RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
JAYA SATRIA


__ADS_3

...***...


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasa bimbang dengan permintaan ketiga kakaknya.


"Aku hanya tidak ingin raka dan yunda celaka. Aku tidak ingin kehilangan raka ataupun yunda."


"Tapi kami juga tidak ingin kehilanganmu rayi prabu."


"Dengarkan kami rayi. Kami sangat menyayangimu. Karena itulah kita harus melakukannya bersama." Putri Agniasari Ariani dan putri Andhini Andita menangis sedih.


''Putraku. Sebaiknya nanda pikirkan dengan baik-baik. Kami semua mencemaskan keadaanmu nak.''


"Benar nanda prabu. Kami tidak mau kehilanganmu. Cukup kanda prabu saja yang pergi meninggalkan kita semua. Nanda prabu jangan mengambil resiko yang tinggi.''


Ratu Dewi Anindyaswari dan Ratu Gendhis Cendrawati juga khawatir. Mereka sangat menyayangi Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dengan sepenuh hati mereka.


"Ibunda, yunda, raka. Aku tidak pergi ke sana sendirian. Melainkan bersama jaya satria."


"Jaya satria?. Kami tidak tahu ia berada di mana saat ini rayi prabu." Kali ini Raden hadyan hastanta yang bersuara.


"Aku memberikan tugas pada jaya satria, ke gunung menahan bumi. Untuk membawakan pusaka dua keris naga penyegel sukma. Kami berniat menyegel raja kegelapan dengan menggunakan keris kembar itu.''


Tentunya mereka semua terkejut mendengar penjelasan dari Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Karena mereka telah salah duga tentang Jaya Satria yang tidak ada kabarnya.


"Pantas saja saat kami tidak menemukannya, karena ia berada di luar kerajaan suka damai."


"Kami sangat khawatir sekali rayi prabu. Kami mengira ia lari dari tugasnya, dan ia tidak peduli dengan nasibmu."


"Tidak seperti itu yunda. Aku yang memberikan tugas itu padanya. Karena kami memang berniat untuk menghentikan raja kegelapan."


"Syukurlah kami lega mendengarnya rayi prabu." Putri Andhini Andita menghela nafasnya dengan pelan. "Oh dewata yang agung, maafkan pikiran jahat hamba terhadap jaya satria." Putri andhini andita merasa bersalah


"Maafkan aku. Aku bukan bermaksud berbohong, memang sebenarnya niat itu belum pasti. Tapi eyang prabu mengatakan, dua pusaka keris naga penyegel sukma, yang dapat menghentikan kejahatan yang dilakukan oleh raja kegelapan." Dalam hati prabu asmalaraya arya ardhana merasa bersalah karena harus terus berbohong pada mereka, namun ia terpaksa melakukan itu demi kebaikan.


"Lalu bagaimana dengan firasatku tentang nanda jaya satria waktu itu?. Apakah hanya kecemasanku saja?." Dalam hati Ratu Dewi Anindyaswari mengingat kembali apa yang ia rasakan waktu itu. Ia merasakan jika Jaya Satria dalam bahaya.


"Lalu kapan jaya satri akan kembali, rayi prabu?." Tanya raden hastanta penasaran dengan Jaya Satria.


"Kemungkinan dua satu dua hari akan kembali lagi, raka. Kita harus bersabar menunggunya. Aku yakin dia akan berhasil membawa keris itu." Jawab Sang prabu.


Mereka merasa lega mendengarnya, karena pikiran-pikiran aneh membayangi di dalam pikiran mereka tentang jaya satria. Mereka tidak menyangka, jika Jaya Satria mendapatkan tugas seperti itu dari Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Aku akan memikirkan kembali, rencana ulang tentang penyerangan raja kegelapan. Aku akan mendiskusikannya dengan jaya satria, mengenai raka dan yunda yang ingin ikut dengan kami."


"Itu lebih baik rayi prabu. Aku yakin jaya satria akan setuju."


"Ya, kami yakin itu dia akan setuju."


"Semoga saja jaya satria setuju." Raden Hadyan Hastanta sangat berharap.


"Kami sangat mengkhawatirkan kalian semua, putra putriku. Kami sangat cemas, ketika kalian berada jauh dari kami." Ratu Gendhis Cendrawati merasa sedih, karena anak-anaknya akan berperang lagi?. Hatinya sangat khawatir, dengan keselamatan anak-anaknya.


"Yunda benar. Tapi kita tidak punya pilihan lain. Hanya mereka generasi penerus kanda prabu, yang akan melindungi istana ini, kerajaan ini dari musuh yang datang dari mana saja." Ratu Dewi Anindyaswari mencoba untuk tersenyum. Meskipun hatinya merasa berat untuk melakukannya.


