
...***...
Pertarungan masih berlanjut. Pertarungan kali ini memang lebih menegangkan dari yang sebelumnya. Mereka semua mengerahkan tenaga dalam mereka, serta ilmu kadigjayaan yang mereka miliki.
Namun saat mereka sedang bertarung, tiba-tiba gerakan mereka semua terhenti karena suara keras dari Tujuh Suara. Teriakannya yang nyaring itu menghasilkan suara bising yang membuat telinga siapa saja menjadi sakit. Entah itu dari lawan ataupun kawannya?.
"Telingaku! Sakit sekali!." Putri Ambarsari mencoba untuk memusatkan tenaga dalamnya. Ia ingin menghilangkan pengaruh suara itu agar tidak menghancurkan pendengarannya.
"Suara ini sangat menyebalkan sekali!." Raden Hadyan Hastanta mencoba untuk menghiraukan suara itu, namun tidak bisa ia lakukan. "Hentikan!."
"Sakit! Sakit sekali!." Putri Andhini Andita yang sedang berhadapan dengan Prabu Ganendra Garjitha meringis sakit.
"Kegh! Telingaku!." Putri Agniasari Ariani juga merasa kesakitan.
"Gawat! Kita semua bisa mati karena suara keras ini." Syekh Asmawan Mulia sulit untuk bergerak. Seakan suara itu membuat tenaganya benar-benar terkuras habis. "Astaghfirullah hal'azim ya Allah."
"Benar-benar jurus yang sangat berbahaya! Apa yang haru aku lakukan?!." Dalam hati Nyai Bestari Dhatu merasa cemas akibat pengaruh jurus suara itu.
Sementara itu di Istana Suka Damai.
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang saat ini sedang berada di ruangan pribadinya. Mencoba untuk memusatkan tenaga dalamnya karena telinganya juga terasa sakit.
"Jaya satria?! Jaya satria?! Jangan sampai kau membiarkan mereka terluka! Gunakan jurus aliran petir menotok aliran darah! Satukan dengan pedang pelebur sukma untuk menghentikan pendekar itu."
"Sandika gusti prabu! Akan aku lakukan!."
Jaya Satria mengeluarkan pedang pelebur sukma. Ia mainkan jurus aliran petir menotok aliran darah. Setelah itu ia salurkan ke pedang itu? Di saat Tujuh Suara sedang fokus dengan suaranya itu, Jaya Satria melompat ke arahnya, menebas leher Tujuh Suara tanpa ampun.
"Ghakh!."
Terdengar teriakan keras karena tebasan pedang itu, membuat mereka semua terkejut, apalagi dengan tumbangnya Tujuh Suara.
Deg!.
Raden Gentala Giandra dan Prabu Ganendra Garjitha sangat terkejut ketika melihat itu, jantung keduanya seakan-akan hendak melompat dari tempatnya ketika menyaksikan apa yang telah dilakukan Jaya Satria.
"Tanpa perasaan ragu lagi? Dia menebas batang leher orang itu? Pedang apa yang ia gunakan? Hawa pedang itu sangat tidak biasa." Dalam hati Prabu Ganendra Garjitha gugup melihat pemandangan itu.
"Dia memang sangat gila! Hanya untuk menghentikan suara berisik itu dia menebas leher seseorang tanpa adanya perasaan ragu sedikitpun?." Dalam hati Raden Gentala Giandra tidak percaya dengan apa yang ia saksikan saat itu.
Sepertinya Tujuh Suara tidak bergerak lagi, karena urat lehernya yang putus akibat tebasan itu?. Tentu saja tidak ada yang akan selamat jika kepalanya telah berpisah dari badannya!.
"Bedebah! Kau orang bertopeng! Berani sekali kau membunuhnya?!." Rengkah merapi terlihat sangat marah, ia menghadang Jaya Satria dengan perasaan berapi-api.
"Akulah yang akan menjadi malaikat kematian mu! Karena pedang ini telah bergetar, ingin meminta darah dari golongan hitam." Jaya Satria dapat merasakan getaran pedang pelebur sukma yang pada dasarnya memang suka memakan kegelapan pendekar golongan hitam.
"Kau akan membayar nyawanya! Aku tidak akan pernah mengampunimu!."
Jaya Satria berhadapan dengan Rengkah Merapi. Sedangkan mereka yang telah terbebas dari suara itu, mulai kembali tenang.
