RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
KESALAHAN MASA LALU


__ADS_3

...l...***......


Seorang laki-laki melompat masuk ke halaman istana. Ia memperhatikan Istana yang cukup megah dihadapannya.


"Anak Raja yang terhormat yang dulunya telah membuat aku cacat? Sekarang malah menjadi Raja? Rasanya dunianya itu terlalu indah, dan berbanding terbalik dengan apa yang aku rasakan." Dalam hatinya sangat tidak terima dengan kenyataan pahit itu.


"Aku akan mencari keberadaanya, aku yakin dia di dalam istana ini." Hatinya yang saat itu dipenuhi dengan dendam dan amarah yang tidak biasa.


Namun ketika ia melangkah, ia dikejutkan oleh seseorang yang menyapa dirinya dari arah belakangnya, namun saat itu ia hanya bergeming di tempat saja, ia belum membalikkan badan untuk melihat siapa yang telah menyapanya.


"Ada urusan apa? Kisanak masuk ke dalam istana ini?." Pertanyaan itulah keluar pertama kali. "Mengapa tidak ada prajurit yang mengiringi Kisanak? Jika ingin bertemu dengan raja?." Pertanyaan itu seakan-akan sangat mencurigai dirinya sebagai orang asing yang masuk tanpa izin.


Lelaki itu membalikkan tubuhnya, melihat seseorang berpakaian hitam, mengenakan topeng penutup wajah?.


"Siapa kau? Apakah kau seorang penyusup?." Keningnya mengkerut aneh ketika melihat ada orang yang sangat mencurigakan baginya.


"Aku bertanya padamu kisanak, kenapa malah balik bertanya?." Jaya Satria terlihat sangat kesal.


Orang itu mendekati jaya satria, dan sedikit tersenyum?. Ia terlihat sangat marah?.


"Aku adalah orang yang masa lalunya dirusaki tubuhnya, oleh Raja yang nama aslinya raden cakara casugraha!." Amarahnya terlihat sangat jelas telah menguasai dirinya. "Aku hendak menemuinya untuk meminta pertanggung jawabannya." Suaranya bahkan terdengar meninggi. "Apakah kau puas dengan apa yang aku katakan? Hah?."


Jaya Satria sedikit mengernyitkan keningnya. Ia merasa tergamang mendengarnya. Hatinya mulai gelisah, kepalanya mulai bekerja dengan cepat sambil memikirkan prihal apa yang telah ia lakukan di masa lalu pada pemuda yang ada di depannya saat ini?.


"Memangnya Kisanak siapa? Jika aku boleh mengetahuinya? Mungkin aku bisa membantumu menyelesaikan masalah kisanak."


"Untuk apa aku menjawab pertanyaan darimu? Aku yang bertanya, kau siapa?! Kau musuhku atau kawanku?!." Kali ini ia merasa keberatan menjawab pertanyaan itu.


Jaya Satria tidak menjawabnya. Jika ia menjawab kawan?. Lawan?. Apa yang akan terjadi?. "Apa yang harus aku lakukan di saat kondisi yang seperti ini?." Dalam hatinya masih belum bisa menemukan jawaban dari masalah yang menyangkut dirinya di masa lalu.


"Kau tidak menjawab pertanyaan dariku?! Itu artinya kau adalah musuhku!."


Orang itu telah terbawa emosi duluan. Sehingga ia menyerang jaya Satria. Pertarungan itu benar-benar tidak bisa dihindari lagi, karena pemuda itu telah terbawa amarah sehingga ia ingin segera melampiaskan semua amarahnya.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Jaya Satria sedikit terkejut dengan serangan itu. "Meskipun hanya menggunakan satu tangan, tapi serangan orang itu cukup kuat." Jaya Satria merasa tertipu dengan gerakan tangan kanan orang itu. Padahal yang menghantam tubuhnya tangan kiri orang itu.


"Aku pasti akan menuntut balas atas apa yang telah dilakukan cakara casugraha padaku di masa lalu." Dalam hatinya masih ingat dengan tujuannya datang ke istana Kerajaan Suka Damai.


