedikit terheran-heran.
"Katakan apapun itu. Tapi aku harap itu bukan sesuatu yang buruk untukku, juga keluargaku." Sang prabu penasaran dengan berita apa yang akan ia dengar.
__ADS_1
"Gusti prabu asmalaraya arya ardhana atau nama aslinya adalah bahuwirya cakara casugraha sebelumnya memiliki hubungan persahabatan dengan putri gusti prabu, yaitunya gusti putri bestari yang beliau temui di pantai selatan kerajaan ini gusti prabu." Jaya Satria sedikit menjelaskan pada mereka semua hubungan yang terjalin antara Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Benarkah itu putriku bestari dhatu?. Bagaimana mungkin engkau bisa berkenalan dengan raja muda itu?." Prabu Kawanda Labdagati kali ini bertanya kepada anaknya.
"Benar ayahanda prabu. Itu terjadi beberapa tahun lalu. Hamba bertemu dengan raden cakara casugraha. Namun hamba tidak menyangka setelah sempat berpisah, raden cakara casugraha menjadi raja." Ia tidak bisa mengatakan jika orang yang duduk bersimpuh disampingnya saat ini adalah Raden Cakara Casugraha. Karena itu adalah rahasia yang tidak bisa ia katakan walaupun pada keluarganya sendiri.
"Aku tidak suka menebak apa tujuan Kisanak diutus oleh raja muda itu. Aku mohon jelaskan pada kami semua." Sepertinya Prabu Kawanda Labdagati sudah tidak sabar lagi.
"Mohon ampun gusti prabu. Prabu asmalaraya arya ardhana memiliki seorang saudara bernama bahuwirya hadyan hastanta. Kedatangan kami ke sini untuk menyampaikan perihal meminang putri bestari dhatu untuk dijadikan istri raden bahuwirya hadyan hastanta."
Siapa yang tidak terkejut mendengar kabar itu?. Ada seorang Raja yang mengutus seseorang untuk menyampaikan lamarannya.
"Terakhir hamba masuk ke istana kerajaan suka damai karena mengobati prabu asmalaraya arya ardhana yang sedang sakit. Karena sukma beliau terjebak oleh jurus serap jiwa kegelapan dari pedang pelebur sukma." Nyai Bestari Dhatu menjelaskan kepada ayahandanya.
"Kami memiliki hubungan yang sangat baik ayahanda. Prabu asmalaraya arya ardhana lah yang telah menguatkan hati hamba untuk menjadi ahli obat. Namun saat hamba datang ke sana. Hambar bertemu dengan raden hadya hastanta. Setelah itu tumbuh perasaan cinta diantara kami. Karena itulah kami memutuskan untuk menikah dari pada hanya menjadi kekasih yang tidak memiliki kejelasan dalam hubungan kami ayahanda. Ibunda, juga rakanda." Lanjutnya lagi.
"Apakah kau sudah memutuskannya dengan matang putriku?. Engkau sudah lama tidak pulang ke istana ini, namun engkau akan pergi lagi jika kami menerima lamaran dari kerajaan suka damai." Permaisuri Gendari Candramaya sedikit sedih mendengar kabar itu.
"Mohon maaf ibunda. Hamba sudah memutuskannya. Bahwa ananda akan menerima lamaran dari raden hadyan hastanta atas dasar rasa cinta, serta sumpah setia yang akan ananda ucapkan didalam janji pernikahan nanti." Sorot mata itu menunjukkan Keseriusannya.
"Mohon ampun gusti ratu. Kedatangan hamba hanya memberi kabar saja." Ucap Jaya Satria. "Sebagai sahabat dekat gusti putri bestari dhatu yang mengetahui bagaimana beliau selama ini. Hamba tentunya mengerti kecemasan dari gusti ratu." Lanjutnya lagi.
"Hamba juga seorang pengembara yang selalu jauh dari kedua orangtua. Kerinduan pada seorang ibunda pasti ada disetiap hati seorang anak. Kami juga tidak mau terburu-buru meminang putri gusti ratu. Tentunya gusti ratu merindukan gusti putri bestari dhatu." Jaya Satria merasakan perasaan rindu itu selama mengembara lima tahun lamanya.
"Jadi hanya itu tujuanmu?. Aku kira prabu asmalaraya arya ardhana akan segera datang dalam waktu yang dekat." Raut wajah penuh kecemasan sangat terlihat jelas diwajahnya.
"Mohon ampun gusti ratu. Selain menyampaikan lamaran. Hamba datang untuk mengantar kepulangan gusti putri bestari dhatu ke istana. Jika memang niat baik kami diterima. Satu purnama lagi kami akan datang dengan membawakan hantaran ke istana ini." Jawab Jaya Satria.
