RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
RADEN CAKARA CASUGRAHA


__ADS_3

Pagi telah menyapa. Ratu Dewi Anindyaswari masih setia menemani kedua anaknya yang masih terbaring di tempat tidur. Setelah melaksanakan sholat subuh, mengaji dan membacakan sholawat badar di dekat anaknya.


"Tidakkah nanda berdua merindukan ibunda." Kembali hatinya merasa sedih. Sesak, perih, dan sakit melihat kondisi anaknya yang seperti ini.


"Putraku." Ia genggam erat tangan Jaya Satria. Ia tidak menduga ternyata selama empat tahun berlalu anaknya bersembunyi dibalik topeng?.


"Ibunda hanya selalu ingin bersama nanda. Ibunda selalu merindukan nanda." Dalam hatinya merasa perih, bagaimana mana mengingat ketika anaknya diusir dari istana ini.


Hatinya sangat sakit. Sebagai seorang ibu yang menyayangi anaknya, ia harus menyaksikan anaknya yang tersiksa.


"Nanda selalu menanggung beban. Nanda adalah putra ibunda yang sangat kuat." Air matanya mengalir membasahi pipinya. Sesekali ia cium tangan anaknya, sebagai ungkapan betapa ia sangat merindukan anaknya ketika perpisahan itu terjadi.


Kembali ke masa itu. Masa dimana Raden Cakara Casugraha diusir dari Istana kerajaan Suka Damai.


Raden Cakara Casugraha memang terkenal mudah marah. Cepat terpancing emosi. Bahkan penghuni Istana ini tahu bagaimana perangai dari putra bungsu prabu Kawiswara Arya Ragnala ini.


Namun hanya satu orang yang selalu menemani putra bungsu dari Raja agung ini selain ibunda dan yundanya. Ia adalah Aki Puasa, seorang penjaga kuda.


Pagi itu Raden Cakara Casugraha datang ke kandang kuda. Memang setiap pagi ia selalu menemani Aki Puasa untuk memberi makan atau membersihkan kuda-kuda yang ada di Istana.


"Apakah aden tidak bosan menemani orang tua seperti hamba?. Nanti apa kata gusti prabu pada hamba?."


"Sudahlah ki. Saya bosan tiap hari aki bertanya seperti itu. Saya suka sekali membersihkan kuda-kuda ini ki."


Aki puasa tertawa kecil mendengarkan ucapan itu. Ia hanya sungkan saja, nanti dikira ia yang menyuruh anak seorang Raja membersihkan kuda Istana.


"Meskipun banyak yang mengatakan kalau aden cakara casugraha ganas, namun bagiku dia adalah orang yang baik." Dalam hatinya merasakan perasaan yang beda pandangannya dari yang lainnya.


"Aki, nanti sore saya mau belajar naik kuda lagi. Saya hanya ingin belajar sama aki."


"Loh?. Kan masih banyak yang lebih mahir dari hamba den. Hamba hanya penjaga kuda saja."


"Tapi mereka tidak sesabar aki. Mereka memuji saya hanya karena takut dibilang tidak becus mengajari putra mahkota belajar naik kuda."


Lagi dan lagi Aki Puasa tertawa kecil. "Jadi maunya aden gimana toh?."


"Saya maunya yang seperti aki. Benar-benar mengarahkan saya cara benar menaiki kuda. Bukan mereka yang hanya menginginkan pujian dari ayahanda saja." Raden Cakara Casugraha terlihat manyun. Namun tangannya masih aktif, masih mengerjakan pekerjaannya, membersihkan badan kuda.

__ADS_1


"Tapi aden harus tetap minta izin pada gusti prabu. Agar guru aden tidak salah faham nantinya."


"Tentu!. Saya akan meminta izin pada ayahanda. Pasti ayahanda setuju." Raden Cakara Casugraha terlihat sangat senang. Ia hanya mau belajar naik kuda dari Aki Puasa.


Setelah selesai merawat semua kuda, Raden Cakara Casugraha kembali ke wismanya. Atau terkadang menemui ibundanya.


"Terima kasih karena aden selalu membantu hamba."


"Sama-sama aki. Tapi nanti sore jangan lupa ya."


"Akan hamba ingat den."


Saat ini mereka berada di depan gerbang kuda karena Raden Cakara Casugraha pamit. Ia hendak menemui ayahandanya minta izin, bahwa ia akan belajar menaiki kuda sore ini bersama Aki puasa. Namun siapa sangka setelah ia keluar dari kandang kuda, ia malah bertemu dengan Ketiga Putra Mahkota yang lainnya.


"Heh!. Memang busuk!. Jika lahir dari orang busuk, baunya juga busuk!."


Raden Cakara Casugraha terkejut ketika mendengar suara seseorang yang sedang mendengus kasar.


Matanya menatap tajam ke arah Raden Ganendra Garjitha, Raden Gentala Giandra dan Raden Hadyan Hastanta.