"Sungguh licik, dan cerdik juga orang itu." Dalam hati Jaya Satria merasa kagum dengan kekuatan orang itu, dalam menggunakan jurus-jurus kadigdayaan yang dimilikinya.


Sementara itu, sang prabu yang sedang bersama beberapa petinggi istana, ia merasakan hawa murninya sedikit kacau, bahkan ia merasakan tubuhnya sedikit sakit.


"Astaghfirullah hal'azim, jaya Satria? Kau sedang bertarung dengan siapa?." Dalam hati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat gelisah ketika merasakan gejolak yang sangat aneh. Sekilas Prabu Asmalaraya Arya Ardhana seperti dapat melihat bayang-bayang orang yang sedang bertarung dengan Jaya Satria.


"Mohon ampun nanda prabu? Apa yang nanda prabu pikirkan? Hingga nanda nampak gelisah?."


"Maafkan saya sepuh, saya baik-baik saja, maaf jika saya sedikit melamun."


"Nanda prabu tidak perlu memaksakan diri, jika nanda Prabu merasa lelah, beristirahatlah."


"Benar itu nanda Prabu, kita ini semua manusia, yang membutuhkan istirahat, termasuk nanda Prabu."


"Kami semua memakluminya, beristirahatlah nanda barang sejenak, serahkan sisanya pada kami untuk sementara waktu."


Mereka semua begitu perhatian pada Raja muda itu. Mereka yang dulunya memang sempat meragukan kepemimpinan raja muda itu. Namun lambat-laun mereka mulai merasa senang apa yang diputuskan oleh sang Prabu.


"Lagipula, ini sudah waktunya jam istirahat." Dengan senyuman yang ramah ia berkata seperti itu. "Kita semua juga akan beristirahat sejenak sambil memilah kembali masalah yang ada."


"Baiklah kalau begitu, saya akan beristirahat dahulu, terima kasih atas pengertiannya, sampurasun."


"Rampes."


Sang prabu mohon izin pada mereka semua, ia meninggalkan ruangan itu.


"Rasanya aku memang melihat mendiang Prabu kawiswara arya ragnala dalam dirinya."


"Ya, kita sama-sama dapat merasakannya."


"Sesuai dengan nama gelar yang ia dapatkan dari penobatan Raja baru."


Mereka semua mengungkapkan, kekaguman yang ada, pada prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


Kembali ke halaman Istana.


Ketika orang itu hendak  menyerang Jaya Satria, ada tiga orang yang mendekat. Tentu saja untuk melindunginya dari serangan orang asing itu.


"Siapakah kisanak ini? Berani sekali kisanak masuk ke istana ini, dan membuat keributan?." Putri Andhini Andita berdiri di depan jaya Satria, seakan-akan ia hendak melindungi Jaya Satria.


"Oh ternyata tuan putri Raja? Suatu kehormatan bagiku, disambut oleh putri Raja." Orang itu mencoba untuk bersikap santai, saat ia melihat pakaian mereka yang mewah.


"Jadi kau tidak menganggap aku? Hanya karena aku laki-laki? Kurang ajar sekali kau ini ternyata." Dalam hati Raden Hadyan Hastanta merasa sanagt kesal dengan itu.


"Aku tanya sekali lagi! Siapakah kisanak? Kenapa kisanak masuk ke istana ini, dan menyerang orang bertopeng itu?." Putri Andhini Andita terlihat sangat marah, entah kenapa hatinya sama sekali tidak terima dengan itu.


"Maaf jika aku lancang." Ia terlihat agak tenang. "Tadinya aku mau menemui gusti prabu asmalaraya arya ardhana." Ia sedikit kepayahan mengeja nama itu, sehingga nada bicaranya agak terbata-bata, rasanya sangat sulit ia menyebutkan nama itu.


"Ada apa dengan orang ini?." Dalam hati Putri Andhini Andita sangat kesal.