"Ibunda ratu Dewi Anindyaswari benar ibunda." Putri Andhini Andita mendekati Ratu Gendhis Cendrawati, mencium kedua tangan ibundanya dengan sayang. "Sebagai putra putri dari ayahanda prabu kawiswara arya ragnala. Kami tidak akan membiarkan siapapun yang mengganggu kerajaan ini, bahkan dari kerajaan kegelapan." Lanjutnya. Ia berusaha meyakinkan ibundanya, bahwa semuanya akan baik-baik saja.


"Oh putriku." Hatinya sangat sedih. Pada akhirnya anaknya akan terlibat dalam masalah pemerintahan.


"Do'akan kami baik-baik saja ibunda. Kami akan merasa tenang, jika apa yang kami lakukan diiringi oleh do'a dari ibunda." Putri Agniasari Ariani memeluk ibundanya Ratu Dewi Anindyaswari.


"Tentu saja kami akan selalu mendoakan keselamatan kalian nak. Tidak ada do'a yang kami lupakan, selain do'a meminta keselamatan untuk putra putri kami." Balas Ratu Dewi Anindyaswari.


"Terima kasih ibunda."


Mereka semua larut dalam suasana yang mengharukan, serta kegelisahan sekaligus mereka rasakan. Bisakah mereka menghadapi masalah yang terjadi?. Temukan jawabannya.


...***...


Di Istana kegelapan. Prabu Wajendra Bhadrika saat ini sedang melakukan ritual yang dilakukan oleh Segala Geni, untuk membuka segel yang ada di dalam tubuhnya.


"Nini, apakah dengan begitu kekuatan ayahanda akan kembali dengan sempurna seperti dulu?." Putri gempita bhadrika begitu penasaran melihat ayahandanya melakukan ritual aneh menurutnya.


"Benar tuan putri, hamba telah memastikannya dengan benar."


"Semoga saja berjalan dengan baik." Putri Gempita Bhadrika berharap akan seperti itu. "Aku yakin ayahanda akan mendapatkan kekuatannya kembali. Degan begitu, orang bertopeng itu serta raja baru itu dapat dikalahkan dengan mudahnya." Ia masih dendam karena tidak berhasil mengalahkan orang bertopeng itu.


Sementara itu, dalama ritual itu prabu Wajendra Bhadrika berada di dalam lingkaran darah merah yang sangat pekat. Darah yang berasal dari campuran darah hewan dan manusia. prabu Wajendra Bhadrika berdiri dengan satu kaki, telapak tangannya yang disatukan, matanya terpejam.


Sedangkan Segala Geni merapalkan mantram yang tidak dimengerti sama sekali, sambil menaburkan bunga tujuh rupa. Terakhir ia melumuri telapak tangannya dengan darah, ia masuk juga ke dalam lingkaran itu. Ia arahkan telapak tangannya ke dada prabu wajendra bhadrika sambil merapalkan mantram-mantram untuk membuka mantram gaib yang mengunci separoh dari kekuatan prabu Wajendra Bhadrika.


Beberapa detik berlalu, ada aura merah yang memancar dari telapak tangan itu, seakan menarik paksa mantram pengunci itu. Namun pengaruhnya membuat prabu wajendra bhadrika berteriak kesakitan.


"Ayahanda."


putri gempita sangat takut melihat ayahandanya saat ini, ia hampir saja mendekati ayahandanya jika saja tidak ditahan oleh nini kabut bidadari.


"Tenanglah tuan putri. Hamba yakin gusti prabu akan baik-baik saja. Itu hanyalah sakit sementara, dan hamba yakin kekuatannya akan kembali dengan sempurna."


"Tapi, tapi aku tidak tega melihat ayahanda seperti itu nini."


"Jika tuan putri mengganggu, nanti tuan putri bisa dimarahi oleh gusti prabu. Sebaiknya tuan putri lihat saja sampai selesai."


"Baiklah nini, aku akan mencoba untuk menahan diriku." Putri Gempita Bhadrika berusaha menahan dirinya, ia juga tidak mau ayahnya murka padanya jika ia berani mengganggu ritual itu.


Apakah ritual itu benar-benar bisa mengembalikan kekuatannya?. Temukan jawabannya.


...***...


Dua hari berlalu.


Jaya Satria kembali ke istana dengan perapian Suramuara. Semuanya telah menyambut kedatangannya di depan Istana.


"Jaya satria, akhirnya kau kembali." putri Andhini Andita sangat senang melihat Jaya Satria. Kebahagiaan itu menghipnotisnya untuk memeluk jaya satria. Membuat mereka yang melihat itu terkejut, terutama Jaya Satria yang mendadak dipeluk oleh putri Andhini Andita.


"Aku sangat merindukanmu jaya satria." Ia ungkapkan bentuk kerinduannya pada Jaya Satria. Ia peluk dengan erat Jaya Satria.


