
...**...
Jaya Satria dan Putri Agniasari Ariani telah sampai di Istana Kerajaan Suka Damai dengan aman.
"Yunda masuklah terlebih dahulu."
"Lalu apa yang akan rayi prabu lakukan?."
"Aku hanya tidak ingin ibunda dan yang lainnya mengetahui, bahwa aku pergi diam-diam dari istana. Tolong jangan katakan pada mereka, bahwa yunda pulang bersamaku." Jawabnya. "Aku hanya tidak ingin membuat mereka semua khawatir yunda."
"Baiklah rayi. Aku akan menjaga rahasia ini."
"Terima kasih yunda. Nanti kita bertemu lagi di ruang keluarga."
"Baiklah rayi prabu."
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh."
Putri Agniasari Ariani memaklumi apa yang diinginkan oleh adiknya itu. Ia hanya tidak ingin mereka cemas. Ya, mungkin itu bisa saja terjadi. Setelah itu, Putri Agniasari Ariani masuk ke dalam Istana. Ia juga merindukan ibundanya, ia sangat ingin memeluk ibundanya.
Sementara itu. Jaya Satria masuk ke ruang pribadi Raja.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh. Gusti prabu." Jaya Satria memberi hormat pada sang prabu.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh. Jaya satria." Jawabnya dengan senyuman kecil. "Duduklah Jaya Satria." Sang Prabu selalu memperlakukan Jaya Satria dengan baik.
"Terima kasih gusti prabu." Jaya Satria duduk di hadapan sang Prabu.
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin. Kau kembali dengan selamat jaya satria."
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin gusti prabu."
"Aku sangat khawatir, saat aku dan kau tidak bisa berkomunikasi saat kau berada di alam sukma."
"Hamba juga tidak mengerti mengapa. Tapi di alam sukma itu benar-benar mengerikan. Apalagi di istana itu."
"Ya. Istana itu, sudah menjadi sarang dari roh-roh yang tersesat."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?."
"Kita tidak bisa berbuat banyak. Hanya berdoa kepada Allah SWT. Agar mereka bisa lepas dari jeratan tali gaib yang terlah mengikat mereka selama ini."
"Aamiin, semoga saja gusti prabu."
Keduanya menghela nafas dengan pelan. Rasanya sangat memprihatikan melihat kondisi mereka yang telah bersekutu dengan hal yang gaib.
"Tapi setidaknya kita telah mengembalikan tombak pusaka itu." Ucap sang Prabu.
"Ya. Dengan begitu, kita untuk sementara merasa aman." Jaya Satria merasa lega.
__ADS_1
"Semoga benda pusaka yang lainnya tidak seperti tombak pusaka kelana jaya."
"Semoga saja tidak gusti prabu."
Mereka sangat khawatir, karena tidak mudah mengendalikan benda pusaka. Apalagi jika benda pusaka itu membawa kutukan dari pemilik aslinya. Sungguh, sangat berat mereka melalui itu.
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin, masalah tombak pusaka kelana jaya telah selesai."
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin gusti prabu. Rasanya tubuh ini sudah mulai agak enteng lagi." Jaya Satria dan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dapat merasakan bagaimana keadaan tubuh mereka.
Sebelumnya, mereka merasa tidak nyaman sama sekali. Karena tekanan dari mimpi buruk yang diperlihatkan oleh tombak pusaka Kelana Jaya, sangat mengerikan, dan tidak ingin mereka ingatkan lagi.
"Sebentar lagi acara lamaran akan dilakukan. Aku minta kau tetap berada di istana. Aku tidak mau istana kosong saat aku pergi ke kerajaan angin selatan." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba untuk melupakan sejenak masalah yang telah mereka alami.
"Sandika gusti prabu. Hamba akan menjaga sebaik-baiknya, sesuai dengan perintah gusti prabu."
"Terima kasih jaya satria."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat bersyukur. Dengan adanya Jaya Satria. Ia benar-benar dapat berbagi tugas. Meskipun ia merasa cemas, namun hatinya, jiwanya, pikirannya. Benar-benar terhubung baik dengan Jaya Satria.
...***...
Sementara itu. Masih di dalam lingkungan istana.
Di bilik Putri Agniasari Ariani.
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin. Anada kembali di waktu yang tepat."
"Bagaimana dengan perjalanan mengembara mu nak. Apakah ananda putri mengalami kesulitan?." Tangannya membelai rambut putrinya dengan sayang.
"Ibunda. Di setiap kesulitan, akan ada kemudahan." Ia tersenyum kecil menatap ibundanya "Alam adalah guru yang baik saat mengembara. Jadi ibunda jangan khawatir. Ananda putri akan selalu menjaga diri."
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin. Ibunda akan selalu mendoakan ananda putri dimanapun ananda berada." Ratu Dewi Anindyaswari mencium puncak kepala anaknya dengan sayang.
"Terima kasih ibunda. Doa ibunda, serta keridhaan ibunda lah, yang membuat ananda putri bisa melangkah dengan ringannya." Putri Agniasari Ariani sangat senang mendengarnya.
"Ibunda sangat menyayangi ananda putri, juga nanda prabu." Ucap Ratu Dewi Anindyaswari. "Bagi ibunda. Kalian berdua adalah harta berharga yang ibunda miliki." Begitu tulus senyumannya. Sehingga dapat menyentuh hati anaknya.
"Ibunda juga adalah seorang ibu yang ananda putri sayangi. Ibunda adalah mahkota berharga bagi ananda."