"Tapi aku tidak sengaja melihat, orang yang mencurigakan itu berkeliaran di istana." Ia menunjuk ke arah Jaya Satria. "Jadi aku menghajarnya, karena aku takut dia berbuat-"


"Diam kau! Kau lah sangat mencurigakan di sini." Suara Raden Hadyan Hastanta membuat orang itu terkejut. Menatap tidak percaya pada Pangeran Kerjaan istana ini?. "Seharusnya kami yang curiga padamu!."


"Kisanak telah menyerang abdi Raja! Kisanak akan dihukum, karena telah lancang pada abdi setia Raja." Putri Agniasari Ariani sedikit mengancam orang itu.


"Abdi raja?." Ia mengulangi kata itu. Nampak berpikir karena merasa heran. "Jadi orang bertopeng ini adalah abdi Raja? Rasanya sangat aneh sekali." Dalam hatinya tidak menduga itu ada?.


Saat itu juga prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga datang mendekati mereka. Tentu saja sangat cemas pada Jaya Satria yang mungkin saja akan lepas kendali jika tidak diawasi dengan baik.


"Ho? Tidak salah lagi." Ia tersenyum lebar. "Kau adalah raden cakara casugraha." Lanjutnya sambil menyeringai lebar. "Aku masih ingat dengan wajah sombongmu itu cakara casugraha." Ia tidak akan pernah melupakan wajah itu.


Raden Hadyan Hastanta, Putri Andhini Andita, dan Putri Agniasari Ariani sedikit bingung. Mengapa orang itu menyebut nama asli dari Raden Cakara Casugraha?

__ADS_1


"Orang ini mengenali rayi prabu?." Dalam hati mereka bertanya-tanya. "Aku yakin mereka pernah bertemu di suatu tempat." Dalam hatinya mencoba menebaknya.


Namun dalam kebingungan mereka, Jaya Satria menarik lengan prabu asmalaraya dengan cepat. Jaya Satria melihat serangan yang diarahkan orang itu pada sang prabu.


Mereka terkejut dengan apa yang terjadi, tentunya mereka tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh orang asing itu. Ketiganya langsung menyerang orang asing itu, karena mereka sangat tidak terima Prabu Asmalaraya Arya Ardhana diserang begitu saja oleh orang asing itu.


"Kegh!."


Prabu Asmalaraya ardhana berhasil diselamatkan oleh jaya satria?.


"Apakah gusti prabu baik-baik saja?.Apakah ada yang terluka?." Tentu saja Jaya Satria sangat cemas dengan keselamatan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Alhamdulillah hirobbil a'lamin, aku baik-baik saja jaya satria, tentunya engkau juga bisa dapat merasakannya bukan?."


"Alhamdulillah hirobbil alamin, syukurlah Gusti Prabu."


"Apakah engkau ingat tentang dirinya, jaya satria?."


"Hamba ingat sedikit tentangnya gusti prabu." Jaya Satria ingat pernah berurusan dengan siapa di masa lalu. "Ketika itu, saat masih belum bisa mengendalikan diri, ketika kita masih dalam mengumbar kesombongan, hanya karena anak seorang raja."


"Ya, kejadian pahit yang sangat menyakitkan hati." Rasa sakit itu seakan-akan kembali terasa jika diingat lagi apa masalah yang terjadi antara dirinya dengan pendekar itu.


Keduanya sudah ingat sekarang, mereka? Ah tidak!. Lebih tepatnya raden cakara casugraha yang waktu itu yang memiliki peran yang sangat banyak dalam bertindak. Setelah itu, keduanya mendekati mereka yang sedang bertarung, menghentikannya.


"Hentikan yunda! Raka! Aku sudah ingat dengan orang itu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menghentikan ketika saudaranya agar tidak bertarunlai.


Ketiga kakaknya memang sedikit kewalahan menghadapi orang itu. Sepertinya orang itu memiliki kemampuan yang sangat hebat. Tapi mengapa adiknya menghentikan pertarungan itu?.


"Bagus, kalau kau sudah mengingat siapa aku. Raden cakara casugraha." Pemuda itu tampak senang.


