RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
RENCANA


__ADS_3

Pertarungan itu masih berlanjut, orang misterius itu dikeroyok oleh kelompok sengkar iblis. Meskipun tubuh mereka masih terasa sakit, namun tidak mengurungkan niat mereka untuk menyerang orang misterius itu.


"Baiklah, kalau kalian memaksa." Suara itu tampak berbeda dari yang sebelumnya. Sorot matanya juga tajam, aura kemarahan yang ia tunjukkan semakin besar.


"Siapa dia sebenarnya?." Lelaki kurus itu merasa kewalahan menghadapi orang misterius itu. Tubuhnya terasa sakit akibat hantaman jurus orang itu. Apalagi mereka melihat orang misterius itu sedang memainkan jurus aneh, membuat gerakan yang tidak mereka ketahui sama sekali.


"Majulah kalian. Jika memang kalian kelompok sengkar iblis yang katanya memiliki ilmu kanuragan yang mempuni."


Setelah selesai membuat gerakan jurusnya, yaitunya jurus angin melebur karang. Jurus apakah itu?. Mereka baru melihat gerakan jurus itu, namun mereka harus tetap waspada.


Mereka semua menyerangnya, tentunya orang misterius itu sudah waspada, dan ia menghadapi mereka dengan jurusnya, menyerang mereka satu persatu. Dari laki-laki yang berbadan kurus, ia mengelabui gerakan laki-laki berbadan kurus itu dengan membuat gerakan aneh. Setelah itu ia hantam dada lelaki itu dengan memukulnya, hingga terlempar jauh.


Begitu juga dengan seorang wanita yang berbaju biru paduan hitam. Wanita itu mencoba menyerang orang misterius itu, akan tetapi  malah kebingungan dengan gerakan jurus lawannya. Mau tak mau ia juga terkena jurus lawannya. Ia juga terlempar jauh dimana kawannya yang pertama terkena serangan orang misterius itu.


Tidak hanya sampai di situ saja, tiga dari yang tersisa menyerang bersamaan orang misterius itu, lagi dan lagi orang misterius itu membuat gerakan jurus baru.


"Jangan jumawa dulu kau bedebah." Mereka benar-benar kewalahan menghadapi orang misterius itu, ternyata mereka salah memilih lawan.


"Tidak usah banyak bicara. Dimana kesombongan kalian tadi?. Apakah kalian sudah menyerah?."


Orang misterius itu tampak marah. Dengan gerakan cepat, ia melumpuhkan mereka semua yang masih menyerangnya.


Mereka yang terkena pukulan orang aneh itu mundur beberapa langkah, rasanya tenaga mereka benar-benar terkuras, tetapi keegoisan mereka masih memacu mereka untuk tetap bertarung.


Wanita yang satunya lagi, mencoba menyerang orang misterius itu, ia maju sendirian, sementara keempat temannya menyusul. Akan tetapi apa yang terjadi ketika wanita itu maju duluan?.


Tanpa disangka-sangka, orang misterius itu malah menotoknya, hingga ia tidak bisa bergerak.


"Majulah!. Jika kalian ingin dia mati ditanganku saat ini juga."


Orang misterius itu mengancam mereka semua dengan mengarahkan sebuah belati kecil yang ia tempelkan mata tajamnya ke arah leher wanita itu. Mereka yang melihat itu terkejut, gerakan orang itu ternyata sangat cepat, hingga mereka tidak menyadarinya.


"Lepaskan dia!. Kau benar-benar pengecut, beraninya mengancam kami."


Mereka semua marah, orang itu menyandera teman mereka? kejadian itu diluar dugaan mereka.


"Ya, sebut saja begitu. Sementara kalianlah yang pengecut, main keroyokan. Hanya berani mengincar orang-orang lemah." Balas orang misterius itu dengan meremehkan mereka semua. Apalagi aura kemarahan dari tubuhnya belum hilang, dan masih terlihat menguar dengan jelas.


"Keparat busuk!. Lepaskan dia!."


Ketiga laki-laki itu seakan mengancam orang misterius itu, namun ia tidak menggubrisnya. Ia masih tetap mengancam mereka semua dengan menyandera teman mereka.


"Jika kalian ingin dia kembali, carilah aku jika kalian bisa."


