RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
KEMARAHAN RADEN CAKARA CASUGRAHA


__ADS_3

...***...


"Pergi!. Pergi kau dari sini." Putri Andhini Andita dan Putri Ambarsari mengusir Putri Agniasari Ariani dari kaputren. Tentunya Putri Agniasari menangis karena diperlakukan seperti itu oleh kedua kakak tirinya.


"Hei!. Apa yang kalian lakukan pada yundaku!." Raden Cakara Casugraha yang hendak menjemput kakaknya terkejut. Melihat kakaknya yang menangis karena perlakuan kasar mereka berdua.


"Rayi." Putri Agniasari Ariani berlari, bersembunyi dibelakang adiknya.


"Yunda andhini andita. Yunda ambarsari. Apaan yang kalian lakukan pada yundaku!." Raden Cakara Casugraha sekali lagi bertanya.


"Yundamu yang bodoh itu telah merusak mainan kami. Karena itukah kami mengusirnya." Jawab Putri Andhini Andita dengan geramnya.


"Katakan pada yundamu yang bodoh itu. Jika dia harus mengganti semua mainan yang telah dirusakinya itu." Putri Ambarsari juga terlihat kesal.


"Itu tidak benar. Yunda tidak melakukannya. Mereka yang melempar mainan itu ke arah yunda. Boneka golek kayu itu rusak karena mereka melemparnya ke arah yunda." Putri Agniasari Ariani bergetar takut, memegang erat lengan adiknya.


"Jangan banyak alasan. Yundaku tidak mungkin melakukan itu." Raden Cakara Casugraha tidak begitu mudahnya percaya dengan apa yang dikatakan oleh kedua kakak tirinya itu. "Yunda berdua telah berubah. Mengapa tiba-tiba membenci yundaku!." Raden Cakara Casugraha sungguh merasa heran. Padahal sebelum ini semuanya baik-baik saja.


Akan tetapi, lama-kelamaan ada perubahan sikap yang ditunjukkan oleh Putri Andhini Andita dan Putri Ambarsari pada kakaknya ini.


"Kau tidak usah meninggikan suara pada adikku cakara casugraha." Dari arah samping, Raden Ganendra Garjitha datang bersama Raden Gentala Giandra dan Raden Hadyan Hastanta. "Kalau kau tidak suka berada di sini sebaiknya pergi saja. Dengan adanya kalian di sini, udara sekitar menjadi kotor." Lanjutnya lagi.


"Itu tidak ada hubungannya sama sekali raka." Balas Raden Cakara Casugraha. "Ini adalah masalah persaudaraan." Raden Cakara Casugraha berusaha bersikap tenang. "Tidak ada permusuhan diantara kita sebelumnya. Tapi mengapa yunda agniasari ariani diperlakukan beda oleh kalian semua. Termasuk aku." Lanjutnya lagi.


Mereka semua malah tertawa mendengarkan apa yang dikatakan oleh Raden Cakara Casugraha. Seakan-akan apa yang dikatakan oleh Raden Cakara Casugraha adalah sebuah lelucuan yang membuat mereka tertawa terpingkal.


Akan tetapi setelah itu. Mereka semua mendorong tubuh Raden Cakara Casugraha, hingga membuatnya terjajar beberapa langkah. Namun bukan hanya Raden Cakara Casugraha saja yang terjatuh. Putri Agniasari Ariani juga terjatuh.


"Yunda." Raden Cakara Casugraha sangat terkejut melihat keadaan kakaknya.

__ADS_1


"Sakit rayi. Sakit sekali." Putri Agniasari semakin menangis, karena ia terkejut.


"Yunda. Jangan menangis yunda." Raden Cakara Casugraha berusaha untuk menghentikan tangis kakaknya.


"Rayi." Ia berusaha untuk berdiri dengan bantuan adiknya.


"Hei!. Cakara casugraha. Memangnya siapa yang sudi menjadi saudaramu hah?!." Ucap Raden Ganendra Garjitha dengan suara yang keras, hingga didengar oleh Raden Cakara Casugraha.


"Anak selir seperti kalian, mana pantas menjadi saudara kami." Raden Gentala Giandra tersenyum aneh.


"Kalian itu hanyalah orang yang kebetulan memiliki nasib baik saja. Tidak pantas berada di istana ini. Dasar anak selir menjijikkan." Raden Hadyan Hastanta juga ikutan berkata seperti itu.


Raden Cakara Casugraha merasa heran dengan ucapan ketiga kakak laki-lakinya itu. "Yunda. Sebaiknya yunda pergi dari sini." Raden Cakara Casugraha menyuruh kakak perempuannya pergi sana?. Tapi mengapa?.