"Rayi prabu?."


Putri Andhini Andita, Putri Agniasari Ariani dan Raden Hadyan Hastanta mendekati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria.


"Raden semana hayana, ya? Itu adalah namamu bukan?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak salah dalam mengingat nama seseorang.


"Kegh!. Rasanya aku tidak sudi lagi mengingat nama itu!." Amarahnya keluar begitu saja. "Saking malunya aku atas apa yang telah kau perbuat padaku dimasa lalu, raden cakara casugraha!." Amarahnya sangat memuncak, ia tidak dapat menguasai emosinya.


"Rayi prabu." Putri Andhini Andita memberi hormat. "Sebenarnya apa yang rayi Prabu lakukan padanya? Sehingga ia sangat marah padamu rayi prabu?." Putri Andhini Andita tentu saja sangat penasaran.


"Rayi prabu." Begitu juga dengan Putri Agniasari Ariani. "Aku harap dia tidak melakukan hal yang dapat membuatmu dalam bahaya rayi Prabu." Rasa cemas menghantuinya.


"Rayi prabu." Raden Hadyan Hastanta juga memberi hormat. "Berikan kami perintah untuk mengusir orang itu, aku tidak mau dia berbuat keonaran di istana ini."


Putri Agniasari Ariani, Putri Andhini Andita, dan Raden Hadyan Hastanta sangat mengkhawatirkan sang prabu. Mereka juga ingin melindungi Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dari bahaya.


"Ini hanyalah dendam lama yunda, raka." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dapat melihat dari sorot mata Raden Semana Hayana saat itu. "Kali ini biarkan aku yang menyelesaikan masalah ini dengannya."


"Tapi rayi prabu-."


"Oh, raden cakara casugraha yang dulunya seorang bajingan busuk?." Entah kenapa ia merasa iri dengan perhatian itu. "Ternyata memiliki saudara yang sangat perhatian padanya? Aku sedikit merasa iri padanya, hingga aku tersentuh melihat itu." Ya, ucapannya saat itu memang sangat menggambarkan bagaimana suasana hatinya melihat itu.


"Diam kau! Aku tidak akan membiarkan kau menyakiti rayiku!."


"Sebaiknya kau pergi dari sini sebelum kesabaranku habis!."


Putri Andhini Andita, Raden Hadyan Hastanta, dan Putri Agniasari Ariani benar-benar berniat melindungi Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


Sementara itu, Raden Semana Hayana tertawa keras melihat bagaimana sikap dramatis yang ditunjukkan oleh mereka. Entah kenapa ia merasa ada yang lucu dengan sandiwara yang mereka mainkan.


"Kalian tidak usah melindungi bajingan busuk itu!." Amarahnya kembali memuncak. "Bagaimana mungkin sibedebah itu, bisa menjadi seorang raja? Sementara dimasa lalunya dia telah MENGANIAYA diriku!."


Begitu besar kemarahan yang ia rasakan, membuat matanya melotot tajam ke arah prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Sementara hatinya hanya diisi oleh keinginan untuk balas dendam yang sangat kuat.


"Kau!." Putri Andhini Andita kembali hendak menyerang Raden Semana Hayana, namun ditahan oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Tahan yunda! Jangan terbawa amarah, tenangkan dirimu yunda." Ia hanya tidak ingin kakaknya berbuat gegabah.


"Tapi rayi Prabu? Aku tidak suka dengan ucapannya, sangat keterlaluan." Putri Andhini Andita memang terlihat sangat marah dan tidak terima.


"Jangan mudah terbawa arus kemarahan yunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana kembali mengingatkan. "Amarah hanya akan membuat yunda lepas kendali, dan akan mudah dikalahkan musuh."


"Oh? Dari sikapmu sekarang aku tebak, kau sudah bertaubat raden cakara casugraha?." Raden Semana Hayana terlihat sangat mengejek. "Apakah kau baru mendapatkan hidayah yang sangat luar biasa? Sehingga sikapmu sekarang melunak? Heh! Atau itu hanya tipuan saja supaya mereka tidak mengetahui jika kau sebenarnya adalah iblis yang sesungguhnya?." Ucapnya seakan-akan hendak memancing amarah Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


Mereka semua melihat ke arah Raden semana Layana.