"Nanda jaya satria sepertinya sedang dikuasai oleh kemarahan, apa yang harus aku lakukan?." Syekh Asmawan Mulia masih sempat mengkhawatirkan muridnya itu. Namun kekhawatirannya teralihkan oleh serangan dari Gempur Bedati.
Begitu juga dengan Nyai Bestari Dhatu yang melwan Sembur Hawa. Mereka masih melanjutkan pertarungan, sebelum salah satu dari mereka mati.
"Kalian berdua?! Aku tidak akan mengampuni kalian berdua!."
Awalnya Putri Andhini andita hanya melawan prabu Ganendra Garjitha, namun siapa sangka Raden Gentala Giandra malah ikutan menyerangnya.
"Kaulah yang akan minta ampun padaku nantinya! Kau aku buat bersujud di hadapanku!." Prabu Ganendra Garjitha terlihat berambisi sekali. Sorot matanya sangat tajam, seakan ia hendak membunuh Putri Andhini Andita.
"Heh! Kau pikir aku sudi bersujud dihadapan kau? Jangan bermimpi terlalu tinggi kau ganendra garjitha!." Putri Andhini Andita kembali merasakan bagaimana amarah menguasai dirinya, walaupun amarah itu sangat berbeda dengan Jaya Satria dan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Apa kau lupa?! Bahwa kau telah menyakiti adikku cakara casugraha?! Aku tidak akan pernah mengampuni perbuatan kau! Akan aku potong tanganmu kurang ajarmu itu!."
"Diam kau andhini andita!."
"Lancang sekali mulutmu itu!."
Prabu Ganendra Garjitha dan Raden Gentala Giandra benar-benar marah padanya, hingga membentaknya.
"Aku telah bersumpah! Siapapun yang menyakiti rayi prabu Asmalaraya arya ardhana?! Akan aku habisi dia!." Suara Putri Andhini Andita seakan-akan menggelegar di sana.
"Yunda?." Putri Agniasari Ariani tersentuh mendengarnya, namun saat itu ia sedang fokus menghadapi musuhnya.
"Tidak peduli seberapa lemahnya ilmu kanuraganku?! Tapi aku?! Aku memiliki tekad yang kuat! Bahwa aku akan menghukum mereka yang telah menyakiti rayi cakara casugraha!." Perasaannya saat ini sedang bergemuruh, mengingat apa saja yang telah ia alami selama ini?. Bagaimana sikapnya selama ini?.
__ADS_1
Di saat yang bersamaan, panggilan jiwa Putri Ambarsari merasa terpanggil saat ia mengamati pertarungan mereka semua. Ia merasa membara mendengarkan apa yang telah dikatakan Putri Andhini Andita adiknya yang memiliki tekad yang sangat kuat untuk membela kebenaran.
"Ayahanda Prabu?! Saya mohon! Saya telah menetapkan hati saya, untuk melangkah ke arah mana?!." Dalam hatinya ia berkata seperti itu.
"Putriku ambarsari? Lakukanlah apa yang telah kau putuskan itu! Ayahanda yakin itu adalah keputusan yang baik!." Suara Prabu Kawiswara Arya Ragnala menjawabnya. "Tapi ingatlah putriku?! Bahwa kau tidak boleh menyesali apa yang telah kau lakukan hari ini, untuk kemudian harinya? Apakah kau sanggup?!."
Setelah ia mendengarkan suara ayahandanya ia segera bergerak. Ia langkahkan kakinya untuk segera bergerak melindungi hal yang paling berharga menurut hatinya saat itu.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuh adikku!." Itulah tekad yang ada di dalam hatinya. Panggilan jiwa yang ada di dalam hatinya sangat bergejolak ingin menyelamatkan adiknya Putri Agniasari Ariani yang terlihat kewalahan menghadapi musuhnya. "Siapa dia berani memperlakukan adikku sekejam itu?." Dalam gejolak itu, hatinya sangat tidak terima melihat itu. Menggunakan pedang yang tiba-tiba saja muncul ditangannya menghalau Senjata Kabung yang hendak menyerang Putri Agniasari Ariani.
"Bedebah! Berani sekali kau ikut campur dalam pertarunganku?." Senjata Kabung sangat marah, karena serangannya dipatahkan begitu saja.