Setelah berkata seperti itu, orang misterius itu menghilang entah kemana. Tentunya membuat mereka semua terkejut, orang itu menghilang tanpa jejak?.


"Nimas."


Mereka semua berusaha mencari jejak orang misterius itu, namun tidak bisa. Mereka sangat marah, mengeluarkan kata-kata kasar, mengumpat orang misterius itu?.


Apa yang akan mereka lakukan? Bisakah mereka menemukan orang misterius itu?.


...****************...


Keesokan harinya


Keluarga permaisuri Ardiningrum Bintari sedang menikmati hidangan pagi mereka. Berkumpul bersama anak-anaknya, sambil membicarakan tentang ketidaksukaan mereka terhadap Bahuwirya Cakara Casugraha yang kini menjadi raja.


"Aku merasa heran raka. Bagaimana mungkin Rayi Cakara bisa menjadi raja?." Raden Gentala Giandra masih heran, kenapa malah anak bungsu yang menjadi raja?. Bukan dirinya atau kakaknya Raden Ganendra Garjitha?.

__ADS_1


"Aku juga merasa heran rayi, sepertinya semuanya telah diatur." Raden Ganendra Garjitha malah berpikir ke arah sana, ia merasa ada yang ganjal dengan pengangkatan raja saat itu.


"Benar raka. Tidak mungkin hanya dengan menduduki singgasana saja, bisa menentukan siapa yang berhak menjadi raja?." Putri Ambarsari juga merasakan keanehan yang tidak mungkin rasanya itu adalah penentuan untuk menjadi seorang raja.


"Ibunda rasa, rayi dewi anindyaswari telah berbuat curang agar putranya lah yang menjadi raja." Ratu Ardiningrum Bintari malah menuduh Ratu Dewi Anindyaswari telah berbuat kecurangan agar putranya Raden Cakara Casugraha yang menjadi Raja.


"Kalau begitu ayo kita paksa ibunda ratu dewi anindyaswari untuk berbicara, mengakui perbuatan busuknya." Putri Ambarsari memberi ide pada ibundanya agar ibundanya memaksa Ratu Dewi Anindyaswari mengakui perbuatan kotornya itu.


"Kalau begitu kami juga ikut. Kami tidak suka dengan cara yang ia gunakan agar putranya yang jahat itu menjadi raja." Raden Ganendra Garjitha, dan Raden Gentala Giandra terbawa suasana oleh pendapat yang diucapkan oleh Ratu Ardiningrum Bintari. 


Kedengkian telah tertanam dalam hati mereka karena tidak bisa menerima kenyataan yang telah terjadi. apakah mereka akan menyakiti Ratu Dewi Anindyaswari untuk memaksanya untuk mengakui perbuatan yang sama sekali tidak dilakukannya?. Temukan jawabannya.


...****************...


Masih di dalam lingkungan istana kerajaan.


Putri Andhini Andita sepertinya sedang mengintip di ruang pribadi raja. Ruangan yang tidak boleh diganggu siapa saja. Putri Andhini Andita melihat adik tirinya itu sedang melakukan sesuatu terhadap seseorang?. Pandangannya tidak jelas karena terhalang oleh ukiran-ukiran dinding ruangan itu.


"Sama seperti mendiang ayahanda dulu. Selalu bersama seorang berjubah hitam. Rayi prabu juga?."


Dalam hati putri Andhini Andita merasa penasaran, ia ingin masuk, tapi takut dibilang lancang karena mengganggu Raja yang sedang berada di ruang pribadinya. Tapi hatinya dipenuhi rasa penasaran, mengapa mendiang ayahandanya juga adik tirinya melakukan hal yang sama?.


Sementara itu di dalam ruangan.


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sedang menotok beberapa aliran darah orang misterius itu, ia harus segera meredakan amarah yang dirasakan oleh orang misterius itu.


Setelah beberapa menit kemudian, ia berhasil menekan titik-titik yang menjadi sumber aliran hawa kemarahan yang timbul di tubuh orang misterius itu.


Orang misterius itu perlahan-lahan bisa kembali mengendalikan dirinya, mengatur hawa murninya.