"Tapi rayi." Putri Agniasari Ariani tidak mengerti mengapa adiknya menyuruhnya pergi.


"Yunda tidak pantas mendengarkan apa yang mereka katakan. Biar aku saja yang menghajar mereka semua." Meskipun ia anak bungsu, ia sudah mengerti apa yang mereka katakan. Karena menahan emosi dari mereka, ia tidak mau kakaknya sakit hati mendengarkan apa yang mereka katakan nantinya.


"Baiklah rayi. Tapi cepat susul aku ya. Jangan lama-lama." Balasnya mencoba untuk menghentikan tangisnya.


"Yunda tenang saja. Aku tidak akan lama." Ia tersenyum kecil sambil menganggukkan kepalanya. Meyakinkan kakaknya bahwa semuanya bisa atasi dengan baik.


Setelah kakaknya pergi. Ia mendekati mereka semua. Ia menatap tajam ke arah mereka.


"Apa masalah kalian pada kami. Hingga kalian berubah pada kami. Bukankah sebelumnya tidak ada masalah diantara kita?. Lalu apa yang membuat kalian membenci kami." Raden Cakara Casugraha sudah berusaha menahan dirinya selama ini.


"Ucapan kalian benar-benar keterlaluan. Berani sekali kalian mengatakan jika ibundaku selir simpanan ayahanda prabu." Emosi sepertinya mulai menguasai dirinya.


"Itulah kenyataannya cakara casugraha. Kami tidak sudi memiliki seorang ibu yang berani menggoda ayahanda kami." Putri Andhini Andita yang berkata seperti itu?.

__ADS_1


"Ibundamu itu wanita yang tidak baik. Aku yakin, yundamu juga tidak baik." Putri Ambarsari bahkan berkata seperti itu?.


Perlahan-lahan hawa kemerahan menyelimuti tubuh Raden Cakara Casugraha. Kemarahan yang diakibatkan suasana hatinya yang panas, serta emosi-emosi yang bertumpuk-tumpuk mulai tidak bisa ia tahan lagi.


Memang selama ini ibundanya mengatakan untuk tetap sabar, apapun yang mereka katakan tetaplah tenang. Jangan sampai terbawa amarah yang berlebihan.


Namun hari ini, Raden Cakara Casugraha sudah tidak bisa menahan dirinya lagi. Ucapan mereka sangat tidak pantas untuk ditanam lagi.


"Kami sangat malu memiliki saudara dari seorang ibu yang ternyata seorang wanita penggoda!." Raden Ganendra Garjitha berkata dengan suara keras tepat di telinga Raden Cakara Casugraha.


DUAKH


Siapa sangka Raden Cakara Casugraha malah menghantam dada Raden Ganendra Garjitha dengan sebuah pukulan yang sangat keras. Tentunya tubuh Raden Ganendra Garjitha terpental ke belakang.


Mereka yang melihat itu sangat terkejut, dan tidak percaya sama sekali dengan apa yang dilakukan oleh Raden Cakara Casugraha.


Raden Cakara Casugraha tidak membiarkan Raden Ganendra Garjitha hanya terkena sekali serangan saja. Ia mendekati Raden Ganendra Garjitha, menarik kuat kerah bajunya sambil membentak.


"Berani sekali kau berkata kurang ajar tentang ibundaku!." Bentaknya dengan suara yang berat. Sorot matanya menjadi lebih tajam dari yang sebelumnya.


"Raka." Mereka semua khawatir mendekati Raden Ganendra Garjitha yang terlihat pucat pasi karena dihajar oleh Raden Ganendra Garjitha. Bahkan ia tidak bersuara saking takutnya.


"Hei!. Cakara casugraha. Berani sekali kau memiliki raka ku." Bentak Raden Gentala Giandra merasa tidak senang melihat perlakuan Raden Cakara Casugraha pada kakaknya.


Raden Cakara Casugraha melepaskan tarikan kuat baju Raden Ganendra Garjitha. Kali ini ia menantang Raden Gentala Giandra.


"Kau juga akan aku hajar!. Mulut kurang ajar kalian, akan aku hajar di sini. Biar kalian mengerti bagaimana perasaan ibundaku saat kata-kata itu keluar dari mulut kalian yang kurang ajar itu!." Setelah berkata seperti itu, Raden Cakara Casugraha menghajar Raden Gentala Giandra.


Hari itu, Raden Cakara Casugraha telah menggunakan kekuatan kutukan untuk menghajar semua saudara-saudaranya yang menurutnya menyakitkan hatinya, serta ibunda juga kakaknya.

__ADS_1


Bagaimana nasib mereka yang dihajar oleh Raden Cakara Casugraha?. Temukan jawabannya.


...***...


__ADS_2