"Orang ini mau aku hajar ya?." Dalam hati Putri Andhini Andita sangat kesal.


"Ya, aku sudah bertaubat, kembali ke jalan yang benar." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak marah sama sekali.


"Jadi benar? Kabar yang aku dengar, kau masuk agama islam, dan menjadi Raja?." Ia sangat penasaran dengan kabar itu.


"Ya, itu sangat benar." Senyuman kecil terlihat sangat jelas di wajahnya yang sangat tampan itu. "Aku telah masuk agama islam." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tentunya tidak ingin ada dendam baru. "Maafkan aku, jika dimasa lalu aku telah membuatmu menderita."


"Hah? Kau minta maaf padaku Raden cakara casugraha?." Entah kenapa ia sangat tidak terima begitu saja. "Kau pikir?! Kata maaf yang kau ucapkan, akan mengembalikan tanganku yang sudah terlanjur cacat ini?!." Amarahnya naik lagi mengingat kejadian masa lalu yang menyakitkan baginya.


Deg!.


Mereka yang memperhatikan itu tentunya terkejut, kemarahan itu adalah sosok seseorang yang sangat tidak terima dengan kesalahan di masa lalu. Seberapa besar rasa sakit yang ia rasakan?. Sehingga ia tidak mau mendengarkan kata maaf dari Prabu Asmalaraya Arya Ardhana atau nama aslinya Raden Cakara Casugraha.


"Tidak! Itu sama sekali tidak bisa raden cakara casugraha! Aku tidak akan pernah mengampuni mu!." Amarahnya semakin memuncak, ia membentak Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Orang ini benar-benar sangat keterlaluan!." Dalam hati Putri Andhini Andita sangat kesal.


"Meskipun kau bertaubat? Namun taubatmu itu tidak akan menyembuhkan, apa yang telah aku rasakan selama ini?!." Kali ini kesedihan mendalam, yang ia rasakan. "Aku tidak akan memaafkan mu! Aku akan menuntut balas atas apa yang telah kau lakukan padaku!." Hatinya terasa sangat sakit jika ingat apa yang telah terjadi padanya kala itu.


"Kau ini memang sungguh keterlaluan! Rayiku sudah meminta maaf! Tapi kau masih saja ingin menuntutnya?!." Putri Andhini Andita yang bersuara.


"Kau pikir adikku akan melakukan sesuatu tanpa ada sebabnya? Aku yakin kau yang telah membuat masalah!." Putri Agniasari Ariani juga membela adiknya.


"Raden semana hayana, Allah SWT itu maha pengampun, bahkan ketika hamba-Nya melakukan dosa." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba untuk berbicara dengan baik pada pemuda itu.

__ADS_1


"Aku tidak butuh ceramahmu! Namun yang aku inginkan adalah nyawamu!." Ia sangat tidak terima.


"Kau memang tidak bisa aku biarkan begitu saja!." Putri Andhini Andita sudah tidak tahan lagi, ia menyerang Raden Semana Hayana.


"Yunda!." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat terkejut melihat itu. Sedangkan Jaya Satria tidak tahu harus berbuat apa saat itu, ia seperti menyimak apa yang terjadi di depan matanya saat itu.


"Yunda, raka." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana semakin terkejut melihat itu.


Bukan hanya putri Andhini Andita saja, kedua kakaknya juga malah ikut menyerang Raden Semana Hayana.


"Apa yang harus kita lakukan gusti prabu? Haruskah kita berhadapan dengan orang itu?." Jaya Satria sangat cemas melihat keadaan yang memanas itu.


"Tidak! Biarkan aku saja! Aku yang akan menyelesaikan masalah ini." Bantah Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Dan kau? Bantu aku untuk mencegah yunda, juga raka, agar tidak terlibat dalam pertarungan ini."


"Tapi yang memiliki masalah itu-."


