RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
PENCARIAN SUKMA DEWI SUARABUMI


__ADS_3

...***...


Di suatu tempat, keempat wanita yang menjadi suruhan tuannya itu saat ini sedang mencari keberadaan wanita yang katanya menjadi wadah Sukma Dewi Suarabumi.


"Kenapa kita tidak dapat merasakan kehadirannya lagi?. Apa yang harus kita lakukan?. Kita akan kena hukuman jika kita kembali tanpa membawa apa-apa." Si hitam terlihat sangat ketakutan, jika ia takut kena hukuman?.


"Tapi kita tidak bisa menemukan keberadaannya sama sekali." Si merah tidak bisa merasakannya lagi.


"Kita harus terus mencari keberadaan wanita itu. Aku tidak mau kena cambuk oleh lelaki kejam itu." Si Biru merasa khawatir, jika ia nantinya kena hukuman.


"Sebaiknya kita bergegas, sebelum wanita itu meninggalkan desa ini." Si Kuning tidak mau membuang-buang waktu dan ia segera meninggalkan teman-temannya yang masih sibuk dengan pikiran mereka yang dipenuhi oleh ketakutan yang luar biasa.


Setelah itu mereka semua pergi meninggalkan tempat, untuk mencari keberadaan wanita yang katanya membawa sukma Dewi Suarabumi. Apakah mereka akan berhasil?. Temukan jawabannya.


...***...


Sementara itu, putri Andhini Andita masih saja berlatih dengan tekun, dan sepertinya ia mulai merasakan. Ada sebuah aliran tenaga dalam yang menyelimuti tubuhnya, walaupun masih tipis.


"Bagus cah ayu. Kau sangat hebat sekali." Nenek Putih sangat kagum dengan apa yang dilakukan oleh Putri Andhini Andita.


Dengan gerakan yang sangat cepat, serta aliran tenaga dalam yang sangat tenang, ia melakukan semua itu. Bisakah ia membuat gerakan yang lebih sederhana lagi?. Itu semua tergantung padanya, apakah ia mampu mengendalikan hawa murninya untuk membuat pelindung di dalam dirinya. Tak lama kemudian ia selesai melakukan jurus itu dengan sangat baik. Ia mengatur tenaga dalamnya dengan sangat baik.


"Bagus cah ayu. Aku sangat senang kau melakukan jurus itu dengan sangat baik." Ucapnya lagi. Ia menghampiri Putri Andhini Andita sambil memberikan segelas air putih.

__ADS_1


"Terima kasih banyak nenek. Rasanya tubuhku lebih enteng dari yang sebelumnya." Putri Andhini Andita menerima air itu, dan meminumnya. Tak lupa ia membacakan kalimat yang baik sebelum meminumnya.


...***...


Disisi lain. Pemuda yang sedang mengincar Sukma Dewi Suarabumi saat ini melakukan pencarian. Namum sepertinya ia gagal melakukan itu. ia sangat kesal karena seperti ada penghalang kuat yang menolaknya untuk masuk ke sebuah tempat. Perlahan ia membuka matanya, dan menatap lurus ke depan dengan tatapan yang sangat tajam.


"Kurang ajar sekali. Siapa dia sebenarnya?. Padahal aku sangat yakin jika dia adalah orang yang membawa sukma dewi suarabumi. Tapi kenapa malah menghilang tanpa jejak?." Ia sangat tidak terima jika ada yang berani mempermainkan dirinya. Ia mengambil abu pembakaran yang tak jauh darinya. Ia mengambil sedikit dan meletakkannya di telapak tangannya. "Wahai sukma dewi suarabumi. Dimana kau?. Aku memanggilmu. Tunjukkan dimana kau berada saat ini?." Ia terus berusaha untuk memanggil Sukma Dewi Suarabumi. Ia memikatnya dengan banyak mantram, sehingga hawa keberadaan sukma Dewi Suarabumi dapat ia tangkap samar-samar. Akan tetapi ia belum mengetahui sama sekali dimana lokasi itu. Apakah ia bisa melakukannya?. Temukan jawabannya.


...***...


