
...****...
Putri Bestari Dhatu dan Raden Hadyan Hastanta berangkat menuju Bukit Setangkai malam ini. Dan kebetulan Putri Andhini Andita dan Jaya Satria telah kembali dari Bukit Duri.
"Mau kemana raka juga yunda malam-malam seperti ini?."
"Kami akan pergi ke bukit setangkai rayi."
"Memangnya apa yang ada di sana raka?. Dan siapa mereka?."
"Dinda bestari dhatu akan mengobati seseorang di sana. Ia bernama pendekar tapa simulung."
"Memangnya apa yang terjadi dengannya raka?. Apakah dia sakit?. Sehingga yunda bestari dhatu diajak ke sana?."
"Apakah rayi prabu tidak mengatakannya padamu rayi jaya satria?. Bahwa pendekar tapa simulung yang pernah berhadapan dengan rayi di masa lalu saat ini sedang mengalami sakit parah."
"Mungkin karena kami sulit mengalami komunikasi. Gusti prabu tidak bisa mengatakannya raka. Tapi aku mengingatnya. Raka, yunda berhati-hatilah menuju ke sana. Karena jalannya agak terjal."
"Baiklah rayi. Kami berangkat dahulu. Sampurasun."
"Rampes."
Raden Hadyan Hastanta dan Putri Bestari Dhatu berangkat malam itu juga menuju Bukit Setangkai. Sedangkan Jaya Satria dan Putri Andhini Andita masuk ke Istana Kerajaan Suka Damai.
...***...
Sementara itu di suatu tempat. Ada seorang pendekar yang sedang menatap langit malam. Ia teringat akan suatu kejadian yang membuat ia kehilangan penglihatannya sebelah kanan. Kejadian yang sangat menyakitkan baginya. Kejadian yang membuatnya menyebut satu nama.
"Jaya satria. Pendekar bertopeng yang telah menyebab ini semua."
Ya, Jaya Satria. Ketika ia terlibat dalam perang di wilayah perbatasan antara kerajaan Jala Besi dengan kerajaan Rencong. Sungguh ia tidak menyangka akan mendapatkan lawan yang sangat tangguh pada saat itu.
"Kekuatannya sangat luar biasa. Ilmu kanuragan yang ia miliki, serta pedang yang ia gunakan pada saat itu benar-benar telah membunuh semua pendekar pilih tanding yang aku perintahkan untuk membunuh siapa saja yang berani melakukan perlawanan."
Ingatannya masih kuat akan kejadian itu. Ia tidak akan pernah lupa berhadapan dengan siapa. Kejadian yang membuatnya kehilangan mata kirinya.
Kembali ke masa itu.
__ADS_1
Jaya Satria saat itu sedang melakukan pengembaraan. Meskipun ia telah diizinkan oleh Prabu Kawiswara Arya Ragnala berada di istana. Namun tetap saja, jika tidak bisa menjangkau ibundanya, lebih baik ia saat ini melakukan pengembaraan. Kebetulan, ia berada di kerajaan Jala Besi. Ia tidak sengaja masuk ke wilayah kerajaan itu yang sedang mendirikan tenda. Tentunya Jaya Satria diserang oleh mereka karena dianggap mata-mata musuh.
"Hentikan!. Apa yang kalian lakukan padaku?. Kenapa kalian malah menyerang aku?."
"Itu karena kau adalah mata-mata dari musuh. Kau berani masuk ke wilayah ini."
"Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kalian katakan. Aku bukan musuh ataupun kawan kalian. Jika memang aku mata-mata, aku tidak akan seceroboh ini masuk ke wilayah musuh."
Namun tiba-tiba ada seorang laki-laki berpakaian perang mendekati mereka dan bertanya. Apa yang terjadi?. Siapa pemuda bertopeng itu?.
"Mengapa kalian menyerang orang bertopeng itu?."
"Mohon ampun gusti patih. Kami menyerangnya karena kami mencurigai bahwa dia adalah mata-mata musuh gusti patih."
"Benarkah itu anak muda?. Mengapa kau masuk ke wilayah kami?."
"Mohon ampun gusti Patih. Memang hamba menggunakan topeng ini karena hamba tidak ingin ada yang mengenali hamba selama melakukan pengembaraan. Hamba hanya kebetulan lewat. Hamba tidak sengaja masuk ke wilayah ini. Memangnya apa yang terjadi di sini?. Sehingga hamba dicurigai sebagai musuh?."
Laki-laki yang dipanggil Patih tersebut memandang Jaya Satria dengan seksama.
"Tidak memperlihatkan wajahnya ketika mengembara?. Hanya ada dua dugaanku anak muda. Pertama kau adalah buronan, yang kedua kau adalah seorang anak raja yang sedang melakukan perjalanan. Kau ada dimana?."