"Kau tidak mau mendengarkan aku jaya satria?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menatap tajam Jaya Satria. "Jika kau yang berhadapan dengannya? Bagaimana jika dia membongkar identitas mu nantinya?."


"Baiklah Gusti Prabu, akan hamba laksanakan." Jaya Satria hanya menurut saja.


Keduanya mulai bergerak. Jaya Satria memisahkan pertarungan itu. Ia membawa Putri Agniasari Ariani, Putri Andhini Andita, dan Raden Hadyan Hastanta menjauh dari sana.


"Jaya satria?." Putri Andhini Andita sangat terkejut karena ia diseret paksa?. "Mengapa kau membawa kami ke sini? Biarkan aku menghajar orang itu."


"Jaya satria! Jangan halangi kami untuk menghajar orang lancang itu!."


"Jaya satria! Kau itu abdinya rayi prabu?! Apakah kau tidak merasa sakit hati dengan apa yang diucapkan orang itu?."


"Tenanglah gusti putri, raden." Jaya Satria mencoba untuk menenangkan mereka semua. "Jangan ikuti amarah, yang nantinya akan membuat kita merugi, ingatlah! Allah SWT tidak suka pada orang yang pemarah." Jaya Satria pelan-pelan menasihati mereka.


"Astaghfirullah hal'azim ya allah, ampunilah dosa hamba." Putri Agniasari Ariani mencoba menenangkan dirinya. "Jauhkan hamba dari sikap pemarah yang berlebihan." Ia sadar bahwa kemarahan hanya akan memperburuk keadaan.


"Tapi kau sangat cemas dengan keselamatan rayi Prabu, apakah aku tidak bisa membantunya sama sekali?." Putri Andhini Andita sangat khawatir.


"Benar itu jaya satria, bagaimana jika pendekar itu mencelakai rayi Prabu? Kita semua tentunya tidak ingin itu sampai terjadi." Raden Hadyan Hastanta juga sangat cemas pada adiknya.


"Mohon dengarkan ucapan hamba." Jaya Satria memberi hormat pada mereka. "Masalah ini adalah masalah pribadi gusti prabu, jadi kita biarkan gusti prabu menyelesaikannya." Jaya Satria mencoba memberikan penjelasan pada mereka. "Gusti prabu yang meminta pada hamba, agar gusti putri, dan raden tidak terlibat dengan pertarungan itu."


"Tapi-"


"Hamba mohon, ini adalah permintaan dari gusti prabu." Kali ini Jaya Satria terlihat sangat memohon.


Mereka tidak mengerti mengapa, tapi sepertinya mereka tidak bisa membantah lagi. Sepertinya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memang sangat tidak ingin diganggu dalam pertarungan itu.


"Tapi, jika orang itu berani melukai rayiku? Aku tidak akan segan-segan untuk menghadang orang itu." Putri Andhini Andita masih geram. Ia merasa kesal dengan gaya bicara orang itu.


"Kalau masalah itu." Ia mencoba memahami bagaimana situasi yang terjadi. "Aku juga akan bertindak, jika dia berani melukai rayi Prabu." Putri Agniasari Ariani tidak akan semudah itu, membiarkan adiknya dilukai oleh siapa saja.


Sementara itu.


"Semua orang pernah melakukan kesalahan, termasuk aku!." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menghindari serangan demi serangan yang datang padanya. "Tapi aku telah menyadari semua kesalahan, yang aku pernah lakukan, Raden semara hayana." Sesekali tangannya mencoba menghentikan pergerakan musuh.


"Sudah aku katakan padamu!." Dengan amarah yang semakin membuncah, ia semakin gencar menghajar Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Jangan sebut namaku dengan mulutmu yang kotor itu! Aku selama ini hidup terhina dengan julukan pangeran tangan puntung? Meskipun tanganku masih ada." Rasa sakit yang begitu dalam ia rasakan, mengingat bagaimana dimasa lalunya.


"Aku sudah menyampaikan permintaan maafku padamu, tapi kau menolaknya?."