"Jika memang begitu. Kami sangat berterima kasih pada rajamu yang baik hati karena mau mengantarkan putriku pulang." Prabu Kawanda Labdagati sangat senang mendengarnya.
"Kami akan menerima kedatangan lamaran itu dengan senang hati. Terima kasih karena telah memberikan waktu pada kami untuk berkumpul lagi meski hanya satu purnama sebelum acara lamaran." Sungguh kebahagiaan yang luar biasa ia rasakan sebagai seorang ayah.
"Terima kasih gusti prabu. Akan hamba sampaikan pada raja hamba mengenai kabar bahagia ini." Jaya Satria sangat senang mendapatkan jawaban yang sangat ia harapkan.
"Kami yang berterima kasih pada rajamu. Jika bukan kebaikan hatinya. Mungkin kami tidak akan bisa bertemu lagi dengan putri kami yang sudah sekian tahun tidak pulang ke istana ini." Permaisuri Gendari Candramaya sangat bersyukur putri yang ia rindukan akhirnya kembali.
"Maafkan hamba ibunda ratu." Rasa penyesalan memang ada dihati seorang anak.
__ADS_1
Mereka hanya tersenyum maklum. Tapi setidaknya mereka sangat bersyukur dengan kepulangan Nyai Bestari Dhatu ke Istana Kerajaan Angin Selatan.
"Kalau begitu hamba mohon pamit. Hamba akan kembali ke kerajaan suka damai. Terima kasih karena mau menerima lamaran dari raden Hadyan hastanta." Ucap Jaya Satria.
"Sampaikan salam terima kasihku pada prabu asmalaraya arya ardhana, juga calon menantuku. Bahwa satu purnama kedepan. Kami akan menyambutnya dengan penuh kebahagiaan. Kami sangat menantikan kedatangan keluarga besar kerajaan suka damai untuk acara lamaran terhadap putriku bestari dhatu."
"Akan hamba sampaikan dengan sebaik-baiknya gusti prabu. Hamba mohon pamit. Sampurasun." Setelah berkata seperti itu. Jaya Satria mundur perlahan, setelah itu meninggalkan tempat.
"Rampes." Balas mereka semua dengan senyuman ramah.
"Hamba akan mengantar jaya satria sampai depan gerbang istana. Ayahanda, ibunda, rakanda." Nyai Bestari Dhatu menyusul Jaya Satria.
"Syukurlah putri kita akhirnya kembali kanda." Permaisuri Gendari Candramaya sangat bahagia.
"Ya Dinda. Kanda bahagia, walaupun setelah ini ia akan pergi lagi." Prabu Kawanda Labdagati merasakan bahagia dan kesedihan diwaktu yang sama.
Sementara itu di depan gerbang Istana.
"Apakah raden tidak menginap barang satu atau dua hari di istana ini?. Istirahatlah dahulu." Nyai Bestari Dhatu sedikit khawatir.
"Aku tidak mau mengganggu kepulanganmu setelah sekian tahun. Tentunya nyai ingin bersama keluarga. Aku akan kembali ke istana. Karena gusti prabu sangat membutuhkan bantuanku dalam menyelesaikan masalah sebelum satu purnama kedepan kami datang ke istana ini untuk melamar nyai." Ya, Jaya Satria tidak mau mengganggu kerinduan yang sudah lama mereka rasakan.
"Kalau begitu berhati-hatilah raden. Semoga raden selamat sampai ke istana suka damai dengan aman."
"Ya. Terima kasih nyai. Semoga nyai bahagia bisa berkumpul dengan keluarga nyai. Semoga Allah SWT selalu memberikan kebahagiaan untuk nyai. Sampurasun."
"Rampes."
Nyai Bestari Dhatu hanya melihat kepergian Jaya Satria. Meskipun hatinya terasa berat, namun ia sepertinya memang tidak bisa menahan Jaya Satria agar tinggal di Istana Kerajaan Angin Selatan.
"Seper mereka saling mengenal satu sama lain meskipun pemuda itu ditutupi oleh topeng." Pangeran Kawindra Labda memperhatikan mereka dari jarak jauh.
"Bahkan adikku memanggilnya dengan sebutan raden. Siapa utusan dari kerajaan suka damai itu?." Hatinya bertanya-tanya karena penasaran.
Sementara itu di Istana kerajaan Suka Damai. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum puas setelah melihat melalui penglihatan Jaya Satria tadi.
Apakah yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya. Jangan lupa tinggalkan jejaknya.
__ADS_1