RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
PERASAAN KASIH SAYANG


__ADS_3

...***...


Jaya Satria saat ini sedang berusaha untuk menenangkan dirinya. Ia tidak mau menuruti kemarahannya yang sempat memuncak. Benar apa yang dikatakan oleh ibundanya. Bahwa ia akan merugi jika ia mengikuti hawa kemarahan orang-orang yang telah tiada yang menginginkan balas dendam memalui dirinya.


"Uhuk!." Prabu Canggra Dharmantara terbatuk memuntahkan darah segar. Dadanya terasa sangat sakit, ia tidak menyangka akan mendapatkan lawan yang cukup tangguh saat ini. Ia tidak menduganya sama sekali. Ia tidak menyangka jika pemuda itu telah meredakan amarahnya?.


"Raden!." Prabu Bumi Jaya dan Raden Bumi Putra mendekati Jaya Satria yang tidak terlihat marah lagi?. Apakah kemarahan itu telah hilang atau ada kekuatan hebat yang telah menekan kekuatan hebat itu?. Ia tidak mengerti sama sekali.


"Apa yang terjadi sebenarnya raden?. Kemana hawa gelap yang menyelimuti raden tadi?." Prabu Bumi Jaya sangat penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Jaya Satria. Kenapa kekuatan itu begitu sangat dahsyat, namun kenapa dihentikan begitu saja?.


"Itu benar raden. Sedikit lagi raden hampir saja mengalahkan raja kejam itu." Raden Bumi Putra terbawa suasana saat melihat Jaya Satria yang menunjukkan kemarahannya itu.


"Itu adalah kemarahan yang merugikan gusti prabu. Hamba tidak bisa menggunakan kekuatan itu terlalu lama." Jaya Satria atau Raden Cakara Casugraha menyadarinya setelah ia berhasil ditenangkan oleh ibundanya. "Itu karena hamba terseret oleh hawa kemarahan mereka semua." Matanya melihat wajah-wajah sedih dari orang-orang yang telah tiada.


"Mereka siapa yang kau maksudkan anak muda?." Prabu Canggra Dharmantara yang bertanya. Sungguh, rasanya sangat aneh sekali, baru kali ini ia bertemu dengan seseorang yang memiliki kekuatan yang aneh seperti itu.


"Tentu saja dari orang-orang yang telah kau bunuh!." Masih ada gejolak amarah yang ia rasakan saat ini. "Mereka saat ini menyaksikan pertarungan yang kita lakukan tadi. Mereka yang memiliki dendam membara yang ingin balas dendam gusti prabu." Lanjutnya lagi. Matanya menangkap sosok-sosok yang dari tadi Melih ke arah mereka semua.


"Kau bicara apa anak muda?. Aku bahkan tidak melihat apapun di sini?!. Kau jangan pandai bermain sandiwara dihadapan ku!." Prabu Canggra Dharmantara malah tertawa keras mendengarkan penjelasan dari Jaya Satria.


"Tidak perlu!." Jaya Satria menahan Prabu Bumi Jaya dan Raden Bumi Putra agar tidak menyerang musuh mereka. "Saat ini dia sedang di kepung oleh hawa kedengkian dari orang-orang yang telah ia bunuh." Jaya Satria menepuk pundak Prabu Bumi Jaya dan Raden Bumi Putra.


Deg!!!.

__ADS_1


Keduanya sangat terkejut dengan apa yang mereka lihat saat ini. Raut wajah pucat yang mengerikan mendekati Prabu Canggra Dharmantara. Mereka seakan-akan ingin menyeret Prabu Canggra Dharmantara untuk bergabung dengan mereka.


"Mengerikan sekali." Dalam hati keduanya merasakan betapa menyeramkan sosok-sosok yang sedang mengelilingi mereka sekarang. Bahkan tercium aroma tidak sedap disekitar tempat itu, sehingga membuat perut mual.


"Itu adalah sosok-sosok yang telah tewas di sini. Mereka bereaksi karena pedang pelebur sukma yang telah hamba tandai di dalam tubuh raja kejam itu." Jaya Satria menjelaskan pada keduanya atas apa yang telah ia lihat sejak tadi.


"Sangat mengerikan sekali." Rasanya Prabu Bumi Jaya ingin menangis melihat betapa menderitanya mereka saat ini. Ditancap panah yang sangat tajam menembus tubuh mereka semua.


"Sangat kejam sekali apa yang telah dilakukannya." Raden Bumi Putra bahkan tidak kuasa menahan air matanya. Hatinya seperti tersayat sembilu tajam yang langsung menusuk ke jantungnya.


"Hei!. Apa yang kalian lihat?!." Prabu Canggra Dharmantara malah merasa sangat kesal, amarahnya sangat memuncak karena apa yang ia lihat dari ketiga musuhnya?.