Tapi tunggu dulu? Mereka semua terkejut karena pedang yang digenggam oleh Putri Ambarsari terlihat berbeda.
"Pedang panggilan jiwa dari keturunan prabu bahuwirya jayantaka byakta?." Meduri Sepi sepertinya mengenali aura pedang itu?.
"Yunda? Yunda ambarsari berhasil memanggil pedang batari saka raksa?." Putri Agniasari Ariani tidak percaya dengan apa yang ia lihat?.
"Aku merasakannya rayi! Jiwaku yang saat ini ingin menjadi penyangga! Ingin menjadi pelindung untukmu, rayi agniasari ariani." Begitu tulus ucapannya, apalagi air mata yang menetes dari matanya itu, menandakan bagaimana perasaanya saat ini.
"Yunda?." Rasanya memang tidak percaya, tapi itulah yang terjadi?.
"Rayi ambarsari?." Prabu Ganendra Garjitha juga melihat itu. Ia tidak percaya jika adiknya?.
"Rayi? Apa yang kau lakukan? Kau berkhianat pada kami?!." Raden Gentala Giandra sangat marah, ia mendekati adiknya itu.
"Saya tidak berkhianat! Tetapi saya sedang melindungi adik saya yang hendak diserang oleh orang jahat!."
Mereka semua tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Putri Ambarsari?.
"Saya tidak akan membiarkan siapapun melukai adik saya!." Lanjutnya.
"Kalau begitu, lawan aku?!." Meduri Sepi yang terpancing emosi langsung melompat ke arah Putri Ambarsari. Namum saat Putri Ambarsari mengayunkan pedangnya, Meduri Sepi malah menghilang?. Sehingga yang ditebas oleh Putri Ambarsari hanyalah angin.
Mereka yang tadinya bertarung terhenti karena merasa teralihkan pandangannya oleh apa yang terjadi?. Apakah ayunan pedang dari dapat menghilangkan lawannya?.
Tidak!. Pedang Batari Saka Raksa bergetar kuat, berdenging memecahkan udara sekitar. Hingga pedang itu dapat mencium aroma keberadaan musuhnya. Dengan nalurinya, Putri Ambarsari mengarahkan pedangnya ke arah atas.
Terdengar suara tusukan pedang, serta teriakan keras, membuat mereka semua tercengang. Ternyata dada Meduri Sepi tertusuk pedang itu sangat dalam.
"Kau boleh menyembunyikan hawa keberadaanmu? Tapi pedangku ini memiliki jiwa dalam menyerap hawa tak kasat mata! Jadi wajar saja kalau pedang ini mampu mengatasinya." Ucapnya sambil mengarahkan pedangnya, melempar tubuh itu menjauh darinya.
Tubuh Meduri Sepi terhempas ke tanah, dan tidak lagi bergerak setelah berguling-guling di tanah.
"Bedebah! Satu lagi teman kita tewas?!."
Rengkah Merapi, Gempur Bedati, Sembur Hawa, dan Senjata Kabung malah menyerang Putri Ambarsari.
Tentunya jaya Satria, Putri Agniasari Ariani, Raden Hadyan Hastanta, Syekh Asmawan Mulia, serta Nyai Bestari Dhatu membantu Putri Ambarsari. Mereka tidak akan membiarkan Putri Ambarsari dikeroyok oleh mereka.
"Adikku jadi pengkhianat?!." Prabu Ganendra Garjitha tidak menyangka jika adiknya melakukan itu?.
"Kau lah pengkhianat! Ganendra garjitha!."
Pandangan prabu Ganendra Garjitha kembali tertuju pada Putri Andhini Andita.
"Yang dilakukan oleh yunda ambarsari adalah kebenaran hati! Kebenaran yang datang dari suara hati yang masih suci."
"Diam kau andhini andita!." Prabu Ganendra Garjitha sudah tidak tahan lagi.
"Apakah kau lupa? Kau yang menabur kebencian padaku! Hingga aku melupakan suara hatiku untuk melihat betapa pedihnya luka yang aku berikan pada kedua adikku?! Pada ibunda dewi anindyaswari?!." Hatinya seakan pedih mengingat apa yang terjadi pada saat itu.
"Kau menaburkan tabuh perang, setelah itu kau sakiti adikku?! Bahkan kau melukai kakek prabu?! Hatiku sangat pedih! Suara hatiku merintih! Tanganku terasa gatal ingin membunuhmu ganendra garjitha!."