"putriku." Ratu gendhis cendrawati heran melihat putrinya. Ia bertanya-tanya dalam hatinya, seberapa besar rasa cinta anaknya pada pemuda bertopeng itu hingga dengan mudahnya anaknya memperlihatkan rasa sukanya pada Jaya Satria tanpa basa-basi lagi.


"Yunda." Prabu asmalaraya arya ardhana merasa cemas melihat itu. Ia tidak menyangka, jika Putri Andhini Andita memiliki perasaan pada Jaya Satria. Begitu juga dengan Raden Hadyan Hastanta, Putri Agniasari Ariani, dan Ratu Dewi Anindyaswari yang melihat itu. Mereka semua terkejut.


"Kau baik-baik saja kan?. Apakah kau terluka?. jaya satria, kenapa kau tidak mengatakan padaku, kalau kau mendapatkan tugas diluar kerajaan dari rayi prabu?.''


Jaya Satria yang dihujani banyak pertanyaan merasa gugup. Pelukan itu, apakah itu pelukan seseorang yang begitu merindukan orang yang dicintai?. Atau pelukan seorang kakak pada adiknya?. Entahlah!. Jaya Satria jadi bimbang karena memikirkan perasaan itu.


"Sudahlah yunda. Biarkan jaya satria beristirahat dulu, nanti saja bertanya." Prabu asmalaraya arya Ardhana merasakan gugup yang aneh. Mungkin jaya satria merasa kurang nyaman saat itu?. Hingga ia juga dapat merasakan apa yang dirasakan oleh Jaya Satria.


"Aah, maafkan aku rayi prabu. Maafkan aku jaya satria." Ia juga mendadak gugup karena menyadari apa yang baru saja ia lakukan. Ia mendekati ibundanya yang dari tadi melihat aneh ke arahnya.


"Selamat datang kembali jaya satria. Alhamdulillah hirobbila'lamin kau baik-baik saja..


"Alhamdulillah hirobbil'alamin, hamba kembali dengan selamat gusti prabu." Ia tersenyum kecil, ia bersyukur Allah masih sayang padanya. "Itu semua karena bantuan dari paman perapian suramuara." Lanjutnya sambil memperkenalkan siapa yang telah membantunya.


"Sembah hormat hamba, gusti prabu. Sudah lama kita tidak bertemu sejak hari itu." Ia bersujud dihadapan sang prabu dengan segenap hati dan perasaannya.


"Oh paman, berdirilah. Jangan bersujud dihadapan ku. Tapi bersujud lah kepada Allah SWT, Tuhan yang menciptakan langit dan bumi beserta isinya. Aku hanyalah manusia biasa paman, berdirilah." Ia membantu perapian suramuara berdiri, rasanya sangat aneh orang yang lebih tua bersujud dihadapannya.


"Gusti prabu sangat baik. Hamba sangat merindukan kebaikan yang gusti prabu berikan pada hamba waktu itu. Ia mengingat dengan jelas bagaimana ia disadarkan oleh sang prabu?.


"Itu sudah sangat lama sekali paman. Namun aku sangat bersyukur karena paman membantu jaya satria."


"Suatu kehormatan bagi hamba bisa membantu jaya satria. Itu sudah menjadi kewajiban hamba untuk melindungi orang-orang baik, terutama orang yang bekerja dengan gusti prabu." Ungkapnya dengan segenap hatinya.


Tapi rasanya sangat aneh saja, sebab Jaya Satria mengatakan padanya agar tidak menyebut ia gusti prabu di hadapan mereka. Cukup satu gusti prabu saja, yaitunya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Aku ucapkan terima kasih banyak paman, semoga Allah SWT membalas kebaikan paman."


Perapian Suramuara tersenyum lebar. Hatinya sangat bahagia mendengarkan do'a dari sang prabu.

__ADS_1


"Sama-sama gusti prabu. Hamba datang bermaksud untuk membantu Gusti prabu membasmi kejahatan kerajaan kegelapan, maaf jika hamba datang dalam keadaan seperti ini."


"Tidak apa-apa paman. Aku sangat berterima kasih karena paman mau bergabung."


"Syukurlah jika gusti prabu mengizinkan hamba untuk bergabung."


"Kalau begitu ayo masuk paman. Lebih nyaman jika kita berbicara di dalam." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengajak Perapian Suramuara masuk, dan mereka berbicara di dalam.


"Tunggu dulu, nanda jaya Satria." Tiba-tiba saja Ratu Dewi Anindyaswari menahan langkah jaya Satria yang ingin ikut masuk.


"Gusti ratu." Jaya Satria memberi salam hormat mata Ratu Dewi Anindyaswari.


"Nanda jaya satria."


Entah perasaan sedih atau senang yang ia rasakan saat melihat Jaya Satria. Ratu Dewi Anindyaswari tidak tahu. Ia menyentuh kedua bahu jaya Satria dengan lembut, dan tak lupa senyuman tulus diwajahnya sambil menatap Jaya Satria.