"Kegh!." Setelah itu, Prabu Canggra Dharmantara meringis sakit, tubuh ga seakan-akan ditembus oleh benda yang sangat tajam. Tubuhnya sangat sakti, rasanya sangat tidak nyaman sama sekali. Sedangkan yang dilihat Jaya Satria, Prabu Bumi Jaya, dan Raden Bumi Putra adalah, banyak sosok-sosok yang mencoba menyerang Prabu Canggra Dharmantara dengan kekuatan gaib yang mereka miliki.


"Ayahanda prabu." Raden Bumi Putra merinding melihat apa yang dialami oleh Prabu Canggra Dharmantara.


"Itu adalah karma untuknya. Karena dia telah berbuat hal yang paling kejam di dunia ini." Prabu Bumi Jaya merinding melihat itu.


Sedangkan Jaya Satria tidak mau mereka melakukan balas dendam pada Prabu Canggra Dharmantara dengan cara seperti itu. Ia membacakan sholawat badar, untuk mengusir pikiran jahat dari mereka semua?.


Jaya Satria dan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana membacakan sholat badar dengan suara yang sangat lantang. Namun sangat enak untuk didengar, juga sangat menenangkan diri.


Namun tidak dengan prabu Canggra Dharmantara yang justru semakin merintih kesakitan. Itu karena bentuk kebencian yang ia rasakan selama ini. Tubuhnya benar-benar hangus seperti terbakar api yang sangat menyala. Suasana saat ini benar-benar sangat merinding. Ada jeritan serta ratapan kesedihan mereka semua. Entah itu dari Prabu Canggra Dharmantara ataupun dari korban yang meninggal di sana.

__ADS_1


Sementara itu di istana Kerajaan Suka Damai.


Ratu Dewi Anindyaswari tersenyum lembut, karena kemarahan yang dirasakan anaknya telah menghilang setelah anaknya membacakan sholawat badar.


"Alhamdulillah hirabbli'alamin." Ratu Dewi Anindyaswari sangat senang melihat anaknya mulai mereda. Tadinya ia sangat khawatir dengan keselamatan anaknya. Ia takut anaknya akan lepas kendali jika kemarahan itu tidak bisa ia kuasai dengan baik.


Kembali ke perbatasan wilayah kerajaan Tebing Alas.


"Aku tidak akan melupakan ini semua!." Teriaknya dengan penuh kesakitan, hingga tubuhnya menghilang ditelan oleh kedengkian yang selama ini bersarang di sana. Tentunya membuat mereka semua terkejut.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Jaya Satria melihat betapa mengerikannya penampilan mereka yang menyimpan dendam pada Prabu Canggra Dharmantara. Perlahan-lahan ia melepaskan tangannya di bahu Prabu Bumi Jaya dan Raden Bumi Putra.


Namun saat itu, mereka melihat sukma Raden Raksa Wardhana dan Selir Ratna Wardhani. Mereka tersenyum lembut, ramah, seakan-akan tidak terjadi apa-apa pada mereka.


"Terima kasih ayahanda prabu telah membebaskan kami." Raden Raksa Wardhana menatap ayahandanya dengan senyuman ramah. "Raka. Aku yakin raka bisa membanggakan ayahanda. Aku sangat menyayangi raka." Itulah kalimat terakhir yang ingin ia katakan.


"Kanda prabu. Terima kasih karena kanda prabu telah memberikan cinta pada dinda, juga putra dinda. Jadilah raja yang baik. Semoga kanda prabu bisa memimpin kerajaan dengan baik pula." Senyuman yang sangat manis dari selir Ratna Wardhani. "Terima kasih juga pada nanda bumi putra yang telah bersedia membimbing rayi mu dengan baik. Semoga nanda menjadi raja yang hebat suatu hari nanti." Senyuman yang sangat tulus dari mereka. Setelah itu keduanya menghilang tanpa bekas. Hanya ada kesedihan yang tersisa diantara mereka setelah ucapan itu berakhir.


"Oh, putraku raksa wardhana. Istriku ratna wardhani." Prabu Bumi Jaya merasakan kesedihan atas kehilangan dua orang yang ia cintai.


"Rayi, ibunda." Raden Bumi Putra juga tidak menyangka, jika keduanya sangat menyayanginya selama ini?. Apakah karena keegoisan yang melekat pada dirinya, sehingga ia tidak bisa merasakan itu?. Sungguh perasaan yang sangat terlambat untuk disadari kecuali penyesalan?.


Tapi dari hati mereka, masih ada perasaan cinta yang ingin mereka sampaikan pada mereka. Kemarahan yang mereka rasakan bukan hanya karena bentuk kebencian karena orang-orang yang mereka cintai pergi dengan cara yang mengejutkan. Akan tetapi itu adalah sifat alami yang muncul dari rasa cinta mereka yang lahir dari hati yang tulus. Apakah mereka mampu melewati hari mereka setelah ini tanpa adanya orang-orang yang mereka sayangi?. Mampukah mereka bertahan tanpa orang-orang yang mereka sayangi?. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya. Temukan jawabannya di cerita berikutnya. Jangan lupa dukungannya ya pembaca tercinta. Semoga bermanfaat untuk kita semua, salam semangat penuh cinta.

__ADS_1


...***...


__ADS_2