"Terima kasih karena kau telah menenangkan aku. Maaf telah membuatmu juga merasakannya." Ia memberi hormat kepada prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Perasaan bersalah menyelimuti hatinya.


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga merasakan kemarahan itu, namun itu masih bisa mengendalikannya. Karena itulah ia harus mengimbangi sumber kemarahan itu, agar dirinya tidak kena dampaknya.


Jaya Satria berdiri, duduk di samping prabu Asmalaraya. Mereka membahas masalah sandera juga penyerangan yang dilakukan oleh kelompok sengkar iblis.


"Maafkan aku. Kemarahanku muncul, karena mereka telah menyerangku dengan cara yang curang. Hingga aku terbawa amarah."


"Ayahanda pernah berkata, kita harus tetap tenang dalam keadaan apapun. Allah SWT juga tidak menyukai orang-orang pemarah. Karena itulah, kendalikan amarahmu. Jika kau tidak ingin mendapatkan kerugian dari kemarahanmu."


prabu Asmalaraya tersenyum kecil, ia memahami apa yang dirasakan oleh Jaya Satria, karena secara tidak langsung itu akan berpengaruh pada dirinya.


"Sekali lagi maafkan aku. Aku akan berusaha mengendalikan raga ini dengan baik seperti yang dikatakan oleh mendiang Gusti Prabu."


Ya, Jaya Satria berjanji akan mengendalikan amarahnya. Ia tidak mau terjadi sesuatu padanya, juga pada prabu Asmalaraya juga nantinya.


"Baiklah. Aku juga akan menjaga raga ini, kita harus saling menjaga agar kita tetap aman."


Prabu Asmalaraya sangat senang mendengarnya, ia merasa lega dengan ucapan Jaya Satria.


"Lalu bagaimana dengan sisa kelompok mereka?." prabu Asmalaraya ingin  bagaimana kelompok Sengkar iblis yang menyerang tadi malam.


"Sepertinya itu hanyalah kelompok kecilnya saja. Aku rasa mereka akan membawa kelompok lainnya, dalam jumlah yang banyak lagi untuk menyerangku. Aku yakin mereka pasti ingin menyelamatkan temannya." Jaya Satria yakin itu. Tidak mungkin mereka membiarkan teman mereka tertangkap begitu saja bukan?.


"Tapi kau tenang saja, aku tidak membawanya ke istana ini. Aku membawanya ke tempat lain, karena aku tidak mau mereka berbuat kerusuhan di istana ini." Lanjut Jaya Satria. Ia tidak mau Prabu Asmalaraya terlalu cemas masalah dimana ia membawa sandera yang ia tangkap.


"Syukurlah-"


Ketika Prabu Asmalaraya ingin membalas ucapan Jaya Satria, ucapannya terhenti karena terkejut mendengar suara keras di luar. Secara cepat Jaya Satria menghilang dari ruangan itu, sedangkan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana segera keluar, ingin melihat apa yang terjadi.

__ADS_1


"apa yang yunda lakukan di ruangan pribadi raja?. Bukankah sudah jelas aturannya bahwa tidak ada satupun orang yang boleh ke mendekati ruang pribadi raja selain ada keperluan yang mendesak?."


Suara Putri Agniasari Ariani terdengar keras, ia seperti sedang marah.


"Kau jangan salah faham dulu rayi, aku bisa menjelaskan mengapa aku berada disini!. Kau jangan asal menuduhku!." Putri Andhini juga marah karena tidak suka dengan pertanyaan adik tirinya itu. Apalagi menuduhnya mengintip apa yang dilakukan oleh Raja di ruangannya.


Sementara itu Prabu Asmalaraya langsung mendekati mereka, ia ingin tahu apa yang membuat keduanya bertengkar?.


"Ada apa ini, yunda?. Mengapa kalian bertengkar?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasa heran dengan kedua kakaknya. Apa yang menyebabkan keduanya marah?.


"Rayi prabu." Keduanya sedikit terkejut dengan kedatangan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, refleks mereka memberi keduanya hormat pada sang prabu.


"Ada apa yunda?. Suara kalian terdengar sampai kedalam. Apa permasalahannya?." Dengan nada lembut sang Prabu bertanya pada kedua kakaknya.