"Benar raka. Bau busuk itu sangat tidak enak untuk dicium."


Lanjut mereka yang melirik ke arah Raden Cakara Casugraha. Tentunya ia merasa tersinggung dengan apa yang mereka katakan.


"Apa yang sedang raka sekalian lakukan di sini?." Ia menghampiri ketiganya sambil memperhatikan sekitar. Karena mereka menyinggung masalah bau busuk yang sama sekali tidak ia ketahui.


"Tidak. Kami hanya membicarakan aroma busuk seseorang yang pantas berada di tempat busuk." Jawab Raden Ganendra Garjitha.


Raden Cakara Casugraha sedikit mengernyitkan keningnya karena merasa tidak enak dengan ucapan itu.


"Mengapa raka berkata seperti itu?."


"Kau tidak perlu tahu cakara casugraha. Karena bau busuk itu berasal dari dirimu." Raden Gentala Giandra yang menjawab. Ia terlihat geram dengan raut wajah Raden Cakara Casugraha sambil mengendus ke arah mereka seakan mereka adalah sumber bau itu.


"Jaga ucapanmu gentala giandra!. Kau pikir kau bicara dengan siapa?!. Tidak berguna sekali kalian bertiga ini. Hanya pandai menyingung orang lain. Tapi pada dasarnya sangat lemah."


Ketiganya langsung menoleh ke arah Raden Cakara Casugraha. Mereka terkejut mendengar bentakan suara itu. Mereka tidak terima dengan perkataan itu. Hingga mereka menyerang Raden Cakara Casugraha.

__ADS_1


Sementara itu Aki puasa yang tadinya melihat kepergian Raden Cakara Casugraha terkejut.


"Oh gusti. Tolong selamatkan raden cakara casugraha." Aki Puasa sungguh mencemaskannya. Ia takut jika Raden Cakara Casugraha kehilangan kendali karena kemarahannya itu.


Sementara itu. Raden Cakara Casugraha menghindari serangan dari Ketiga kakak tirinya yang bernafsu untuk menghajarnya.


"Heh!. Kau pikir kau bisa menang dari kami?. Jangan sombong dulu kau cakara casugraha." Memang ia akui ia memang kewalahan menghadapi adiknya itu. Namun sikap gengsinya itu membuatnya malu untuk mengakuinya.


Raden Cakara Casugraha mengatur hawa murninya setelah melepaskan satu jurus yang ia mainkan. "Tidak usah berlagak sok kuat kau ganendra garjitha. Ilmumu masih diujung kukuku."


"Bedebah!. Benar-benar kurang ajar!."


"Tenanglah raka." Raden Gentala Giandra dan Raden Hadyan Hastanta menahan Raden Ganendra Garjitha.


"Lihatlah!. Mulutnya yang kurang ajar itu bukti bahwa dia terlahir dari seorang ibu yang kurang ajar juga."


"Perangainya sangat tidak mencerminkan seorang putra mahkota. Sangat menjijikkan karena lahir dari seorang ibu yang menjijikkan pula."


"Tutup mulut kalian!." Raden Cakara Casugraha benar-benar telah terpancing amarah. "Berani sekali sekali kalian menghina ibundaku!. Akan aku bunuh kalian." Hawa kemerahan menyelimuti tubuh Raden Cakara Casugraha.


Amarahnya telah mencapai puncaknya. Ia telah dikendalikan oleh amarahnya sendiri. Raden Cakara Casugraha menghajar ketiganya tanpa ampun.


Pukulan, sepakan, serta hantaman mereka terima dengan pasrahnya. Raden Cakara Casugraha tidak memberi peluang pada mereka untuk membalas serangannya.


"Kegh."


Tubuh Raden Ganendra Garjitha terlempar ke belakang. Tubuhnya terasa sakit semua karena dihajar habis-habisan.


"Khaaaakh."


Begitu juga dengan Raden Hadyan Hastanta. Tubuhnya memar semua karena pukulan dari Raden Cakara Casugraha.


"Kau!. Kau tidak aku maafkan!. Hyaaah." Raden Cakara Casugraha hendak menghantam tubuh Raden Gentala Giandra. Saat itu juga Prabu Kawiswara Arya Ragnala datang menghalangi serangan itu. Sehingga ia selamat dari amukan amarah yang sangat ganas.


"Kegh." Raden Cakara Casugraha meringis sakit. Karena mendapatkan serangan dari Prabu Kawiswara Arya Ragnala.


Apa yang akan terjadi selanjutnya?. Apa yang akan dilakukan Prabu Kawiswara Arya Ragnala pada putranya Raden Cakara Casugraha?. Temukan jawabannya.

__ADS_1


Mohon dukungannya. Klik favoritnya, jempolnya. Jangan lupa vote juga, plus kasih hadiahnya. Terima kasih pembaca tercinta.


__ADS_2