"Diam kau andhini andita! Apakah kau tuli dengan apa yang aku katakan?!." Prabu Ganendra Garjitha sangat murka.
"Tutup mulutmu! Kau dari tadi banyak bicara! Apakah aku harus membunuhmu agar kau diam?!." Begitu juga dengan Raden Gentala Giandra, sangat geram dengan ucapan putri andhini andita.
"Kau pikir aku akan diam setelah apa yang kau lakukan? Suara hatiku masih merintih! Menangis setelah apa yang aku lalui semua ini! Menyaksikan bagaimana kau menikam adikku dihadapan mataku! Kau pikir aku tidak sakit hati ganendra garjitha?!."
Setelah suara Putri Andhini Andita terdengar menggelegar seperti suara petir, tangannya yang mengacung ke atas?. Tiba-tiba memegang sebilah pedang yang sangat tidak asing.
"Pedang pembangkit raga dewi suarabumi?!."
__ADS_1
Mereka yang tadinya sedang bertarung terhenti karena melihat pedang itu bersinar dengan terangnya.
"Pedang pembangkit raga dewi suarabumi? Pedang yang digunakan oleh seorang dewi untuk melindungi adiknya? Merintih menangis karena adiknya yang disakiti oleh keluarganya sendiri? Pedang itu mendengarkan suara rintihan sang dewi, melampiaskan sakit hati sang dewi?!" Ucapan Nyai Bestari Dhatu membuat mereka semua terkejut tidak percaya. Hampi saja ia menangis karena melihat gejolak pedang yang berada di tangan Putri Andhini Andita.
"Pedang pembangkit raga dewi suarabumi?!."
Mereka masih tidak percaya jika Putri Andhini Andita bisa memanggil pedang panggilan jiwa keturunan dari Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta?. Pedang Pembangkit Raga Dewi Suarabumi?. Mereka tidak pernah berpikir pedang itu memilih Putri Andhini Andita untuk menggunakannya?!.
"Tidak mungkin! Tidak mungkin kau bisa memanggil pedang pemanggil jiwa itu andhini andita!." Prabu Ganendra Garjitha sangat tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat itu.
"Apakah kau buta?!." Putri Andhini Andita mendengus kesal. "Lihatlah! Apa yang aku genggam ini ganendra garjitha?!." Ia mencoba menyesuaikan dirinya dengan pedang yang ada ditangannya.
"Itu tidak mungkin!." Bantahnya dengan penuh amarah. "Aku saja tidak bisa memiliki pedang panggilan jiwa? Aku yakin kau juga tidak akan bisa!." Amarahnya semakin memuncak.
"Aku dapat merasakannya." Dalam hatinya. "Hawa murniku sedang menyatu dengan hawa murni pedang ini? Pedang yang sedang merintih, karena hatiku yang masih terluka dengan apa yang telah kau lakukan pada adikku! Rayi cakara casugraha!."
Tanpa banyak basa-basi lagi, mereka melanjutkan pertarungan yang sempat tertunda.
"Syekh guru?! Kita harus segera mengakhiri pertarungan ini."
"Nanda benar! Rasanya akan merepotkan jika kedua tuan putri menggunakan pedang itu disaat bersamaan! Karena dapat mengguncang sekitar ini!."
Ya. Kedua pedang penggilan jiwa dari keturunan Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta bukanlah sembarangan pedang, karena dapat menggetarkan medan perperangan.
Namun sayangnya tidak semudah yang mereka inginkan, karena empat pendekar golongan hitam yang masih tersisa menyerang mereka dengan membabi buta.
Situasi pertarungan saat ini sedang kacau karena Putri Ambarsari, dan Putri Andhini Andita yang baru saja menggunakan pedang itu.
Putri Andhini Andita dengan ganasnya menyerang Prabu Ganendra Garjitha dan Raden Gentala Giandra. Keduanya kewalahan karena hawa pedang itu seakan menyerap tenaga dalam mereka.
"Kau jangan sombong dulu andhini andita?! Suatu saat aku juga pasti akan berhasil memanggil pedang panggilan jiwa itu! Aku akan membalas perbuatanmu!."
Putri Andhini Andita malah tertawa terbahak-bahak, membuat keduanya kesal.