"Itu karena kekejian, yang telah kau lakukan padaku dimasa lalu, telah menyiksa diriku! Raden cakara casugraha! Hyah!."


Amarahnya dikeluarkan begitu saja. Rasanya ia ingin menangis bagaimana masa lalunya.


"Apakah kau tidak bisa memaafkan aku? Sementara Allah SWT, selalu memberikan maaf kepada hambanya, meskipun dosa yang dilakukannya sudah mencapai langit."


"Tapi aku bukanlah tuhan yang kau sebut itu! Aku juga bukan dewa, yang dengan mudah melupakan kesalahan yang membuat hidupku menderita!."


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah, berikanlah hamba kesabaran, dalam menghadapi orang yang hatinya sedang dipenuhi oleh amarah." Sang prabu mencoba untuk sabar, berdoa didalam hatinya. "Janganlah kau menuruti kemarahan dan dendam, itu sangatlah tidak baik." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba untuk memperingati Raden Semana Hayana.


"Di satu sisi. kau juga harus menyadari, kesalahan-kesalahan mu di masa lalu, serta alasan mengapa aku melakukannya padamu! Aku masih ingat, dengan kejadian itu."


"Jadi kau ingin mengatakan, kalau itu semua salahku? Apakah kau ingin lari dari tanggungjawabmu, raden cakara casugraha?."


"Aku tidak mengatakan, itu semua salahmu, tapi salahku juga, yang saat itu menuruti kemarahanku, hingga aku lepas kendali." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak akan pernah lupa akan itu.


"Tapi guruku mengatakan padaku, bahwa Allah SWT, akan mengampuni dosa hambanya-Nya, jika ia mau bertaubat, dan kembali ke jalan yang benar."


Sang prabu membacakan ayat suci alquran dengan suara yang sangat merdu


غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ


Allah Yang Maha mengampuni dosa dan Maha menerima taubat, dan yang keras hukuman-Nya, dan yang memiliki karunia. Tidak ada tuhan selain Dia, hanya kepada-Nya lah (semua makhluk) kembali. – (Q.S Ghafir: 3)


وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ


Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan. – (Q.S As-Syura: 25)."


"Percuma saja kau membacakan hal yang sama sekali tidak aku ketahui! Hatiku sudah terlanjur hancur."


Serangan itu semakin ganas, ia memang memiliki niat yang sangat tidak baik. "Bagaimanapun juga, dendam ini tidak bisa aku lupakan begitu saja."


Dengan jurus-jurus yang ia miliki, ia berusaha untuk menyerang prabu asmalaraya arya ardhana. Gerakan yang begitu cepat. Bukan hanya itu saja, bahkan gerakan menipu darinya membuat sang prabu sedikit kewalahan.


"Heh! Apakah hanya segitu saja? Kemampuan orang yang telah mematahkan tanganku ini?."


"Aku yang sekarang berbeda dengan yang dulu." Ia melirik ke arah jaya satria yang tidak jauh darinya. "Aku yang dulu dipenuhi oleh amarah, kebencian, hawa nafsu kedengkian pada orang lain, tapi aku yang sekarang mencoba menjadi lebih baik, dalam agama yang baik, jadi jangan kau pancing lagi, apa yang telah aku tinggalkan di masa lalu."


"Bedebah tengik! Kau jangan sok alim! Aku tidak terima dengan perlakuanmu, hyah!."


Kali ini Raden Semana Hayana menerjang sang prabu. Ia yang masih dikuasai oleh kemarahan-kemarahan akibat dendam masa lalu. Hatinya yang saat itu hanya dipenuhi dengan rasa sakit akan kejadian masa lalu yang membuat ia tidak bisa menerima apapun yang dikatakan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana padanya.


"Dendam ini harus dibayar dengan nyawamu!." Dengan kekuatan yang sangat besar ia terus menekan, menyerang musuhnya.


Bisakah sang prabu menghadapinya?. Temukan jawabannya. Jangan lupa komentarnya agar terus semangat. Next.

__ADS_1


......****......


__ADS_2