"Alhamdulillah hirobbila'lamin, nanda pulang dengan selamat nak." Ia memeluk erat Jaya Satria, ia tumpahkan perasaan sayangnya pada Jaya Satria.


Mereka semua dapat melihat bagaimana kasih sayang itu. Kasih sayang seorang ibu pada anaknya yang baru saja pulang dari bepergian jauh.


"Aku sangat mencemaskan mu nak. Aku juga selalu mendo'akan keselamatanmu. Aku sangat takut saat mendapatkan firasat buruk tentangmu, yang sedang kesakitan terbaring di atas batu. Kau memanggilku dengan sebutan ibunda. Hatiku sangat sedih mendapatkan firasat itu, nak." Ia tuangkan semuanya, dalam ucapan, serta tindakannya.


"Ibunda." Dalam hati Jaya Satria mengucapkan kata itu, Jaya Satria tidak sanggup untuk mengatakan kalimat itu. Tanpa sadar ia meneteskan air matanya, karena tidak kuasa menahan perasaannya. "Jadi ibunda melihat diriku yang sedang terluka?." Dalam hatinya mencoba untuk menekan perasaannya.


*Menangislah ketika kau berada di dekat saudaramu. Jangan tahan perasaan yang ada di hatimu.*


Kata-kata prabu Kawiswara Arya Ragnala terngiang-ngiang di kepalanya, dan ia menangis karena perlakuan dari Ratu Dewi Anindyaswari.


"Alhamdulillah hirobbila'lamin, kau kembali dengan selamat nak." Setelah ia melepaskan pelukan itu, ia tangkup wajah Jaya Satria yang ditutupi oleh topeng itu, ia tatap dengan penuh kelembutan.


"Terima kasih gusti ratu. Hamba baik-baik saja, hamba baik-baik saja gusti ratu." Jaya Satria mencoba menyentuh tangan Ratu Dewi Anindyaswari, ia takut tidak lagi bisa menyentuh tangan itu setelah sekian lama.


"Terima kasih, karena gusti ratu begitu baik pada hamba." Ia berusaha menahan isak tangisnya, ia mencoba untuk menekan perasaannya.


"Ibunda."


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga tanpa sadar meneteskan air matanya melihat itu, ia merasa terharu dengan perhatian ibundanya pada Jaya Satria.


"ibunda"


putri Agniasari Ariani melihat itu juga meneteskan air matanya, ia begitu terharu melihat ibundanya yang menyayangi Jaya Satria.


"Rayi dewi anindyaswari memang sangat baik. Bahkan pada jaya satria, yang jelas-jelas hanyalah bawahan kanda prabu, dan nanda prabu. Namun ia seperti menganggap jaya satria adalah anaknya sendiri." Ratu Gendhis Cendrawati dapat merasakan kebaikan hati Ratu Dewi Anindyaswari.


"Kasih sayang seorang ibu tidak bisa ditolak oleh seorang anak. Siapapun dia, seberapa besar topeng yang menutupi wajahnya. Namun akhirnya akan luluh juga, jika ibundanya yang melemparkan kasih sayang yang tak terbatas, baik itu ia sadari atau tidak." Perapian Suramuara dapat melihat dengan jelas bagaimana kasih sayang yang tulus diberikan Ratu Dewi Anindyaswari pada Jaya Satria.


"Ya Allah. Semoga hati hamba tidak luluh dengan apa yang hamba rasakan pada hari ini. Biarlah hamba terus bersembunyi di balik topeng ini, dan biarkan hamba tetap seperti biasa." Meskipun ia menginginkan seperti ini, namun ia merasa bimbang dengan perasaannya saat ini. Bisakah ia berharap seperti itu?. Entahlah. Siapa yang tahu akan hal itu.


Setelah itu mereka semua masuk ke dalam istana, untuk membahas apa yang akan mereka lakukan untuk menyerang istana kerajaan kegelapan.


Apa yang akan mereka lakukan?. Temukan jawabannya.


...****...


Kembali ke kerajaan Kegelapan


Ritual telah berhasil dilakukan. Saat ini ia sedang duduk di singgasana kebanggaannya.


"Kekuatanku telah kembali!. Aku tidak akan menyia-nyiakan kekuatanku yang telah kembali ini!."


"Lalu kapan kita akan menyerang istana kerajaan suka damai, ayahanda?."


"Tenanglah dulu putriku. Tidak perlu terburu-buru."


"Itu benar. Kekuatan gusti prabu masih butuh penyesuaian. Akan berbahaya jika digunakan terlalu buru-buru."


"Kalau begitu, sambil menunggu kesembuhan gusti prabu. Hamba telah membuat ramuan herbal yang dapat mendukung kesempurnaan kekuatan Gusti prabu."


"Oowh, begitukah?." prabu Wajendra merasa terhormat apa yang dilakukan Nini Kabut Bidadari.


