
...***...
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menerima tamu dari kerajaan Matalaga dan Kerajaan Tapak Agung. Senyumannya begitu ramah menyambut kedua tamu tersebut. Namun rasanya senyuman itu berbeda sekali, seakan-akan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana pernah bertemu dengan mereka?. Atau hanya perasaan mereka saja?.
"Rayi, apakah kau tidak merasakan ada yang ganjal dengan senyuman rayi prabu?." Bisik Putri Andhini Andita.
"Memang sedikit aneh, tapi aku tidak mengetahuinya yunda. Kita simak saja yunda" Balas Putri Agniasari Ariani dengan pelan agar tidak menggangu atau menjadi pusat perhatian yang lainnya.
"Terima kasih telah jauh-jauh datang dari negeri kerajaan matalaga raden. Apa yang membuat raden datang ke negeri kerajaan suka damai ini?." Dengan suara yang ramah Sang Prabu bertanya.
"Rasanya aku pernah mendengar suara itu, namun dimana?." Dalam hatinya bertanya-tanya. Apakah ia pernah bertemu dengan sang Prabu?. "Hamba gusti prabu. Hamba datang ke sini untuk silaturahmi sebagai negeri yang menganut agama islam. Sebelum memasuki bulan suci ramadhan. Semoga kita bisa menjalin hubungan yang baik." Balasnya sambil memberi hormat pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Begitu juga dengan hamba gusti prabu. Hamba utusan dari kerajaan tapak agung. Sebagai sesama pemeluk agama Islam, hamba mengharapkan hubungan yang baik terjalin diantara kita gusti prabu." Tuan putri tersebut juga memberi hormat pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Alhamdulillah hirabbli'alamin. Jika memang seperti itu adanya. Kami akan menerima hubungan yang baik ini. Semoga saja kita bisa saling menjaga perdamaian." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menatap keduanya. "Saya senang jika memang itu tujuan kedatangan raden juga tuan putri ke istana ini. Karena sebagai umat yang beragama, hubungan silaturahmi sangatlah penting." Lanjutnya.
"Terima kasih gusti prabu, atas kebaikan gusti prabu menerima niat baik ini. Suatu kehormatan bagi kami bisa silaturahmi dengan raja agung muda yang baik seperti gusti prabu."
Saat itulah mereka mengatakan tujuan mereka yang sebenarnya datang ke Kerajaan Suka Damai.
"Namun, kami datang juga membawa undangan untuk gusti prabu. Bahwa setelah hari kemenangan ini, kami akan mengadakan acara pernikahan di istana kerajaan matalaga. Kami mengharapkan kedatangan gusti prabu. Dengan segala hormat secara pribadi hamba menyampaikan undangan tersebut gusti prabu." Dengan perasaan berdebar-debar ia mengatakan tujuannya pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Alhamdulillah hirabbli'alamin, sepertinya itu kabar yang sangat baik, raden kencana prabakara."
Mereka semua sedikit mengernyit heran, bagaimana mungkin Prabu Asmalaraya Arya Ardhana bisa menyebutkan nama pangeran yang baru saja hadir sebagai tamu di istana ini?. Begitu juga kedua tamu tersebut yang saling bertatapan.
"Suatu kehormatan bagi hamba, karena gusti prabu mengetahui nama hamba?." Agak sedikit ragu ia bertanya.
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum kecil. "Tentu saja aku mengetahui namamu raden. Karena aku mengetahui tentangmu meskipun sedikit." Jawab Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Terima kasih gusti prabu. Rasanya hamba sangat terkejut, jika gusti prabu mengetahui hamba." Raden Kencana Prabakara memberi hormat pada Sang Prabu. "Jika hamba mendengar suara gusti prabu, rasanya hamba pernah bertemu dengan seseorang." Lanjutnya. "Seorang pendekar yang dulunya pernah menyelamatkan hamba. Pendekar itu kalau tidak salah bernama jaya satria." Raden Kencana Prabakara mencoba mengingat nama itu.
"Raden benar. Rasanya hamba juga pernah mendengar suara gusti prabu, yang sama persis dengan suara pendekar jaya satria."
Mereka semua tentunya tidak asing dengan nama Jaya Satria. Namun apakah benar Jaya Satria yang dimaksudkan oleh kedua tamu tersebut adalah Raden Cakara Casugraha?.