"Mohon maaf rayi prabu. Aku tadi melihat yunda andhini adnita seperti sedang menguping di ruang pribadimu. Karena itulah aku menegurnya rayi prabu." Putri Agniasari terlihat marah, ia seakan tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh kakaknya itu.


"Mohon ampun rayi prabu. Bukan seperti itu kejadian yang sebenarnya." Bantah Putri Andhini.


"kau salah faham rayi agniasari ariani. Aku tidak menguping pembicaraan apapun. Sebenarnya ada hal yang ingin aku sampaikan pada rayi prabu, tapi aku ragu karena aku melihat Rayi prabu sedang berbicara serius dengan seseorang di dalam." Putri Andhini masih menyangkal dengan apa yang ia lakukan meskipun itu yang terjadi, tetapi ia memiliki alasan yang tepat untuk masuk ke ruang pribadi Raja.


"Jadi yunda andhini andita melihat jaya satria bersamaku tadi?. Apakah yunda andhini andita juga mendengarkan pembicaraan kami?."


Dalam hati Prabu Asmalaraya sedikit merasa cemas. Takut kakaknya mendengarkan apa yang ia bicarakan dengan Jaya Satria.


"Sudah lah yunda. Tenangkan diri kalian, janganlah turuti amarah kalian. Kita ini bersaudara. Tidak baik sesama saudara saling bertengkar." Prabu Asmalaraya mencoba menenangkan kedua kakaknya. Juga menenangkan darinya agar tidak terlihat mencurigakan.


keduanya hanya diam saja, tidak ada bantahan setelah mendengarkan apa yang dikatakan adiknya. Memang benar jika dilihat secara lahiriah, tidak baik sesama saudara bertengkar, apalagi hanya karena salah faham.


"Maafkan kami rayi prabu."


Keduanya meminta maaf kepada Prabu Asmalaraya, mereka tahu itu salah, tapi hati mereka masih panas, terlihat jelas dari raut wajah mereka yang masih cemberut.


"Baiklah. Yunda andhini andita juga yunda agniasari ariani ikutlah bersamaku ke dalam. Katakan apa yang ingin kalian katakan padaku."


Prabu Asmalaraya membawa kedua kakaknya ke dalam ruangan Pribadinya, ia tidak mau pertengkaran keduanya membuat keributan di Istana.


"Terima kasih rayi prabu." Putri Andhini merasa lega, ia mengikuti langkah adiknya yang duluan menuju ruangannya, begitu juga dengan putri Agniasari.


Apa yang akan mereka bahas?. tunggu setelah ini ya.


...****************...


Di markas kelompok Sengkar iblis


"apa?. Mayang sari ditangkap oleh orang misterius?. dan kalian tidak bisa mencari jejak orang misterius itu?."


Ki Dharma Seta terlihat marah mendapatkan laporan dari anak buahnya yang pulang dalam keadaan terluka.


"Benar ki. Orang misterius itu memiliki ilmu Kanuragan yang aneh, tubuh kami terasa disengat listrik Ki."


Narumi Putih mengatakan apa yang ia rasakan, tubuhnya masih terasa sakit, dan agak sulit bergerak.


"Benar ki, kami semua dihajar oleh orang itu." Semara Layana, lelaki dengan tubuh kurus tinggi juga nampak kesakitan.


"Bodoh!. Tidak berguna!. Tidak ada yang becus dan malah membuat masalah, memang tidak berguna!."


Ki Dharma Seta marah-marah anak buahnya yang sama sekali tidak becus. Tapi aneh, tidak biasanya mereka kalah dalam pertarungan. Sepertinya orang yang merekam hadapi memang bukan orang yang sembarangan.


Mereka hanya diam saja mendengar ketua mereka marah, toh pada akhirnya ki Dharma Seta pasti akan mengobati luka mereka. Ada kemungkinan membantu mereka untuk mengatasi masalah yang mereka hadapi, juga membebaskan Mayang Sari dari tahanan orang misterius itu.

__ADS_1


Bagaimana kelanjutannya?. Masih penasaran?. Mohon dukungannya ya, dengan cara like, vote, komentar, dan jangan lupa share agar yang lainnya bisa membacanya. Salam cinta untuk pembaca.


__ADS_2