Apa yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya. Mohon dukungannya ya kakak.


...***...


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasa bimbang dengan permintaan ketiga kakaknya.


"Tapi kami juga tidak ingin kehilanganmu rayi prabu."


"Dengarkan kami rayi, kami sangat menyayangimu, karena itulah kita harus melakukannya bersama." Putri Agniasari Ariani dan putri Andhini Andita menangis sedih.


''Putraku nanda Prabu, sebaiknya nanda pikirkan dengan baik-baik, kami semua mencemaskan keadaanmu nak.''


"Benar nanda prabu, kami tidak mau kehilanganmu, cukup kanda prabu saja yang pergi meninggalkan kita semua, nanda prabu jangan mengambil resiko yang tinggi.''


Ratu Dewi Anindyaswari dan Ratu Gendhis Cendrawati juga khawatir. Mereka sangat menyayangi Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dengan sepenuh hati mereka.


"Ibunda, yunda, raka, aku tidak pergi ke sana sendirian melainkan bersama jaya satria."


"Jaya satria?!." Serentak mereka menyebutkan nama Jaya Satria.


"Jaya satria? Kami tidak tahu ia berada di mana saat ini rayi prabu." Kali ini Raden hadyan hastanta yang bersuara.


"Aku memberikan tugas pada jaya satria, ke gunung menahan bumi untuk membawakan pusaka dua keris naga penyegel sukma, kami berniat menyegel raja kegelapan dengan menggunakan keris kembar itu.''


Tentunya mereka semua terkejut mendengar penjelasan dari Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Karena mereka telah salah duga tentang Jaya Satria yang tidak ada kabarnya.


"Pantas saja saat kami tidak menemukannya, karena ia berada di luar kerajaan suka damai."


"Kami sangat khawatir sekali rayi prabu, kami mengira ia lari dari tugasnya, dan ia tidak peduli dengan nasibmu."


"Tidak seperti itu yunda, aku yang memberikan tugas itu padanya, karena kami memang berniat untuk menghentikan raja kegelapan."


"Syukurlah kami lega mendengarnya rayi prabu." Putri Andhini Andita menghela nafasnya dengan pelan. "Oh? Dewata yang agung, maafkan pikiran jahat hamba terhadap jaya satria." Putri andhini andita merasa bersalah


"Maafkan aku, aku bukan bermaksud berbohong, memang sebenarnya niat itu belum pasti, tapi eyang prabu mengatakan, dua pusaka keris naga penyegel sukma, yang dapat menghentikan kejahatan yang dilakukan oleh raja kegelapan." Dalam hati prabu asmalaraya arya ardhana merasa bersalah karena harus terus berbohong pada mereka, namun ia terpaksa melakukan itu demi kebaikan.


"Lalu bagaimana dengan firasatku tentang nanda jaya satria waktu itu? Apakah hanya kecemasanku saja?." Dalam hati Ratu Dewi Anindyaswari mengingat kembali apa yang ia rasakan waktu itu. Ia merasakan jika Jaya Satria dalam bahaya.


"Lalu kapan jaya satri akan kembali, rayi prabu?." Tanya Raden Hastanta penasaran dengan Jaya Satria.


"Kemungkinan dua satu dua hari akan kembali lagi, raka, kita harus bersabar menunggunya, aku yakin dia akan berhasil membawa keris itu." Jawab Sang prabu.


Mereka merasa lega mendengarnya, karena pikiran-pikiran aneh membayangi di dalam pikiran mereka tentang jaya satria. Mereka tidak menyangka, jika Jaya Satria mendapatkan tugas seperti itu dari Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Aku akan memikirkan kembali, rencana ulang tentang penyerangan raja kegelapan, aku akan mendiskusikannya dengan jaya satria, mengenai raka dan yunda yang ingin ikut dengan kami."


"Itu lebih baik rayi prabu, aku yakin jaya satria akan setuju."


"Ya, kami yakin itu dia akan setuju."


"Semoga saja jaya satria setuju." Raden Hadyan Hastanta sangat berharap.


"Kami sangat mengkhawatirkan kalian semua, putra putriku, kami sangat cemas ketika kalian berada jauh dari kami." Ratu Gendhis Cendrawati merasa sedih, karena anak-anaknya akan berperang lagi?. Hatinya sangat khawatir, dengan keselamatan anak-anaknya.


"Yunda benar, tapi kita tidak punya pilihan lain. Hanya mereka generasi penerus kanda prabu, yang akan melindungi istana ini, kerajaan ini dari musuh yang datang dari mana saja." Ratu Dewi Anindyaswari mencoba untuk tersenyum. Meskipun hatinya merasa berat untuk melakukannya.