"Jadi kau adalah seorang muslim?. Kabar yang aku dengar, seorang muslim banyak melakukan pengembaraan untuk menyebarkan agama islam. Apakah itu benar?."
"Ya, itu sangat benar gusti patih. Maaf jika hamba masuk ke wilayah ini, dan membuat kegaduhan gusti patih."
"Jadi begitu?. Bukankah akan lebih mencurigakan jika kau menggunakan topeng ini jika dalam perjalanan?. Apalagi di wilayah ini sedang terjadi perang."
"Memang sangat berisiko gusti patih. Namun hamba tidak menyangka jika di wilayah ini sedang terjadi perang. Maafkan hamba sekali lagi gusti patih."
"Baiklah kalau begitu. Kau boleh ikut dengan kami anak muda."
"Apakah boleh gusti Patih?. Apakah hamba tidak dicurigai?."
"Aku yang mengundangmu, jika memang kau seorang muslim yang sedang mengembara. Akan berbahaya jika kau melanjutkan perjalanan sampai ke kerajaan rencong. Aku takut kau akan dibunuh jika memasuki wilayah itu."
"Terima kasih atas kebaikan gusti Patih."
__ADS_1
"Sama-sama anak muda. Dan kalian segera berjaga kembali. Laporkan padaku jika terjadi sesuatu di sekitar wilayah ini."
"Sandika gusti patih."
Jaya Satria ikut bersama Patih Arya Sena menuju tenda. Ia akan memperkenalkan Jaya Satria pada Prabu Kanigara Laksana. Begitu sampai di tenda, Prabu Kanigara Laksana bertanya-tanya siapa yang dibawa oleh Patih Arya Sena.
"Siapa yang engkau bawa ini patih?. Apakah kau baru saja menangkap seorang mata-mata?."
"Mohon ampun gusti prabu. Anak muda ini bukanlah mata-mata. Ia berkata pada hamba, jika ia adalah seorang pengembara muslim gusti prabu."
"Mohon ampun gusti prabu. Nama hamba jaya satria. Seorang pengembara muslim gusti prabu."
"Lalu mengapa kau membawanya ke sini patih?. Katakan padaku alasannya."
"Mohon ampun gusti prabu. Hamba hanya kasihan saja padanya jika ia melanjutkan perjalanan. Kita semua mengetahui jika kerajaan rencong adalah orang-orang yang kejam gusti prabu. Hamba takut, anak muda ini akan disiksa oleh mereka gusti prabu."
"Ya, memang berbahaya jika anak muda ini sampai masuk ke wilayah sana."
"Mohon ampun gusti prabu. Memangnya apa penyebab perang ini terjadi?. Maaf jika hamba lancang bertanya gusti prabu."
"Wilayah kami, kerajaan jala besi diancam oleh kerajaan rencong. Mereka ingin menguasai wilayah kami. Mereka ingin menjadikan kami budak perdagangan manusia. Tentu saja sebagai seorang raja aku menolaknya."
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Sungguh itu perbuatan sangat keji. Menjadikan orang lain menjadi budak, dan akan disiksa jika tidak mau menuruti apa yang mereka inginkan."
"Itulah mengapa kami melawan anak muda. Kami masih memiliki harkat dan martabat sebagai manusia. Kami tidak akan membiarkan mereka memperbudak kami dengan cara yang kejam seperti itu."
"Jika mereka memang melakukan kekejaman seperti itu. Hamba mohon izin untuk bergabung dengan gusti prabu."
Prabu Kanigara Laksana dan Patih Arya Sena saling bertatapan. Mereka tidak menyangka jika anak muda itu ingin bergabung dengan mereka?.
"Apakah kau yakin ingin bergabung dengan kami?. Ini adalah perang anak muda."
"Maafkan hamba gusti prabu. Hamba adalah orang yang benci akan kekejaman. Semoga saja hamba bisa membantu gusti prabu. Dan hamba lihat tadi saat masuk ke sini, ada beberapa orang prajurit yang sedang sakit kulit. Itu sangat berbahaya jika dibawa perang. Prajurit tersebut harus segera diobati gusti prabu, atau penyakit kulit itu akan menyebar ke seluruh prajurit lainnya. Itu sangat berbahaya untuk perang yang akan gusti prabu lakukan."
"Baiklah kalau begitu anak muda. Sepertinya kau mengerti tentang ilmu pengobatan. Mohon bantuannya anak muda."
Jaya Satria diterima oleh prabu Kanigara Laksana. Ia akan ikut dalam perang itu?. Apakah yang akan terjadi?. Temukan jawabannya. Jangan lupa tinggalkan komentarnya ya pembaca tercinta.
__ADS_1
...***...