Begitu besar limpahan kasih sayang yang mereka berikan. Tidak ada kebahagiaan yang dapat menggantikan kebersamaan mereka.
"Tadi ibunda mengatakan bahwa ananda kembali di waktu yang tetap. Apa maksudnya ibunda." Putri Agniasari Ariani merasa sedikit penasaran.
"Sebentar lagi, rakamu hadyan hastanta akan melamar nyai bestari dhatu ke istana kerajaan angin selatan."jawabannya.
"Benarkah itu ibunda?."
"Itu benar rayi."
Dari arah luar, Putri Andhini Andita yang menjawabnya.
__ADS_1
"Yunda, raka, ibunda, rayi prabu." Matanya menatap keluarganya yang masuk ke biliknya. Senyuman mereka yang begitu ramah. Entah mengapa ia sangat merindukan mereka semua.
"Akhirnya ananda putri kembali." Ratu Gendhis Cendrawati mendekati Putri Agniasari Ariani, mencium puncak kepalanya dengan sayang.
"Mengapa ananda putri suka mengembara setelah memeluk agama islam." Raut wajahnya terlihat begitu cemas.
"Benar rayi. Apakah kau tidak kerasan berada di istana ini, sehingga rayi sering keluar." Putri Andhini Andita merasa tidak enak hati. Apalagi mengingat apa saja yang telah ia lakukan pada adiknya itu.
"Maafkan perlakuan kami selama ini rayi. Sungguh, itu adalah kesalahan yang sangat menyakitimu rayi." Raden Hadyan Hastanta juga ikut merasa bersalah.
"Ibunda, yunda, raka." Putri Agniasari Ariani tersenyum kecil menatap mereka. "Tujuan mengembara itu banyak. Bukan hanya sekedar melakukan perjalanan saja." Ucapnya dengan lembut. "Mungkin rayi prabu lebih banyak pengalamannya dari saya ketika mengembara." Lanjutnya. Kali ini ia menatap adiknya yang ikut tersenyum karena ia menyebutkan adiknya.
"Saya mengembara, bukan berarti saya tidak kerasan berada di istana ini." Ucapnya lagi. "Akan tetapi saya benar-benar ingin mengenal dunia luar." Ia menghela nafasnya dengan pelan. "Jauh berbeda dengan kehidupan istana yang serba ada. Sementara saya di luar sana, benar-benar harus berusaha dulu, jika ingin mendapatkan sesuatu." Ia mengingat pahit manisnya kehidupan di luar sana.
"Jika rayi telah mengetahui dunia luar itu sulit. Tapi mengapa rayi masih mau mengembara?. Apakah tidak takut?." Putri Andhini Andita sedikit penasaran.
"Bahaya akan selalu ada di mana-mana yunda. Tetap waspada adalah kuncinya. Selalu berdoa, memohon perlindungan kepada Allah SWT." Jawabnya.
Mereka mencoba memaklumi apa yang dikatakan oleh Putri Agniasari Ariani. Mereka juga lega mendengarkan jawabannya.
"Tapi untuk saat ini tetaplah berada di istana ini, nanda putri." Ucap Ratu Gendhis Cendrawati mencoba untuk tersenyum. Karena hatinya masih dipenuhi kegelisahan. Ia takut jika kepergian pengembaraan Putri Agniasari Ariani karena dirinya.
"Baiklah ibunda." Balasnya.
"Iya rayi. Untung saja kau pulang tepat waktu. Itu sangat luar biasa, aku tidak menyangka kau bisa bisa memprediksi hal penting yang akan terjadi di istana ini." Putri Andhini Andita menatap bangga pada adiknya.
Sementara itu, mata Putri Agniasari Ariani melirik ke arah adiknya. Sedangkan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana hanya berpura-pura tidak mengetahui apa yang terjadi.
"Sebentar lagi aku akan ke kerajaan angin selatan untuk meminang nyai bestari dhatu. Aku harap rayi bisa menghadirinya." Ucap Raden Hadyan Hastanta.
"Tentu saja raka. Dengan senang hati, adikmu ini akan menjadi saksi penting acara itu." Balas Putri Agniasari Ariani.
"Terima kasih rayi. Aku sangat senang mendengarnya."
Raden Hadyan Hastanta tidak pernah membayangkan, jika pada akhirnya akan berbaikan dengan keluarga Ratu Dewi Anindyaswari. Bahkan adik yang ia benci, malah memberikan kebahagiaan padanya.
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin. Kita semua bisa merasakan kebahagiaan ini yunda." Ucap Ratu Dewi Anindyaswari dengan senyuman penuh kebahagiaan.
"Benar rayi. Semoga saja kita bisa terus seperti ini." Itulah harapan dari Ratu Gendhis Cendrawati.
"Semoga saja, kita selalu mendapatkan kebahagiaan. Baik di dunia, maupun diakhirat nanti. Aamiin aamiin ya rabbal aalaamiin." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga sangat berharap, kebahagiaan senantiasa bersama keluarganya.
Bagaimana kelanjutannya?. Temukan jawabannya.
Tidak like?. Tidak kasih hadiah?. Tidak vote?. Tidak komentar?. Maka tidak follow Dan jangan lupa klik add agar dapat notifikasi lanjutan ceritanya
Jangan jadi pembaca gelap, mari kita sama-sama menghargai. Tak kenal maka tak follow.
...***...
...***...
__ADS_1