"Ibunda Ratu dewi anindyaswari benar ibunda." Putri Andhini Andita mendekati Ratu Gendhis Cendrawati, mencium kedua tangan ibundanya dengan sayang. "Sebagai putra putri dari ayahanda prabu kawiswara arya ragnala? Kami tidak akan membiarkan siapapun yang mengganggu kerajaan ini, bahkan dari kerajaan kegelapan." Lanjutnya. Ia berusaha meyakinkan ibundanya, bahwa semuanya akan baik-baik saja.


"Oh? Putriku." Hatinya sangat sedih. Pada akhirnya anaknya akan terlibat dalam masalah pemerintahan.


"Do'akan kami baik-baik saja ibunda, kami akan merasa tenang, jika apa yang kami lakukan diiringi oleh do'a dari ibunda." Putri Agniasari Ariani memeluk ibundanya Ratu Dewi Anindyaswari.


"Tentu saja kami akan selalu mendoakan keselamatan kalian nak, tidak ada do'a yang kami lupakan, selain do'a meminta keselamatan untuk putra putri kami." Balas Ratu Dewi Anindyaswari.


"Terima kasih ibunda."


Mereka semua larut dalam suasana yang mengharukan, serta kegelisahan sekaligus mereka rasakan. Bisakah mereka menghadapi masalah yang terjadi?. Temukan jawabannya.

__ADS_1


...***...


Di Istana kegelapan. Prabu Wajendra Bhadrika saat ini sedang melakukan ritual yang dilakukan oleh Segala Geni, untuk membuka segel yang ada di dalam tubuhnya.


"Nini, apakah dengan begitu kekuatan ayahanda akan kembali dengan sempurna seperti dulu?." Putri gempita bhadrika begitu penasaran melihat ayahandanya melakukan ritual aneh menurutnya.


"Benar tuan putri, hamba telah memastikannya dengan benar."


"Semoga saja berjalan dengan baik." Putri Gempita Bhadrika berharap akan seperti itu. "Aku yakin ayahanda akan mendapatkan kekuatannya kembali, degan begitu, orang bertopeng itu serta raja baru itu dapat dikalahkan dengan mudahnya." Ia masih dendam karena tidak berhasil mengalahkan orang bertopeng itu.


Sementara itu, dalama ritual itu prabu Wajendra Bhadrika berada di dalam lingkaran darah merah yang sangat pekat. Darah yang berasal dari campuran darah hewan dan manusia. prabu Wajendra Bhadrika berdiri dengan satu kaki, telapak tangannya yang disatukan, matanya terpejam.


Sedangkan Segala Geni merapalkan mantram yang tidak dimengerti sama sekali, sambil menaburkan bunga tujuh rupa. Terakhir ia melumuri telapak tangannya dengan darah, ia masuk juga ke dalam lingkaran itu. Ia arahkan telapak tangannya ke dada prabu wajendra bhadrika sambil merapalkan mantram-mantram untuk membuka mantram gaib yang mengunci separoh dari kekuatan prabu Wajendra Bhadrika.


Beberapa detik berlalu, ada aura merah yang memancar dari telapak tangan itu, seakan menarik paksa mantram pengunci itu. Namun pengaruhnya membuat prabu wajendra bhadrika berteriak kesakitan.


"Ayahanda?." Putri gempita sangat takut melihat ayahandanya saat ini, ia hampir saja mendekati ayahandanya jika saja tidak ditahan oleh nini kabut bidadari.


"Tenanglah tuan putri, hamba yakin gusti prabu akan baik-baik saja, itu hanyalah sakit sementara, dan hamba yakin kekuatannya akan kembali dengan sempurna."


"Tapi, tapi aku tidak tega melihat ayahanda seperti itu nini." Ia sangat tidak suka melihat itu. "Rasanya aku sedih melihat ayahanda."


"Jika tuan putri mengganggu, nanti tuan putri bisa dimarahi oleh gusti prabu, sebaiknya tuan putri lihat saja sampai selesai."


"Baiklah nini, aku akan mencoba untuk menahan diriku." Putri Gempita Bhadrika berusaha menahan dirinya, ia juga tidak mau ayahnya murka padanya jika ia berani mengganggu ritual itu.


Apakah ritual itu benar-benar bisa mengembalikan kekuatannya?. Temukan jawabannya.


...***...


Dua hari berlalu.


Jaya Satria kembali ke istana dengan perapian Suramuara. Semuanya telah menyambut kedatangannya di depan Istana.


"Jaya satria, akhirnya kau kembali." putri Andhini Andita sangat senang melihat Jaya Satria. Kebahagiaan itu menghipnotisnya untuk memeluk jaya satria. Membuat mereka yang melihat itu terkejut, terutama Jaya Satria yang mendadak dipeluk oleh putri Andhini Andita.


"Aku sangat merindukanmu jaya satria." Ia ungkapkan bentuk kerinduannya pada Jaya Satria. Ia peluk dengan erat Jaya Satria.