"Hati kalian yang kotor itu?! Hati yang dipenuhi oleh kedengkian? Hati busuk! Sangat busuk dari bau bangkai?! Mana mungkin bisa menggunakan pedang panggilan jiwa! Jangan banyak bermimpi kau!."
"Diam kau andhini andita! Kau membuatku murka!." Prabu Ganendra Garjitha menyerang Putri Andhini Andita. "Keris ini juga akan menikam jantungmu!." Teriaknya dengan penuh amarah yang membara, ia menyerangnya?.
"Aku mungkin memang tidak memiliki ilmu kanuragan setinggi kau?! Tapi aku bisa merasakan suara tangisan! Serta rintihan rasa bersalahku selama ini pada rayi prabu! Perasaan itu mengubahku menjadi lebih kuat! Lebih tangguh dari siapapun! Karena aku telah mengabdi pada orang yang benar." Putri Andhini Andita berhasil melepaskan satu tebasan dipunggung Prabu Ganendra Garjitha.
"Raka prabu?!." Raden Gentala Giandra tidak percaya jika kakaknya itu terluka?. Dengan cepat ia menyambar tubuh kakaknya agar tida limbung ke tanah.
Di saat yang bersamaan, Jaya Satria berhasil membunuh Gempur Bedati dengan menggunakan pedang pelebur Sukma yang digabungkan menggunakan jurus angin menggempar alam.
Sementara itu serangan gabungan Syekh Asmawan mulia dengan Nyai Bestari Dhatu, berhasil menghentikan Sembur Hawa dan Rengkah Merapi.
Yang terkahir, Putri Ambarsari dan Raden Hadyan Hastanta berhasil membunuh Senjata Kabung. Pendekar golongan hitam telah berhasil dikalahkan semua. Hanya Raden Gentala Giandra yang sedang menangis melihat kakaknya terluka.
"Menyerahlah kau gentala giandra! Kau tidak akan bisa melawanku!."
Raden Gentala Giandra tidak menghiraukan itu, ia membantu kakaknya bangun, kakaknya yang masih merintih kesakitan?.
"Sebaiknya kita tinggalkan tempat ini dulu raka prabu, kita akan kembali dengan dendam baru." Raden Gentala Giandra pergi dari sana membawa kakaknya. ia lebih mementingkan keselamatan kakaknya dari apapun.
"Jangan kabur kau!."
Namun ketika hendak mengejar Raden Gentala Giandra. Tumbuh Putri Andhini Andita mendadak kaku, karena ditotok oleh Jaya Satria.
"Tidak perlu dikejar lagi, gusti putri! Tenangkan pikiranmu, atur hawa murnimu! Jangan gusti putri turuti kesedihan yang membuat gusti putri hilang kendali! Ingatlah?! Apa yang diucapkan oleh gusti Prabu?."
Jaya Satria segera melepaskan totokan itu setelah merasakan jika Putri Andhini Andita agak tenang?. Putri Andhini Andita mengerti, menyadari itu. Ia mengatur hawa murninya dengan baik, mengatur pernafasannya. Perlahan-lahan pedang itu menghilang dari genggamannya, pedang itu masuk ke dalam tubuhnya.
"Jaya satria?." Putri Andhini Andita memeluk Jaya Satria sambil menangis. "Jaya satria?!." Ia menangis sedih, mengingat kembali semuanya.
"Yunda? Yunda juga begitu? Tenangkan hawa murni yunda, atur perlahan-lahan setelah menggunakan pedang panggilan jiwa." Ia sangat cemas.
"Baiklah rayi." Putri Ambarsari melakukan dengan baik. Pedang itu seakan masuk ke dalam tubuhnya. Telah menyatu dengan raganya, bersemayam didalam tubuhnya.
"Tenanglah gusti putri! Jangan menangis lagi? Hamba percaya jika ketulusan yang gusti putri berikan akan sampai pada gusti Prabu." Jaya Satria berusaha menenangkan dirinya, ia gugup tiba-tiba dipeluk oleh Putri andhini Andita.
Sepertinya, pertarungan kali ini tidak hanya menguras tenaga saja. Melainkan menguras emosi, sehingga kedua putri dari mendiang prabu Kawiswara Arya Ragnala mampu memanggil pedang panggilan jiwa itu dengan emosi yang mereka miliki?. Bagaimana lanjutannya?. Next.
...***...
__ADS_1