"Maaf jika saya menyela pembicaraan. Apakah jaya satria yang raden maksudkan, menggunakan topeng penutup wajah, serta berpakaian serba hitam?." Putri Andhini Andita yang bertanya untuk mewakili perasaan mereka semua.
"Atau orang lain yang kebetulan memiliki kesamaan dengan jaya satria yang kami maksud?." Ratu Dewi Anindyaswari juga ingin memastikan bahwa mereka memang bertemu dengan putranya pada saat itu?.
"Benar gusti putri, gusti ratu. Hamba sangat yakin sekali. Apakah gusti putri, gusti ratu mengenali pendekar jaya satria?."
"Sangat kenal. Karena beliau sekarang ada dihadapan kalian." Jawab Putri Andhini Andita
"Sangat kenal, karena dia adalah putraku." Jawab Ratu Dewi Anindyaswari.
Tentunya Raden Kencana Prabakara sangat terkejut, mendengarkan apa yang dikatakan oleh Putri Andhini Andita, juga Ratu Dewi Anindyaswari.
__ADS_1
"Pendekar jaya satria?." Keduanya memberi hormat pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Hamba tidak menyangka, jika Pendekar jaya satria adalah gusti prabu."
"Suatu kehormatan bagi hamba, bisa bertemu kembali dengan Pendekar jaya satria, yang ternyata adalah seorang raja."
"Bangunlah raden, nimas." Rasanya tidak enak hati, melihat sikap mereka. "Pada saat itu saya hanyalah seorang pengembara biasa. Jadi jangan bersujud dihadapan saya." Ada perasaan tidak enak dihatinya. "Sebagai manusia yang taat kepada Allah SWT, tentunya raden serta nimas mengetahui, jika kita lebih baik sujud pada Allah SWT dari pada manusia. Bangunlah." Sang Prabu mempersilahkan mereka untuk duduk kembali.
Keduanya kembali duduk seperti biasanya, menuruti apa yang dikatakan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Pantas saja senyuman rayi prabu terlihat begitu berbeda. Karena rayi prabu mengenali keduanya." Bisik Putri Andhini Andita.
"Sepertinya begitu yunda." Putri Agniasari Ariani hanya tertawa kecil. Rasa penasaran yang dimiliki kakaknya itu sangat luar biasa ternyata.
"Rencananya kami memang berniat mencari keberadaan Pendekar jaya satria. Kami berniat untuk untuk mengundangnya ke acara pernikahan kami nanti."
"Mohon hadir sebagai tamu kehormatan kami nantinya gusti prabu."
"Insyaallah. Jika Allah menghendaki, saya akan datang." Hanya itu yang dapat dikatakan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Tapi saya ucapkan alhamdulillah, karena raden telah menepati janji raden pada nimas suliswati."
"Alhamdulillah hirobbil'alamin gusti prabu. Itu semua karena gusti Prabu. Hamba minta maaf atas apa yang hamba lakukan dimasa lalu terhadap gusti prabu."
"Itu hanyalah masa lalu, kita telah melewatinya. Waktu itu kita sama-sama terluka, dan Alhamdulillah, kita selamat dari kematian. Sehingga hari ini kita bertemu lagi."
Mereka semua hanya menyimak apa yang dibicarakan oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dengan kedua tamu kehormatan. Mereka tidak menyangka, jika dimasa lalu, Raden Cakara Casugraha telah melewati hari yang pahit.
Setelah pertemuan itu, para sepuh dan penggawa Istana percaya, jika Raden Cakara Casugraha selama menjalani hukuman buangan. Ia menggunakan topeng penutup wajah, serta menggunakan nama Jaya Satria. Mereka semua meminta maaf pada Raden Cakara Casugraha. Mereka semua bersujud dihadapan sang Prabu.
"Baiklah. Kita semua pernah berbuat salah. Berdirilah kalian semua."
Mereka semua menuruti apa yang dikatakan sang prabu. Mereka sangat menyesal, dengan apa yang mereka lakukan pada Raja muda kerajaan Suka Damai.
"Hari ini, kita perbaiki semua kesalahan dimasa lalu. Mari kita berikan kedamaian pada siapapun juga di negeri tercinta kita ini."
"Sandika gusti prabu."
Dengan sepenuh hati, mereka akan melaksanakan perintah dari Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Mereka berjanji di dalam hati masing-masing, bahwa mereka tidak akan mencurigai Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
...***...
Putri Andhini Andita melangkahkan kakinya menuju taman istana. Matanya menangkap sosok yang selalu menggetarkan hatinya, sehingga senyumannya terlihat manis di wajahnya yang ayu.