"Putriku." Ratu gendhis cendrawati heran melihat putrinya. Ia bertanya-tanya dalam hatinya, seberapa besar rasa cinta anaknya pada pemuda bertopeng itu hingga dengan mudahnya anaknya memperlihatkan rasa sukanya pada Jaya Satria tanpa basa-basi lagi.


"Yunda." Prabu asmalaraya arya ardhana merasa cemas melihat itu. Ia tidak menyangka, jika Putri Andhini Andita memiliki perasaan pada Jaya Satria. Begitu juga dengan Raden Hadyan Hastanta, Putri Agniasari Ariani, dan Ratu Dewi Anindyaswari yang melihat itu. Mereka semua terkejut.


"Kau baik-baik saja kan? Apakah kau terluka?. Jaya satria, kenapa kau tidak mengatakan padaku? Kalau kau mendapatkan tugas diluar kerajaan dari rayi prabu?.''


Jaya Satria yang dihujani banyak pertanyaan merasa gugup. Pelukan itu, apakah itu pelukan seseorang yang begitu merindukan orang yang dicintai?. Atau pelukan seorang kakak pada adiknya?. Entahlah!. Jaya Satria jadi bimbang karena memikirkan perasaan itu.


"Sudahlah yunda, biarkan jaya satria beristirahat dulu, nanti saja bertanya." Prabu asmalaraya arya Ardhana merasakan gugup yang aneh. Mungkin jaya satria merasa kurang nyaman saat itu?. Hingga ia juga dapat merasakan apa yang dirasakan oleh Jaya Satria.


"Aah, maafkan aku rayi prabu, maafkan aku jaya satria." Ia juga mendadak gugup karena menyadari apa yang baru saja ia lakukan. Ia mendekati ibundanya yang dari tadi melihat aneh ke arahnya.


"Selamat datang kembali jaya satria  alhamdulillah hirobbila'lamin kau baik-baik saja..


"Alhamdulillah hirobbil'alamin, hamba kembali dengan selamat gusti prabu." Ia tersenyum kecil, ia bersyukur Allah masih sayang padanya. "Itu semua karena bantuan dari paman perapian suramuara." Lanjutnya sambil memperkenalkan siapa yang telah membantunya.


"Sembah hormat hamba gusti prabu, sudah lama kita tidak bertemu sejak hari itu." Ia bersujud dihadapan sang prabu dengan segenap hati dan perasaannya.


"Oh paman? Berdirilah, jangan bersujud dihadapan ku, tapi bersujud lah kepada Allah SWT, Tuhan yang menciptakan langit dan bumi beserta isinya, aku hanyalah manusia biasa paman, berdirilah." Ia membantu perapian suramuara berdiri, rasanya sangat aneh orang yang lebih tua bersujud dihadapannya.


"Gusti prabu sangat baik, hamba sangat merindukan kebaikan yang gusti prabu berikan pada hamba waktu itu." Ia mengingat dengan jelas bagaimana ia disadarkan oleh sang prabu?.


"Itu sudah sangat lama sekali paman, namun aku sangat bersyukur karena paman membantu jaya satria."


"Suatu kehormatan bagi hamba bisa membantu jaya satria, itu sudah menjadi kewajiban hamba untuk melindungi orang-orang baik, terutama orang yang bekerja dengan gusti prabu." Ungkapnya dengan segenap hatinya.


Tapi rasanya sangat aneh saja, sebab Jaya Satria mengatakan padanya agar tidak menyebut ia gusti prabu di hadapan mereka. Cukup satu gusti prabu saja, yaitunya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Aku ucapkan terima kasih banyak paman, semoga Allah SWT membalas kebaikan paman."


Perapian Suramuara tersenyum lebar. Hatinya sangat bahagia mendengarkan do'a dari sang prabu.


"Sama-sama gusti prabu, hamba datang bermaksud untuk membantu Gusti prabu membasmi kejahatan kerajaan kegelapan, maaf jika hamba datang dalam keadaan seperti ini."


"Tidak apa-apa paman, aku sangat berterima kasih karena paman mau bergabung."


"Syukurlah jika gusti prabu mengizinkan hamba untuk bergabung."


"Kalau begitu ayo masuk paman,ebih nyaman jika kita berbicara di dalam." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengajak Perapian Suramuara masuk, dan mereka berbicara di dalam.


"Tunggu dulu, nanda jaya Satria." Tiba-tiba saja Ratu Dewi Anindyaswari menahan langkah jaya Satria yang ingin ikut masuk.


"Gusti ratu?." Jaya Satria memberi salam hormat mata Ratu Dewi Anindyaswari.


"Nanda jaya satria."


Entah perasaan sedih atau senang yang ia rasakan saat melihat Jaya Satria. Ratu Dewi Anindyaswari tidak tahu. Ia menyentuh kedua bahu jaya Satria dengan lembut, dan tak lupa senyuman tulus diwajahnya sambil menatap Jaya Satria.