Adzan Zuhur telah dikumandangkan. Di Padepokan Al-Ikhlas. Raden Jatiya Dewa, dan santri lainnya telah berada di mushola. Bahkan setelah adzan selesai dikumandangkan mereka melaksanakan sholat sunah sebelum masuk waktu sholat Zuhur dua raka'at. Setelah itu mereka melaksanakan sholat Zuhur berjamaah. Kemudian mendengarkan ceramah agama yang disampaikan oleh syekh Asmawan Mulia.


"Hadirin yang berbahagia. Semoga kita selalu berada di bawah lindungan Allah SWT. Semoga kita semua masih bisa merasakan begitu banyak nikmat yang diberikan Allah SWT. " Syekh Asmawan Mulia menjelaskan kepada mereka bagaimana nikmat mensyukuri hal-hal yang sangat kecil.


...***...


Di depan gerbang hutan larang agung. Hutan yang masih sangat lebar, dan mereka menjelajahi dengan seksama.


"Jadi kalian telah menemukan lokasi ini juga?." Seorang pemuda berjalan dengan langkah yang tegap menuju lokasi itu?.


"Benar tuan. Kami rasa memang dari sini. Tapi sayangnya hutan ini sepertinya sedang dilindungi oleh seseorang, sehingga kita tidak bisa masuk sama sekali. Apa yang harus kita lakukan tuan?." Si Hitam mengamati pelindung tipis yang mengandung hawa murni yang sangat kuat.


"Kita semua harus menghancurkan tempat ini. Agar mereka keluar dari persembunyiannya." Pemuda itu menyeringai dengan sangat lebar. Ia tidak menyangka akan mendapatkan rintangan yang menegangkan seperti ini.

__ADS_1


"Baiklah tuan." Mereka semua setuju dengan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.


Sementara itu, orang-orang yang berada di dalam pagar gaib itu, tak lain adalah nenek Putih dan juga putri Andhini Andita.


"Anak muda. Sepertinya kita akan kedatangan tamu yang memang benar-benar mengincar Sukma dewi suarabumi yang ada di dalam tubuhmu itu.


"Lalu apa yang harus kita lakukan nek?. Apakah kita akan berhadapan dengan mereka?." Putri Andhini Andita terlihat sangat ragu, apakah ia mampu menghadapi orang-orang jahat itu atau tidak.


"Kau harus lebih percaya pada dirimu sendiri. Aku yakin kau bisa melakukannya." Nenek Putih terus menyemangati Putri Andhini Andita.


Tak lama setelah itu, ada lima orang yang datang dengan wajah yang tidak bersahabat sama sekali.


"Sepertinya mereka sama sekali tidak enak untuk dijadikan tamu yang baik." Mata nenek putih mengamati mereka semua.


"Diam kau nenek tua!. Aku saat ini sedang menginginkan wanita muda itu. Karena dia membawa sukma dewi suarabumi." Pemuda itu tampak marah, dan tidak suka dengan apa yang dikatakan oleh nenek putih.


"Untuk apa kau menginginkan kekuatan sukma dewi suarabumi?. Kau pikir pedang panggilan jiwa akan digunakan untuk kejahatan?." Putri Andhini Andita menatap tajam ke arah pemuda itu. Tapi pemuda itu malah tertawa terbahak-bahak. "Berani sekali kau tertawa. Apa yang lucu dari ucapanku?!." Putri Andhini Andita sangat kesal, dan ia merasa direndahkan oleh pemuda itu.


"Tenanglah cah ayu. Kemarahan yang kau miliki hanya akan membawa mu pada kerugian saja." Nenek Putih mencoba untuk memperhatikan Putri Andhini Andita agar tidak muda terpancing amarah.


"Sudah lah kau tua bangka!. Kau seharusnya telah mati!. Jadi kau tidak usah banyak bicara!." Pemuda itu sangat marah, dan ia tidak sabaran lagi.


"Kau bicara apa?." Putri Andhini Andita hendak protes apa yang dikatakan oleh Pemda itu, namun sepertinya. Ada api aneh yang menyelimuti tubuh nenek Putih. Putri Andhini Andita sangat terkejut melihat itu. Apakah yang akan terjadi?. Temukan jawabannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2