"Malam ini sepertinya lumayan cerah."
"Oh yunda."
"Sepertinya kau sangat betah berada di sini jaya satria."
__ADS_1
"Tempat ini sangat nyaman sekali ketika malam hari yunda."
"Ya, begitu lah."
Keduanya menatap langit malam yang dihiasi oleh bintang yang berkelipan. Walaupun tidak banyak, tapi mereka sangat suka melihatnya.
"Apakah rayi akan menikahi nini cahaya mutiara?."
"Kenapa yunda berkata seperti itu?. Apakah yunda cemburu?."
"Sakit. Hatiku sangat sakit. Bukan hanya cemburu saja yang aku rasakan." Dengan juteknya ia berkata seperti itu?. Seakan tanpa ragi lagi ia mengatakan semua yang ia rasakan selama ini. "Kau itu memang laki-laki yang jahat cakara casugraha. Entah itu dimasa lalu, ataupun sekarang." Dengan kesalnya ia berkata seperti itu. "Dulu kau suka memukulku, memaki aku, mengancam aku, juga selalu menantang aku." Ia mencoba mengingat apa saja yang telah ia lalui dimasa lalu. "Dan sekarang dengan teganya kau membiarkan perasaanku bersemai begitu saja tanpa bisa dicegah. Bahkan aku sendiri tidak bisa menghilangkannya."
Raden Cakara Casugraha atau Jaya Satria, atau Prabu Asmalaraya Arya Ardhana?. Ia hanya terdiam mendengarkan apa yang dikatakan kakaknya itu. Ia tidak bisa menyalahkan perasaan yang timbul dihati kakaknya itu. Tidak ada yang bisa menebak pada siapa kita jatuh cinta, bahkan pada saudara sendiri sekalipun.
"Rasanya tidak adil. Aku jatuh cinta padamu, tapi kau tidak."
"Aku mencintaimu yunda. Sungguh aku mencintai yunda."
"Cinta kita berbeda rayi. Kau mencintaiku karena aku adalah kakakmu, sedangkan aku mencintaimu karena hatiku menganggap kau adalah orang yang pantas untuk mendampingiku."
"Cinta itu memang tidak adil yunda. Meskipun memilih satu dari jutaan yang ada."
"Bohong!. Buktinya ayahanda memiliki tiga istri. Jika ayahanda memiliki tiga istri, kenapa kau tidak?." Dengan raut wajah yang manyun, ia berkata seperti itu. Sedangkan Raden Cakara Casugraha hanya tertawa kecil mendengarnya. "Jadikan aku istri pertamamu, lalu nini cahaya mutiara istri kedua, dan istri ketiga adalah putri cahya candrakanti. Itu baru adil namanya."
Raden Cakara Casugraha hanya menghela pelan nafasnya, ia mencoba memahami apa yang dirasakan oleh Putri Andhini Andita. Ia tidak mau mengecewakan kakaknya. "Belajar sabar yunda. Kuncinya adalah kesabaran, dan menerima takdir yang telah ditetapkan oleh Allah SWT."
"Putri andhini andita bukanlah orang yang sabar. Namun, supaya sakit ini tidak dirasakan oleh diriku sendiri. Maka aku akan melakukannya."
"Ya. Cobalah yunda. Karena mencoba adalah hal yang baik."
"Tapi tadi tanganku rasanya gatal ingin menampar raden yang mengundangmu tadi."
"Ahaha, kenapa memangnya yunda?."
"Aku yakin, dia yang telah melukaimu dengan panah tiga dewa itu kan?."
"Jadi yunda masih ingat dengan cerita itu?."
"Tentu saja aku ingat. Aku tidak akan mengampuni siapa saja yang berani melukaimu. Tapi karena aku tidak mau mempermalukan diriku, ya mau bagaimana lagi. Aku harus berusaha menahan diri."
"Nah. Itu salah satu sikap sabar yunda. Artinya yunda bisa bersikap sabar meskipun hati yunda sedang membenci."
"Apakah seperti itu rayi?."
"Ya, seperti itu yunda. Apalagi sebentar lagi yunda mau masuk agama islam. Jadi yunda harus banyak belajar sabar."
"Baiklah. Putri Andhini Andita akan mencobanya."
__ADS_1
Benarkah ia bisa melakukannya walaupun hatinya terasa sakit?. Temukan jawabannya.
...***...