"Alhamdulillah hirobbila'lamin, nanda pulang dengan selamat nak." Ia memeluk erat Jaya Satria, ia tumpahkan perasaan sayangnya pada Jaya Satria.


Mereka semua dapat melihat bagaimana kasih sayang itu. Kasih sayang seorang ibu pada anaknya yang baru saja pulang dari bepergian jauh.


"Aku sangat mencemaskan mu nak, aku juga selalu mendo'akan keselamatanmu, aku sangat takut saat mendapatkan firasat buruk tentangmu yang sedang kesakitan terbaring di atas batu, kau memanggilku dengan sebutan ibunda, hatiku sangat sedih mendapatkan firasat itu, nak." Ia tuangkan semuanya, dalam ucapan, serta tindakannya.


"Ibunda." Dalam hati Jaya Satria mengucapkan kata itu, Jaya Satria tidak sanggup untuk mengatakan kalimat itu. Tanpa sadar ia meneteskan air matanya, karena tidak kuasa menahan perasaannya. "Jadi ibunda melihat diriku yang sedang terluka?." Dalam hatinya mencoba untuk menekan perasaannya.


"Menangislah ketika kau berada di dekat saudaramu, jangan tahan perasaan yang ada di hatimu."


Kata-kata prabu Kawiswara Arya Ragnala terngiang-ngiang di kepalanya, dan ia menangis karena perlakuan dari Ratu Dewi Anindyaswari.


"Alhamdulillah hirobbila'lamin, kau kembali dengan selamat nak." Setelah ia melepaskan pelukan itu, ia tangkup wajah Jaya Satria yang ditutupi oleh topeng itu, ia tatap dengan penuh kelembutan.


"Terima kasih gusti ratu, hamba baik-baik saja, hamba baik-baik saja Gusti Ratu." Jaya Satria mencoba menyentuh tangan Ratu Dewi Anindyaswari, ia takut tidak lagi bisa menyentuh tangan itu setelah sekian lama.


"Terima kasih, karena Gusti Ratu begitu baik pada hamba." Ia berusaha menahan isak tangisnya, ia mencoba untuk menekan perasaannya.


"Ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga tanpa sadar meneteskan air matanya melihat itu, ia merasa terharu dengan perhatian ibundanya pada Jaya Satria.


"ibunda." Putri Agniasari Ariani melihat itu juga meneteskan air matanya, ia begitu terharu melihat ibundanya yang menyayangi Jaya Satria.


"Rayi dewi anindyaswari memang sangat baik, bahkan pada jaya satria, yang jelas-jelas hanyalah bawahan kanda prabu, dan nanda prabu? Namun ia seperti menganggap jaya satria adalah anaknya sendiri." Ratu Gendhis Cendrawati dapat merasakan kebaikan hati Ratu Dewi Anindyaswari.


"Kasih sayang seorang ibu tidak bisa ditolak oleh seorang anak, siapapun dia, seberapa besar topeng yang menutupi wajahnya? Namun akhirnya akan luluh juga, jika ibundanya yang melemparkan kasih sayang yang tak terbatas, baik itu ia sadari atau tidak." Perapian Suramuara dapat melihat dengan jelas bagaimana kasih sayang yang tulus diberikan Ratu Dewi Anindyaswari pada Jaya Satria.


"Ya Allah, semoga hati hamba tidak luluh dengan apa yang hamba rasakan pada hari ini, biarlah hamba terus bersembunyi di balik topeng ini, dan biarkan hamba tetap seperti biasa." Meskipun ia menginginkan seperti ini, namun ia merasa bimbang dengan perasaannya saat ini. Bisakah ia berharap seperti itu?. Entahlah. Siapa yang tahu akan hal itu.


Setelah itu mereka semua masuk ke dalam istana, untuk membahas apa yang akan mereka lakukan untuk menyerang istana kerajaan kegelapan.


Apa yang akan mereka lakukan?. Temukan jawabannya.


...****...


Kembali ke kerajaan Kegelapan


Ritual telah berhasil dilakukan. Saat ini ia sedang duduk di singgasana kebanggaannya.


"Kekuatanku telah kembali!. Aku tidak akan menyia-nyiakan kekuatanku yang telah kembali ini!."


"Lalu kapan kita akan menyerang istana kerajaan suka damai, ayahanda?."


"Tenanglah dulu putriku, tidak perlu terburu-buru."


"Itu benar, kekuatan gusti prabu masih butuh penyesuaian, akan berbahaya jika digunakan terlalu buru-buru."


"Kalau begitu, sambil menunggu kesembuhan gusti prabu. Hamba telah membuat ramuan herbal yang dapat mendukung kesempurnaan kekuatan Gusti prabu."


"Owh, begitukah?." Prabu Wajendra merasa terhormat apa yang dilakukan Nini Kabut Bidadari.


Apa yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya. Mohon dukungannya ya kakak.

__ADS_1


...***...


__ADS_2